METODE PEMBIAKAN LALAT KACANG, Ophiomyia phaseoli Tryon (DIPTERA: AGROMYZIDAE)

METODE PEMBIAKAN LALAT KACANG, Ophiomyia phaseoli Tryon (DIPTERA: AGROMYZIDAE)


PENDAHULUAN

Lalat kacang, Ophiomyia phaseoli Tryon (Diptera: Agromyzidae) menyerang sebagian besar jenis kacang-kacangan di daerah-daerah tropis Asia, Afrika, dan Oseania. Serangga ini tergolong hama yang sangat merusak tanaman kedelai di Indonesia. Daerah endemis lalat kacang di Indonesia adalah Tanggul, Mojosari, Jambegede, Kendalpayak, dan Dlangu (Jawa Timur), Jatibarang dan Cikeumeuh (Jawa Barat), Gunung Balak, Pulung Kencana (Lampung), dan Padang (Sumatera Barat).

Saat ini lalat kacang dikendalikan dengan insektisida baik dengan cara semprot maupun dengan perlakuan benih. Namun dengan alasan kesehatan manusia dan lingkungan maka penggunaan insektisida semakin dibatasi.

Mengembangkan metode pengendalian alternatif  adalah sangat penting untuk mengurangi jumlah penggunaan insektisida untuk mengendalikan hama-hama di tanaman kedelai pada umumnya dan lalat kacang pada khususnya. Di antara tindakan-tindakan pengendalian alternatif adalah penggunaan insektisida selektif dan aman, varietas tahan, dan pengendalian biologi. Untuk kepentingan ketiga kajian tersebut dibutuhkan lalat kacang dalam jumlah banyak dan berumur seragam.

Berdasarkan pada kebutuhan tersebut, tulisan berikut mengulas teknik pembiakan secara massal untuk memperoleh O. phaseoli dalam jumlah banyak dengan kualitas tinggi.

METODE PEMBIAKAN

Lalat kacang, O. phaseoli

a. Cara Mendapatkan Serangga Biakan

Untuk mendapatkan serangga biakan O. phaseoli diperlukan penanaman kedelai pada musim kemarau ke-2 (MK II).         Kedelai varietas Wilis, Anjasmoro atau Tanggamus ditanam pada lahan seluas 1000 m2 dengan jarak tanam 40 cm x 20 cm, 3-4 biji per lubang tanam, tanpa pemupukan.  Pada umur tanaman 5 dan 6 hari setelah tanam (HST) dilakukan pengamatan populasi imago lalat kacang untuk memastikan apakah populasi lalat kacang rendah atau tinggi atau tidak ada. Kalau populasi imago tinggi berarti perlu segera dipersiapkan penanaman di rumah kaca untuk media peneluran O. phaseoli. Kalau populasin imago rendah, perlu segera dilakukan penanaman kedelai varietas Wilis, Anjasmoro atau Tanggamus di antara rumpun kedelai yang telah ada. Pada 5 atau 6 HST dilakukan pengamatan populasi imago pada pertanaman kedua tersebut.

Setelah tanaman layu dan kering (mati), tanaman dicabut secara hati-hati supaya pupa tidak ketinggalan di lahan. Tanaman yang tidak layu juga dicabut dan dibawa ke laboratorium untuk diamati pupa lalat kacang pada pangkal batang. Setelah terkumpul pupa dari tanaman contoh tersebut dipelihara pada cawan Petri yang diberi alas kertas. Selanjutnya pupa diidentifikasi dan hanya pupa O. phaseoli yang dipelihara. Ciri khas pupa O. phaseoli dapat dilihat pada bagian posterior spirakel yang bercabang dua dengan masing-masing cabang mempunyai enam buah tonjolan kecil, sedangkan anterior spirakelnya pendek. Pupa yang tidak mempunyai cirri tersebut dibuang.

b. Pemeliharaan pupa O. phaseoli hasil identifikasi

Untuk mendapatkan perkembangan dan pertumbuhan pupa O. phaseoli secar optimum, maka ke dalam cawan Petri tempat pupa tersebut dipelihara dimasukkan 6-10 buah keping biji kedelai yang masih segar. Cawan Petri ditempatkan pada baki plastic dan baki tersebut ditempatkan di atas ember yang pantatnya terendam dalam larutan detergen (Rinso). Tujuannya supaya pupa O. phaseoli terhindar dari serangan semut. Pada saat pupa telah berubah warna menjadi agak hitam, hal ini berarti imago akan segera lahir.

c. Penyediaan pakan imago O. phaseoli

Untuk pakan imago dapat menggunakan larutan madu 10% atau larutan gula pasir 10%. Cara membuatlarutan madu 10% adalah dengan cara mencampur 10 ml madu ditambah 90 ml air. Larutan gula tersebut disimpan dalam botol air aqua yang ditempatkan dalam lemari es. Pemberian pakan larutan madu dengan menggunakan hand sprayer. Cara membuat larutan gula 10% adalah sebagai berikut: mula-mula dibuat larutan gula jenuh dengan cara merebus air dalam panci dan setelah mendidih dimasukkan gula pasir, larutan diaduk agar gula pasir larut, dan penambahan gula pasir dihentikan pada saat gula pasir yang ditambahkan tidak dapat larut lagi. Setelah itu larutan didinginkan dan kemudian dimasukkan dalam botol dan disimpan di lemari es. Cara membuat larutan gula 10% adalah dengan mencampur 10 ml larutan gula jenuh dengan 90 ml air. Pemberian pakan larutan gula dengan menggunakan hand sprayer..

d. Pemeliharaan imago O. phaseoli

Pupa yang telah berwarna hitam yang ditempatkan di cawan Petri diletakkan di dasar kurungan/sangkar milar. Setelah imago keluar dari pupa, imago akan menuju ke bagian atas kurungan yang ditutup dengan kain nilon. Imago akan keluar dari pupa pada malam hari dan pada pukul 07.00 pagi diberi pakan dengan cara menyemprotkan larutan madu 10% pada bagian tutup sangkar dari arah luar. Supaya lebih aman, pada sore hari sebelumnya dilakukan pencelupan kapas dalam larutan madu 10%/gula 10%, diperas sedikit kemudian dimasukkan dalam lubang sangkar. Kapas dibentuk memanjang, selain untuk media pakan juga berfungsi sebagai sumbat pada lubang tersebut.

