PENGENDALIAN HAMA PENGOROK DAUN Liriomyza huidobrensis (Diptera: Agromyzidae) PADA TANAMAN SAYUR-SAYURAN

TUGAS KLINIK TANAMAN

PENGENDALIAN HAMA PENGOROK DAUN Liriomyza huidobrensis

(Diptera: Agromyzidae) PADA TANAMAN SAYUR-SAYURAN

oleh:

Lutfi Afifah A34070039

Zhenita Vinda Tri Handini A34070030

Heny Emalia A34070075


PENDAHULUAN

Lalat pengorok daun kentang, Liriomyza huidobrensis (Blanchard) (Diptera: Agromyzidae), merupakan hama eksotik yang diperkirakan tiba di Indonesia pada awal tahun 1990-an (Rauf 1995), dan sekarang sudah ditemukan hampir di semua dataran tinggi di Indonesia. Lalat pengorok daun merupakan hama yang sangat polifag yang ditunjukan dengan banyaknya tanaman yang dapat diserang. Menurut Rauf dan Shepard (1999) hama ini ditemukan pada 45 spesies tanaman dari Famili Cruciferae, Liliaceae, Cucurbitaceae, Umbelliferae, Compositae, Amaranthaceae, Chenopodiaceae, Solanaceae, Euphorbiaceae, Convolvulaceae, Basellaceae dan Labitaceae.

Serangan hama Liriomyza huidobrensis dapat menimbulkan kerusakan pada tanaman karena tusukan ovipositor imago dan korokan larva pada jaringan daun sehingga menurunkan kemampuan fotosintesis tanaman. Serangan berat mengakibatkan daun mengering dan gugur sebelum waktunya, sehingga kuantitas dan kualitas umbi kentang menurun. Serangan hama ini dapat menurunkan hasil antara 30% sampai 70% (Rauf & Shepard 1999).

PEMBAHASAN

Pengendalian yang akan diuraikan dalam tugas ini adalah pengendalian secara kultur teknis, mekanis, biologis, kimiawi, dan pengendalian melalui karantina. Penjelasan dari masing-masing pengendalian adalah sebagai berikut:

  1. 1. Kultur teknis
    Cara ini dilakukan dengan menerapkan budidaya tanaman sehat yang meliputi :
    – Penggunaan varietas yang tahan
    – Sanitasi yaitu dengan membersihkan gulma
    – Pemupukan berimbang
    – Menimbun bagian-bagian tanaman yang terserang
  1. 2. Mekanis
    – Pemangkasan daun-daun yang terserang dan daun bagian bawah yang telah tua.
    – Larva dikumpulkan dari sekitar tanaman yang rusak kemudian dimusnahkan.
    – Pemasangan yellow sticky trap dengan membentangkan kain kuning (lebar 0,9 m x panjang sesuai kebutuhan atau 7 m, untuk setiap lima bedengan memanjang) berperekat di atas tajuk tanaman kentang (Baso et al. 2000). Goyangkan pada tanaman membuat lalat dewasa beterbangan dan terperangkap pada kain kuning.
    – Pengendalian hayati dengan parasitoid hanya mungkin berhasil bila disertai upaya pengurangan penggunaan insektisida.

Hemiptarsenus varicornis (Girault) merupakan ektoparasitoid idiobion larva yang ditemukan hampir di setiap daerah serangan L. huidobrensis dan L. sativae di Indonesia. Tingkat fekunditas betina dari parasitoid ini di Laboratorium cukup tinggi yaitu rata-rata 51,7 butir dengan lama hidup imago betina sekitar 10 sampai 35 hari. Hasil survei di beberapa lokasi di Indonesia menunjukan tingkat parasitisasinya di lapangan cukup tinggi. Tingkat parasitisasi tersebut dipengaruhi oleh tanaman inang dari Liriomyza spp. dan teknologi budidaya yang dilakukan. Upaya pemanfaatan parasitoid ini sebagai pengendali hayati hama pengorok daun dari genus Liriomyza dapat dilakukan dengan upaya konservasi melalui pengaturan pola tanam dan teknologi pertanian ramah lingkungan.

Dengan memperhatikan data tersebut di atas, maka dapat dilakukan upaya konservasi H. varicornis di lapangan untuk mengendalikan pengorok daun Liriomyza spp. melalui manipulasi lingkungan (tritropic levels) dengan memadukan antara pengaturan pola tanam dan penerapan teknologi pertanian ramah lingkungan, yaitu:

1. Pengaturan pola tanam, dengan pilihan sebagai berikut:

– Menanam tanaman kacang merah (red bean) atau buncis (snap bean) sebagai tanaman perangkap Liromyza sekaligus tempat berkembang biaknya parasitoid H. varicornis pada pematang atau pinggiran kebun, yang sebaiknya ditanam lebih awal sebelum tanaman pokoknya.

– Menanam tanaman pada awal musim tanaman yang jika terserang Liriomyza spp. tidak mengakibatkan kerugian secara ekonomis, karena menyerang daun yang sudah tua seperti brokoli atau kubis, kemudian pada musim tanam kedua menanam kentang atau bawang daun yang ditumpangsarikan dengan kacang merah atau buncis.

– Melakukan sistem pola tanam tumpang sari antara kacang merah dengan kentang, buncis dengan bawang daun, buncis dengan kubis, dan lain-lain.

2. Menerapkan teknologi pertanian ramah lingkungan (organik) sehingga populasi parasitoid di lapangan tidak terganggu. Adapun teknologi pertanian ramah lingkungan yang dapat dilakukan dalam budidaya tanaman sayuran dan tanaman hias antara lain: penggunaan pupuk organik baik yang sudah menjadi kompos ataupun dalam bentuk pupuk kandang, penggunaan pestisida botani dengan memanfaatkan ekstrak bagian dari tumbuhan untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman.

