ENVIRONMENTAL FRIENDLY TECHNOLOGY INNOVATION TO REACH SOYBEAN SELF-SUFFICIENCY YEAR 2014

March 19, 2011 § Leave a comment

* The attached file at the bottom of this page


ENVIRONMENTAL FRIENDLY TECHNOLOGY INNOVATION TO REACH SOYBEAN SELF-SUFFICIENCY
YEAR 2014


Lutfi Afifah
Department of Plant Protection, Faculty of Agriculture, Bogor Agricultural University
Jl. Kamper, Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680


SUMMARY

Soybean is one of vegetable protein source major, although Indonesia still has to import most of the needs of soybeans. This problem caused by soybean needs in Indonesia  is quite high. Soybean production in the year of 2010 was decelined 6,81% from the year 2009. Whereas the needs of soybean in Indonesia reached 2.1 million tons. In an effort to self-sufficiency in soybean is still a lot of the problems faced by farmers. Decrease in productivity of soybean in Indonesia, one of which is caused by problem with pests and plant diseases. The use of synthetic pesticides became the primary option for farmers to overcome this problem. Unfortunately, synthetic pesticides have a negative impact both on the general environment, agriculture and human. Therefore, it is necessary to make environmental friendly technology innovation in order to attain self-sufficiency target by 2014. Innovative control technology using IPM be an environmentally friendly alternative to control pests and plant diseases.

The purpose of this scientific work is to inform various environmental control technology innovation in integrated pest control in crops, particularly soybeans in Indonesia as an alternative control that are effective, efficient, and safe. Method of this writing paper consists of determining the framework of thought, ideas, data collection, processing and data analysis, formulation of solutions, and making conclusions and recommendations. Components of integrated pest control technology including: The use of resistant varieties, synthesis insecticides and phytopesticides, effective entomopathogenic fungus, Spodoptera litura Nuclear polyhedrosis virus (SlNPV), entomopathogenic nematodes effective, effective trap crops, crop rotation, timing of planting in unison, and sanitation plants pods. In addition, the use of natural enemies like Verticillium lacanii and T. bactrae-bactrae is one of  important component in the control of plant pest. So, we need good mass propagation methods of natural enemies.


DOWNLOAD FILE SOYBEAN SELF-SUFFICIENCY.PPT

PENYAKIT-PENYAKIT SAYURAN LABU-LABUAN

February 19, 2011 § 3 Comments

*Download file terlampir di paling bawah post ini!

TUGAS PEAPER

HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN SETAHUN

PENYAKIT-PENYAKIT SAYURAN LABU-LABUAN

disusun oleh:

Ida Parida                              A34070038

Lutfi Afifah                           A34070039

Miftah Faridzi                       A34070042

Gamatriani Markhamah      A34070045


Dosen Pengajar :

Dr. Ir. Abdul Muin Adnan, MS.

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2009


PENDAHULUAN

Indonesia sebagai negara agraris, memiliki berbagai macam jenis tanaman, salah satunya adalah tanaman hortikultura. Tanaman tersebut merupakan tanaman yang paling banyak diminati karena menguntungkan. Selain dapat dijual langsung, tanaman tersebut juga mempunyai cara pengolahan yang banyak sehingga hasilnya pun bervariasi. Seperti tanaman lainnya, tanaman hortikultura mempunyai bermacam jenis hama dan penyakit. Untuk beberapa orang yang ingin memproduksi tanaman ini khususnya orang awam terbentur oleh masalah hama ataupun penyakit tersebut. Untuk mendiagnosa sebuah penyakit ataupun hama diperlukan gejala-gejala yang tampak pada tanaman, baik pada daun, bunga, akar, dan bagian lainnya. Diperlukan keseriusan dan tindakan yang cepat sebelum semuanya terlambat dan mengalami kerugian.

Di Indonesia ditanam bermacam-macam anggota suku labu-labuan (Cucurbitaceae) yang dikonsumsi sebagai sayuran. Tanaman-tanaman ini adalah:

  1. Bligo [kundur, Benincasa hispida]
  2. Blustru [emes, Luffa cylindrical]
  3. Gambas [oyong, Acutangula]
  4. Labu [waluh, Cucurbita moschata]
  5. Labu air [Legenaria leucantha]
  6. Labu siam [waluh jepang, Sechium edule]
  7. Mentimun [Cucumis sativus]
  8. Parai [paria, Momordica charantia]
  9. Parai ular [parai belut, Trichosantres anguina]

Pada umumnya tanaman tersebut dipungut buahnya yang muda,. Tanaman tertentu, antara lain labu siam, juga diambil daunnya yang muda. Hanya mentimun dan labu siam yang ditanam secara meluas di daerah-daerah tertentu. Lain-lainnya hanya ditanam di pekarangan secara terbatas. Disamping itu, beberapa tanaman labu-labuan dibudidayakan untuk diambil buahnya yang dikonsumsi sebagai buah segar, antara lain adalah semangka (Citrullus vulgaris L.), blewah (Cucumis melo L.), dan melon (Cucumis melo var. cantalupensis Naud.)

Penelitian tentang penyakit-penyakit labu-labuan belum banyak diteliti. Apa yang diuraikan lebih berdasar pada pengamatan para peneliti, yang ditunjang dengan keterangan-keterangan dari negara tropika lain, khususnya negara tetangga. Baik di Indonesia, maupun di negara-negara lain, bermacam-macam anggota labu-labuan mempunyai banyak persamaan dalam penyakitnya. Oleh karena itu beracam-macam penyakit akan di bahas bersama.

 

PEMBAHASAN

Penyakit-penyakit pada tanaman mentimun diantaranya adalah:

1. Busuk Daun

Secara umum dapat dikatakan bahwa penyakit ini merupakan penyakit yang terpenting pada labu-labuan dan dapat timbul pada macam-macam anggota dari suku ini. Busuk daun tersebar di seluruh dunia. Penyakit ini sudah dikenal di Jawa sejak tahun 1902 (Zemmermann, 1902). Menurut Suhardi (1988) di daratan rendah penyakit busuk daun umum terdapat pada mentimun dengan intensitas penyakit 5-20%, sedang pada gambas 2-40%.

Penyakit ini juga dianggap sebagai penyakit penting di Filipina, Malaysia, Thailand, Papua Nugini, Negara-negara Pasific, dan India (Knott dan Deanon, 1967; Singh, 1967; Graham, 1971; Weber, 1973; Giatgong, 1980; Singh, 1980).

Gejala penyakit ini terlihat dari permukaan atas daun yaitu bercak-bercak kuning, sering agak bersudut karena dibatasi oleh tulang-tulang daun. Pada cuaca lembap pada sisi bawah bercak terdapat parang (cendawan) seperti bulu yang warnanya keunguan. Pada mentimun daun yang sakit dapat mati. Pada tanaman lain bercak pada daun yang berwarna kuning tadi dapat menjadi coklat, meskipun tidak mati, tanaman sakit sangat menderita, menjadi lemah sehingga hasilnya kurang dan mutunya tidak baik.

Penyebab penyakit ini adalah Pseudoperonospora cubensis (Holliday, 1980), yang saat ini masih banyak disebut dengan nama Peronospora cubensis. Merupakan parasit obligat. Cendawan memiliki miselium tidak bersekat, interseluler, dengan alat penghisap (haustorium) kecil, jorong, kadang-kadang mempunyai cabang seperti jari. Sporangiofor keluar melalui mulut kulit, dapat berkelompok sampai lima. Sepertiga bagian yang paling atas dari sporangiofor bercabang, baik secara dikotom atau antara dikotom dan monopodial. Sporangium ungu kelabu atau ungu kecoklatan, bulat telur atau jorong, berdinding tipis, mempunyai papil pada ujungnya. Sporangium berukuran 21-39 x 14-23 µm, berkecambah dengan membentuk zoospore, flagel 2, yang setelah berhenti dan membulat bergaris tengh 10-13 µm. diragukan apakah cendawan ini dapat membentuk oospora (Singh, 1969).

Daur penyakit busuk daun ini mengingat Pseudoperonspora cubensis tidak dapat hidup sebagai saprofit pda sisa-sisa tanaman, dan tidak membentuk spora atau alat tahan lainnya, diduga bahwa cendawan bertahan pada tanaman labu-labuan yang selalu ada. Spora dipancarkan oleh angin, dan infeksi terjadi melalui stomata.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit dintaranya kelembapan dan akan berkembang hebat jika terdapat benyak kabut dan embun. Infeksi hanya akan terjadi bila kelembapan udara 100%, suhu 10-20oC, dengan suhu optimum 16-22oC.

Upaya pengelolaan untuk mengurangi sumber infeksi dianjurkan agar tanaman yang terserang bert dibongkar kemudian dibakar atau dipendam. Sisa-sisa tanaman lama dibersihkan dan jangan menanam di dekat tanaman tua. Mengurangi kelembapan dalam pertanaman, misalnya dengan mengatur jarak tanam dan drainasi yang baik. Busuk daun dapat dikendalikan dengan penyemprotan fungisida nabam, zineb, atau maneb. Namun pada umumnya usaha ini dianggap kurang menguntungkan, mengingat rendahnya nilai hasil tanaman. Tanaman labu-labuan kurang tahan terhadap tembaga dan blerang, oleh karena itu fungisida tembaga dan blerang tidak dianjurkan untuk pengendalian penyakit ini (Knott dan Deanon, 1967; Tindall. 1987).

2. Embun Tepung

Gejala yang ditimbulkan oleh penyakit ini adalah permukaan daun dan batang muda terdapat lapisan putih bertepung, yang terdiri atas miselium, konidiofor dan konidium cendawan penyebab penyakit. Bercak kemudian menjadi kering dan akhirnya mongering. Jika penyakit berat, daun dan batang muda dapat mati. Jika semua daun pada tanaman bersangkutan terinfeksi, tanaman menjadi lemah, pertumbuhan terhambat, dan buahnya dapat terbakar matahari, atau masak sebelum waktunya.

Penyebab penyakit ini adalah Erysiphe cichoracearum, yang masih dikenal stadium tidak sempurnanya denagn naman Oidium tabaci. Konidiofor berbentuk tong (tabung), membentuk rantai-rantai berukurn lebih kurang 63,8 x 31,9 µm (Singh, 1969). Di daerah yang mempunyai musim dingin membentuk askokarp yang membentuk kleistotekia, yang di dalamnya terdapat askus dengan askospora.

Cendawan bertahan dari musim kemusim pada tanaman hidup. Hal ini karena cendawan tersebut memiliki kisaran inang yang luas, diantaranya selada, tembakau, bunga matahari, mangga, bermacam-macam kacang-kacangan dan gulma. Konidium dipencarkan oleh angin.

Konidium dapat berkecambah dan menginfeksi tanpa adanya air, dengan kelembapan udara sedikit dibawah 100%. Lapisan putih mulai kelihatan setelah baik  8-10 hari. Penyakit berkembang paling baik pada musim kemarau yang sejuk pada suhu udara antara 20 dan 24oC dan bila tanah dalam keadaan kering.

Pengelolaan penyakit ini dengan cara tanaman yang sakit parah dicabut dan dipendam untuk mengurangi sumber infeksi. Pengedalian gulma yang menjadi tumbuhan inang, penyemprotan dinokap atau penyerbukan belirang, atau menggunakan pestisida.

3. Antraknosa

Gejala yang pada daun umumnya bercak mulai dari tulang daun, yang meluas menjadi bercak coklat, bersudut-sudut atau agak bulat, garis tengahnya mencapai 1 cm atau bahkan dapat lebih. Daun yang masih berkembang dapat menjadi tidak rata. Beberapa bercak dapat bersatu dan dapat menyebabkan matinya seluruh daun. Bercak pada tangkai dan batang agak mengendap, memanjang berwarna coklat tua. Bercak pada buah muncul pada saat buah mulai masak. Di sini bercak berbentuk bulat, melekuk, tampak kebasah-basahan dan dapat sangat meluas. Pada cuaca lembap di tengah bercak terbentuk masa spora yang berwarna merah jambu.

Penyakit ini disebabkan oleh Colletotrichum langenarium. Konidium hialin, bersel satu, jorong atau bulat telur, dengan ukuran 13-19 x 4-6 µm. konidium membentuk massa sepertilendir berwarna merah jambu. Konidium berkecambah dengan membentuk pembuluh kecambah, yang jika berkontak dengan permukaan yang kuat akan membentuk apresorium bulat dengan dinding tebal dan berwarna tua. Tubuh buah cendawan berbentuk aservulus, mempunyai rambut-rambut kaku (seta) berwarna coklat, berdinding tebal, bersekat 2-3, panjangnya 90-120 µm, jumlahnya tidak tentu.

Cendawan bertahan pada sisa-sisa tanaman sakit, dan ada tanda-tanda terbawa biji. Karena terikat dalam massa lendir, konidium dipencarkan oleh air. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit daintaranya cuaca lembap dengan banyak hujan akan membantu pembentukan konidium, pemencaran konidium, dan infeksi. Perkecambahan dan pertumbuhan paling baik terjadi pada suhu 22-27oC.

Pengelolaan dapat dilakukan dengan cara menanam benih yang sehat, mengadakan pergiliran tanaman, atau dengan penyemprotan fungisida.

4. Busuk Bunga

Gejala timbul sehabis berkembang mahkota bunga ditumbuhi oleh cendawan putih yang lebat, yang terutama terdiri dari konidiofor yang masih muda. “kepala-kepala” konidium berkembang dengan cepat, setelah masak berwarna hitam ungu, berkilat seperti logam.

Penyebab penyakit ini adalah kapang Choanephora cucurbitarum, anggota dari suku Choanephoraceae. Cendawan membentuk koidium dan sporangiofor. Konidiofor tidak bercabang, mempunyai kepala yang bulat, dan muncul banyak kapitulum bulat membawa sterigma. Sporangiofor tidak bercabang, pada ujungnya membengkok, membawa sporangium denagn satu kolumela. Sporangiospora bulat telur atau membentuk kumparan, bersel satu dan ujung-ujungnya  mempunyai seberkas rmbut halus. Miselium juga membentuk klamidospora interkalar dengan dinding yang agak tebal. Cendawan ini juda membentuk zoospora.

5. Layu Bakteri

Gejala pertama dari penyakit ini adalah menjadi lemasnya satu daun. Kemudian lebih banyak lagi daun yang layu, sementara itu warnanya tetap hijau. Akhirnya kelayuan menjadi lebih parah, tanaman keriput dan mati. Bekteri menyumbat pembuluh-pembuluh kayu dalam batang. Jika batang yang layu dipotong akan keluar lendir yang kental dan lekat dari daerah berkas pengangkutan, sehingga dapat ditarik keluar menjadi benang yang panjang.

Penyebab penyakit ini adalah bakteri Erwinia tracheiphila. Berbentuk batang, bergerak dengan 4-8 ulu cambuk peritrich. Bakteri membentuk kapsula, konidia berbentuk jala, kecil, bulat, halus, mengkilat, putih dan lekat. Bakteri dapat bertahan dalam badan kumbang mentimun, dan kumbang inilah yang memencarkan penyakit. Pengelolaan dilakukan dengan pengendalian kumbang mentimun.

6. Mosaik

Gejala pada tanaman sakit mempunyai daun-daun yang mempunyai belang hijau tua dan hiaju muda, dengan bermacam-macam corak. Bentuknya dapat berubah, berkerut, kerdil, atau tepinya menggulung ke bawah. Buah mengalami bercak-bercak hijau pucat atau putih, bersaling dengan bercak tua yang agak menonjol ke luar. Jika tanaman bertambah tua gambaran mosaik makin kabur. Ruas-ruas yang muda terhambat pertumbuhannya, sehingga daun-daun ujung membentuk roset. Gejala bervariasi tergantung strain virusnya, dan juga dipengaruhi oleh tumbuhan inang, musim, suhu, dan penyinaran harian. Bahkan ada kemungkinan adanay kombinasi RNA yag bersal dari dua atau lebih srtain (Wahyuni, 1995).

Penyebab mosaik mentimun adalah virus misaic mentimun (Cucumber Mosaic Virus, CMV) yang mempunyai banyak strain virus. Sifat fisik macam-macam strain banayk persamaannya. Titik inaktivasi pemanasannya adalah 55-70 oC, dapat bertahan dalam sap tumbuhan sakit 1-10 hari.

Virus dapat ditularkan secara mekanis dengan gosokan, atau lebih dari 60 serangga, khususnya kutu-kutu daun secara non persisten, dan sering kali dapat terbawa olah biji. Penyakit mosaik mentimun sukar dikendalikan karena banyaknya tumbuhan inang virus. Untuk mengurangi penularan secara mekanik oleh manusia, diusahakan tidak memegang tanaman terlalu keras, khususnya tanaman-tanaman yang masih kecil atau dengan mencuci tangan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Giatgong, P. (1980), Host Index of Plant Disease in Thailand. 2d Ed., Dept. Agric., Min. Agric. Coop., 118 p.

Graham, K.M. (1971), Plant Disease of Fiji. Min. Oversease Dev., Oversease Res. Publ. 17, London, 250 p.

Holliday, P. (1980), Fungus Disease of Tropical Crops. Cambridge Univ. Press, Cambridge, 607 p

Knott, J.E. and J.R. Deanon, Jr. (Ed.) (1967), Vegetable Production in Southeast Asia. Univ. Philipp. Coll. Agric., Los Banos, 366 p.

Sigh, K.G. (1980), A Checklist of Host and Disease in Malaysia. Min. Agric., Malaysia, 280 p

Suhardi (Ed.) (1988), Laporan Survei Hama dan Penyakit serta penggunaan Pestisida pada Sayuran Dataran Rendah di Indonesia. Kerjasama Proyek ATA-395 dan Balai Penel. Hortik., Lembang.

