BIOTEKNOLOGI DALAM PROTEKSI TANAMAN -JAGUNG TRANSGENIK YANG MENGANDUNG GEN Bt-

*Download file terlampir!

DOWNLOAD MAKALAH JAGUNG TRANSGENIK YANG MENGANDUNG GEN Bt!

DOWNLOAD JAGUNG TRANSGENIK.PPT

 

MAKALAH

PENGANTAR BIOTEKNOLOGI DALAM PROTEKSI TANAMAN

(PTN 403)

JAGUNG TRANSGENIK YANG MENGANDUNG GEN Bt

Kelompok 1:

Radhian Ardy Prabowo                                        A34070012

Rita Kurnia Apindiati                                           A34070035

Lutfi Afifah                                                          A34070039

Kurniatus Ziyadah                                                A34070046

Yulius Dika Ciptadi                                              A34070044

 

Dosen:

Dr. Ir. Yayi Munara Kusuma, Msi

Dr. Gede Suastika

Dr. Ir. Sri Hendrastuti Hidayat, Msc

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010


PENDAHULUAN

Latar belakang

Tanaman jagung sudah lama diusahakan petani Indonesia dan merupakan tanaman pokok kedua setelah padi. Penduduk kawasan timur Indonesia seperti Nusa Tenggara Timur, Madura, sebagian Maluku, dan Irian Jaya sudah biasa menggunakan jagung sebagai makanan pokok sehari-hari. Produksi jagung Indonesia sebagian besar berasal dari pulau Jawa (± 66%) dan sisanya barasal dari di propinsi luar Jawa terutama Lampung, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sumatra Utara, dan Nusa Tenggara Timur .

Jagung memiliki peranan penting dalam industri berbasis agribisnis. Untuk tahun 2009, Deptan melalui Direktorat Jendral Tanaman Pangan mengklaim produksi jagung mencapai 18 juta ton. Jagung dimanfaatkan untuk konsumsi, bahan baku industri pangan, industri pakan dan bahan bakar. Kebutuhan jagung dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan seiring berkembangnya industri pakan dan pangan.

Kendala dalam budidaya jagung yang menyebabkan rendahnya produktivitas jagung antara lain adalah serangan hama dan penyakit. Hama yang sering dijumpai menyerang pertanaman jagung adalah ulat penggerek batang jagung, kutu daun, ulat penggerek tongkol, dan Thrips.

Upaya pengendalian oleh petani pada saat ini adalah dengan menggunakan pestisida atau bahan kimia lainnya yang tidak ramah lingkungan. Dengan berkembangnya bioteknologi, perbaikan genetik jagung melalui rekayasa genetik akan menjadi andalan dalam pemecahan masalah perjagungan di masa mendatang (id.wikipedia.org). Perbaikan genetik jagung dapat dilakukan secara konvensional maupun melalui rekayasa genetik (genetic engeenering). Seperti diketahui, pemuliaan secara konvensional mempunyai keterbatasan dalam mendapatkan sifat unggul dari tanaman. Dalam rekayasa genetik jagung, sifat unggul tidak hanya didapatkan dari tanaman jagung itu sendiri, tetapi juga dari spesies lain sehingga dapat dihasilkan tanaman transgenik. Jagung Bt merupakan tanaman transgenik yang mempunyai ketahanan terhadap hama, di mana sifat ketahanan tersebut diperoleh dari bakteri Bacillus thuringiensis (Herman 1997).

 

Tujuan

Memaparkan penerapan bioteknologi dalam pengendalian hama penggerek batang jagung untuk mendukung sistem perlindungan tanaman dengan adanya tanaman transgenik Jagung Bt dan pemanfaatannya serta untuk mengetahui dampak negatif dan positif Jagung Bt terhadap lingkungan.

PEMBAHASAN

Tanaman transgenik diperoleh dengan menyisipkan gen-gen tertentu baik berasal dari tanaman, hewan atau mikroorganisme ke dalam DNA tanaman. Adanya gen baru yang disisipkan akan merubah sifat tanaman sesuai yang diinginkan atau memberikan kemampuan pada tanaman untuk memproduksi substansi baru yang diperlukan untuk tujuan tertentu. Tanaman yang mempunyai sifat baru seperti tahan hama dan penyakit dan menghasilkan senyawa baru yang penting baik untuk tanaman itu sendiri maupun kepentingan manusia.

Serangan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) merupakan hambatan dalam upaya peningkatan produksi jagung. Serangan OPT pada tanaman jagung dapat menurunkan produksi sehingga mengurangi pendapatan petani. Kerugian lainnya adanya residu pestisida dalam jumlah besar yang menyebabkan polusi lingkungan. Salah satu OPT tersebut adalah European corn borer (ECB), Ostrinia furnacalis yang merupakan hama jagung di Amerika dan Kanada yang dapat merugikan 1 milyar dolar Amerika per tahun. Hama ECB dapat dieliminasi oleh pestisida kimia, tetapi hanya dapat diaplikasi pada areal yang terbatas (kurang dari 20%), karena aplikasi pestisida sulit dilakukan dan diperlukan aplikasi lain dalam mengontrol ECB.

