Sebuah Kisah Mahasiswi di Jerman

Sebuah Kisah Mahasiswi di Jerman
October 28, 2010 at 6:39am

Manfaat sedekah tak mengenal pandang bulu
Kisah  di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari Milis alumni Goodwillers di
Jerman atau
warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana . Demikian
layak untuk
dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.

Sungguh membuat saya meneteskan air mata seketika membaca posting ini…

Hiduplah untuk orang lain berilah manfaat atas dirimu kepada orang lain.

Quote:
Saya  adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah  saya.
Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen  sangat
inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang  memilikinya.Tugas
terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama  “Smiling.” Seluruh siswa
diminta untuk pergi ke luar dan memberikan  senyumnya kepada tiga orang asing
yang ditemuinya dan mendokumentasikan  reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa
diminta untuk mempresentasikan  didepan kelas. Saya adalah seorang
yang periang,
mudah bersahabat dan  selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya
pikir,tugas
ini sangatlah  mudah.

Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui  suami saya dan anak bungsu
saya yang menunggu di taman di halaman  kampus, untuk pergi kerestoran
McDonald’s yang berada di sekitar kampus.  Pagi itu udaranya sangat dingin dan
kering. Sewaktu suami saya akan  masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta
agar dia saja yang  menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih
kosong.Ketika  saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak
setiap  orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang
yang semula
antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.Suatu perasaan  panik
menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka  semua pada
menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu “bau  badan kotor” yang
cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya  berdiri dua orang lelaki
tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan  tidak mampu bergerak sama
sekali.Ketika saya menunduk, tanpa sengaja  mata saya menatap laki-laki yang
lebih pendek, yang berdiri lebih dekat  dengan saya, dan ia sedang “tersenyum”
kearah saya.Lelaki ini bermata  biru, sorot matanya tajam, tapi juga
memancarkan
kasih sayang. Ia  menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat
menerima  ‘kehadirannya’ ditempat itu.Ia menyapa “Good day!” sambil tetap
tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk  membayar
makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas  senyumnya,
dan seketika
teringat oleh saya ‘tugas’ yang diberikan oleh  dosen saya. Lelaki kedua sedang
memainkan tangannya dengan gerakan aneh  berdiri di belakang temannya. Saya
segera menyadari bahwa lelaki kedua  itu menderita defisiensi mental,
dan lelaki
dengan mata biru itu adalah  “penolong”nya. Saya merasa sangat prihatin setelah
mengetahui bahwa  ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama
mereka,dan  kami bertiga tiba2 saja sudah sampai didepan counter.

Ketika  wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya
pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki  bermata
biru segera memesan “Kopi saja, satu cangkir Nona.” Ternyata  dari koin yang
terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka  (sudah menjadi aturan
direstoran disini, jika ingin duduk di dalam  restoran dan menghangatkan tubuh,
maka orang harus membeli sesuatu). Dan  tampaknya kedua orang ini hanya ingin
menghangatkan badan.

Tiba2  saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku
beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat  duduk
yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang  mengamati
mereka. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa  saat itu
semua mata
di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya,  dan pasti juga melihat semua
‘tindakan’ saya.

Saya baru  tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga
kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta
diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan
terpisah.Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain  yang
ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke  meja/tempat duduk
suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan  lainnya berjalan melingkari
sudut kearah meja yang telah dipilih kedua  lelaki itu untuk beristirahat. Saya
letakkan nampan berisi makanan itu  di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya
di atas punggung telapak  tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya
berucap “makanan ini  telah saya pesan untuk kalian berdua.”

Kembali mata biru  itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah
ber-kaca2 dan  dia hanya mampu berkata “Terima kasih banyak, nyonya.”Saya
mencoba tetap  menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata
“Sesungguhnya  bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di
sekitar  sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan
makanan ini kepada kalian.”Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak  kuasa
menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat  itu ingin
sekali saya merengkuh kedua lelaki itu.