Tindal, H.D. (1987), Vegetables in the Tropics. MacMillan, London, 533 p.

Wahyuni, W.S. (1995), Cucumber mosaic virus (CMV). Gejala dan nama isolate. Kongr. Nas.XII PFI, Yogyakarta, Sept. 1993 (II): 741-750

Weber, G.F. (1973), Bacterial and Fungal Disease of Plants in the Tropics. Univ. Florida Press, Gainesville, 673 p.

Ziemmermann, A. 1902, Ueber einige an tropiscehen kulturpflanzen beobatch Pilze.H. Centralblatt Bakt. Par. Kund. Inf. Krankh. 2. Abt., 8. Bd: 148-152

DOWNLOAD PENYAKIT PADA LABU-LABUAN!!

Penyakit pada Komoditas Pepaya

February 19, 2011 § 10 Comments

*Download file terlampir di paling bawah post ini!

LAPORAN PRAKTIKUM

HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN TAHUNAN (PTN 303)

PENYAKIT PADA KOMODITAS PEPAYA

disusun oleh:

Lutfi Afifah                A34070039

Vishora Satyani           A34070024

Johan                           A34070034

Listika Minarti            A34070071


Dosen Pengajar:

Prof. Dr. Ir. Meity Suradji Sinaga, Msc

Ir. Ivonne Oley Sumaraw, MSi

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010


PEPAYA

(Cacarica papaya L.)

Komoditas buah tropika yang saat ini gencar dikembangkan adalah manggis, nenas, pisang, dan pepaya. Penetapan komoditas tersebut berdasarkan pertimbangan keempat komoditas tersebut merupakan komoditas berorientasi kerakyatan yang mampu menjadi leverage factor bagi peningkatan kesejahteraan petani, kecil kemungkinan diimpor secara segar, kualitas produk masih perlu ditingkatkan untuk memenuhi standar konsumen, dapat diterima luas di pasar domestik, dan memiliki potensi di pasar dunia. Pepaya merupakan salah satu jenis komoditas buah yang memiliki berbagai fungsi dan manfaat. Sebagai buah segar, pepaya banyak dipilih konsumen karena memiliki kandungan nutrisi yang baik selain harganya yang relatif terjangkau dibandingkan buah lainnya. Sebagai bahan baku industri, pepaya adalah penghasil papain, dimana permintaan papain ini cukup tinggi baik untuk dalam negeri maupun untuk ekspor. Namun kendala yang dihadapi oleh para petani adalah adanya serangan hama maupun penyakit. Masalah penyakit merupakan masalah yang menjadi salah satu penurunan produksi dari papaya. Dalam laporan kali ini akan diuraikan beberapa penyakit mayor pada papaya dan upaya-upaya pengendalian penyakit yang berbasis Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

1. Antraknosa

a. Gejala

Penyakit ini disebabkan oleh patogen  (Colletotrichum gloeosporioides). Penyakit ini muncul pada buah yang belum matang (bewarna hijau). Gejala tersebut dalam bentuk  bercak-bercak cokelat sampai hitam pada buah. Gejala-gejala awal adalah kebasah-basahan dan terdapat cekungan pada buah. Bintik ini kemudian berubah menjadi hitam dan kemudian merah muda ketika jamur menghasilkan spora daging di bawah titik menjadi lembut dan berair, yang menyebar ke seluruh buah. Pada daun juga dapat dilihat. bintik yang akhirnya berubah menjadi cokelat. Pada buah, gejala muncul hanya pada saat pematangan dan mungkin tidak terlihat di waktu panen (Semangun 2000) Gejala yang nampak adalah adanya tempat cekung di permukaan buah, yang kemudian memperbesar membentuk lesion. Daging buah yang terkena menjadi lebih lembut dan cepat membusuk

b. Penyebab penyakit

Penyakit ini disebabkan oleh  (C. gloeosporioides). Cendawan ini mempunyai aservulus berbentuk bulat, jorong, tidak teratur, berseta atau tidak. Seta mempunyai panjang yang variabel, tetapi jarang yang lebih dari 200mm, tebal 4-8mm, bersekat 1-4, bewarna cokelat, pangkal agak membengkak dengan ujung meruncing yang sering membentuk konidium pada ujungnya.

c. Daur Penyakit

C. gloeosporioides merupakan cendawan yang umum terdapat di berbagai komoditas. Cendawan ini merupakan parasit lemah yang dapat menginfeksi dan berkembang pada jaringan yang telah menjadi lemah, khususnya karena proses penuaan. Cendawan ini dapat menginfeksi melalui luka atau lentisel. Konidium jamur dipencarkan oleh angin dan air hujan. Infeksi buah banyak terjadi dari konidium yang berasal dari bercak pada daun dan tangkai daun.

d. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit

Faktor ini ditentukan oleh keadaan lingkungan dan penanganan buah pepaya. Penyakit banyak ditemukan pada kebun-kebun yang lembab, pada tanah pH 5,5 atau lebih rendah. Kerusakan lebih banyak terjadi pada buah yang luka.

e. Pengelolaan

Pengelolaan berbasis  PHT dapat dilakukan dengan saran sebagai berikut: Berusaha untuk tidak membuat luka pada buah, membersihkan lahan dari sisa-sisa tanaman yang berpenyakit, mengatur jarak tanam, tidak menanam pepaya secara tumpangsari dengan tanaman lain yang dapat menjadi inang C. gloeosporioides, pemetikan buah pada saat buah asih bewarna hijau dll (Lim 1984).

Gambar 1  Gejala srangan C. gloeosporioides (kiri) dan mikroskopisnya (kanan)

2. Bercak Daun Corynespora

  1. Gejala

Penyakit ini tersebar luas di daerah-daerah penanaman papaya di seluruh dunia.. Gejala yang ditimbulkan oleh penyakit ini adalah pada daun terdapat bercak-bercak bulat dengan garis tengah mencapai 3cm, bewarna cokelat. Pusat bercak sering pecah sehingga bercak berlubang. Jika menyerang tangkai daun maka akan berbentuk jorong yang diliputi oleh miselium jamur tua bewarna cokelat.

  1. Penyebab penyakit

Penyakit ini disebabkan oleh jamur Corynespora cassiicola. Dulunya nama pathogen ini adalah Helminthosporium cassiicola. Miselium bewarna cokelat muda dengan tebal 2-6mm membentuk konidiofor tunggal, tegakbatau agak lentur. Konidium berbentuk lurus, melengkung, atau seperti gada terbalik

  1. Daur penyakit

Konidium banyak ditemukan pada bercak daun dan disebarkan oleh angin dan air hujan. Di udara konidium paling banyak ditemukan pada tengah hari. Patogen yang menginfeksi jaringan daun dan buah muda tidak dapat berkembang sebelum jaringan tersebut menua.

  1. Pengelolaan

Umumnya penyakit ini tidak menimbulkan kerugian yang sangat berarti. Pengendalian yang selama ini dilakukan adalah menggunakan fungisida sintetik.

Gambar 2  Gejala bercak daun C. papayae (kiri) dan gambar mikroskopik  C. papayae (kanan)

3. Penyakit bakteri

  1. a. Gejala

Penyakit pada daun papaya ini pertama kali dilaporkan terjadi di Jawa Timur. Penyakit ini menimbulkan kerugian yang besar terutama pada musim penghujan. Gejala yang ditimbulkan adalah pada tanaman muda daun menguning dan membusuk. Umumnya setelah beberapa lama tanaman akan mati pada tanaman atas, lama-kelamaan diikuti matinya seluruh tanaman.

  1. b. Penyebab penyakit

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Erwinia papayae. Sebelumnya pernah disebut sebagai Bacillus papayae. Bakteri ini berbentuk basil, panjang 1,0-1,5mm, berantai, tidak berspora, gram negative, dan aerob.

  1. c. Daur penyakit

E. papayae dapat ditularkan oleh serangga. Cara pemencaran lainnya belum pasti. Infeksi dapat terjadi pada sisi atas maupun sisi bawah daun. Percobaan penularan ke tanaman lain tidak memberikan hasil. Penyakit ini berkembang baik pada musim penghujan.

  1. d. Pengelolaan

Sebelum meluas hal yang bisa dilakukan adalah bagian tanaman yang terinfeksi segera dibuang (dipotong dan dibakar). Hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan budidaya dan pengelolaan tanaman yang baik sehingga dapat terhindar dari penyakit ini.

Gambar 3  Gejala penyakit bakteri E. papayae pada pohon pepaya

4. Busuk Akar dan Pangkal batang

a. Gejala

Penyakit ini merupakan salah satu penyakit penting di Indonesia. Hawar Phytophthora dapat menjadi salah satu penyakit yang menghancurkan sebagian besar dari pepaya. Penyakit ini muncul pada bermacam-macam umur. Selain pada akar dan batang, penyakit ini juga timbul di buah baik yang masih muda atupun dalam penyimpanan. Jamur ini menyebabkan berbagai kerusakan, termasuk damping-off, busuk akar, batang membusuk dan girdling, dan busuk buah. Gejala yang ditimbulkan oleh penyakit ini adalah mula-mula daun layu, menguning, dan menggantung di sekitar batang sebelum rontok. Daun mudapun juga menunjukkan gejala yang sama sehingga tanaman hanya mempunyai sedikit daun-daun kecil di puncaknya. Pada akar gejalanya adalah terdapat akar-akar lateral yang membusuk menjadi massa bewarna cokelat tua, lunak, dan sering berbau tidak sedap. Pada semai penyakit ini menyebabkan rebah kecambah (damping off). Pangkal batang membusuk dan tampak seperti selai. Terdapat anggapan  bahawa tanaman pepaya itu mudah. Jika penanaman hanya untuk kebutuhan sendiri, memang demikian. Namun, saat dikebunkan secara komersial, penyakit dumping off dan kapang daun di pembibitan menjadi masalah yang serius.

Dumping off timbul kerana aerasi jelek atau kelembapan tinggi.Pemakaian pupuk kandang belum matang memicu munculnya penyakit ini. Di dataran tinggi, Phythium aphanidermatum tidak aktif. Peranannya diambil alih oleh Rhizoctonia dengan gejala serangan sama. Rebah batang dapat dihindari dengan memakai media semai steril. Sterilisasi dilakukan dengan medium suap air panas atau pemberian Basamid atau formalin 4% selama 24 jam.

b. Penyebab penyakit

Penyakit ini disebabkan oleh patogen Phytophthora palmivora. Dahulu patogen ini sering disebut sebagai Ph. Faberi Maubl atau Ph. Theobromae. Patogen ini mudah dibiakkan. Patogen mempunyai banyak sporangium besar dalam karangan simpodial, mempunyai papil terminal yang menonjol. Setelah masak sporangium lepas dari sporangiofornya beserta dengan pedisel (tangkai) yang pendek.

c. Daur penyakit

Patogen ini merupakan patogen tular tanah dan dapat bertahan lama di dalam tanah yang mengandung banyak bahan organik. Selain itu, dapat menginfeksi berbagai tumbuhan inang, Patogen ini menyebar dengan bantuan air yang mengalir dia atas permukaan tanah. Diduga penyakit dapat menyebar dengan perantaraan sporangium yang terdapat pada permukaan buah yang terinfeksi.

d. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit

Penyakit ini umumnya dapat berkembang baik pada lingkungan yang sesuai. Kerugian besar dapat terjadi pada keadaan tanah yang basah, khususnya jika air mengalir di permukaan tanah. Selain itu suhu udara juga sangat membantu dalam perkembangan penyakit. Penyakit ini berkembang optimal pada suhu udara 20-30°C. Infeksi lebih banyak terjadi pada akar yang luka. Selain itu juga pada buah mtang yang lebih rentan terhadap penyakit ini. Penyakit rebah kecambah yang sering menyerang persemaian terjadi pada suhu dan kelembaban yang tinggi. Penyakit dibantu oleh tanah yang basah, drainase, dan aerasi tanah yang buruk, penanaman biji terlalu dalam, dan jarak tanam yang terlalu rapat (Alfaeez 1987)

e. Pengelolaan

Dalam pengelolaan penyakit ini dapat dilakukan dengan cara adanya drainase yang baik, mencegah penularan pada tanaman lain dengan membongkar dan memusnahkan bagian tanaman agar tidak menjadi sumber inokulum, selain itu diadakan rotasi dengan tanaman lain. Untuk pengendalian di persemaian dilakukan dengan cara menjaga pola pembibitan sehingga drainase dan aerasinya baik

Gambar 4  Buah pepaya terserang P. palmivora (kiri) dan mikroskopik patogen   penyebab busuk akar dan pangkal batang.

5. Bercak Cincin

a. Gejala

Penyakit ini umumnya menyebabkan daun menjadi belang dan terjadi malformasi daun. Jika menyerang buah umumnya buah bergejala terdapat cincin-cincin dan bercak-bercak. Pada tangkai daun terdapat garis-garis hijau tua dengan tangkai yang pendek, sehingga hal ini tentunya akan mempengaruhi produksi buah sehingga sangat membatasi potensi untuk produksi komersial. Pertama gejala muncul sebagai menguning dan urat-kliring daun muda. Bintik-bintik kuning yang menonjol dari daun. Satu atau lebih lobus daun terinfeksi dapat menjadi sangat terdistorsi dan sempit dan garis-garis hijau gelap dapat mengembangkan pada petioles dan batang.

b. Penyebab penyakit

Penyakit ini disebabkan oleh virus bercak cincin papaya Papaya ringspot virus (PRV). Virus ini berbentuk batang lentur dengan panjang 800nm dan garis tengah 12nm. Dalam sel tanaman sakit umumnya terdapat sel khusus berbentuk cakra (pinwhell inclusion).

c. Daur penyakit

Virus ini mudah ditularkan secara mekanis dengan menggunakan sap tanaman. Virus tidak terbawa oleh biji. Sampai saat ini beberapa kutu daun dilaporkan menjadi penular virus secara non persisten terutama Myzus persicae.

d. Pengelolaan

Sampai saat ini pengelolaan menggunakan kimiawi karena sangat susah untuk mengendalikan penyakit di lapang. Untuk penanggulangan yang pernah dicoba yaitu menggunakan cara proteksi silang yaitu dengan menulari semai papaya dengan virus bercak cincin papaya yang telah dilemahkan. Selain itu dihindari penanaman tanaman suku Cucurbitaceae di sekitar kebun papaya. Pertumbuhan tanaman yang terinfeksi menunjukkan penurunan. Dampak lain adalah penurunan berbuah, dan kualitas (terutama rasa). Pepaya ringspot virus dapat ditularkan secara mekanis dan okulasi. Namun, transmisi Aphid adalah mekanisme yang paling penting untuk menyebarkan penyakit di lapangan.

Sampai saat ini, sedikit yang bisa dilakukan untuk secara efektif mengendalikan penyakit ini. Upaya untuk mengurangi tingkat penyakit dengan menerapkan Aphicides (insektisida) belum berhasil. Budidaya papaya yang baik  seperti mengisolasi tanaman terinfeksi dan mengisolasi secara fisik kebun  Namun, sumber-sumber yang baik resistensi lapangan telah diidentifikasi oleh para ilmuwan di Homestead Tropis Pusat Penelitian dan Pendidikan, dengan potensi untuk varietas unggul.

Gambar 5  Gejala malformasi oleh virus bercak cincin papaya

Kesimpulan

Memanglah tidak dapat dinafikan bahawa kehadiran hama dan penyakit pada tumbuh-tumbuhan jelas membawa kerugian kepda para pengusaha tanaman tumbuhan. Ditambah adanya gangguan tersebut juga akan membawa kemudaratan kepada kesehatan manusia jika termakan tumbuhan yang berpenyakit tersebut. Oleh karena itu, langkah-langkah pengendalian dan pencegahan yang sewajarnya haruslah dilaksana dan dipatuhi .

Daftar Pustaka

Alvarez AM, Nishijima WT. 1987. Post harvest disease of papaya. Plant Disease71:681-686

Lim TK, Tang SC. 1984. Anthracnose and some local fruit trees. Seminar Nasional buah-buahan Malaysia. UPM. Malaysia

Semangun H. 2000. Penyakit-penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia. Gajah Mada Univ Pr

DOWNLOAD PENYAKIT PADA TANAMAN PEPAYA!!

DOWNLOAD PENYAKIT KOMODITAS PEPAYA.PPT


LAPORAN AKHIR KKP IPB DESA CIPETUNG KECAMATAN PAGUYANGAN BREBES

February 19, 2011 § Leave a comment

*Download file terlampir di paling bawah post ini!


LAPORAN AKHIR KKP

FAKULTAS PERTANIAN

DESA CIPETUNG

KECAMATAN PAGUYANGAN KABUPATEN BREBES


Oleh :

Muhammad Sofyan                (A14070052)

Galuh Tri P.                             (A24070107)

Averina Sinaga                        (A24070009)

Arkanuddin Siregar                (A24070150)

Lutfi Afifah                            (A34070039)

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

 

RINGKASAN

Kuliah kerja profesi (KKP) yang ditujukan kepada mahasiswa perguruan tinggi negeri khususnya IPB melalui Fakultas Pertaniannya merupakan salah satu bagian dari pengabdian pada masyarakat. Melalui KKP, diharapkan mahasiswa mendapatkan pengalaman tentang pemecahan masalah yang biasa muncul di lapang dan bisa memberikan solusi yang tepat bagi masyarakat yang mempunyai masalah tersebut.

Masyarakat pedesaan yang pada umumnya adalah para petani akan mendapatkan lebih banyak informasi dan pengetahuan mengenai teknik budidaya pertanian terkini dan dapat menerapkannya untuk memajukan usaha-usaha pertanian di desanya. Pengalaman yang diperoleh mahasiswa tersebut selama KKP akan memperluas wawasan & pola pikir mahasiswa dalam menekuni bidang pertanian, khususnya dalam upaya mengembangkan pertanian pedesaan.