Dalam rekayasa genetik jagung, sifat unggul tidak hanya didapatkan dari tanaman jagung itu sendiri, tetapi juga dari spesies lain sehingga dapat dihasilkan tanaman transgenik. Jagung Bt merupakan tanaman transgenik yang mempunyai ketahanan terhadap hama, di mana sifat ketahanan tersebut diperoleh dari bakteri Bacillus thuringiensis (Herman 1997). Bacillus thuringiensis (Bt) merupakan bakteri gram positif yang telah banyak digunakan dalam dunia pertanian sebagai pestisida hayati oleh petani yang aman selama tiga puluh tahunan.

Gen Bt disolasi dari bakteri tanah Bacillus thuringiensis yang telah digunakan petani di negara maju sebagai pestisida hayati sejak puluhan tahun yang lalu. B. thuringiensis menghasilkan protein kristal Bt, atau Crystal protein (Cry) yang merupakan protein endotoksin yang bersifat racun bagi serangga (insektisidal) (Held et al. 1982, Macintosh et al. 1990). Namun protein endotoksin yang dihasilkan oleh B. thuringiensis tidak melakukan pengikatan pada permukaan pencernaan sel mamalia, karena itu hewan ternak dan manusia tahan terhadap protein tersebut (Agbios GM Data Base 2007).

Terdapat delapan kelompok gen Bt berdasarkan sifat virulensinya (Herman 2002), tetapi yang sudah banyak ditransformasikan ke dalam tanaman jagung adalah yang menghasilkan jenis Bt endotoksin dari gen Cry1Ab. Protein Cry dari gen ini hanya menghasilkan satu jenis yang mengikat pada lokasi spesifik dari serangga target (Agbios GM Data Base 2007).

Tersedianya bioaktif dari kristal protein yang dikode oleh gen Bt, memungkinkan modifikasi genetik tanaman jagung yang disisipi dengan gen Bt untuk menghasilkan jagung transgenik Bt (Bt corn). Bt protein yang dihasilkan oleh gen Bt dapat meracuni hama yang menyerang tanaman jagung. Setelah dimakan oleh corn borer, Bt protein dipecah oleh suatu enzim pemecah dalam pencernaan yang bersifat alkalin dari larva serangga dan menghasilkan protein pendek yang mengikat dinding pencernaan. Pengikatan dapat menyebabkan kerusakan membran sel sehingga larva berhenti beraktivitas (Syngenta Seeds Communication 2003).

Salah satu jagung transgenik yang beredar di Indonesia adalah Jagung PRG MON 89034. Jagung PRG MON 89034 adalah produk generasi kedua dari perusahaan Monsanto yang diklaim dikembangkan untuk memberikan aneka manfaat yang makin besar bagi pengendalian hama serangga Lepidoptera pada jagung. Jagung PRG MON 89034 menghasilkan protein Cry1A.105 dan Cry2Ab2 hasil turunan Bacillus thuringiensis (Bt), yang secara bersama-sama mengendalikan serangga-serangga lepidoptera dengan spektrum yang lebih luas serta menawarkan sistem pengelolaan resistensi serangga yang efektif.

Jagung PRG MON 89034 mengandung dua gen interes yaitu: Gen cry1A.105 yang memproduksi protein Cry1A.105. Gen kedua adalah gen cry2Ab2 yang memproduksi protein Cry2Ab2. Kedua gen ini bertanggung jawab dalam ketahanan terhadap serangga hama penggerek jagung. Gen ini berasal dari Bacillus thuringiensis. Dua gen interes (cry1A.105 dan cry2Ab2) yang diintroduksikan ke jagung PRG MON 89034 stabil pada tujuh generasi.

Vektor yang digunakan untuk transformasi sel-sel jagung untuk membuat jagung PRG MON 89034 adalah plasmid PVZMIR245. DNA yang disisipkan, yakni bagian plasmid PV-ZMIR245 yang diintegrasikan ke dalam genom jagung selama proses transformasi tersebut mengandung dua T-DNA terpisah yang disebut sebagai sistem 2 T-DNA.

T-DNA pertama, yang disebut sebagai T-DNA I, mengandung kaset ekspresi cry1A.105 dan cry2Ab2. T-DNA kedua, yang disebut sebagai T-DNA II, mengandung kaset ekspresi nptll yang mengkodekan enzim fosfotransferase neomisin yang memberikan toleransi terhadap sejumlah antiobiotik tertentu seperti neomisin dan paromomisin.

Penggunaan sistem 2 T-DNA menjadi landasan bagi pendekatan yang efektif untuk menghasilkan tanaman-tanaman yang bebas penanda. Hal ini memungkinkan penyisipan T-DNA dengan sifat-sifat yang dikehendaki (misalnya, T-DNA I) dan T-DNA yang mengkodekan penanda yang dapat dipilih (misalnya, nptII, T-DNA II) ke dalam dua lokus independen dalam genom tanaman tersebut. T-DNA sisipan yang mengkodekan penanda (misalnya, T-DNA II) dapat disegregasikan dari progeni melalui pembiakan dan seleksi genetik berikutnya; sedangkan T-DNA yang mengandung sifat yang dikehendaki tetap dipertahankan.