H. varicornis merupakan parasitoid yang memiliki potensi besar sebagai pengendali hayati untuk mengendalikan hama pengorok daun Liriomyza di Indonesia, karena disamping pertimbangan faktor fekunditas dan lama hidup imago betinanya, juga merupakan parasitoid lokal yang sudah beradaptasi di wilayah Indonesia. Pemanfaatan parasitoid ini dilakukan dengan cara konservasi melalui pengaturan pola tanam dan aplikasi teknologi pertanian ramah lingkungan.

3. Biologis

Dengan memanfaatkan musuh alami. Musuh alami yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama penggorok daun pada kentanng antara lain:

a) Hemiptarsenus varicorni

H. varicornis (Hymenoptera : Eulophidae) merupakan parasitoid penting pada hama Liriomyza huidobrensis. Parasitoid tersebut dapat di temukan di seluruh areal pertanaman kentang yang terserang L. huidobrensis. Tingkat parasitasi H. varicornis terhadap L. huidobrensis pada tanaman kentang, kacang-kacangan, seledri, tomat dan caisin rata-rata adalah 37,33%; 40,63%; 35,71%; 24,69% dan 31,68%. Nisbah kelamin antara jantan dan betina adalah 1,5 : 1 (Setiawati dan Suprihatno, 2000). Siklus hidup H. varicornis berkisar antara 12-16 hari. Masa telur, larva dan pupa masing-masing 1-2 hari, 5-6 hari, dan 6-8 hari. Masa hidup betina berkisar antara 88-22 hari. Satu ekor betina mampu menghasilkan telur sebanyak 24-42 butir (Hindrayani dan Rauf, 2002. dalam A.S.

Duriat et al. 2006).

b) Opius sp.

Opius sp. merupakan parasitoid penting hama L. huidobrensis. Telur berbentuk lonjong, dengan salah satu bagian ujungnya sedikit lebih membengkak dibandingkan dengan ujung yang lain. Siklus hidupnya berkisar antara 13-59 hari. Masa telur, larva dan pupa masing-masing 2, 6, dan 6 hari. Satu ekor betina mampu menghasilkan telur sebanyak 49-187 butir. Instar yang paling cocok untuk perkembangan parasitoid Opius sp., adalah instar ke-3. Pada instar tersebut masa perkembangan parasitoid lebih singkat dan keturunan yang dihasilkan lebih banyak dengan proposi betina yang lebih tinggi. Nisbah kelamin jantan dan betina adalah 1:1 (Rustam et a.l, 2002. dalam A.S. Duriat et al., 2006).

c) Penggunaan ekstrak biji mimba (Azadirachta indica)

4. Kimia

Sebelum aplikasi insektisida dilakukan pemantauan OPT dan aplikasinya apabila diperlukan. Pestisida yang telah terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian untuk OPT gerbera belum ada, namun demikian untuk sementara dapat menggunakan insektisida seperti insektisida Neem azal T/S Azadirachtin 1 % (Baso et al., 2000 dalam A.S Duriat et al., 2006) atau Trigad 75 WP, Agrimec 18 EC (Novartis, 1998 dalam A.S. Duriat et al., 2006).

Insektisida untuk mengendalikan hama ini, dengan Frekuensi aplikasi dua kali per minggu. Insektisida yang paling banyak digunakan adalah dari golongan piretroid dan organofosfat.

5. Karantina

Tidak membawa bibit dari daerah endemik ke daerah lainnya. Liriomyza huidobrensis merupakan hama baru pada tanaman kentang. Hama ini pertama kali dilaporkan menyerang tanaman kentang di Puncak, Jawa Barat pada tahun 1994 dan diduga telah resisten terhadap berbagai jenis insektisida dari golongan organofosfat, karbamat, dan piretroid sintetik. Upaya pengendalian hama tersebut diarahkan pada program pengendalian hama terpadu (PHT). Dalam program tersebut penggunaan insektisida hanya dilakukan apabila populasi hama sudah mencapai ambang pengendalian dan jenis insektisida yang digunakan harus selektif.

Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No.: 698/kpts/tp.120/8/1998 Tentang Izin Pemasukan Beberapa Jenis Parasitoid Dari Hawaii Ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia. Memberikan izin kepada Pusat Kajian Pengendalian Hama Terpadu, Institut Pertanian Bogor untuk memasukkan 5 (lima) jenis parasitoid dari Hawaii untuk mengendalikan hama Liriomyza – huidobrensis melalui Bandar Udara Soekarno – Hatta, Jakarta.

Jenis-jenis parasitoid dimaksud adalah sebagai berikut :

1. Diglyphus-begini, ektoparasitoid larva;

2. Diglyphus-intermedius, ektoparasitoid larva;

3. Chrysocaris-oscinidus, endoparasitoid larva-pupa;

4. Ganaspidium-utilis, endoparasitoid larva-pupa;dan

5. Halticoptera-circulus, endoparasitoid larva-pupa.

DAFTAR PUSTAKA

Rauf A. 1995. Liriomyza: hama pendatang baru di Indonesia. Bull HPT 8 (1):

46-48.

Rauf A, Shepard M. 1999. Leafminers in vegetables in Indonesia: surveys of

host crops. Species composition, parasitoids and control practices.

Keputusan menteri pertanian no.: 698/kpts/tp.120/8/1998 tentang izin pemasukan beberapa jenis parasitoid dari hawaii ke dalam wilayah negara republik indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s