Program ini dilaksanakan atas kerjasama antar lembaga perguruan tinggi dan pemerintah kabupaten tempat KKP dilaksanakan. Program KKP telah dilaksanakan di Desa Cipetung, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Kabupaten Brebes merupakan salah satu kabupaten yang mempunyai banyak potensi dilihat dari sumber daya alamnya, pertanian, peternakan, perikanan, perdagangan, dan kreativitas masyarakatnya yang sarat akan pengaruh kebudayaan Jawa.

Banyaknya potensi alam yang tersedia kurang sebanding dengan pemanfaatan yang bisa dikelola masyarakat. Masyarakat juga masih kurang memperhatikan masalah ekologi pertanian di lingkungannya. Perlunya kesadaran akan pentingnya pertanian untuk menunjang masa depan umat manusia juga harus ditanamkan pada pemuda dan pelajar, terutama pada anak di tingkat dasar.

Pengembangan usaha pertanian membutuhkan perencanaan dan pertimbangan yang matang mulai dari tahap awal hingga tahap akhir kegiatan usaha. Kemampuan petani dalam mengolah lahan dan manajemen air masih perlu ditingkatkan lagi dari segi konservasinya. Permasalahan kekeringan air yang biasa terjadi dapat menurunkan produktivitas pertanian. Selain itu hama dan penyakit yang menyerang tanaman juga harus mendapat perhatian agar tidak banyak merugikan masyarakat khususnya petani. Dengan program kerja yang melibatkan mahasiswa dalam prosesnya diharapkan memunculkan solusi yang tepat dan bisa dijadikan sebagai rujukan untuk menghadapi permasalahan yang lain, munculnya kemandirian dalam mengolah produk pertanian serta bisa membuka pandangan masyarakat bahwa pertanian itu luas pengertiannya.

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan karunia-Nya sehingga laporan pertanggungjawaban (LPJ) KKP ini dapat tersusun dengan baik. Setelah melaksanakan kegiatan KKP selama dua bulan, Alhamdulillah kegiatan KKP yang dilaksanakan di Desa Cipetung berjalan dengan lancar sehingga LPJ KKP ini dapat diselesaikan dengan baik. Kegiatan KKP yang dilakukan sangat memberikan manfaat bagi mahasiswa maupun masyarakat di desa tempat KKP.

LPJ ini disusun untuk memenuhi persyaratan akademik dari program KKP Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor yang telah dilaksanakan selama dua bulan. Selain itu, LPJ ini merupakan bentuk pernyataan tertulis atas terlaksananya kegiatan pengabdian mahasiswa dan perguruan tinggi kepada masyarakat di bidang pengembangan pertanian. Banyak pengalaman berharga yang diperoleh mahasiswa ketika melaksanakan kegiatan KKP ini. Semoga pengalaman yang diperoleh menjadi modal penting bagi lulusan fakultas pertanian untuk mengembangkan dan memajukan pertanian di pedesaan.

Bogor, 31 Agustus 2010

 

Tim Penulis

 

PENDAHULUAN

  1. 1. Latar Belakang

Kuliah kerja profesi (KKP) merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk memberikan  kesempatan bagi mahasiswa untuk dapat mengamati dan merasakan  secara  langsung  aktivitas  pekerjaan yang  relevan, khususnya di bidang pertanian. KKP yang dilakukan oleh Fakultas Pertanian bertujuan agar mahasiswa dapat menerapkan atau mengaplikasikan sistem pertanian terpadu yang dapat membantu mengembangkan sumberdaya yang terdapat di daerah tujuan.

Kegiatan KKP ini dilaksanakan di Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes. Daerah ini memiliki potensi sumber daya alam yang masih alami dalam jumlah cukup banyak, namun karena keterbatasan dari masyarakat setempat, sumber daya alam yang terdapat di daerah ini belum dimanfaatkan secara optimal. Secara umum dapat digambarkan bahwa potensi utama yang belum dikembangkan secara maksimal pada daerah Paguyangan adalah pada sektor pertanian, baik pertanian secara khusus maupun secara umum.

Teknik budidaya pertanian yang digunakan di Kecamatan Paguyangan pada umumnya masih sederhana dan konvensional. Para petani menggunakan tradisi secara turun-temurun, selain itu keberadaan kelompok tani di kecamatan tersebut masih kurang efektif sehingga para petani tidak bisa mendapatkan informasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan pertanian. Selain itu, masalah yang ada pada kecamatan ini adalah kurang terkelolanya sistem pengairan sehingga masyarakat menjadi sulit memperoleh air.

Pertanian pedesaan sebagai salah satu potensi besar yang dimiliki daerah memang perlu mendapat perhatian lebih dalam pengembangannya. Untuk itu, dibutuhkan upaya yang lebih serius dalam pengembangan SDA dan SDM bidang pertanian. Salah satu langkah dalam upaya pembangunan daerah adalah membina hubungan dan komunikasi yang proaktif dan responsif antara pemerintah daerah dan masyarakat desa, khususnya para petani. Sebagai contoh adalah revitalisasi fungsi dan peran lembaga pemerintah  (perangkat daerah) terkait, perangkat desa, kelompok tani, maupun individu-individu petaninya sendiri. Berbagai bentuk upaya yang bisa dilakukan antara lain membentuk media konsultasi/penyuluhan, penyebaran informasi dan IPTEK pertanian, ataupun bantuan berupa fasilitas maupun dana yang bisa dimanfaatkan petani dalam mengembangkan usaha pertaniannya.

Selain pemerintah, perguruan tinggi pun mempunyai andil besar dalam pembangunan pertanian. Perguruan tinggi yang mampu menghasilkan mahasiswa dan lulusan yang berkompeten serta syarat ilmu di bidang pertanian yang diharapkan dapat mentransfer pengetahuannya dan memberikan sumbangsih keahliannya kepada masyarakat petani. Hal yang demikian menjadi suatu bentuk pengabdian mahasiswa dan perguruan tinggi pada masyarakat. Dengan adanya KKP Fakultas Pertanian IPB ini, mahasiswa mendapatkan wawasan dan pengalaman mengenai pemecahan masalah-masalah pertanian yang biasa muncul di lapang serta bisa memberikan solusi yang tepat bagi masyarakat yang mengalami permasalahan tersebut.

2. Tujuan

  1. Kegiatan KKP ini dilaksanakan oleh mahasiswa Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor selama dua bulan. Adapun tujuan kegiatan KKP ini adalah :
  2. Mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan mahasiswa dalam menerapkan ilmu, teknologi, dan seni di bidang pertanian serta mahasiswa dapat belajar menghayati dan memecahkan masalah yang ada di lingkungan desa secara komprehensif.
  3. Membantu masyarakat dan pemerintah daerah dalam mengatasi masalah produksi pertanian, kesejahteraan masyarakat dan penataan lingkungan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan teknologi dalam memanfaatkan sumberdaya secara optimal.
  4. Memperkenalkan teknologi pertanian (Agroteknologi) yang dapat diterapkan di lingkungan sekitar dengan memanfaatkan sumberdaya lokal yang tersedia.
  5. Meningkatkan produktivitas pertanian dengan memanfaatkan limbah pertanian sebagai bahan baku pupuk kompos.
  6. Menumbuhkan kepedulian dan kesadaran masyarakat untuk melestarikan lingkungan sekitarnya.

POTENSI WILAYAH DAN PERMASALAHAN

  1. 1. Kondisi Umum Desa Cipetung

Desa cipetung merupakan desa terkecil diantara desa-desa lainnya seperti Desa Pandansari, Ragatunjung, Kretek, Wanatirta, dan Winduaji yang ada di Kecamatan Paguyangan. Desa ini merupakan penyangga objek wisata dari Desa Pandansari  yang terletak di atas ketinggian 900 m dpl dengan kondisi yang lembab dan diselimuti oleh kabut. Rata-rata warga masyarakat di desa ini bekerja sebagai petani tanaman hortikultura. Pendapatan yang mereka peroleh tergantung dari hasil panen.

  1. 2. Potensi Desa

Desa cipetung berpotensi untuk menanam tancis, tanaman hortikultura seperti tanaman cabai, jagung, buncis, kacang panjang, kentang, kubis, sawi serta tanaman perkebunan seperti teh dan  dikelilingi oleh tanaman milik Perhutani seperti pinus dan albasia. Potensi tanaman pertanian ini juga didukung oleh iklim di desa ini yang masih merupakan daerah dataran tinggi.

Pada umumnya lahan pertanian di desa Cipetung adalah lapisan tanah andisol yang berasal dari letusan gunung berapi (tanah vulkanik). Tanah yang demikian sangat cocok dan bagus untuk budidaya tanaman hortikultura dan beberapa tanaman palawija. Jika dibandingkan dengan lahan pertanian di desa-desa lain yang berada di daerah kaki gunung, hasil pertanian di desa Cipetung ini masih lebih bagus dan menguntungkan dari segi ekonomi karena tanahnya yang lebih subur serta kondisi iklim yang lebih sesuai. Ketersediaan air untuk kebututuhan tanaman masih bergantung terhadap hujan dan kondisi cuaca setempat. Namun biasanya hujan di desa ini masih cukup mensuplai karena merupakan dataran tinggi.

Lahan-lahan milik Perhutani yang ada di sekeliling desa Cipetung juga sangat membantu perekonomian warga. Walaupun lahan tersebut sudah ditumbuhi hutan pinus, namun tanah-tanah kosong yang ada di sela-sela pohon pinus masih dapat digarap oleh warga untuk bertani, sepanjang kegiatan petani tersebut tidak mengganggu atau merusak pohon-pohon pinus milik Perhutani.

Desa ini juga memiliki ternak yang cukup berpotensi selain tanaman hortikultura seperti kambing dan sapi. Sebagian besar warga memiliki  hewan ternak yang dibantu oleh Dinas Peternakan dengan memberikan kambing jantang serta kambing betina.

Keberadaan ternak seperti sapi dan kambing menjadi salah satu contoh pola pertanian terpadu di desa ini. Kotoran-kotoran serta ampas pakan ternak tersebut sering digunakan petani sebagai pupuk organik dasar yang langsung diaplikasikan ke lahan.

  1. 3. Permasalahan Desa

Banyaknya  hama serta penyakit yang menyerang tanaman petani seperti antraknosa atau biasa oleh masyarakat disebut dengan “patek” pada tanaman cabai, busuk daun pada tanaman kubis, busuk batang pada tanaman cabai serta serangga yang biasa menyerang seperti ulat, thrips, kutu daun, uret,  dan lain-lain.

Kurangnya pemahaman dan pengetahuan masyarakat terhadap teknik budidaya tanaman secara baik sehingga sebagian besar masyarakat di desa ini tidak memperhatikan dampak cara pengolahan tanah dan manajemen air tanpa metode konservasi, kebersihan lahan mereka, jarak tanam serta dosis pupuk atau pestisida yang mereka gunakan. Selain itu alat-alat atau sarana produksi pertanian yang digunakan oleh petani masih terbatas dan umumnya masih tradisional.

Sebagian besar masyarakat tidak mengetahui sepenuhnya tentang bahan-bahan kimia yang digunakan dalam bertani, mulai dari sasaran dan tujuan pemakaian, aturan pakai, serta efek samping atau bahaya yang dapat ditimbulkan. Sehingga berdampak bagi kesehatan lingkungan maupun merugikan secara ekonomis.

Walaupun kotoran ternak sudah digunakan sebagai pupuk kandang, namun pemanfaatan pupuk kandang tersebut sebagai pupuk organik masih kurang optimal serta tidak maksimal. Hal tersebut dikarenakan teknik aplikasinya tidak melalui pengolahan lebih lanjut.  Hanya sebagian kecil warga petani yang  tau manfaat kotoran ternak dan bahan organik yang telah dikomposkan. Dan kebanyakan petani baru dapat menggunakan pupuk kompos yang dibeli dari desa lain. Oleh karena itu, masih banyak potensi pertanian yang belum dikelola secara terpadu.

Keberadaan kelompok tani di desa ini belum sepenuhnya digerakkan sesuai peran dan fungsi yang diharapkan, budaya masyarakat yang masih malu bertanya dan kurang terbuka menjadi kendala utama dalam penyebaran informasi dan IPTEK pertanian terkini bagi masyarakat itu sendiri. Selain itu, belum terwujudnya hubungan dan komunikasi yang proaktif dan responsif antara lembaga pemerintah dengan masyarakat petani menjadikan terbatasnya proses pengembangan pertanian di kecamatan Paguyangan pada umumnya, khususnya di desa Cipetung.

PROGRAM DAN PELAKSANAAN

1.      Klinik Tanaman

1.1       Latar belakang

Pertanian di Cipetung mempunyai potensi yang cukup bagus untuk tanaman sayur-sayuran. Ketidaktahuan petani akan adanya cara-cara teknik budidaya pertanian yang baik, pengelolaan tanah yang baik, pengelolaan hama dan penyakit dengan baik menyebabkan petani mendapatkan sedikit keuntungan dari hasil pertaniannya. Oleh karena itu mahasiswa KKP di Cipetung mencoba membuat suatu terobosan baru dimana menjadi wadah bagi petani untuk dapat berkonsultasi mengenai masalah-masalah pertanian.

1.2       Pelaksanaan

Klinik tanaman diadakan di balai desa Cipetung dengan memanfaatkan fasilitas yang ada. Klinik tanaman ini dibuka selama satu minggu dan antusiasme masyarakat terhadap adanya klinik ini sangatlah besar. Terbukti dari banyaknya petani, tokoh masyarakat, ataupun pihak pemerintahan desa yang hadir dalam kegiatan klinik tanaman tersebut. Dalam klinik ini juga disediakan simulasi pembuatan pestisida nabati dan cara-cara penaggulangan hama dan penyakit secara terpadu.

Dalam simulasi tersebut, diperkenalkan tanaman apa saja yang bisa dijadikan bahan pestisida nabati dengan cara memperlihatkan gambar-gambar serta disediakan contoh awetan bagian tanaman yang digunakan. Selain itu setiap pengunjung yang datang ke klinik bisa lebih memperluas pengetahuannya di bidang tani melalui buku-buku atau majalah pertanian, leaflet serta melalui mading yang dipajang di klinik tanaman. Selain ada sesi tanya jawab, para pengunjung diberikan kesempatan untuk membaca berita-berita pertanian tersebut.

Setiap pengunjung klinik tanaman diberikan bahan-bahan fotokopian berupa buku saku tentang teknik budidaya tanaman, pemberdayaan pestisida nabati, pengelolaan tanah dan pembuatan kompos. Dengan demikian para pengunjung yang datang selain mendapatkan informasi langsung melalui penyuluhan lisan dan simulasi, juga mendapatkan beberapa pegangan usaha tani dalam bentuk bahan tercetak.

Kendala awal yang dihadapi adalah susahnya menentukan kapan waktunya klinik tanaman akan dibuka. Pada akhirnya ditetapkan bahwa waktu dibukanya klinik yaitu sore hari sekitar jam 15.30-18.00 WIB. Pertimbangannya adalah jika dibuka pada waktu antara pagi sampai siang hari, kemungkinan besar akan banyak para petani yang tidak akan bisa datang ke klinik tanaman. Hal tersebut dikarenakan pada jam-jam tersebut adalah waktunya bagi para petani untuk kerja di lahan. Sementara para petani kebanyakan mempunyai waktu senggang setelah waktu ashar tiba. Namun pada saat tersebut kebanyakan petani baru pulang dari lahan, sehingga petani merasa capek dan akibatnya kurang efektifnya proses komunikasi yang dilakukan.

2. Pelatihan Pembuatan Kompos

2.1       Latar belakang

Petani di desa Cipetung sejauh ini masih menggunakan pupuk anorganik sebagai pupuk utama dalam budidaya tanamannya. Pupuk kompos pun sebenarnya telah mereka gunakan namun dalam penggunaan pupuk kompos tersebut petani masih membeli di luar desa cipetung dan harganya pun cukup mahal. Lingkungan sekitar pertanian dan warga di desa cipetung sebenarnya memiliki potensi dalam pemanfaatan sumber daya untuk pembuatan pupuk kompos namun mereka masih kurang memahami dalam teknis pembuatannya . Pada kegiatan pelatihan pembuatan kompos ini diharapkan petani dapat mengenal lebih jauh arti dan manfaat pupuk kompos dan juga dapat membuat pupuk kompos itu sendiri secara mandiri dengan memanfaatkan sumber daya di sekitarnya.

2.2       Deskripsi

Pupuk kompos adalah pupuk yang terbuat dari hasil pembusukan bahan-bahan sisa organik beserta kotoran ternak yang telah mengalami proses dekomposisi oleh bantuan mikroorganisme sehingga  nantinya dapat dimanfaatkan sebagai input untuk lahan pertanian. Pupuk kompos sendiri sangat bermanfaat untuk lahan pertanian dimana dapat memperbaiki kondisi tanah baik sifat kimia, biologi maupun fisik. Pupuk kompos dalam aplikasinya pada tanah akan memberikan efek yaitu kondisi tanah akan menjadi gembur hal ini berkaitan dengan sifat fisik tanahnya, dengan semakin gemburnya tanah maka proses aerasi, infiltrasi dan drainase tanah akan menjadi lebih baik.

Ada pun kesuburan yang bersifat kimia yaitu berkaitan dengan unsur hara di dalam tanah akan menjadi lebih baik lagi. Namun kebutuhan unsur hara yang diberikan oleh pupuk kompos tidak sekomplit atau selengkap dengan pupuk anorganik. Tapi dalam kearifan lahan terkait dalam hal ini yaitu kesuburan tanah yang berkelanjutan baiknya pemupukan tidak selalu menggunakan pupuk anorganik. Karena dapat menyebabkan kondisi tanah menjadi memburuk dan juga terlalu mahal bagi petani untuk selalu menggunakan pupuk anorganik.