Analisis stabilitas genetik integrasi gen interes dari jagung PRG MON 89034 pada beberapa generasi dilakukan dengan Southern blot fingerprint. Sampai tujuh generasi gen interes masih dapat dideteksi dengan melihat adanya pita gen interes pada hasil analisis Southern blot fingerprint. Selain itu, berdasarkan analisis Southern blot fingerprint ditemukan hasil yang penting yaitu tidak dideteksinya elemen T-DNA II dan sekuen backbone plasmid PV-ZMIR245. Stabilitas genetik pewarisan sifat ketahanan serangga hama pada jagung PRG MON 89034 mengikuti prinsip segregasi Mendel (www.agbios.com). Jagung PRG MON 89034 tidak ada bedanya dengan jagung non PRG kecuali dari sifat ketahanan terhadap serangga hama penggerek jagung.

 

 

(a)                                 (b)

Gambar 1. Jagung Bt (a) dan Jagung non Bt (b)

 

Produksi jagung Bt pada saat ini didominasi oleh Amerika, di mana areal pertanamannya pada tahun 2000 telah mencapai 92% dari total areal pertanaman jagung. Keuntungan diperoleh dari pertanaman jagung Bt di Amerika mencapai 141 juta dolar (59%) dari total keuntungan sebesar 240 juta dolar Amerika (Herman 2002).

Pertanaman jagung Bt mempunyai dampak positif terhadap lingkungan karena dapat menekan penggunaan pestisida. Dampak positif lain dari pertanaman jagung Bt adalah ketahanan tanaman terhadap jamur toksin dari Fusarium penyebab busuk tongkol, dibandingkan dengan jagung non-Bt yang mengalami kerusakan berat. Untuk melihat apakah jagung Bt aman atau tidak, telah dilakukan analisis bioinformatik secara menyeluruh. Berdasarkan hasil analisis mikotoksin, jagung Bt mempunyai kandungan fumonisin 1,5 ppm, sedangkan jagung non-Bt mempunyai kadar yang lebih tinggi, mencapai 14,5 ppm (Fuller 1999). Fumonisin adalah mikotoksin yang dihasilkan oleh kapang Fusarium spp. terutama F. verticillioides dan F. proliferatum yang banyak dijumpai pada komoditas pertanian seperti jagung, beras dan gandum. Fumonisin B 1 (FB1) merupakan jenis fumonisin yang paling banyak ditemui di alam dan paling toksik, diklasifikasikan sebagai senyawa karsinogen (Grup 2B) (iirc.ipb.ac.id).

Analisis terhadap protein Cry2Ab2 menunjukkan tidak ada kemiripan struktur primer, sekunder dan tertier dengan protein lain yang diketahui bersifat alergen, ataupun toksik terhadap manusia dan hewan. Juga tidak dijumpai keberadaan 8 sekuen asam amino yang menyusun peptida, sehingga tidak berpeluang bersifat imunoreaktif atau tidak dapat melakukan reaksi silang (cross reactive). Sehingga dapat disimpulkan bahwa protein Cry2Ab2 tidak menunjukkan adanya potensi dapat menimbulkan alergi.

Uji toksisitas telah dilakukan dan hasilnya dilaporkan sebagai company report terhadap protein Cry1A.105 dan Cry2Ab2 pada mencit. Kesimpulan uji toksisitas tersebut adalah sebagai berikut:

a. Tidak ada mencit mati yang disebabkan oleh protein Cry1A.105 dan Cry2Ab2 selama 14 hari percobaan. Nilai LD50 sangat tinggi, yaitu untuk Cry1A.105 > 2072 mg/kg dan untuk Cry2Ab2 > 2198 mg/kg.

b. Tidak terdapat perbedaan nyata pada konsumsi ransum maupun berat badan mencit yang mengkonsumsi jagung konvensional dibandingkan dengan jagung PRG.

c. Hasil nekropsi pada mencit tidak menunjukkan adanya kelainan patologis.

Hasil penelitian lain pada ayam (telah dipublikasikan dalam Poultry Science, 2007, 86:1972-1979) menyimpulkan bahwa nilai gizi pakan jagung transgenik sama dengan jagung hibrida komersial. Dari hasil pengkajian dapat disimpulkan bahwa protein Cry1A.105 dan Cry2Ab2 termasuk dalam golongan zat yang praktis tidak toksik (practically non toxic).

Penelitian lain lagi menunjukkan bahwa penanaman jagung Bt tidak berpengaruh terhadap serangga berguna seperti laba-laba, Coccinellid, Chtysopid, Nabid, dan aman terhadap burung puyuh Northern Bobwhite (McLean and MacKenzie 2001)

KESIMPULAN

Jagung Bt merupakan tanaman transgenik yang mempunyai ketahanan terhadap hama, di mana sifat ketahanan tersebut diperoleh dari bakteri Bacillus thuringiensis. Bakteri B. thuringiensis menghasilkan protein kristal Bt, atau Crystal protein (Cry) yang merupakan protein endotoksin yang bersifat racun bagi serangga (insektisidal). Bt protein yang dihasilkan oleh gen Bt dapat meracuni hama yang menyerang tanaman jagung. Salah satu jagung transgenik yaitu jagung PRG MON 89034 mengandung dua gen interes yaitu: Gen cry1A.105 yang memproduksi protein Cry1A.105. Gen kedua adalah gen cry2Ab2 yang memproduksi protein Cry2Ab2. Kedua gen ini bertanggung jawab dalam ketahanan terhadap serangga hama penggerek jagung. Setelah dimakan oleh corn borer, Bt protein dipecah oleh suatu enzim pemecah dalam pencernaan yang bersifat alkalin dari larva serangga dan menghasilkan protein pendek yang mengikat dinding pencernaan. Pengikatan dapat menyebabkan kerusakan membran sel sehingga larva berhenti beraktivitas.