Kedelai

Sebanyak 20 kg benih kedelai (daya kecambah benih 90%) ditanam pada gelas-gelas plastik (garis tengah 10,9 cm, tinggi 4 cm). Tanaman disirami setiap hari menggunakan air kran dalam embrat. Lima hari setelah berkecambah, tanaman kedelai yang kotiledonnya terbuka penuh dipilih. Daun tunggal dipotong dengan tangan pada 4 dan 5 HST. Sehari kemudian, pada 5-6 HST  tanaman-tanaman disiapkan untuk peletakan telur lalat kacang. Benih kedelai ditanam setiap hari selama pembiakan massal lalat kacang berlangsung. Setiap harinya disiapkan sebanyak 24-36 gelas plastik.

Bibit-bibit kedelai tanpa daun tunggal ditempatkan dalam kurungan pembiakan yang terbuat dari nilon. Sebanyak 200-300 imago lalat kacang diinfestasikan selama 3 jam. Pada periode tersebut imago lalat kacang akan meletakkan telur-telurnya di kotiledon tanaman. Setiap 15 menit, kotiledon-kotiledon yang telah diteluri dipotong, kemudian dibungkus dengan kertas tissue dan dipelihara pada temperatur 25˚C. Pada waktu yang tepat, pupa yang terbentuk dipindahkan ke Petridish. Pada bagian dasar Petridish/di sekeliling pupa ditempatkan kotiledon segar. Imago-imago yang diperoleh dari pembiakan massal siap digunakan sebagai bahan kajian, misalnya kajian biologi dan ketahanan varietas.

Penggunaan benih kedelai berkualitas tinggi menjamin diperolehnya kotiledon-kotiledon kedelai dalam jumlah banyak dan berkualitas baik.  Kedelai berkualitas tinggi adalah benih kedelai dengan persentase daya berkecambah tinggi, bebas dari penyakit, tidak rusak oleh hama khususnya hama-hama pengisap polong atau akibat kerusakan mekanis, dan ukurannya sama. Varietas kedelai yang digunakan hendaknya diketahui rentan terhadap serangan lalat kacang.

Sedangkan untuk memperoleh larva dan pupa sehat, perlu memperhatikan beberapa faktor antara lain: kandungan protein dan kadar air kotiledon, kelembaban relative , dan jumlah larva atau telur di setiap kotiledon. Untuk mempertahankan kualitas kotiledon kedelai, daun-daun unifoliate harus dipotong secara hati-hati. Setelah imago betina lalat kacang meletakkan telur di kotiledon, kotiledon dipotong dan segera disimpan di dalam kertas tissue untuk mempertahankan kadar air dari kotiledon ditempatkan dalam cawan Petri tertutup. Dalam upaya untuk memberikan pakan yang cukup untuk perkembangan larva, maka di setiap kotiledon dibiarkan berkembang hanya 2-3 larva.

Kotiledon dipaparkan beberapa waktu untuk memperoleh hanya beberapa telur untuk setiap kotiledon. Lama periode peletakan telur bergantung pada banyaknya imago, umur imago, dan jumlah kotiledon di setiap kurungan.

Setelah telur-telur diletakkan, sangatlah penting untuk memotong kotiledon dari batang kedelai untuk menghentikan tanaman menggunakan sumber energi dari kotiledon untuk perkembangan akar dan cabang-cabang baru. Perlu diperhatikan untuk menyimpan kotiledon dengan membungkus menggunakan kertas tissue. Dengan cara tersebut kelembaban relative dapat dipertahankan sehingga kotiledon tetap segar. Perkembangan larva dipengaruhi oleh temperature dan temperature yang paling sesuai adalah 25 ˚C.

Imago yang baru saja terbentuk membutuhkan kelembaban relative yang tinggi. Untuk memperoleh kondisi seperti itu, pertahankan bibit-bibit kedelai dengan daun unifoliate dalam jumlah banyak di dalam kurungan pembiakan. Waktu untuk memindahkan imago dari Petridish ke kurungan pembiakan adalah sangat penting. Waktu terbaik untuk memindahkannya adalah saat imago bersayap telah berkembang sempurna. Pencirinya adalah mereka segera terbang saat Petridish dibuka. Pada kondisi tersebut imago tidak boleh dibiarkan terlalu lama dalam Petridish karena stadia imago lalat kacang membutuhkan air untuk mempertahankan hidupnya.

Berdasarkan metode pembiakan tersebut disimpulkan bahwa sangat memungkinkan memperoleh lalat kacang dalam jumlah banyak dan berkualitas pada waktu tertentu  dengan menggunakan kotiledon sebagai sumber pakan larva. Faktor kunci untuk pembiakan massal lalat kacang adalah ketersediaan benih kedelai berkualitas tinggi, vigour bibit, kualitas kotiledon, dan kelembaban relatif. (Wedanimbi Tengkano, Y. Baliadi, dan N.S. Talekar).

DAFTAR PUSTAKA

Talekar, N.S. and B.S. Chen. 1985. The beanfly pest complex of tropical soybean, pp 257-274. In Soybean in tropical and Subtropical Cropping System. AVRDC, Shanshua, Taiwan, republic of China.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s