Saya  sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan
meninggalkan  mereka
dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari  tempat duduk
mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan  tangis saya sambil
tersenyum dan berkata “Sekarang saya tahu, kenapa  Tuhan mengirimkan dirimu
menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan  ‘keteduhan’ bagi diriku dan
anak-2ku! ” Kami saling berpegangan tangan  beberapa saat dan saat itu kami
benar2 bersyukur dan menyadari,bahwa  hanya karena ‘bisikanNYA’ lah kami telah
mampu memanfaatkan ‘kesempatan’  untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain
yang sedang sangat  membutuhkan.

Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai  dari tamu yang akan meninggalkan
restoran dan disusul oleh beberapa  tamu lainnya, mereka satu persatu
menghampiri meja kami, untuk sekedar  ingin ‘berjabat tangan’ dengan kami.Salah
satu diantaranya, seorang  bapak, memegangi tangan saya, dan berucap “Tanganmu
ini telah memberikan  pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini,
jika suatu  saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan
seperti yang
telah kamu contohkan tadi kepada kami.”Saya hanya bisa berucap  “terimakasih”
sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran  saya sempatkan untuk
melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada  ‘magnit’ yang menghubungkan
bathin kami, mereka langsung menoleh kearah  kami sambil tersenyum, lalu
melambai-2kan tangannya kearah kami. Dalam  perjalanan pulang saya merenungkan
kembali apa yang telah saya lakukan  terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu
benar2 ‘tindakan’ yang tidak  pernah terpikir oleh saya dan sekaligus merupakan
‘hidayah’ bagi saya,  maupun bagi orang2 yang ada disekitar saya saat itu.
Pengalaman hari itu  menunjukkan kepada saya betapa ‘kasih sayang’ Tuhan itu
sangat HANGAT  dan INDAH sekali!

Saya kembali ke college, pada hari  terakhir kuliah dengan ‘cerita’
ini ditangan
saya. Saya menyerahkan  ‘paper’ saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya,
sebelum memulai  kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat
kepada  saya dan berkata, “Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang
lain?” dengan senang hati saya mengiyakan. Ketika akan memulai kuliahnya  dia
meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai  membaca,
para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen,  dan
ruangan kuliah
menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki  sang dosen dalam membawakan
ceritanya, membuat para siswa yang hadir di  ruang kuliah itu seolah ikut
melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu  berlangsung, sehingga para siswi
yang duduk di deretan belakang didekat  saya diantaranya datang memeluk saya
untuk mengungkapkan perasaan  harunya.Diakhir pembacaan paper tersebut, sang
dosen sengaja menutup  ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya
tulis diakhir  paper saya .”Tersenyumlah dengan ‘HATImu’, dan kau akan
mengetahui  betapa ‘dahsyat’ dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu.”

Dengan  caraNYA sendiri, Tuhan telah ‘menggunakan’ diri saya untuk menyentuh
orang-orang yang ada di McDonald’s, suamiku, anakku, guruku, dan setiap  siswa
yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi.  Saya lulus
dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan  di bangku kuliah
manapun, yaitu: “PENERIMAAN TANPA SYARAT.”

Jika  anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda,
teruskan  cerita
ini kepada orang2 terdekat anda. Disini ada ‘malaikat’ yang akan  menyertai
anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan  tergerak
hatinya untuk
bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama  yang sedang membutuhkan
uluran tangannya!

Orang bijak  mengatakan: Banyak orang yang datang dan pergi dari kehidupanmu,
tetapi  hanya ‘sahabat yang bijak’ yang akan meninggalkan JEJAK di dalam
hatimu.Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk
berinteraksi dengan orang lain, gunakan HATImu! Orang yang kehilangan  uang,
akan kehilangan banyak, orang yang kehilangan teman, akan  kehilangan lebih
banyak! Tapi orang yang kehilangan keyakinan, akan  kehilangan semuanya! Tuhan
menjamin akan memberikan kepada setiap hewan  makanan bagi mereka, tetapi DIA
tidak melemparkan makanan itu ke dalam  sarang mereka, hewan itu tetap harus
BERIKHTIAR untuk bisa  mendapatkannya.Orang-orang muda yang ‘cantik’ adalah
hasil kerja alam,  tetapi orang-orang tua yang ‘cantik’ adalah hasil
karya seni.
Belajarlah  dari PENGALAMAN MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama
untuk bisa mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri

————————————

Semoga bermanfaat! ^^

Leave your comment if you think that’s interested to you.

Thank you.

Best regards,

Lutfi Afifah

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s