2.3       Pelaksanaan

Pada pelaksanaan kegiatan pelatihan pembuatan kompos bahan baku yang kami gunakan awalnya adalah jerami, namun karena jerami sulit didapatkan di daerah desa Cipetung yang berada di daerah pegunungan maka bahan baku yang kami gunakan adalah memanfaatkan bahan baku atau pun sumber bahan organik yang ada di sana saja. Selain kotoran ternak, bahan organik berupa daun jagung dan babadotan atau pun rerumputan yang lain yang tidak terpakai atau tergunakan lagi kami jadikan sumber bahan baku pada pembuatan pupuk kompos tersebut. Walau pun hal tersebut awalnya menjadi kendala bagi kami karena dekomposisi bahan tersebut lebih lama dibandingkan dengan jerami.

Pelaksanaan praktek pembuatan kompos dilakukan pada hari Selasa, 20 Juli 2010, yang berlokasi di pinggir jalan utama desa di lapangan kosong balai desa. Kendala utama yang dirasakan adalah menentukan waktu yang paling pas dengan kondisi warga Cipetung, dimana telah dilakukan survey kepada beberapa warga, tokoh masyarakat dan pamong desa mengenai kapan baiknya diadakan praktek pembuatan kompos ini. Harapannya pada saat waktu yang ditetapkan itu telah diumumkan, saat itu adalah waktu dimana kemungkinan besar warga Cipetung dari semua lapisan akan datang paling banyak.

Ada pun pada saat pelaksanaan demonstrasi pembuatan pupuk kompos yang hadir hanya kurang lebih 15 orang. Hal ini dimaklumi karena banyak petani di sana masih bekerja di lahan sehingga tidak dapat datang semuanya. Walaupun pada saat demonstrasi di lapang warga yang datang hanya sedikit, tetapi penyuluhan secara lisan dan metode diskusi (tanya jawab) untuk pembuatan kompos ini telah dimulai sejak minggu kedua waktu KKP. Penyuluhan yang demikian kami laksanakan dari RT ke RT setiap minggunya dengan cara melakukan kunjungan silaturrahmi lewat acara pengajian (tahlilan) mingguan di masing-masing RT.

Dalam setiap penyuluhan sebenarnya bukan masalah pembuatan pupuk kompos saja yang didiskusikan, namun juga mencakup pengelolaan tanah yang baik, teknik budidaya tanaman yang aplikatif, serta pengelolaan hama penyakit. Diskusi yang dilakukan selama penyuluhan tersebut cukup baik dan komunikasi berlangsung dua arah, sehingga ada respon baik dari masyarakat. Hal itu memberikan pengalaman baru dan telah memperluas wawasan mahasiswa KKP tentang bagaimana sebenarnya petani menghadapi beragam permasalahan pertanian dan usaha apa sajakah yang dilakukan petani untuk mencari solusinya.

3.      Pelatihan Teknik Budidaya Tanaman

3.1       Latar belakang

Sebagian besar masyarakat desa Cipetung adalah petani. Potensi lahan pertanian di desa ini cukup baik untuk dikembangkan. Hal itu terlihat dari kondisi tanah yang subur dan ketersediaan air yang berasal dari hujan dan mata air gunung. Para petani di desa ini sudah mempunyai kelompok tani. Komoditi yang banyak dibudidayakan oleh para petani tersebut antara lain tanaman teh, jagung, cabai, kacang panjang dan beberapa macam sayuran. Pada umumnya kegiatan budidaya tanaman masih dilakukan secara konvensional. Varietas yang digunakan petani sebagian besar berdasarkan kesukaan petani dan pola tanam yang digunakan juga masih sangat konvensional sesuai dengan ilmu yang diwariskan dari generasi-generasi sebelumnya.

Permasalahan lain dalam hal teknis budidaya yaitu cara pengolahan tanah yang kurang baik, minimnya pemeliharaan tanaman, serta aplikasi pupuk dan pestisida yang tidak tepat. Pengetahuan petani tentang pemupukan dan hama penyakit masih tergolong minim. Petani lebih sering menggunakan pupuk anorganik daripada memanfaatkan pupuk organik yang ada di alam. Selain itu, para petani biasanya menggunakan dosis pupuk tidak sesuai dengan rekomendasi yang dianjurkan. Hal ini mengakibatkan hasil panen rata-rata yang diperoleh petani juga tidak maksimal dan kualitas yang dihasilkan tidak terlalu baik.

Keberadaan kelompok tani belum memberikan pengaruh nyata terhadap perkembangan pertanian di desa. Hal ini disebabkan kelompok tani di desa ini kurang efektif atau belum berjalan dengan baik karena tidak ada kegiatan rutin yang diadakan serta kurang berperannya penyuluh pertanian lapang dari dinas pertanian setempat. Oleh karena itu banyak petani yang tidak tahu atau kekurangan informasi mengenai teknik/cara pertanian terbaru.

3.2       Deskripsi

Program Pelatihan Teknik Budidaya Tanaman bertujuan untuk memberikan penyuluhan mengenai teknik budidaya tanaman yang baik dan tepat kepada masyarakat petani dan menerapkannya pada suatu lahan pertanaman contoh. Penyuluhan kepada kelompok tani mencakup persiapan dan metode pengolahan tanah, pemilihan benih/bibit, penanaman, pemeliharaan (penyiraman dan pembersihan gulma), pemupukan dan penanggulangan hama penyakit tanaman. Dengan adanya pelatihan penyuluhan ini diharapkan para petani dapat mengetahui dan mengaplikasikan teknik budidaya tanaman yang baik dan tepat demi meningkatkan produksi pertanian dan menjadikan pertanian desa Cipetung lebih maju.

3.3       Pelaksanaan

Pada pelaksanaan pelatihan teknik budidaya tanaman mahasiswa KKP harus mendapatkan suatu lahan yang dapat dijadikan sebagai demplot percobaan pelatihan ini. Karena dengan adanya suatu demplot percobaan maka hal-hal yang disampaikan kepada petani terkait dengan cara budidaya tanaman dari awal sampai akhir bisa langsung direalisasikan melalui dempot lahan percobaan budidaya tanaman. Karena bagi petani tak cukup dengan hanya berbicara saja tapi mereka ingin bukti atau pun melihat langsung apa yang kami sampaikan terkait dengan cara budidaya tanaman yang tepat.

Kendala awal yang kami alami adalah susahnya mencari lahan yang benar-benar tepat dan pas yang bisa dijadikan demplot lahan percobaan. Beberapa kriteria yang kami tentukan untuk penetapan lokasi lahan antara lain lahan harus dekat dengan desa serta berada di pinggir jalan, jalurnya sering dan banyak dilewati warga, serta kondisi tanahnya subur serta tidak jauh dari sumber air. Lahan tersebut juga harus miring agar nanti dapat diterapkan metode pengelolaan lahan dengan prinsip konservasi tanah dan air yang baik. Hal ini bertujuan mencegah hilangnya kesuburan tanah dengan dibangunnya bangunan konservasi tanah yang baik, dalam hal ini kami menerapkan pembuatan teras gulud pada demplot lahan percobaan.

Program Pelatihan Teknik Budidaya ini dalam prakteknya sebenarnya masih dipadukan dengan Program Klinik Tanaman dan juga penyuluhan mingguan di setiap RT. Setelah dilakukan diskusi-diskusi serta penyuluhan tentunya dibutuhkan sesuatu alat peraga yang benar-benar bisa dipercontohkan. Pada saat petani ingin melihat bagaimana sebenarnya praktek budidaya tanaman yang tepat sesuai kondisi di desa, maka demplot lahan percobaan yang telah dibuat bisa menjadi contoh nyata bagi warga desa, khususnya para petani.

4.      Insect Teaching

4.1       Latar belakang

Anak-anak mengembangkan pemahaman awal mereka tentang serangga dari buku, film, dan orang dewasa dalam hidup mereka. Sayangnya, serangga di dalam karya fiksi tidak selalu digambarkan dengan akurasi ilmiah, dan orang dewasa mungkin mewariskan kesalahpahaman mereka sendiri tentang serangga. Dengan demikian perlu dilakukan suatu kegiatan atau program yang dapat meluruskan kesalahpahaman anak-anak terhadap serangga, agar anak-anak terutama yang sudah duduk di bangku sekolah dapat memahami bagaimana keadaan serangga itu di lapangan serta apa pengaruhnya bagi lingkungan pertanian. Berkaitan dengan hal itu, dalam proposal akan diadakan “INSECT TEACHING”.

4.2       Deskripsi

Melalui kegiatan ini akan diuraikan berbagai kesalahpahaman yang paling umum tentang serangga. Tujuan akan adanya kegiatan ini adalah mengenalkan secara lebih jauh pemahaman umum mereka tentang serangga dan hubungannya dengan pertanian, sehingga mereka dapat mengaplikasikan dan memanfaatkan pengetahuan mereka tentang serangga hama maupun serangga non hama.

4.3       Pelaksanaan

Pada pelaksanaan kegiatan insect teaching kami berawal dengan secara mandiri dan bersama-sama mencari beragam jenis serangga yang ada di daerah sekitar. Kegiatan ini berlangsung hingga 2 minggu awal KKP di desa Cipetung, yaitu mulai dari pencarian dan pengawetan serangga-seranga tersebut. Setelah didapatkan dan diawetkan kedalam display serangga maka display tersebut diperkenalkan kepada siswa-siswi SD N Desa Cipetung. Kami mencoba memperkenalkan apa itu serangga dan bagaimana jenis-jenisnya, ada apa sajakah dampak yang ditimbulkan dari serangga-serangga tersebut kepada tanaman pertanian khususnya. Pada kegiatan ini pun telah diadakan lomba menggambar serangga kepada adik-adik siswa-siswi SD N Desa Cipetung. Hal ini dilakukan agar meningkatkan rasa semangat dan antusiasme mereka dalam mengenal serangga itu apa.

5. Pemberdayaan Pestisida Nabati dan Penyuluhan Bahaya Pestisida Kimia terhadap Lingkungan dan Kesehatan Manusia di Kecamatan Paguyangan

5.1       Latar belakang

Pestisida merupakan salah satu hasil teknologi modern dan telah terbukti mempunyai peranan yang penting dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat, karena telah menjadi unsur utama dalam meningkatkan hasil pertanian. Pestisida selain berdampak positif dapat juga berdampak negatif. Bila tidak dikelola dengan baik dan bijaksana dampak negatif pestisida antara lain keracunan pada manusia, ternak, satwa liar, tanaman, kasus resistensi dan pencemaran lingkungan. Memperhatikan manfaat dan dampak negatifnya maka pestisida harus dikelola dengan sebaik-baiknya sehingga dapat diperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dengan dampak negatif yang sekecil-kecilnya.

Penyuluhan dalam arti umum adalah ilmu sosial yang mempelajari sistem dan proses dan perubahan pada individu serta masyarakat agar dapat terwujud perubahan yang lebih baik sesuai dengan yang diharapkan. Penyuluhan dengan demikian dapat diartikan sebagai suatu sistem pendidikan yang bersifat nonformal di luar sistem sekolah yang biasa. Pendidikan masyarakat juga mengandung pengertian usaha manusia untuk meningkatkan kepribadian, keterampilan, dan pengetahuan agar dapat diserap atau dipraktekkan oleh masyarakat. Dengan mengacu pada pengertian di atas penyuluhan pertanian adalah usaha mengubah perilaku petani dan keluarganya agar mereka mengetahui, menyadari, mempunyai kemampuan dan kemauan, serta tanggung jawab untuk memecahkan masalahnya sendiri dalam rangka kegiatan usaha tani dan kehidupannya (Kartasapoetra, 1994), dengan penyuluhan diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antara praktek yang biasa dijalankan oleh para petani dengan pengetahuan dan teknologi yang selalu berkembang menjadi kebutuhan para petani tersebut.

5.2       Pelaksanaan

Pada pelaksanaan kegiatan pemberdayaan pestisida nabati di sini adalah dengan adanya pemanfaatan suatu tanaman yang diambil ekstraknya sehingga nantinya bisa digunakan sebagai pengganti pestisida kimia. Karena di Desa Cipetung penggunaan pestisida kimia sudah banyak sekali dan hampir melebihi ambang batas yang sewajarnya diberikan kepada tanaman. Dengan keadaan seperti ini pemberdayaan pestisida nabati yang ramah lingkungan dan tidak mengeluarkan biaya yang besar dapat diaplikasikan atau diterapkan pula kepada petani di desa Cipetung. Sehingga nantinya hasil yang diperoleh petani pun baik, sehat, dan menguntungkan.

Program penyuluhan pemberdayaan pestisida nabati ini juga dilakukan melalui kunjungan ke setiap RT lewat acara pengajian (tahlilan) mingguan, serta dikombinasikan dengan diskusi-diskusi dalam program Klinik Tanaman.

Ada pun berbagai macam tanaman baik dari daun batang atau pun umbinya kami kenalkan kepada petani sebagai subtitusi dari penggunaan pestisida kimia. Pada kegiatan ini petani pun menyadari akan efek dari bahaya pestisida kimia nantinya dalam jangka panjang baik untuk tanaman dan tanah. Petani pun antusias ikut membuat pestisida nabati yang kami sampaikan.

Setelah ramuan bahan pestisida nabati dibuat, maka pestisida nabati ini yang kami terapkan pada demplot lahan percobaan Program Pelatihan Teknik Budidaya Tanaman. Sehingga  apa yang kami sampaikan ke masyarakat petani di desa dapat terealisasi langsung di lapang. Selain itu, bahan-bahan pembuatan pestisida nabati ini juga dimanfaatkan untuk bahan simulasi pada kegiatan Klinik Tanaman.

6.      Pengenalan Herbarium Tanaman Obat

6.1       Latar belakang

Herbarium merupakan suatu contoh tanaman yang telah mengalami proses pengawetan menggunakan alkohol dan panas matahari. Tanaman yang digunakan untuk dijadikan sebagai herbarium di Desa Cipetung adalah tanaman obat-obatan. Bagian tanaman tersebut diawetkan dengan alkohol kemudian dikeringkan. Setelah kering bagian tanaman ditempelkan di kertas dan dijabarkan bagian-bagian dan manfaat dari tanaman tersebut secara detail.

Herbarium ini bertujuan untuk memperkenalkan beberapa jenis tanaman khususnya tanaman obat-obatan. Selain mengenal jenis tanaman tersebut diharapkan para anak-anak di Desa Cipetung mengetahui bagian-bagian tanaman (morfologi) serta manfaat tanaman tersebut. Sasaran dalam kegiatan ini adalah siswa-siswi SD N Desa Cipetung.

6.2       Pelaksanaan

Pada pelaksanaan kegiatan herbarium ini kami mencoba mengenalkan kepada adik-adik siswa-siswi SD N Desa Cipetung tanaman apa saja yang dapat dijadikan obat. Siswa-siswi SD N Desa Cipetung diperkenalkan dari mulai bagian tanaman mana yang berkhasiat untuk dijadikan obat dan juga tanaman apa saja yang bisa dijadikan obat yang umumnya mudah didapatkan di desanya.

Dalam pengenalan herbarium ini, selain awetan tanaman obat berupa herbarium juga dibantu dengan mading yang berisi gambar-gambar berbagai tanaman obat dan khasiatnya. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini juga menggunakan metode tanya jawab antara mahasiswa KKP dengan siswa-siswi SD N Desa Cipetung agar terjadi komunikasi yang lebih kondusif dan sekedar mengetahui seberapa besar pemahaman dan wawasan adik-adik siswa-siswi SD mengenai tanaman obat.

7.      Teknik Penanaman Tanaman Sayuran

7.1       Latar belakang

Teknik budidaya merupakan cara untuk menghasilkan produksi tanaman yang maksimal dan berkelanjutan. Teknik budidaya tanaman terdiri dari beberapa tahap yaitu:

  1. Cultivar : persiapan benih unggul.
  2. Pembibitan.
  3. Pengolahan lahan.
  4. Penanaman.
  5. Pemeliharaan.
  6. Panen.
  7. Pasca panen.

Teknik penanaman merupakan salah satu tahap teknik budidaya tanaman. Tanaman yang akan ditanam didalam kegiatan ini adalah kangkung. Kangkung merupakan salah satu jenis sayur yang kaya akan zat besi dan umur produksi pendek. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan cara bertanam kepada siswa-siswi Sekolah Dasar (SD) secara tepat dan baik. Sasaran kegiatan ini adalah siswa-siswi SD N Desa Cipetung.

7.2       Pelaksanaan

Pada pelaksanaan kegiatan pelatihan bertanam kepada siswa-siswi SD N Desa Cipetung ini kami mencoba mengajak dan melatih adik-adik tersebut bagaimana cara bertanam yang baik dari mulai menanam hingga merawatnya. Pada kegiatan ini bahan tanam yang digunakan adalah benih tanaman sayuran kangkung percontohan. Pada kegiatan pelatihan bertanam di sini kami menggunakan polybag sebagai media tanamnya. Pada kegiatan ini adik-adik ditunjukan langsung cara menanam dalam media polybag dan mereka menerapkan langsung teknik-tekniknya karena kami coba bagikan kelompok dari kelas tiga sampai kelas enam dan dalam setiap kelas kami bagi menjadi kurang lebih 5-6 kelompok untuk menerapkan menanam kangkung di dalam polybag.