DAFTAR PUSTAKA

[Anonim].  2010.  Bioteknologi.  http://id.wikipedia.org/wiki/Bioteknologi [14 Desember 2010]

Agbios GM Data Base. 2007. Budidaya jagung. http://www.agbios.com/dbase.php [14 Desember 2010]

Fuller, G. 1999. Safety assessment of genetically modified corn: a case study. Regional Symposium on Genetically Modified Foods: Benefits and Awareness. Bangkok, March 17-18, 1999.

Held, G.A., L.A. Bulla, E. Jr. Ferrari, J. Hoch, and A.I. Aronson. 1982. Cloning and localization of the lepidopteran protoxin gene of Bacillus thuringiensis subsp. kurstaki. Proc. Natl. Acad. Sci. 79:60-65.

Herman, M. 1997. Insect resistant via genetic engineering. In: A. Darussamin, I.P. Kompiang, and S. Moeljopawiro (Eds.). Proceedings Second Conference on Agricultural Biotechnology. Jakarta, 13-15 June 1995. Current Status of Agricultural Biotechtology in Indonesia, Research and Development and Priorities, Agency for Agricultural Research and Development, Ministry of Agriculture: 217-226.

Herman, M. 2002. Perakitan tanaman tahan serangga hama melalui teknik rekayasa genetik. Buletin AgroBio 5(1): 1-13.

MacIntosh, S.C., T.B. Stone, S.R. Sims, P. Hunst, J.T. Greenplate, P.G. Marrone, F.J. Perlak, D.A. Fischhoff, and R.L. Fuchs. 1990. Specificity and efficacy of purified Bacillus thuringiensis proteins against agronomically important species. J. Insects Path. 56:95-105.

Maryam dan Romsyah.  2007. Produksi Antibodi Monoklonal Menggunakan Konjugat Fumonisin B1-Ovalbumin Sebagai Antigen Untuk Deteksi Fumonisin Secara Imunoasai. http://iirc.ipb.ac.id/jspui/handle/123456789/40843 [14 Desember 2010]

McLean, M.A. and D.J. MacKenzie. 2001. Principles and practice of environmental safety assessment of transgenic plants. Materials presented for Food Safety and Environmetal Assesment Workshop. Bogor, April 10-12, 2001.

Syngenta Seeds Comunication. 2003. Kernels of gold: the fact of Bt corn. Syngenta Seeds AG, Basel, Switzerland.

 

 

Advertisements

NASKAH FEATURE UNTUK PROGRAM RADIO

*Download file terlampir!

NASKAH FEATURE UNTUK PROGRAM RADIO

 

PRAKTIKUM MEDIA SIARAN (KPM 311)

ASISTEN: SYAFRUDDIN, MSI

NASKAH FEATURE UNTUK PROGRAM RADIO


Kelompok 2 :

Lutfi Afifah                   A34070039

Annisa Noor Baeti         E14070050

Sarah Tsaqqofa             F24070054

Okkytania E.P               F24070129

Risqiana Dewi                G84070048

Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

Fakultas Ekologi Manusia

Institut Pertanian Bogor

2010


FEATURE UNTUK PROGRAM RADIO 104,4 FM GREEN RADIO

Nama acara          : Mengenal Lebih Dekat

Judul                      : “Roger”, Profil pedagang asongan sekitar kampus yang unik

Durasi                    : 30 menit

 

Pelaksana

Penyiar/presenter                : Annisa Noor Baeti a.k.a Annisa Morinda

Narator                                  : Sarah

Pengisi suara iklan             : Okkytania, Lutfi afifah, Riskiana Dewi

Scriptwriter                            : Okkytania

Produser                               : Annisa

Reporter                                : Okkytania, Sarah, Lutfi, Risqi

Reporter                                : Okkytania, Sarah, Lutfi, Risqi

Script Feature

Tune in : jingle green radio

———————————————

Opening Presenter (di intro lagu)

Script:

104 koma 4 fm, green radio, fresh and smart station

hai,, senang skali saya annisa morinda dapat kembali menemani anda di MENGENAL LEBIH DEKAT

Topik kita kali ini adalah tentang profil seorang pedagang yang sudah tidak asing lagi di kampus kita trcinta. Siapakah dia? nanti ya…

——————————————–

lagu Indonesia (Kuyakin cinta- d’cinamon)

——————————————–

Jingle green radio

————————————–

Tune in :  Suara roger, ‘tisu, xon c,…

—————-

Narator 1

Suara itu Familiar bukan?/ Yap suara milik pedagang asongan ini memang khas di telinga mahasiswa IPB/ betapa tidak/ tanpa terlihat lelah pedagang asongan ini berkeliling dari fakultas satu ke fakultas lain menyapa para pelanggannya dari pagi hingga sore//

Roger bukanlah nama sebenarnya, pemilik nama asli cecep hidayatullah ini dahulu pernah berjualan rokok/ dan seiring pergantian dagangan, ia  mengganti julukannya/

————————

Sisipan 1

Suara roger ttg nama aslinya dan asal mula dipanggil roger

————————–

Narator2

Penggantian dagangan ini ternyata diawali oleh sebuah cerita tentang nasihat seorang mahasiswi yang mampu merasuki benaknya sehingga ia mengganti dagangannya/