PEMBAHASAN UMUM

Kuliah Kerja Profesi merupakan suatu kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan melibatkan mahasiswa untuk hidup di tengah masyarakat, yang secara langsung bersama-sama masyarakat mengidentifikasi serta menangani masalah pertanian dan lingkungan yang dihadapi serta membantu menyelesaikan persoalan pembangunan di daerah dengan pendekatan multi disiplin ilmu.

Berdasarkan hasil identifikasi masalah pertanian dan lingkungan yang ada, terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi, salah satunya adalah kurang maksimalnya pemanfaatan bahan-bahan organik. Dalam hal ini, bahan-bahan organik tersebut ditujukan sebagai bahan pembuatan pupuk organik (kompos). Dalam kenyataannya, di wilayah tersebut bila lahan telah panen maka sisa-sisa tanaman yang tidak terpakai dibuang atau dibakar begitu saja. Akibat yang ditimbulkan berupa polusi udara, terjadi fluktuasi suhu tanah, serta dapat mematikan organisme di tanah.  Oleh karena itu, kegiatan penyuluhan kompos yang diangkat dilatarbelakangi dari permasalahan yang ada di desa dengan memanfaatkan bahan organik semaksimal mungkin.

Bahan organik yang dimanfaatkan berupa bahan-bahan dari jagung dan rerumputan serta dedaunan pohon, karena sebagian besar wilayah tersebut ditanami komoditas jagung. Bahan organik tersebut diolah menjadi pupuk organik (kompos) yang digunakan sebagai media untuk pelaksanaan program. Kompos merupakan bahan organik yang telah mengalami proses dekomposisi oleh mikroorganisme pengurai, sehingga dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki sifat-sifat tanah. Penggunaan kompos sangat baik bagi tanah karena meningkatkan aerasi dan memperbaiki struktur tanah. Hal yang perlu diperhatikan adalah penentuan jumlah dosis yang optimal bagi tanaman dan lahan, karena tiap tanaman dan lahan membutuhkan kebutuhan unsur hara yang berbeda-beda. Hal inilah yang menjadi kendala sehingga menyebabkan kurang efisiennya kompos untuk lahan sawah yang sangat luas sehingga petani jarang mengaplikasikannya serta waktu pembuatannya yang relatif lama.

Hampir sama halnya dengan pemberdayaan pestisida nabati. Banyak tanaman di sekitar desa yang sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk pestisida nabati sebagi substitusi pestisida kimia. Karena sudah terlalu banyak permasalahan yang ditimbulakn oleh pestisida kimia ini pada lingkungan, mulai dari permasalahan kesehatan manusia, hewan maupun lingkungan, serta masalah resistensi hama yang menjadikan tanaman produksi semakin menurun hasilnya.  Sebenarnya awal dari keadaan yang seperti ini adalah karena ketidaktahuan, kurangnya pemahaman serta kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya, khususnya dari sisi ekologi pertanian (agroekologi).

KESIMPULAN DAN SARAN

Pembuatan dan pengaplikasian pupuk kompos ke lahan pertanian, penggunaan pestisida nabati dan pelatihan teknik budi daya tanaman merupakan kegiatan yang baik diterapkan di desa Cipetung karena dengan melihat keadaan pertanian di desa Cipetung sendiri yang dinilai masih kurang dalam teknik bertani. Ada pun kegiatan untuk siswa-siwi SD N Desa Cipetung seperti belajar serangga, berlatih menanam dan pengenalan herbarium tanaman obat merupakan kegiatan yang pas dan tepat dalam sasaran kepada generasi muda. Karena dengan mengetahui wawasan pertanian sejak dini maka nantinya pertanian yang dilakukan akan lebih maju lagi.

Saran yang dapat kami berikan adalah untuk ke depannya sebaiknya sektor peternakan ikut juga dalam kegiatan KKP atau KKN berikutnya di desa Cipetung. Karena sangat banyak ternak-ternak di desa Cipetung yang sebenarnya potensial sekali untuk dimanfaatkan dalam proses usaha pertanian terpadu. Dengan memberikan bantuan dan menyumbangkan ilmunya untuk sektor peternakan sehingga sektor pertanian dan peternakan di desa Cipetung lebih maju dan berkembang dengan baik.

DOWNLOAD LAPORAN AKHIR KKP IPB CIPETUNG BREBES!!!

DOWNLOAD KKP IPB DESA CIPETUNG BREBES.PPT

PROPOSAL KEGIATAN PROGRAM KULIAH KERJA PROFESI (KKP) DESA CIPETUNG, KECAMATAN PAGUYANGAN KABUPATEN BREBES

February 19, 2011 § Leave a comment

*Download file terlampir di paling bawah post ini!

PROPOSAL KEGIATAN

PROGRAM KULIAH KERJA PROFESI ( KKP)

DESA CIPETUNG, KECAMATAN PAGUYANGAN

KABUPATEN BREBES

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

 


LEMBAR PENGESAHAN

PROGRAM KERJA KKP 2010

KABUPATEN BREBES, KECAMATAN PAGUYANGAN

“ Upaya Peningkatan Teknologi serta Sistem Budidaya Pertanian Untuk Menciptakan Pertanian yang Maju dan Berkelanjutan”

Mengetahui,

Dosen Pembimbing KKP (1)                                      Dosen Pembimbing KKP (2)


Ir. Hermanu Wijaya, Msc                                                Dr. Ir. Hariyadi, MS

NIP : 19640830 199003 1003                                    NIP : 19611008 198601 1001

Ketua Kelompok


Muhammad Sofyan

NIM : A14070039

 

 

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Kuliah kerja profesi (KKP) merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk memberikan  kesempatan bagi mahasiswa untuk dapat mengamati dan merasakan  secara  langsung  aktivitas  pekerjaan yang  relevan, khususnya di bidang pertanian. KKP yang dilakukan oleh Fakultas Pertanian bertujuan agar mahasiswa dapat menerapkan atau mengaplikasikan sistem pertanian terpadu yang dapat membantu mengembangkan sumberdaya yang terdapat di daerah tujuan.

Kegiatan KKP ini dilaksanakan di Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes. Daerah ini memiliki potensi sumber daya alam yang masih alami dalam jumlah cukup banyak, namun karena keterbatasan dari masyarakat setempat, sumber daya alam yang terdapat di daerah ini belum dimanfaatkan secara optimal. Secara umum dapat digambarkan bahwa potensi utama yang belum dikembangkan secara maksimal pada daerah Paguyangan adalah pada sektor pertanian, baik pertanian secara khusus maupun secara umum.

Teknik pertanian yang digunakan di Kecamatan Paguyangan pada umumnya masih sederhana dan konvensional. Para petani menggunakan tradisi secara turun-temurun, selain itu keberadaan kelompok tani di kecamatan tersebut kurang efektif sehingga para petani tidak bisa mendapatkan informasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan pertanian. Selain itu, masalah yang ada pada kecamatan ini adalah kurang terkelolanya system pengairan sehingga masyarakat menjadi sulit memperoleh air.

1.2 Tujuan

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menerapkan ilmu dan teknologi pertanian yang tepat guna, serta menerapkan sistem pertanian yang berkelanjutan di  Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

1.3 Perumusan masalah

Berdasarkan permasalahan yang telah kami paparkan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan yang dihadapi sebagai berikut :

Masalah di desa :

1. Kurangnya informasi yang didapatkan oleh petani

2. Sistem pengairan yang kurang efektif

3. Minimnya pengetahuan petani tentang teknologi usaha tani

4. Minimnya sarana dan prasarana yang tersedia

1.4 Keluaran yang diharapkan

Dengan adanya Program Kuliah Kerja Profesi ini, yang berupa pelatihan dalam pembuatan pupuk cair organik diharapkan dapat memperoleh luaran sebagai berikut :

  1. Petani Paguyangan dapat memperoleh informasi secara rinci mengenai teknologi usahatani
  2. Dapat mengaplikasikan teknologi tersebut dalam kegiatan pertanian guna meningkatkan produksi dan pendapatan para petani.
  3. Dapat mensosialisasikan kembali kelompok tani yang ada di Kecamatan Paguyangan dengan mengadakan kegiatan rutin oleh para petani.
  4. Mengelola system pengairan dengan baik agar tidak berdampak besar bagi kehidupan serta system pengairan ke lahan sawah.

II. LINGKUP DAN RENCANA KEGIATAN

KEGIATAN 1

Pengolahan tanah dengan konsep konservasi tanah dan air

  • Pemanfaatan teras gulud dalam system pertanian

-          lahan dengan keadaan topografi miring kurang lebih mencapai 45% yang dikonversi atau pun dimanfaatkan sebagai lahan pertanian biasanya menggunakan pola penanaman yang kurang baik yaitu dengan pola penanaman yang tak melawan arah kontur yakni searah dengan arah lereng. Ada pun pula dalam pola penanaman tersebut akan menimbulkan tingkat erosi yang dapat menggerus tanah sehingga top soil sebagai tanah yang subur hilang karena tererosi. Satu hal yang nyata terjadi adalah tak adanya pemanfaatan air terhadap tanaman tersebut. Sehingga air yang semestinya masuk ke dalam tanah sebagai simpanan air tak terjadi. Karena aliran permukaan (runn off) terjadi lebih besar sehingga kehilangan air begitu besar dan erosi pun terjadi.

-          Teras gulud merupakan salah satu metode pemanfaatan pengolahan tanah untuk system pertanian dengan keadaan lahan yang miring hingga mencapai 45%. Metode ini memanfaatkan aliran dan topografi kemiringan lahan tersebut. Dengan menggunakan metode ini air yang hilang melalui aliran permukaan dapat diminimalisir karena metode ini memanfaatkan bentukan lahan yang dirubah atau modifikasi. lahan yang dibawah dimodifikasi dibentuk suatu guludan dan disamping guludan tersebut dibuat lubang yang berguna sebagai simpanan air tersebut. Ada pun hal yang dapat dilakukan untuk menambah fungsi dari system teras gulud ini adalah pada lubang disamping guludan yang berpereran sebagai pemberhentian air yang bergerak ditambahkan sisa-sisa tanaman. Sisa-sisa tanaman tersebut dapat berbentuk apa saja, baik yang masih segar atau pun yang belum segar. Hal ini berguna untuk pembentukan biopori. Dengan terbentuknya biopori pada lubang tersebut ,maka air akan tersimpan dengan baik pada lubang tersebut. Sehingga kehilangan air melalui aliran permukaan dapat dihindarkan karena air masuk kedalam tanah dan tersimpan dengan baik nantinya dapat dimanfaatkan oleh tanaman

  • Pemanfaatan biopori untuk lingkungan

-          Biopori adalah metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi banjir dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah. Peningkatan daya resap air pada tanah dilakukan dengan membuat lubang pada tanah dan menimbunnya dengan sampah organik untuk menghasilkan kompos. Sampah organik yang ditimbunkan pada lubang ini kemudian dapat menghidupi fauna tanah, yang seterusnya mampu menciptakan pori-pori di dalam tanah.

Cara Pembuatan
  1. Buat lubang silindris secara vertikal ke dalam tanah dengan diamter 20 cm.
  2. Kedalaman kurang lebih 100 cm atau tidak sampai melampaui muka air tanah bila air tanahnya dangkal. Jarak antar lubang antara 50 – 100 cm
  3. Mulut lubang dapat diperkuat dengan semen selebar 2 – 3 cm dengan tebal 2 cm di sekeliling mulut lubang.
  4. Isi lubang dengan sampah organik yang berasal dari sampah dapur, sisa tanaman, dedaunan, atau pangkasan rumput
  5. Sampah organik perlu selalu ditambahkan ke dalam lubang yang isinya sudah berkurang dan menyusut akibat proses pelapukan.
  6. Kompos yang terbentuk dalam lubang dapat diambil pada setiap akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan lubang resapan.

No. Kegiatan Juli
1 2 3 4
1. Survey desa
2. Pengolahan hasil survey
3. Pelaksanaan kegiatan

 

 

 

Jadwal Kegiatan

Rincian biaya

Pemanfaatan teras gulud dalam system pertanian

Bahan, alat dan rincian biaya

-          Cangkul 3x@40.000 = Rp.120.000

-          Sisa- sisa tanaman       = 0

-          Total Biaya Rp 120.000

Pemanfaatan biopori untuk lingkungan

Bor biopori  2x@200.000 = 400.000

Sisa-sisa tanaman                                =  0

Air                                                       =  0

Ember                                                  =  0

Total Biaya Rp 400.000

KEGIATAN 2

Insect Teaching

Anak-anak mengembangkan pemahaman awal mereka tentang serangga dari buku, film, dan orang dewasa dalam hidup mereka. Sayangnya, serangga di dalam karya fiksi tidak selalu digambarkan dengan akurasi ilmiah, dan orang dewasa mungkin mewariskan kesalahpahaman mereka sendiri tentang serangga. Dalam proposal ini direncanakan akan diadakan “INSECT TEACHING” dalam kegiatan ini akan diuraikan berbagai kesalahpahaman yang paling umum tentang serangga. Tujuan akan adanya kegiatan ini adalah mengenalkan secara lebih jauh pemahaman umum mereka tentang serangga dan hubungannya dengan pertanian, sehingga mereka dapat mengaplikasikan dan memanfaatkan pengetahuan mereka tentang serangga hama maupun serangga non hama.

Sasaran

Sasaran dalam kegiatan ini adalah anak-anak Sekolah Dasar kelas 4 dan 5 yang ada di salah satu desa, Kecamatan Paguyangan.

Jadwal Kegiatan

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada tiga Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Paguyangan. Teknis kegiatan yang akan dilakukan yaitu melakukan pembelajaran bersama-sama mahasiswa KKP beserta murid-murid Sekolah Dasar kelas 4 dan 5. Secara rinci akan diuraikan sebagai berikut:

Waktu Acara Keterangan
08.00-08.30 Persiapan peragaan berbagai macam serangga Mahasiswa KKP
08.30-09.30 Insect teaching, Demonstrasi berbagai macam serangga, dan Diskusi Mahasiswa KKP
09.30-10.00 Insect Games* & Simulasi pengawetan serangga Siswa SD
10.00-10.15 Penutupan Mahasiswa kepada Pihak sekolah

* Macam games (terlampir)

Jadwal Kegiatan

no Kegiatan Juli
1 2 3 4
1 Survey sekolah
2 Pengolahan hasil survey
3 Pelaksanaan

 

 

 

 

Rincian Biaya

Penyewaan Display serangga: Rp.300.000,00

Selebaran Games                     :Rp.100.000,00

Styrofoam                               :Rp.100.000,00

Jarum serangga                        :Rp.20.000,00

Jaring serangga                        :Rp.100.000,00 (2 x 50.000,00)

Pencarian spesimen                 :Rp.100.000,00

Spidol                                      :Rp. 50.000,00

Flipchart :Rp. 50.000,00

Kertas A4                                :Rp. 40.000,00

White board :Rp. 100.000,00

Tinta spidol                             :Rp. 20.000,00

Tinta print                               :Rp. 100.000,00

_______________ +

Total Biaya                            Rp. 1.080.000,00

KEGIATAN 3

Pemberdayaan Pestisida Nabati dan Penyuluhan bahaya Pestisida Kimia terhadap Lingkungan dan Kesehatan Manusia di Kecamatan Paguyangan

Pestisida merupakan salah satu hasil tekhnologi modern dan telah terbukti mempunyai peranan yang penting dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat, karena telah menjadi unsur utama dalam meningkatkan hasil pertanian. Pestisida selain berdampak positif dapat juga berdampak negatif. Bila tidak dikelola dengan baik dan bijaksana dampak negatif pestisida antara lain keracunan pada manusia, ternak, satwa liar, tanaman, kasus resistensi dan pencemaran lingkungan. Memperhatikan manfaat dan dampak negatifnya maka pestisida harus dikelola dengan sebaik-baiknya sehingga dapat diperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dengan dampak negatif yang sekecil-kecilnya.

Penyuluhan dalam arti umum adalah ilmu sosial yang mempelajari sistem dan proses dan perubahan pada individu serta masyarakat agar dapat terwujud perubahan yang lebih baik sesuai dengan yang diharapkan. Penyuluhan dengan demikian dapat diartikan sebagai suatu sistem pendidikan yang bersifat nonformal di luar sistem sekolah yang biasa. Pendidikan masyarakat juga mengandung pengertian usaha manusia untuk meningkatkan kepribadian, ketrampilan, dan pengetahuan agar dapat diserap atau dipraktekkan oleh masyarakat. Dengan mengacu pada pengertian di atas penyuluhan pertanian adalah usaha mengubah prilaku petani dan keluarganya agar mereka mengetahui, menyadari, mempunyai kemampuan dan kemauan, serta tanggung jawab untuk memecahkan masalahnya sendiri dalam rangka kegiatan usaha tani dan kehidupannya (Kartasapoetra, 1994).

Dengan penyuluhan diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antara praktek yang biasa dijalankan oleh para petani dengan pengetahuan dan tekhnologi yang selalu berkembang menjadi kebutuhan para petani tersebut.

Sasaran

Sasaran dalam kegiatan ini adalah masyarakat desa setempat di Kecamatan Paguyangan khususnya para petani.

Dalam kegiatan ini akan dilakukan penyuluhan terhadap Kelompok Tani di Kecamatan Paguyangan, Brebes. Kegiatan ini akan dilakukan pada waktu malam hari pukul 18.30. Hal ini dikarenakan untuk mengantisipasi adanya petani yang sibuk bekerja di siang hari.

Acara yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:

Waktu Acara Keterangan
18.30-19.00 Pembukaan dan Sambutan-sambutan MC
19.00-19.15 Pengisian Kuisioner 1 Mahasiswa KKP
19.15-20.15 Penyuluhan Pemberdayaan Pestisida Nabati dan Penyuluhan bahaya Pestisida Kimia terhadap Lingkungan dan Kesehatan Manusia Masyarakat Desa
20.15-20.55 Sharing dan Ramah Tamah Mahasiswa dan Masyarakat Desa
20.55-21.00 Penutupan MC

Jadwal Kegiatan

No. Kegiatan Juli Agustus
2 3 4 1 2 3 4
1. Survey kelompok tani
2. Pengolahan hasil survey
3. Penyuluhan

 

 

 

 

Rincian Biaya

Pembuatan kuisioner               : Rp. 60.000,00

Konsumsi                                : Rp. 240.000,00 (4000 x 60)

Undangan                               : Rp. 100.000,00

Sarana Prasarana                     : Rp. 200.000,00

Total Biaya                            : Rp. 600.000,00

KEGIATAN 4

Penyuluhan Kelompok Tani

Pada dasarnya para petani di kecamatan Paguyangan sudah mempunyai kelompok tani, akan tetapi kelompok tani di kecamatan ini kurang efektif atau belum berjalan dengan baik karena tidak ada kegiatan rutin yang diadakan. Hal ini mengakibatkan beberapa petani menjadi tidak tahu atau kekurangan informasi mengenai teknik atau cara pertanian terbaru.

Kondisi pertanian di kecamatan Paguyangan pada umumnya masih dilakukan secara konvensional. Varietas yang digunakan petani sebagian besar berdasarkan kesukaan petani dan pola tanam yang digunakan juga masih sangat konvensional sesuai dengan  ilmu yang diwariskan dari generasi-generasi sebelumnya. Hal ini mengakibatkan hasil panen rata-rata yang diperoleh petani juga tidak maksimal dan kualitas yang dihasilkan tidak terlalu baik.

Selain permasalahan teknis budidaya serta pola tanam,masalah lain yang dihadapi para petani adalah minimnya pengetahuan petani tentang pemupukan serta dan hama penyakit. Petani lebih sering menggunakan pupuk anorganik daripada memanfaatkan pupuk organic yang ada di alam. Selain itu, para petani tidak menggunakan dosis pupuk sesuai dengan rekomendasi yang di anjurkan yang akan mengakibatkan padi-padi di lahan sawah menjadi kekurangan atau kelebihan hara.

Dengan adanya penyuluhan pada kelompok tani mengenai masalah pertanian serta pemakaian bibit unggul, diharapkan kondisi pertanian di kecamatan paguyangan menjadi lebih baik dan lebih terkondisi keadaannya.

Sasaran

Kelompok petani di Kecamatan Paguyangan serta masyarakat kecamatan setempat.

Jadwal Kegiatan

No. Kegiatan Juli Agustus
2 3 4 1 2 3 4
1. Survey kelompok tani
2. Pengolahan hasil survey
3. Penyuluhan

 

 

 

 

Rincian Biaya

Transportasi 5 orang ( @Rp.30.000,00)          : Rp. 150.000,00

Proposal 5 buah (@Rp.10.000,00)                  : Rp.   50.000,00

Spidol                                                              : Rp.    10.000,00

Kapur                                                              : Rp.      5.000,00

Dokumentasi                                                   : Rp.  100.000,00

Total biaya                                                     : Rp. 315.000,00

SURAT PERSETUJUAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama                                 :

NIP                                   :

Pangkat/Golongan            :

Jabatan                              :

Menyatakan bahwa setelah mendiskusikan topik yang diajukan, dengan ini menyatakan bahwa telah menyetujui diusulkannya proposal dengan judul:

Untuk mendapatkan dana kegiatan pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa IPB yang dikoordinasikan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB

DOWNLOAD PROPOSAL KULIAH KERJA PROFESI (KKP) IPB CIPETUNG BREBES

HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PADI DI DESA CINANGNENG KECAMATAN TENJOLAYA BOGOR

February 19, 2011 § 1 Comment

*Download file terlampir

Inventarisasi Hama dan penyakit tanaman lain di Desa Cinangneng Kecamatan Tenjolaya Bogor

DOWNLOAD HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PADI

Inang: Ubi Jalar

Hama     : hama boleng Cylas formicarius, penggerek batang Omphisa anastomasalis

Penyakit: penyakit kudis ( Elsinoe batatas ), layu Fusarium

Inang: Terong

Hama     : belalang Acrididae, Coccinellidae, Cicadellidae, Liriomyza sp.

Penyakit: layu Fusarium

Inang: Padi

Hama     : Pomacea canaliculata, belalang Acrididae, Pentatomidae, Coccinellidae, tikus

Penyakit: bercak cokelat sempit, virus kerdil hampa

Inang: Jambu

Hama     : Psychidae, Pyralidae, Bactrocera dorsalis, Traballa sp., belalang Acrididae

Penyakit: -

Inang: Daun Bawang

Hama     : Spodoptera exiqua, Thrips tabbaci

Penyakit: Alternaria porri, Collectotrichum gleosporiodes

Inang: Singkong

Hama     : Tetranychus bimaculatus

Penyakit: Pseudomonas solanacearum

Inang: Caisim

Hama     : Crocidolomia binotalis, Plutella xylostella

Penyakit: Ralstonia Solanacearum

Pertanyaan-pertanyaan

1.  Rekomendasi pengendalian apa yang sesuai diterapkan di desa Cinangneng?

Apakah ada rekomendasi penggunaan pestisida? [Miftah faridzi (A34070042)]

Jawab  : Rekomendasi pengendalian yang sesuai dengan Desa Cinangneng adalah disesuaikan dengan cara tradisional yang sudah ada, misalnya dengan pengambilan keong mas menggunakan tangan kosong. Hanya saja dalam perekomendasian dapat diselipkan teknik-teknik baru agar para petani dapat menerima dengan tangan terbuka tanpa dengan paksaan.

Penggunaan pestisida dapat direkomendasikan apabila bahan aktif yang terdapat dalam pestisida sesuai dengan hama atau penyakit yang terdapat dilahan. Dan hal ini dapat dilakukan apabila pengendalian hayati sudah kurang bermanfaat.

2.  Rekomendasi pengendalian dengan cara tanam serempak relatif sulit untuk dilaksanakan, apakah mungkin bisa diaplikasikan cara tersebut? [Yana anisa (A34070036)]

Jawab  : Dalam rekomendasi pada pola tanam serempak untuk di Desa memang sangat sulit dilakukan karena system pertanaman mereka masih menganut sistem pertanaman terdahulu yaitu secara turun temurun. Tetapi, dengan berjalannya waktu dan dengan bantuan SLPHT hal tersebut dapat dilakukan. Tentunya dengan proses dan waktu yang lama.

3.  Bagaimana tanggapan kelompok mengenai penggunaan fungisida dalam mengendalikan kresek? Saran rekomendasi apa yang diberikan untuk mengendalikan kresek? [Nur’izza Faiqotul Himmah (A34070013)]

Jawab : Menurut kami, dalam pengendalian tersebut tidak efektif dan berkemungkinan akan menimbulkan penyakit baru. Hal tersebut dikarenakan penggunaan fungisida yang tidak tepat sasaran karena penyakit kresek disebabkan oleh bakteri sehingga seharusnya menggunakan bakterisida.

Rekomendasi dari kami adalah apabila dalam pengendalian menggunakan bakterisida yang sesuai dengan bahan aktif pada tanaman padi.

4. Apa kaitannya saran pengendalian dengan sanitisai lingkungan dalam mengendalikan penyakit kresek? [Sherli Anggraini (A34070053)]

Jawab  : Dalam pengendalian penyakit sanitasi lingkungan sangat penting untuk dilakukan, karena lain yang berada disekitar tanaman padi maupun gulma dapat menjadi penyebab salah satu tersebar luasnya penyakit kresek.

Saran-saran

  1. Rekomendasi pengendalian sebaiknya yang kompatibel/ mudah dilakukan oleh petani
  2. Bahan dan alat untuk pengendalian tersedia di lingkungan sekitar masyarakat/ mudah diperoleh
  3. Saran pengendalian dengan pestisida, sebutkan bahan aktifnya

PENGENDALIAN TERPADU HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PADA TANAMAN JAGUNG DI KELURAHAN SITU GEDE BOGOR BARAT

February 3, 2011 § 8 Comments

*Download file terlampir!

DOWNLOAD PENGENDALIAN HAMA TERPADU PADA TANAMAN JAGUNG!

DOWNLOAD PHT JAGUNG.PPT


LAPORAN PRAKTIKUM

PENGENDALIAN TERPADU HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN

PENGENDALIAN TERPADU HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN

PADA TANAMAN JAGUNG DI KELURAHAN SITU GEDE

BOGOR BARAT

disusun oleh:

Kelompok 05

Lutfi Afifah               A34070039

M. Julyanda               A34070070

Alice Mayella A.        A34070076

Avanty Widias M.     A34070086

 

Dosen Pengajar:

Dr. Ir. I Wayan Winasa Msi.

Dr. Ir. Widodo MSc.


DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010


PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tanaman jagung sudah lama diusahakan petani Indonesia dan merupakan tanaman pokok kedua setelah padi. Penduduk kawasan timur Indonesia seperti Nusa Tenggara Timur, Madura, sebagian Maluku, dan Irian Jaya sudah biasa menggunakan jagung sebagai makanan pokok sehari-hari. Produksi jagung Indonesia sebagian besar berasal dari pulau Jawa (± 66%) dan sisanya barasal dari di propinsi luar Jawa terutama Lampung, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sumatra Utara, dan Nusa Tenggara Timur.

Jagung memiliki peranan penting dalam industri berbasis agribisnis. Untuk tahun 2009, Deptan melalui Direktorat Jendral Tanaman Pangan mengklaim produksi jagung mencapai 18 juta ton. Jagung dimanfaatkan untuk konsumsi, bahan baku industri pangan, industri pakan dan bahan bakar. Kebutuhan jagung dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan seiring berkembangnya industri pakan dan pangan.

Kendala dalam budidaya jagung yang menyebabkan rendahnya produktivitas jagung antara lain adalah serangan hama dan penyakit. Hama yang sering dijumpai menyerang pertanaman jagung adalah ulat Penggerek batang jagung, Kutu daun, ulat Penggerek tongkol, dan Thrips. Bulai, Hawar daun, dan Karat adalah penyakit yang sering muncul di pertanaman jagung dan dapat menurunkan produksi jagung.

Upaya pengendalian oleh petani pada saat ini adalah dengan menggunakan pestisida atau bahan kimia lainnya yang tidak ramah lingkungan. Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang mengintegrasikan komponen pengendalian yang selaras terbukti tidak hanya meningkatkan produksi jagung tetapi juga pendapatan petani. Sistim PHT melibatkan semua komponen yang berpeluang untuk menekan atau mencegah hama untuk mencapai ambang batas populasi merusak secara ekonomi (economic injury level/ economic threshold) (Willson, 1990). Sistim PHT yang bertujuan mengupayakan agar OPT tidak menimbulkan kerugian melalui cara-cara pengendalian yang efektif, ekonomis, dan aman bagi khalayak, produsen, dan lingkungan menjadi acuan dasar dalam pengendalain OPT agar petani tidak bergantung pada pestisida atau bahan kimia lainnya.

Tujuan

  1. Mengetahui jenis hama dan penyakit di ekosisitem pertanaman.
  2. Mengetahui kelimpahan artropoda yang menghuni pertanaman dan mengelompokkanya berdasarkan perannya.
  3. Menerapkan teknik sampling dan teknik pengamatan pada beberapa ekosistem pertanaman.
  4. Menganalisis kelimpahan arttropoda yang menghuni ekosistem pertanaman dan kaitannya dengan intensitas kerusakan dan praktek budidaya
  5. Menentukan tingkat kejadian dan keparahan penyakit dan kaitannya dengan praktek budidaya.

TINJAUAN PUSTAKA

  1. Komoditas Jagung

Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari biji), dibuat tepung (dari biji dikenal dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung biji dan tepung tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi.

Berdasarkan bukti genetik, antropologi, dan arkeologi diketahui bahwa daerah asal jagung adalah Amerika Tengah (Meksiko bagian selatan). Budidaya jagung telah dilakukan di daerah ini 10.000 tahun yang lalu, lalu teknologi ini dibawa ke Amerika Selatan (Ekuador) sekitar 7000 tahun yang lalu, dan mencapai daerah pegunungan di selatan Peru pada 4000 tahun yang lalu. Kajian filogenetik menunjukkan bahwa jagung (Zea mays ssp. mays) merupakan keturunan langsung dari teosinte (Zea mays ssp. parviglumis). Dalam proses domestikasinya, yang berlangsung paling tidak 7000 tahun oleh penduduk asli setempat, masuk gen-gen dari subspesies lain, terutama Zea mays ssp. mexicana. Istilah teosinte sebenarnya digunakan untuk menggambarkan semua spesies dalam genus Zea, kecuali Zea mays ssp. mays. Proses domestikasi menjadikan jagung merupakan satu-satunya spesies tumbuhan yang tidak dapat hidup secara liar di alam. Hingga kini dikenal 50.000 varietas jagung, baik ras lokal maupun kultivar.

Jagung merupakan tanaman berumah satu (monoecious), yaitu letak bunga jantan terpisah dengan bunga betina dalam satu tanaman. Dalam taksonominya jagung termasuk dalam ordo Tripsaceae, famili Poaceae, sub famili Panicoideae, genus Zea, dan spesies Zea mays L, (Muhadjir, 1988).

  1. Organisme Pengganggu Tanaman Penting pada Jagung
  1. Bulai

Gejala. Gejala penyakit ini terjadi pada permukaan daun jagung berwarna putih sampai kekuningan diikuti dengan garis-garis klorotik dan ciri lainnya adalah pada pagi hari di sisi bawah daun jagung terdapat lapisan beledu putih yang terdiri dari konidiofor dan konidium jamur. Penyakit bulai pada tanaman jagung menyebabkan gejala sistemik yang meluas keseluruh bagian tanaman dan menimbulkan gejala lokal (setempat). Gejala sistemik terjadi bila infeksi cendawan mencapai titik tumbuh sehingga semua daun yang dibentuk terinfeksi. Tanaman yang terinfeksi penyakit bulai pada umur masih muda biasanya tidak membentuk buah, tetapi bila infeksinya pada tanaman yang lebih tua masih terbentuk buah dan umumnya pertumbuhannya kerdil.

Penyebab. Penyakit bulai di Indonesia disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora maydis dan Peronosclerospora philippinensis yang luas sebarannya, sedangkan Peronosclerospora sorghii hanya ditemukan di dataran tinggi Berastagi Sumatera Utara dan Batu Malang Jawa Timur.

Cara pengendalian. Menanam varietas tahan: Sukmaraga, Lagaligo, Srikandi, Lamuru dan Gumarang. Melakukan periode waktu bebas tanaman jagung minimal dua minggu sampai satu bulan. Melakukan penanaman jagung secara serempak. Melakukan eradikasi tanaman yang terinfeksi bulai. Serta Penggunaan fungisida metalaksil pada benih jagung (perlakuan benih) dengan dosis 0,7 g bahan aktif per kg benih.

  1. Hawar daun

Gejala. Pada awal infeksi gejala berupa bercak kecil, berbentuk oval kemudian bercak semakin memanjang berbentuk ellips dan berkembang menjadi nekrotik dan disebut hawar, warnanya hijau keabu-abuan atau coklat. Panjang hawar 2,5_15 Cm, bercak muncul awal pada daun yang terbawah kemudian berkembang menuju daun atas. Infeksi berat dapat mengakibatkan tanaman cepat mati atau mengering dan cendawan ini tidak menginfeksi tongkol atau klobot. Cendawan ini dapat bertahan hidup dalam bentuk miselium dorman pada daun atau pada sisa sisa tanaman di lapang. Penyebab penyakit hawar daun adalah : Helminthosporium turcicum

Cara pengendalian. Menanam varietas tahan Bisma, Pioner2, pioner 14, Semar 2 dan 5. Eradikasi tanaman yang terinfeksi bercak daun. Penggunaan fungisida dengan bahan aktif mankozeb dan dithiocarbamate.

3. Karat

Gejala. Bercak-bercak kecil (uredinia) berbentuk bulat sampai oval terdapat pada permukaan daun jagung di bagian atas dan bawah, uredinia menghasilkan uredospora yang berbentuk bulat atau oval dan berperan penting sebagai sumber inokulum dalam menginfeksi tanaman jagung yang lain dan sebarannya melalui angin. Penyakit karat dapat terjadi di dataran rendah sampai tinggi dan infeksinya berkembang baik pada musim penghujan atau musim kemarau. Penyebab penyakit karat adalah Puccinia polysora

Cara pengendalian. Menanam varietas tahan Lamuru, Sukmaraga, Palakka, Bima 1 dan Semar 10. Eradikasi tanaman yang terinfeksi karat daun dan gulma. Penggunaan fungisida dengan bahan aktif benomil.

4) Ostrinia furnacalis

Penggerek batang, Ostrinia furnacalis Guenee, merupakan salah satu hama utama pada tanaman jagung sehingga keberadaannya perlu diwaspadai. Kehilangan hasil akibat hama tersebut mencapai 20−80%. Besarnya kehilangan hasil dipengaruhi oleh padat populasi larva O. furnacalis serta umur tanaman saat terserang. Telur O. Furnacalis diletakkan secara berkelompok pada bagian bawah daun, bentuknya menyerupai sisik ikan dengan ukuran yang berbeda-beda. Periode telur berlangsung 3−4 hari. Larva terdiri atas lima instar, setiap instar lamanya 3−7 hari. Stadium pupa berlangsung 7−9 hari. Lama hidup ngengat adalah 2−7 hari sehingga siklus hidup dari telur hingga ngengat adalah 27−46 hari dengan rata-rata 37,50 hari.