—————————–

Sisipan2

Suara roger cerita ttg mahasiswi yang menasehatinya jangan berjualan rokok

——————————-

Narator3

Meski pernah berjualan rokok, roger ternyata bukanlah perokok, dan ia tidak menyukai kebiasaan merokok/

————————-

Sisipan3

Suara roger tidak suka rokok

————————

Narator4

Berjualan keliling merupakan keseharian yang dijalani Roger. Dimulai di pagi hari  ia membeli barang dagangannya di dua toko di babakan raya, yaitu toko citra usaha dan al amin dan memulai berjualan keliling kampus

————————-

Sisipan4

Suara karyawan al amin dan citrus

————————-

Narator5

selain berjualan dari pagi hingga sore hari, roger juga mengurus sebuah kos-kosan / tidak banyak menurutnya, tapi ia sangat mensyukuri apa yang ia dapat//

————————

sisipan5

Suara roger tentang tempat kost nya

—————————-

Narator6

Bersama sang ibu, roger menghuni sebuah rumah di cibanteng yang juga disewakan sebagai kos-kosannya/ kepada tim kami, ia berbagi sebuah pengalaman mengobati luka bakar sang ibu dengan kecap/ ia percaya, dengan bahan-bahan alami dari tumbuhan, banyak penyakit dapat terobati//

——————–

Sisipan6

Suara roger cerita ibunya

———————-

Narator7

Roger pernah menikah dua kali, istri dan anak pertamanya meninggal dunia karena penyakit komplikasi/ kemudian ia menikah lagi dan dikaruniai seorang putri bernama siti nuzZahra yang kini berusia 3 tahun, namun sayangnya, mereka bercerai dan mantan istrinya membawa pergi putri mereka. Bagi roger, putri nya ini memberikan inspirasi untuk terus bekerja keras dan berjuang.

——————–

Sisipan 7

Suara roger tentang Anaknya

———————————

Jingle 104.4 FM GREEN RADIO

======================

iklan obat batuk cajupis

script:

Oki : uhuk..uhuk…aduh batuk ga sembuh sembuh ni

Lutfi : duh knapa sih jeng, kayaknya tersiksa amat

Oki: iya ni batuk ga sembuh sembuh

Lutfi : minum ini aja, kecap ma jeruk nipis

Oki : aduh males deh buatnya, rempongg

Lutfi : yaampun skrang kan ada cajupis instan

Oki : cajupis? Apaan tuh?

Lutfi : itu formulasi dari kecap dan jeruk nipis instan, dijamin lgsung sembuh dlam 2 hari

Narator : cajupis, formulasi dari kecap dan jeruk nipis. Anda tidak perlu repot-repot lagi meracik kecap dan jeruk nipis. Batuk hilang, aktivitas lancar.

=================

iklan layanan masyarakat Keluarga Berencana

script:

Istri: aduh anak2 blum pada makan, PR mereka belum pada selesai, pada kemana semua sekarang

Suami: cari kerja susah, kerja capek, uang belanja gak cukup, tagihan belum dibayar.

(Teriak bersama-sama)

Narator : sori sori sori bang, ogah ah kawin muda. Sori sori sori bang, nikah butuh rencana. Yang muda yang berencana

=================

Jingle 104.4 FM GREEN RADIO

=================

Lagu barat Craig david – walking away

=================

penyiarnya masuk lagi (di ekstro lagu barat itu dan backsound mulai)

script :

104.4 fm green radio, fresh n smart station. Okay greeners, masih bareng annisa morinda di mengenal lebih dekat. Dan tadi kita udah cukup sedikit mengenal sosok roger, pedagang yang unik yang berjualan di sekitar kampus kita, dan tentunya kita masih pengen mengenal lebih dekat lagi sosok seorang roger yang ternyata banyak hal-hal yang tidak kita ketahui dibalik keceriaannya. Okay langsung saja kita lanjutkan, Mengenal lebih dekat.

============================

Narator8

Dikenal dan mengenal banyak orang merupakan hal yang roger sukai dari pekerjaannya. Selain itu roger juga suka berjalan kaki karena menyehatkan. Namun, tidak sedikit pengalaman pahit yang ia rasakan. Salah satunya adalah pengalamannya dituduh mencuri di masjid alhurriah. Dari peristiwa itu, ia mengalami trauma untuk sholat di masjid itu dan memilih sholat di masjid lainnya//

—————–

Sisipan8

Suara roger Pengalaman di alhuriah

———————–

Narator9

Diantara sekian banyak orang yang mengenal roger, ternyata tidak semuanya berbaik sangka kepadanya/dalam perjalanannya berjualan asongan, ia pernah dituduh sebagai pengedar ganja//

—————————–

Sisipan9

Suara roger Pengalaman dituduh jualan ganja

———————————

Narator10

Setiap harinya, terlihat roger berkeliling menjajakan dagangannya di setiap sudut kampus. Namun  ternyata tidak semuanya, ada dua fakultas yang enggan ia lewati, yaitu fakultas kedokteran hewan dan fakultas kehutanan, hal ini dikarenakan ia memiliki pengalaman buruk di fakultas-fakultas tersebut

Sisipan10

Suara roger Pengalaman  di fkh

—————————

Narator11

Sebagai mahasiswa IPB tentunya anda tahu bahwa ada larangan pedagang asongan disekitar kampus. Menanggapi peraturan larangan itu, seorang dosen FKH akan menuturkan pendapatnya