Musuh alami O. furnacalis yang ditemukan di Sulawesi Selatan, seperti di Maros, Barru, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, dan Sinjai adalah parasitoid telur Trichogramma evanescens dan parasitoid larva dari ordo/famili Hymenoptera/Ichneumonidae (1 spesies), Hymenoptera/Braconidae (1 spesies), dan Diptera/Tachinidae (1 spesies). Persentase telur O. furnacalis yang terparasit dalam satu kelompok berkisar antara 71,56−89,80%. Larva O. furnacalis yang terparasit Ichneumonidae, Braconidae, dan Tachinidae berkisar antara 1−6%. Parasitoid telur lebih efektif menekan populasi O. Furnacalis dibanding parasitoid larva. Jenis-jenis predator telur dan larva O. furnacalis adalah Cocopet (Proreus sp., Euborellia sp.) dan laba-laba (Lycosa sp., Chrysopa sp., dan Orius tristicolor), sedangkan patogen yang efektif menekan populasi O. furnacalis adalah Metarhizium anisopliae dan Beauveria bassiana. Keefektifan kedua jenis cendawan tersebut bergantung pada konsentrasi konidia dan stadium perkembangan larva O. furnacalis; makin muda stadium larva makin tinggi tingkat mortalitasnya (Wakman 2005)

5) Rhopalisiphum maidis

Tanaman yang menjadi inang utama bagi kutu daun ini sebenarnya adalah jagung. Akan tetapi kutu ini memiliki inang alternative mulai dari tanaman padi sampai pada tanaman hutan seperti Acacia sp. Kutu ini menginfeksi semua bagian tanaman, akan tetapi infeksi terbanyak terjadi pada daun. Kutu ini selain merusak daun tanaman inangnya juga membawa sebagai vector dari berbagai macam virus penyakit (Mau dan Kessing, 1992). Populasi kutu ini dapat mengalami perkembangan yang pesat. Hal ini disebabkan oleh sifat perkembangbiakkannya yang parthenogenesis. Perkembangbiakan secara parthenogenesis memungkinkan suatu spesies untuk melestarikan jenisnya tanpa harus melakukan perkawinan (Kalshoven, 1981). Daur hidup kutu ini dimulai dari telur, kemudian nympha, dan kutu dewasa. Pada fase nympha, kutu ini mengalami 4 tahapan. Tahapan pertama nympha akan tampak berwarna hijau cerah dan sudah terdapat antena. Tahap nympha kedua tampak berwarna hijau pale dan sudah tampak kepala, abdomen, mata berwarna merah, dan antenna yang terlihat lebih gelap dari pada warna tubuh. Pada tahap ketiga, antena akan terbagi menjadi 2 segmen, warna tubuh masih hijau pale dengan sedikit lebih gelap pada sisi lateral tubuhnya, kaki tampak lebih gelap daripada warna tubuh (Kalshoven, 1981). Kutu dewasa ada beberapa yang memiliki sayap (alate) dan yang tidak memiliki saya (apterous). Sayap pada kutu ini memiliki panjang antara 0,04 to 0,088 inchi. Tubuh kutu dewasa berwarna kuning kehijauan sampai berwarna hijau gelap (Kalshoven, 1981).

Populasi kutu ini dapat dikontrol dengan kehadiran Aphelinus maidis. A. maidis akan memparasit kutu ini pada fase nympha. Selain itu, terdapat juga organisme predator seperti Allograpta sp. dan beberapa jenis kumbang (Kalshoven, 1981).

6) Cnaphalocrosis medinalis

Hama putih palsu jarang menjadi hama utama padi. Serangannya menjadi berarti bila kerusakan pada daun pada fase anakan maksimum dan fase pematangan mencapai > 50%. Tanda-tanda Serangan berupa kerusakan akibat serangan larva hama putih palsu terlihat dengan adanya warna putih pada daun di pertanaman. Larva makan jaringan hijau daun dari dalam lipatan daun meninggalkan permukaan bawah daun yang berwarna putih. Siklus hidup hama ini berkisar 30-60 hari. Tanda pertama adanya infestasi hama putih palsu adalah kehadiran ngengat berwarna kuning coklat yang memiliki tiga buah pita hitam dengan garis lengkap atau terputus pada bagian sayap depan. Pada saat beristirahat, ngengat berbentuk segi tiga. Untuk mengendalikan hama putih palsu perlu dilakukan upayakan pemeliharaan tanaman sebaik mungkin agar pertanaman tumbuh secara baik, sehat, dan seragam. Penggunakan insektisida (bila diperlukan) berbahan aktiffipronil atau karbofuran.

C) Musuh Alami

  1. 1. Famili Coccinellidae

Musuh alami merupakan salah satu komponen dalam pengendalian hama terpadu (PHT), sehingga penelitian pemanfaatan musuh alami (predator, parasitoid dan patogen) sangat penting untuk mendukung keberhasilan pengendalian hama tanaman yangn berwawasan lingkungan. Menurut Kalshoven (1981) musuh alami ini termasuk kumbang buas dari famili Coccinellidae dan ordo Coleoptera, imago berwarna merah dengan becak hitam melintang pada bagian elitra. Predator tersebut panjangnya 5-6 mm, tersebar luas di daerah tropik. Larva mencapai panjang 8 mm, berwarna hitam kecoklatan dengan garis kuning melintang di bagian abdomen dan terdapat empat baris setae. Imago tertarik cahaya matahari dan sering mengunjungi bunga yang sedang mekar. Perkembangan dari telur sampai dewasa mencapai 18-24 hari. Di Jawa predator tersebut ditemukan pada tanaman pertanian yang banyak aphisnya, sangat rakus terhadap mangsanya dan bila tidak menemukan mangsa mereka kadang-kadang mengkonsumsi polen.

Predasi, dalam arti luas merupakan cara hidup binatang dan dalam arti khusus merupakan pola hidup serangga pemangsa termasuk Menochilus sexmaculatus. Beberapa keberhasilan pengendalian hayati hama tanaman pertanian adalah melalui pemanfaatan predator. Menurut Holling (1961), terdapat lima komponen hubungan antara predator dan mangsa yaitu :

1. Kepadatan mangsa
2. Kepadatan predator
3. Keadaan lingkungan, seperti adanya makanan alternatif
4. Sifat mangsa, misalnya mekanisme mepertahankan diri dari serangan pemangsa
5. Sifat predator, misalnya cara menyerang mangsa.

Penggunaan predator sebagai agen hayati pengendalian hama tanaman memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan cara pengendalian lainnya karena aman, permanen dan ekonomis. Keamanan dari pemanfaatan predator merupakan faktor penting, sebab banyak musuh alami bersifat spesifik (khusus) terhadap mangsa tertentu. Musuh alami yang efisien memberikan pengaruh pada fuktuasi populasi mangsa tanpa adanya campur tangan manusia. Sekali predator mapan di suatu tempat maka untuk jangka lama mereka secara alami mengendalikan populasi mangsanya.

Kelemahan kecil pemanfaatan predator adalah perlunya waktu cukup lama untuk mendapatkan predator yang efektif sebagai agen hayati pengendalian hama tanaman. Pengendalian hayati menggunakan predator membutuhkan penelitian yang kompleks dan melibatkan kaitan antara pemangsa, mangsa (hama) dan tanaman inang dari mangsa.

  1. 2. Famili Syrphidae

Umum disebut Hover fly karena kemampuannya melakukan hovering. Syrphidae termasuk famili yang besar. Tercatat terdapat 870 spesies di Amerika Utara, 250 spesies di Eropa kepulauan Inggris, 300 spesies di Eropa daratan dan mungkin lebih banyak lagi di Asia termasuk Indonesia. Anggota Syrphidae hidup pada berbagai habitat dengan beragam peran sebagai saprofag, mikofag, herbivore, dan predator. Subfamili yang anggotanya sebagian besar menjadi predator terutama kutu daun adalah Subfamili Syrphinae. Beberapa contoh spesies yang telah dikenal sebagai predator di agroekosistem adalah: Episyrphus balteatus, Syrphus corrolae, dan Ischidion scutellaris.

BAHAN DAN METODE

Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan adalah pertanaman Jagung milik salah satu petani di kelurahan Situ Gede, Bogor Barat. Selain itu alat-alat yang digunakan antara lain: lubang perangkap (pitfall traps), jaring serangga, kertas label, kantong plastik, alat tulis berupa buku catatan dan pensil.

Metode

  1. 1. Penarikan Contoh

Pada setiap komoditas jagung yang diamati diambil 40 tanaman contoh. Letak tanaman contoh di dalam petak pertanaman ditentukan secara acak sistematik. Tanaman contoh yang diambil merupakan perwakilan dari setiap guludan (gambar 1). Setiap perwakilan guludan yang diambil adalah tanaman tengah. Unit contoh dan jumlah contoh yang diamati disesuaikan dengan ketersediaan waktu pengamatan. Penentuan unit contoh berdasarkan bagian tanaman yang diserang hama dan penyakit yang diamati.

  1. 2. Pemetaan Wilayah Pengamatan
O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O
O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O
O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O

Gambar 1.  Denah tanaman contoh (luas lahan 2500 m2)

Keterangan:

: guludan contoh (masing-masing guludan yang diamati diambil tanaman tengah dari masing-masing guludan tersebut)

: guludan yang tidak di amati

Pola pengambilan sampel dengan menggunakan metode acak sistematis. Tanaman diambil dari guludan yang telah ditentukan dan di dalam guludan tersebut satu sampel diambil secara acak. Pengambilan sampel seperti ini diharapkan setiap sampel tanaman dapat mewakili guludan yang diamati.

  1. 3. Cara Pengamatan
  1. Pengamatan langsung pada tajuk tanaman

Setiap kelompok mengamati 40 rumpun tanaman yang ditentukan secara acak sistematis. Kemudian dihitung kerapatan populasi hama (masing-masing jenis hama), atau intensitas kerusakan hama, kejadian dan keparahan penyakit, dan kerapatan populasi musuh alami (masing-masing jenis musuh alami).

  1. Pengamatan menggunakan jaring serangga

Dilakukan penjaringan sebanyak 5 kali ayunan tunggal kemudian artropoda (serangga dan laba-laba) yang tertangkap dimasukkan ke dalam kantong plastik. Penjaringan diulang sampai 5 kali pada petak yang berbeda (secara diagonal). Artropoda yang tertangkap diidentifikasi dan dihitung jumlahnya setiap jenis.

  1. Pengamatan dengan lubang perangkap (pitfall traps)

Lubang perangkap terbuat dari botol bekas air mineral 240 ml. Kemudian  dimasukkan formalin 2% sekitar 60 ml ke dalam gelas. Kemudian gelas dipasang pada guludan dengan cara membuat lubang terlebh dahulu menggunakan sekop. Selanjutnya gelas dimasukkan dan permukaan atas gelas dibuat rata dengan permukaan tanah (gambar 2). Gelas diberi atap agar terhindar dari hujan. Setelah itu, dipasang selama 24 jam. Kemudian setelah 24 jam diangkat, diberi label, dan diamati di laboratorium dengan mikroskop. Serta dicatat jenis dan jumlah artropoda yang tertangkap.

O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O
O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O
O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O

Gambar 2.  Denah peletakan pitfall pada pertanaman jagung

Keterangan :

:           : Tempat peletakan pitfall pada pertanaman Jagung

: Tanpa pemasangan pitfall

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan

Tabel 1.  Kelimpahan Artropoda permukaan tanah hasil tangkapan Pitfall
Jenis artropoda Jumlah yang tertangkap pada pengamatan ke-
I II III IV V
Carabidae 0 0 2 0 1
Formicidae 33 38 46 14 21
Arachnidae 6 4 4 3 6
Dermaptera 2 1 3 1 0
Collembola 11 15 61 30 37
Aphididae 0 0 2 0 2
Gryllidae 0 0 1 2 1
Myrmeleontidae 1 0 0 0 1
Wereng 0 0 0 0 1

Tabel 2.  Kelimpahan Artropoda hasil tangkapan Sweep net
Jenis artropoda Jumlah yang tertangkap pada pengamatan ke-
I II III IV V
Hama
Aphididae 10 7 4 2 1
Acrididae 0 2 1 1 0
Kumbang daun 1 0 0 2 1
Musuh Alami
Aphidae 2 0 2 1 0
Coccinelidae 4 1 3 1 1
Chalcididae 2 0 1 0 1
Sarchopagidae 0 1 0 0 1
Syrphidae 2 0 0 1 1

Tabel 3.  Perkembangan Populasi Hama pada Tanaman Jagung
Jenis hama Kerapatan Populasi / intensitas Serangan pada umur tanaman (hari)
40 47 54 61 70
Hama putih palsu (Cnaphalocrosis medinalis) 7 16 18 8 Sudah dipanen
Penggerek Batang (Ostrinia furnacalis) 0 27 38 38
Kutu daun (Rhopalosiphum maidis) ±1500 ±2000 >3500 <3500
Thrips 0 0 > 2300 <2300
Belalang (Acrididae) 8 3 6 0
Kumbang (Coleoptera) ± 450 ± 550 ± 600 ±200

Tabel 4.  Perkembangan Populasi Musuh Alami pada Tanaman Jagung
Jenis Musuh alami Kerapatan Populasi musuh alami pada umur tanaman (hari)
40 47 54 61 70
Coccinelidae (larva) 46 150 ±  300 ± 90 Sudah dipanen
Coccinelidae (imago) 4 6 30 10
Larva Syrphidae 0 50 75 25
Formicidae ± 200 ± 350 ± 450 ± 200

Tabel 5.  Tingkat Kejadian Penyakit
Insidensi atau tingkat kejadian penyakit = n/N X 100%
Tanggal Nama Penyakit
Bulai Karat Hawar
30-Sep-10 9/40 x 100% = 22,5% 0/40 x 100% = 0% 3/40 x 100% = 7,5%
7-Oct-10 12/40 x 100% = 30% 8/40 x 100% = 20% 17/40 x 100% = 42,5%
14-Oct-10 10/40x 100%=  25% 12/40 x 100% = 30% 15/40 x 100% = 37,5%
21-Oct-10 8/40 x 100% = 20% 20/40 x 100% = 50% 21/40 x 100% = 52,5%
31-Oct-10 Telah dipanen

Tabel 6.  Tingkat Keparahan Penyakit
Intensitas penyakit (%) = ( S(ni x vi)/ N x V)) x 100%
Tanggal Nama Penyakit
Bulai Karat Hawar
30-Sep-10 4.5% 0% 1.5%
7-Oct-10 10.50% 6% 11%
14-Oct-10 17% 10% 13,5%
21-Oct-10 8% 17,5% 16,5%
31-Oct-10 Telah dipanen

Pembahasan

Pengamatan PHT yang dilakukan di lahan Bapak Basri, Kelurahan Situ Gede, Bogor Barat. Luas areal yang diamati adalah sekitar 2500 m2. Komoditas yang diamati adalah tanaman jagung yang ditanam secara tumpang sari dengan tanaman singkong. Tanaman yang ditanam ataupun tumbuh disekitar lahan yang diamati adalah jagung, kacang panjang, Oxalis sp., Panicum sp., Digitaria sp., dan beberapa gulma yang lain. Lahan ini sebelumnya ditanam  singkong dan jagung. Hama dan penyakit yang ditemukan dilahan pada waktu pengamatan antara lain hamanya adalah kutu daun, penggerek batang, hama putih palsu, thrips, belalang, dan kumbang. Sedangkan penyakitnya adalah Bulai, Karat, dan Hawar daun. Pengamatan awal yang dilakukan pada pertanaman jagung dilakukan pada saat jagung berumur sekitar 40 hari setelah tanam (HST).

Kutu daun (Rhopalosiphum maidis) menyerang pertanaman jagung terutama pada bagian pucuk daun yang masih muda. Hama ini menyerang mulai dari awal pertanaman. Hama ini ditemukan sangat banyak di pertanaman. Gejela kerusakan yang disebabkan oleh hama ini adalah nekrotik, daun mengkriting dan warna daun berubah. Musuh alami yang ditemukan menyerang kutu daun tersebut antara lain larva Syrphidae dan Coccinellidae predator. Namun dari pengamatan yang dilakukan jumlah hama ini masih belum bisa ditekan populasinya oleh musuh alami. Hal ini dipengaruhi oleh perlakuan pestisida yang juga mematikan musuh alami sehingga jumlah populasinya sedikit.

Penggerek batang (Ostrinia furnacalis) menyerang bagian batang, daun, dan tongkol. Larva penggerek batang dapat merusak daun, batang, serta bunga jantan dan betina atau tongkol muda. Larva instar I-III merusak daun dan bunga jantan, sedangkan larva instar IV-V merusak batang dan tongkol (Nafus dan Schreiner, 1987). Namun dalam pengamatan di lapang hama ini hanya menyerang pangkal batang saja. Gejala yang ditunjukkan berupa gerekan di bagian dalam batang. Hama ini menyerang tanaman pada kisaran 6 MST. Kehilangan hasil jagung, selain dipengaruhi oleh padat populasi larva O. Furnacalis, juga ditentukan oleh umur tanaman saat terserang (Nonci dan Baco, 1987).

Musuh alami hama penggerek batang adalah laba-laba, semut, cocopet, Syirphidae, Coccinellidae. Tetapi yang banyak ditemukan di lapang adalah Syirphidae dan Coccinellidae.

Hama putih palsu (Cnaphalocrosis medinalis) merupakan salah satu hama pertanaman jagung yang menyerang daun. Fase hama yang merusak adalah pada fase larva. Kerusakan yang diakibatkan oleh larva hama putih palsu adalah adanya warna putih pada daun. Larva memakan jaringan hijau daun dari dalam lipatan daun sehingga meninggalkan warna putih pada permukaan bawah daun. Musuh alami untuk hama ini adalah Coccinellidae.