—————————-

Sisipan11

Suara dosen Fateta

—————————–

Narator12

Di mata mahasiswa ipb, roger memiliki kesan tersendiri, seperti yang akan diutarakan oleh Rahman, mahasiswa teknologi industry fakultas teknologi pertanian  angkatan 44

—————————-

Sisipan12

Suara Rahman

——————–

Narator13

Tak sedikit pengalaman pahit dan ketidakberuntungan yang ia rasakan, namun dengan positif thinking, semangat yang tinggi dan terus mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa membuat roger tetap bertahan dan selalu ceria di mata pelanggannnya. Mari kita dengarkan tips dari seorang roger alias cecep roger

————————

Sisipan13

Suara roger : Tips ceria dan semangat makanan

========================================

Closing penyiar ( Ringkasan dan pesan refleksi, ucapan terimakasih dan informasi acara selanjutnya)

Script:

Oke greener!! Hidup ini adalah perjuangan. Tidak ada kata menyerah dalam hidup ini. Terus berlari dan berlari untuk mengejar impian. Yakin, optimis, dan percaya diri untuk menatap masa depan yang lebih cerah.

Well greeners! Saatnya untuk berpisah, saya Annnisa morinda undur diri.  Semoga kita bisa mengambil manfaat dari apa yang telah kita dengar. Terimakasih buat yang udah gabung dan jangan kemana-mana karena setelah ini masih ada acara yang menarik dari green radio.

Wassalam. Bubye…

=======================

Jingle 104.4 fm green radio

Tahapan Materi Durasi
Tune in Jingle 104,4 fm green radio 8’’
Opening Presenter Pengenalan acara, topik,

Lagu : d’cinamon-kuyakin cinta

18’’
Jingle 104.4 fm green radio 8’’
Smash Suara jualan roger 20’’
Narator 1 Pengantar dan cerita tentang nama asli dan asal usul nama julukannya 25’’
Sisipan 1 Pernyataan roger 22’’
Narator 2 Alasan tidak jualan rokok lagi 10’’
Sisipan 2 Pernyataan roger 54’’
Narator 3 roger tidak suka merokok 8’’
Sisipan 3 Pernyataan roger 31’’
Narator 4 Keseharian roger membeli barang di citra usaha dan al-amin 17’’
Sisipan4 Pernyataan dari karyawan  citra usaha dan al-amin 5’10’’
Narator5 Roger memiliki bberapa tempat kost yang disewakan 10’’
Siispan5 Pernyataan roger tentang tempat kost nya 12’’
Narator6 Roger tinggal dengan ibunya 17’’
Siispan6 Cerita roger tentang ibunya yg sakit 2’ 5’’
Narator 7 tentang pengalaman berumah tangga dan cerita anak istrinya 26’’
Sisipan 7 Pernyataan roger 1’ 49’’
Selingan Jingle 104,4 fm green radio,

insert iklan obat batuk cajupis,

iklan layanan masyarakat Keluarga Berencana,

jingle 104,4 fm green radio,

lagu craig david-walking away

4’ 44’’
Presenter masuk Kembali di acara…. 29’’
Narator 8 Pengalaman roger dituduh mencuri di masjid alhurriah 25’’
Sisipan 8 Pernyataan roger 53’’
Narator9 Pernah dituduh sebagai pengedar ganja 12’’
Siispan9 Pernyataan roger 50’’
Narator10 Dimana saja dia berjualan? Ternyata tidak semua fakultas 18’’
Sisipan10 Cerita roger pengalaman di FKH 1’ 14’’
Narator11 Adanya peraturan larangan pedagang asongan di kampus 11’’
Sisipan11 Pernyataan dosen 3’ 3’’
Narator12 Roger di mata mahasiswa IPB 10’’
Sisipan12 Pernyataan mahasiswa IPB 1’ 17’’
Narator13 Roger selalu terlihat ceria dan semangat 16’’
Sisipan13 Tips dari roger tentang ceria dan semangat dan juga tentang kesehatan 1’ 4’’
Closing presenter Ringkasan, pesan refleksi, ucapan terimakasih dan informasi acara selanjutnya 39’’
Tune out Jingle 104,4 fm green radio 8’’

PERENCANAAN FEATURE DAN PENULISAN FEATURE

*Download file terlampir!

DOWNLOAD PERENCANAAN PENULISAN FEATURE!

PRAKTIKUM MEDIA SIARAN (KPM 311)

ASISTEN: SYAFRUDDIN, MSI

PERENCANAAN FEATURE DAN PENULISAN FEATURE


KELOMPOK: 2

LUTFI AFIFAH           A34070039

ANNISA N.B.                E14070050

SARAH TSAQQOFA   F24070054

OKKYTANIA E.P.      F24070129

RISQIANA DEWI        G84070048

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

PERENCANAAN FEATURE

Dalam perencanaan feature maka langkah-langkah yang kami ambil adalah:

  1. Memilih tokoh
  2. Menghubungi tokoh
  3. Merencanakan pertemuan
  4. Wawancara
  5. Penulisan feature

Pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan adalah  antara lain seputar:

  1. What

Siapa sebenarnya sosok Roger yang mana salah satu penjual multivitamin dan pulsa keliling salah satu orang yang tidak asing di kalangan mahasiswa IPB?

  1. Why

Mengapa Roger jualan pulsa keliling di seputar IPB?

  1. Where

–          Dimana sebenarnya asal/tempat tinggal Roger?

–          Dimana tempat jualan Roger selain di dalam Kampus IPB?

–          Dimana Roger membeli barang dagangannya?

  1. When

Kapan sebenarnya Roger mulai berjualan?

  1. Who

Siapa saja orang yang sangat berperan dalam hidup Roger?

  1. How

–          Bagaimana sejarah Roger bisa menjadi penjual pulsa keliling?

–          Bagaimana strategi Roger dalam menghadapi pesaing-pesaing dengan pedangang yang lain?

–          Bagaimana pendapatan yang diperoleh Roger? Apakah mencukupi untuk kebutuhan keluarganya?

–          Bagaimana tanggapan keluarga maupun tanggapan pelanggan terhadap Roger?

–          Bagaimana modal awal yang digunakan oleh Roger?

PENULISAN FEATURE

ROGER, NO INTERVENTION!

Di pagi itu, ketika sang mentari masih malu-malu untuk keluar dari peraduannya. Terdapat sesosok manusia bersiap-siap untyk menjalankan aktivitas kesehariannya. Keadaan pagi itu masih sangat lesu bagi kebanyakan orang untuk beranjak dari tempat tidur mereka yang sangat hangat. Dingin menyeruak! Embun pagi di sekitar danau Bara V masih menetes dengan derasnya. Tetapi seorang pria gigih yang bernama Roger ini sudah siap untuk memulai aktivitasnya sebagai penjaja multivitamin dan penjaja pulsa keliling.

Siapa sih yang tidak mengenal Roger? Dimana kebanyakan mahasiswa IPB lebih familiar dengan muka Roger daripada muka Rektor kita. Penjaja yang satu ini mempunyai strategi unik dalam menjajakan dagangannya. “Pulsa… Pulsa, yang ijo, Ijo seger! Beli Pulsa dong”! Salah satu logat bicara yang unik. Si Roger ini merupakan penjaja yang sangat mobile. Bagaimana tidak, dia berjalan sangat cepat dari mulai Fakultas paling depan yaitu Faperta sampai FKH pun dia jalani setiap hari demi menjajakan semua dagangannya.

Tetapi dibalik keriangan Roger sebenarnya masih banyak yang tidak tahu siapa sebenarnya Roger itu. “Mbak, tahu Roger ga mbak”? Tanya kami. “Tahu lah mbak, siapa sih yang ga kenal dia, tapi ya kenalnya cuma aktivitasnya aja yang super sibuk “Pulsa!! Pulsa….. Haahahaaa…”Jawab seorang mahasiswa Fakultas Pertanian  (Gelak tawanya)”. Sebagian besar mahasiswa yang kami wawancara hanya tahu sosok Roger dari luarnya saja dan kurang tahu mengenai kehidupan yang sebenarnya dialami oleh dia.

Roger sebenarnya adalah seorang bapak 1 anak. Beliau telah menikah 2x. Istri pertama telah meninggalkan dia terlebih dahulu karena sang istri tercinta sudah dipanggil oleh Allah SWT. Beliau mendapatkan seorang putri tercinta bernama Siti Nuzahro dari istri pertamanya. Sedangkan istri keduanya telah cerai semenjak sekitar 2 tahunan lalu. Walaupun pelik kehidupan yang harus dijalankan Roger, tetapi dia tetap semangat dan pantang menyerah dalam menjalani hidup ini demi seorang anaknya dan juga untuk Orang tua tercintanya.

Pada awalnya, beliau bukanlah seorang penjaja multivitamin dan juga bukanlah penjaja pulsa. Nmun beliau adalah penjaja rokok. Tapi, Roger merasa sangat bersalah apabila dia menjual seseuatu yang seharusnya tidak dikonsumsi oleh manusia. Karena berefek pada buruknya kesehatan. Oleh karena itu, dia beralih menjadi penjaja pulsa dan juga penjaja multivitamin keliling. Pendapatan dia sebenarnya tidak hanya berasal dari penjualan pulsa maupun multivitamin. Tetapi beliau juga merupakan pemilik kos-kosan di beberapa tempat di sekitar IPB. Beliau berujar “Yang penting itu, bukan hasilnya tetapi Prosesnya”.

Seorang gigih yang berasal dari Jakarta ini menuturkan banyak suka dan duka ketika dia menjalankan profesinya. Tetapi dia selalu optimis dalam menjalani setiap rintangan dalam hidup ini. Dalam hidup ini dia mempunyai rencana masa depan yang sangat mulia yakni menjalankan ibadah haji dan dapat menyekolahkan putri tercintanya ke Perguruan Tinggi. Beliau berpesan pada mahasisiwi-mahasiswi IPB untuk senantiasa memakai jilbab bagi yang belum mengenakan.

Sungguh, ada benarnya juga ungkapan “Don’t judge the book by the cover”!. Kenyataan yang sangat berbeda yang sebenarnya terjadi pada Roger daripada hanya melihat sosok beliau yang sangat periang. Ternyata juga menyimpan suatu misteri kehidupan yang mana tidak banyak orang yang tahu tentang hal tersebut.

PENGENDALIAN TERPADU HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PADA TANAMAN JAGUNG DI KELURAHAN SITU GEDE BOGOR BARAT

*Download file terlampir!