Penyakit bulai merupakan penyakit yang disebabkan oleh patogen terbawa benih. Gejala yang ditimbulkan akibat penyakit ini adalah pada bagian daun tanaman jagung terjadi klorosis yang memanjang sepanjang tulang daun. Dan pada daun yang belum terserang berwarna hijau normal. Tanaman menjadi terhambat pertumbuhannya dan pembentukan tongkol terganggu sampai tidak bertongkol sama sekali. Tanaman yang terinfeksi sistemik sejak muda di bawah umur 1 bulan biasanya mati. Gejala lainnya adalah terbentuk anakan yang berlebihan dan daun-daun menggulung dan terpuntir, bunga jantan berubah menjadi massa daun yang berlebihan dan daun sobek-sobek.

Penyakit karat disebabkan oleh Puccinia sp. dengan gejala serangan pada permukaan atas dan bawah daun jagung terlihat bercak karat berwarna oranye kecoklatan. Dari 40 sampel tanaman yang diambil setengahnya terserang oleh karat. Karat mulai terlihat saat tanaman berumur sekitar 6 MST dan serangannya terus meningkat dipengamatan selanjutnya. Pada saat tanaman berumur sekitar 8 MST serangan karat mencapai 50% dari sampel tanaman yang diamati.

Penyakit bercak daun yang disebabkan oleh Helminthosporium turcicum merupakan salah satu penyakit utama pada jagung setelah bulai. Gejala visual yang menunjukkan ciri khas serangan H. turcicum adalah bercak agak memanjang, bagian tengah agak melebar, makin ke pinggir makin kecil, berwarna cokelat keabuan, dikelilingi oleh warna kekuningan sejajar tulang daun. Patogen ini menular melalui udara sehingga mudah menyebar. Kehilangan hasil akibat bercak daun mencapai 59%, terutama bila penyakit menginfeksi tanaman sebelum bunga betina keluar (Poy 1970). Cendawan ini dapat bertahan hidup pada tanaman jagung yang masih hidup, beberapa jenis rumput-rumputan termasuk sorgum, pada sisa-sisa tanaman jagung sakit, dan pada biji jagung. Konidium jamur ini disebarkan melalui angin. Di udara, konidium yang terbanyak terdapat menjelang tengah hari. Konidium berkecambah dan pembuluh kecambah mengadakan infeksi melalui mulut kulit atau dengan mengadakan penetrasi secara langsung, yang didahului dengan pembentukan apresorium (Semangun,1991). Tanaman jagung yang terinfeksi penyakit hawar daun pada fase vegetatif menyebabkan tingkat penularan yang lebih berat dibanding bila penularan terjadi pada tanaman yang lebih tua dan ini akan berpengaruh terhadap kehilangan hasil (Sumartini dan Sri Hardaningsih 1995).

Kelimpahan hama yang didapatkan dengan menggunakan metode Pitfall didapatkan jenis hama yang banyak ditemui adalah Collembola dan Formicidae (Tabel 1). Jumlah mengalami peningkatan paling tinggi pada pengamatan ke III. Ketidakstabilan jumlah hama yang didapatkan bisa terjadi akibat adanya kesalahan pada waktu peletakkan pitfall di lahan. Dan juga adanya pengaruh dari intensitas curah hujan yang tinggi menyebabkan menggenangnya lahan.

Kelimpahan hama dengan metode Sweep net jenis hama yang banyak terjaring adalah dari kelompok Aphididae (Tabel 2). Jumlah yang tertangkap mengalami penurunan mulai minggu ke III sampai ke V. Jumlah kelimpahan hama yang mengalami penurunan dapat disebabkan susahnya proses penjaringan akibat semakin bertambahnya tinggi tanaman sehingga lebih menyulitkan.

Gambar 3.  Grafik Perkembangan Populasi Hama pada Tanaman Jagung

Nb. Populasi kutu daun dan Kumbang dikalikan seratus untuk mempermudah

penampilan di grafik

Pada grafik populasi hama di tanaman sampel menunjukan hama kutu daun menunjukan peningkatan jumlah populasi yang sangat tinggi.  Namun pada pengamatan keempat tidak terjadi peningkatan hal ini dimungkinkan karena populasi kutu sudah mencapai maksimum. Selain itu dikarenakan juga semakin meningkanya jumlah predator seperti Coccinellidae dan juga Syrphidae yang terdapat pada lahan.  Hal ini juga terjadi pada hama penggerek batang dan Thrips dimana pada pengamatan keempat tidak terjadi peningkatan popuasi dari pengamatan ke tiga. Hama putih palsu populasi meningkat tetapi pada pengamatan keempat terjadi penurunan, hal ini bisa dipengaruhi oleh musuh alami atapun perlakuan pestisida yng dilakukan oleh petani. Belalang pada pengamatan kedua langsung terlihat penurunan populasi dan terjadi peningkatan lagi pada pengamatan ketiga namun pada pengamatan keempat terjadi penurunan lagi. Hal ini bisa dipengaruhi oleh sifat belalang yang terus bergerak sehingga pada saat pengamatan jumlah belalang yang dihitung tidak sesuai dengan jumlah yang ada dilapang. Kumbang jumlahnya sangat sedikit dan terlihat mulai meningkat pada pengamatan ke tiga namun populasinya kembali menurun pada pengamatan keempat. Secara garis besar, dalam pertanaman jagung ini yang menjadi hama  adalah Kutu daun dan Penggerek batang.

Gambar 4.  Grafik perkembangan populasi musuh alami pada tanaman jagung

Musuh alami yang banyak ditemukan adalah predator. Sedangkan parasitoid sangat jarang ditemukan. Populasi Coccinellidae larva dan imago banyak ditemukan pada pertanaman jagung. Populasi Coccinellidae mulai meningkat pada umur  47 HST seiring dengan mulai berkembangnya mangsanya yang berupa kutu daun, penggerek batang, dll. Populasi Coccinellidae paling tinggi pada saat saat 54 HST. Hal ini dapat dilihat juga dari populasi kutu daun dan penggerek batang yang tinggi juga pada waktu 54 HST. Dimana Coccinellidae merupakan musuh alami dari hama-hama tersebut. Predator Syrphidae dan Formicidae juga terdapat pada pertanaman jagung walaupun fluktuasi musuh alami ini tidak terlalu tinggi. Namun musuh alami yang ditemukan  tersebut cukup membantu dalam menekan populasi hama pertanaman jagung.

Gambar 5.  Tingkat kejadian penyakit pada pertanaman Jagung

Pada tingkat kejadian penyakit pada bulai grafik menunjukkan kenaikan pada minggu ke-2 sebesar  30% dan terus mengalami penurunan padaminggu ke-3 dan ke-4 sebesar 25% dan 20%, meningkatnya bulai pada minggu ke-2 disebabkan karena bulai terbawa benih sehingga meningkatnya tingkat kejadian penyakit pada minggu ke-2. Menurunnya tingkat kejadian penyakit pada minggu ke-3 dan ke-4 karena pengendalian yang sudah dilakukan oleh petani dengan cara dicabut sehingga presentasi tanaman yang terserang menurun. Tingkat kejadian penyakit pada karat terus meningkat dari minggu ke-1 hingga minggu ke-4. Peningkatan ini terjadi karena bertambahnya umur tanaman. Hawar daun mengalami paningkatan pada minggu pertama dan ke-2 sebesar 7,5% dan 42,5%, lalu mengalami penurunan pada minggu ke-3 sebasar 37,5%, dan mengalami peningkatan kembali pada minggu ke-4 sebesar 52,5%. Fluktuatifnya grafik kejadian penyakit pada hawar disebabkan karena kesalahan pada pengamatan, karena skoring yang dilakukan oleh berbeda-beda pengamat sehingga kesalahan terjadi.

Gambar 6.  Grafik tingkat keparahan penyakit pada pertanaman Jagung

Tingkat keparahan pada penyakit bulai pada pengamatan minggu pertama hanya 4,5% tetapi terus meningkat hingga minggu ke-3 mencapai 17% dan menurun pada pengamatan minggu ke-4 sebesar 8%, hal ini disebabkan bulai menyerang tanaman karena terbawa benih, sehingga menyerang tanaman jagung yang masih muda, menurunya serangan bulai pada minggu ke-4 karena sudah dilakukan pengendalian oleh petani dengan cara dicabut dari pertanaman. Karat diawal tanam tidak ditemukan adanya serangan, tetapi semakin meningkat seiring dengan bertambahnya umur tanaman terlihatpada tabel keparahan penyakit, penyakit karat meningkat pada minggu ke-4 sebesar 17,5%. Hawar daun diawal pengamatan hanya sebesar 1,5% dan terus meningkat pada pengamatan minggu ke-4 sebesar 16,5%. Persentasi dari ketiga penyakit yang dapat di lihat di tabel masih terlalu kecil, sehingga tidak mempengaruhi hasil ekonomis bagi petani dan tidak diperlukan pengendalian.

Wawancara kepada empat petani jagung di daerah sekitar Situ Gede dilakukan secara acak. Dari hasil wawancara didapatkan informasi bahwa mereka tidak memiliki lahan yang mereka garap, atau kurang lebih bekerja pada hanya sebagai petani penggarap. Asal benih yang digunakan untuk ditanam menggunakan benih musim tanam sebelumnya. Proses pengolahan tanah dilakukan menggunakan cangkul pada saat sebelum proses tanam. Penggunaan pupuk rata-rata menggunakan pupuk kandang dan menggunakan Urea, ZA , dan KCL dengan frekuensi pemberian pupuk sebanyak  2x selama musim tanam. Proses penyiangan dilakukan oleh para petani selama proses tanam. Untuk proses pengairan hanya menggunakan air hujan yang turun. Proses pemanenan dilakukan pada saat umur tanaman kurang lebih 75 hari dengan cara ditebas langsung. Pengolahan lanjutan dengan menjual hasil panmen kepada tengkulak dan ada pula yang menjual langsung ke pasar tradisional.

Pengendalian yang sudah pernah dilakukan adalah dengan penggunaan pestisida. Pestisida sintetik menggunakan Matador 25 EC (bahan aktif lamda sihalotrin 25 g/l) dan Decis 25 EC (bahan aktif deltametrin 25%) dengan cara aplikasi disemprot. Pestisida sintetik tersebut digunakan petani untuk membasmi hama yang terdapat di lahan. Ada pula petani yang menggunakan pestisida nabati dengan menggunakan akar tuba yang disemprot dan jengkol yang dibakar kemudian ditaburkan abunya pada pertanaman. Waktu aplikasi pemberian pestisida dilakukan pada pagi hari dengan frekuensi pemberiannya minimal sebanyak 2x selama musim tanam. Dasar pengendalian petani adalah penyemprotan dilakukan sebelum muncul hama agar mencegah hama merusak dan berkembang biak pada pertanaman. Petani tidak menerapkan salah satu prinsip PHT yaitu penggunaan musuh alami dalam pengendalian hama dan penyakit. Dalam pengaplikasian pestisida, petani melakukan secara efikasi dimana dengan cara tersebut bisa meningkatkan resistensi hama. Proses monitoring sebaiknya dilakukan terlebih dahulu sebelum pengaplikasian pestisida karena selain dapat menghemat biaya juga dapat menghambat proses resistensi hama tersebut.

KESIMPULAN

Tingkat pemahaman dan aplikasi PHT bagi petani di Situ Gede sangatlah kurang. Pengendalian hama dan penyakit pada pertanaman jagung dilahan petani sebagian besar masih menggunakan pestisida sintetik dengan cara penyemprotan tanpa melihat adanya musuh alami. Presentase penyakit yang ditemukan dilapang (Bulai, Karat, dan Hawar) sangat kecil, sehingga kurang mempengaruhi hasil panen bagi petani. Populasi hama kutu daun dilapang paling tinggi diantara populasi hama yang lain, hal yang dilakukan petani untuk pengendalian untuk menurunkan populasinya dengan menggunakan pestisida sintetik Matador 25 EC (bahan aktif lamda sihalotrin 25 g/l) dan Decis 25 EC (bahan aktif deltametrin 25%) dengan cara aplikasi disemprot.  Jenis musuh alami yang melimpah dilahan adalah larva Coccinelidae dan Formicidae, tetapi kurang efektif dalam mengendalikan hama yang terdapat di lahan, hal ini juga dipengaruhi oleh penggunaan pestisida sintetik, sehingga juga mematikan musuh alami yang terdapat dilahan.

DAFTAR PUSTAKA

[Anonim]. 2009. Komoditas Jagung di  Indonesia. http://id.wikipedia.org/wiki/Jagung [15 November 2010]

Holling, C. S., 1961. Principles of Insect Predation. Ann. Rev. Entomol. 6 : 163-182.

Kalshoven LGE. 1981. The pest of crop in Indonesia. Revised and translated by Van der Lann PA. Jakarta: PT Ichtiar Baru-Van Hoeve.731p.

Muhadjir, F. 1998. Karakteristik Tanaman Jagung dalam Subandi, M. Syam, A. Wijiono. Jagung. Hal : 33-38. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor.

Wakman, Burhanudin. 2005. Pengelolaan Hama dan Penyakit Jagung. [jurnal on-line]. http://www.pustaka-deptan.go.id/publikasi/p3231042.pdf [15 November 2010]

Willson, H.R. 1990. Soybean Pest Management. The OHIO  STATE University Extension. 5 p. http://ohioline.osu.edu/icm-fact/fc-21.html [15 November 2010]


LAMPIRAN

1) Kuesioner

  1. A. Karakteristik Petani
    1. Nama        :
    2. Umur        :
    3. Alamat        :
    4. Pendidikan Terakhir :
    5. SD
  2. SMP
  3. SMA
  4. Lainnya ……………………………………
    1. Pekerjaan   :
    2. Apakah Lahan milik sendiri
  5. Ya
  6. Tidak
    1. Luas lahan            :
    2. Jenis komoditas    :
    3. Berapa lama menjadi petani atau bertani
    4. < 5 tahun
  7. 5-10 tahun
  8. 10 tahun
  1. B. Praktek Budidaya
    1. Asal benih yang ditanam
  2. Benih musim tanam sebelumnya
  3. Membeli
    1. Varietas benih yang ditanam                   :
    2. Jarak tanam yang digunakan                    :
    3. Jenis pupuk yang digunakan
  4. Urea
  5. SP-18
  6. KCL
  7. Pupuk kandang
    1. Semuanya, Lainnya……………………………
  1. Dosis penggunaan pupuk :
  1. Frekuensi pemberian pupuk
  2. 1 minggu sekali
  3. 2 minggu sekali
  4. Sebulan sekali
  5. Lainnya …………………………
    1. Bagaimana cara pengolahan tanah :

…………………………………………………………………………………..

  1. Cara  pengolahan tanah yang dipakai
  2. Sebelum proses tanam
  3. Selama proses tanam
  4. Lainnya …………………………
    1. Waktu pemupukkan
  5. Sebelum proses tanam
  6. Setelah proses tanam
  7. Selama masa tanam
  8. Lainnya …………………………
    1. Cara penyiangan gulma
  9. Dicabut
  10. Menggunakan alat
  11. Lainnya ……………………
    1. Panen jagung pada saat umur
      1. Panen kuning
      2. Panen Jagung muda
  1. Bagaimana cara panen :
  2. Pengolahan hasil panen lanjutan
  3. Konsumsi pribadi
  4. Menjual ke pasar tradisional
  5. Mendistribusikan ke perusahaan produksi
  6. Lainnya………………………………….
  1. C. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
    1. Jenis hama yang biasa menyerang tanaman jagung ?
    2. Penggerek batang (Ostrinia furnacalis)
    3. Kutu daun (Rhopalosiphum maidis)
    4. Penggerek tongkol

(Helicoverpa armigera)

  1. Hama putih palsu

(Cnaphalocrocis medinalis)

  1. Semuanya,  Lainnya…………………………
  1. Jenis penyakit yang biasa menyerang tanaman jagung ?
  2. Bulai
  3. Karat
    1. Hawar daun (Helminthosporium turcicum)
    2. Semuanya, Lainnya……………………………..
    3. Musuh alami yang banyak terdapat di lahan?
  1. Jenis pestisida yang digunakan ?
  1. Gejala serangan hama dan penyakit
  2. Gerigitan pada bagian daun
  3. Batang berlubang
  4. Bercak pada daun
  5. Bulai
  6. Tanaman kerdil
    1. Semuanya, Lainnya……………………………
    2. Pengendalian hama dan penyakit yang sudah pernah dilakukan ?
  1. Apakah menggunakan pestisida
  2. Ya,

Alasan………………………………

………………………………………

  1. Tidak, Alasan……………………………..…………………………………………
  2. Kapan waktu aplikasi pestisida
  3. Pagi hari
  4. Sore hari
  5. Malam hari
  1. Bagaimana cara aplikasi pestisida?
  1. Frekuensi pemberian pestisida ?
  1. Apa yang menjadi dasar pengendalian hama dan penyakit ?

2) Gambar

Gambar 7.  Pitfall trap di lahan                       Gambar 8.  Sweep net serangga

Gambar 9.  Gejala serangan hama putih palsu      Gambar 10.  Serangan kutu daun

Gambar 11.  Coccinelidae                                           Gambar 12.  Larva Syrphidae

Gambar 13.  Gejala Karat                                           Gambar 14.  Gejala gerekan

Gambar 15.  Serangan Bulai                                       Gambar 16.  Serangan Hawar

Gambar 17.  Wawancara dengan empat petani Jagung di Kelurahan Situ Gede

Where Am I?

You are currently browsing the Plant Protection category at Lutfi Afifah's Blog.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 514 other followers