DOWNLOAD PENGENDALIAN HAMA TERPADU PADA TANAMAN JAGUNG!

DOWNLOAD PHT JAGUNG.PPT


LAPORAN PRAKTIKUM

PENGENDALIAN TERPADU HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN

PENGENDALIAN TERPADU HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN

PADA TANAMAN JAGUNG DI KELURAHAN SITU GEDE

BOGOR BARAT

disusun oleh:

Kelompok 05

Lutfi Afifah               A34070039

M. Julyanda               A34070070

Alice Mayella A.        A34070076

Avanty Widias M.     A34070086

 

Dosen Pengajar:

Dr. Ir. I Wayan Winasa Msi.

Dr. Ir. Widodo MSc.


DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010


PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tanaman jagung sudah lama diusahakan petani Indonesia dan merupakan tanaman pokok kedua setelah padi. Penduduk kawasan timur Indonesia seperti Nusa Tenggara Timur, Madura, sebagian Maluku, dan Irian Jaya sudah biasa menggunakan jagung sebagai makanan pokok sehari-hari. Produksi jagung Indonesia sebagian besar berasal dari pulau Jawa (± 66%) dan sisanya barasal dari di propinsi luar Jawa terutama Lampung, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sumatra Utara, dan Nusa Tenggara Timur.

Jagung memiliki peranan penting dalam industri berbasis agribisnis. Untuk tahun 2009, Deptan melalui Direktorat Jendral Tanaman Pangan mengklaim produksi jagung mencapai 18 juta ton. Jagung dimanfaatkan untuk konsumsi, bahan baku industri pangan, industri pakan dan bahan bakar. Kebutuhan jagung dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan seiring berkembangnya industri pakan dan pangan.

Kendala dalam budidaya jagung yang menyebabkan rendahnya produktivitas jagung antara lain adalah serangan hama dan penyakit. Hama yang sering dijumpai menyerang pertanaman jagung adalah ulat Penggerek batang jagung, Kutu daun, ulat Penggerek tongkol, dan Thrips. Bulai, Hawar daun, dan Karat adalah penyakit yang sering muncul di pertanaman jagung dan dapat menurunkan produksi jagung.

Upaya pengendalian oleh petani pada saat ini adalah dengan menggunakan pestisida atau bahan kimia lainnya yang tidak ramah lingkungan. Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang mengintegrasikan komponen pengendalian yang selaras terbukti tidak hanya meningkatkan produksi jagung tetapi juga pendapatan petani. Sistim PHT melibatkan semua komponen yang berpeluang untuk menekan atau mencegah hama untuk mencapai ambang batas populasi merusak secara ekonomi (economic injury level/ economic threshold) (Willson, 1990). Sistim PHT yang bertujuan mengupayakan agar OPT tidak menimbulkan kerugian melalui cara-cara pengendalian yang efektif, ekonomis, dan aman bagi khalayak, produsen, dan lingkungan menjadi acuan dasar dalam pengendalain OPT agar petani tidak bergantung pada pestisida atau bahan kimia lainnya.

Tujuan

  1. Mengetahui jenis hama dan penyakit di ekosisitem pertanaman.
  2. Mengetahui kelimpahan artropoda yang menghuni pertanaman dan mengelompokkanya berdasarkan perannya.
  3. Menerapkan teknik sampling dan teknik pengamatan pada beberapa ekosistem pertanaman.
  4. Menganalisis kelimpahan arttropoda yang menghuni ekosistem pertanaman dan kaitannya dengan intensitas kerusakan dan praktek budidaya
  5. Menentukan tingkat kejadian dan keparahan penyakit dan kaitannya dengan praktek budidaya.

TINJAUAN PUSTAKA

  1. Komoditas Jagung

Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari biji), dibuat tepung (dari biji dikenal dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung biji dan tepung tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi.

Berdasarkan bukti genetik, antropologi, dan arkeologi diketahui bahwa daerah asal jagung adalah Amerika Tengah (Meksiko bagian selatan). Budidaya jagung telah dilakukan di daerah ini 10.000 tahun yang lalu, lalu teknologi ini dibawa ke Amerika Selatan (Ekuador) sekitar 7000 tahun yang lalu, dan mencapai daerah pegunungan di selatan Peru pada 4000 tahun yang lalu. Kajian filogenetik menunjukkan bahwa jagung (Zea mays ssp. mays) merupakan keturunan langsung dari teosinte (Zea mays ssp. parviglumis). Dalam proses domestikasinya, yang berlangsung paling tidak 7000 tahun oleh penduduk asli setempat, masuk gen-gen dari subspesies lain, terutama Zea mays ssp. mexicana. Istilah teosinte sebenarnya digunakan untuk menggambarkan semua spesies dalam genus Zea, kecuali Zea mays ssp. mays. Proses domestikasi menjadikan jagung merupakan satu-satunya spesies tumbuhan yang tidak dapat hidup secara liar di alam. Hingga kini dikenal 50.000 varietas jagung, baik ras lokal maupun kultivar.

Jagung merupakan tanaman berumah satu (monoecious), yaitu letak bunga jantan terpisah dengan bunga betina dalam satu tanaman. Dalam taksonominya jagung termasuk dalam ordo Tripsaceae, famili Poaceae, sub famili Panicoideae, genus Zea, dan spesies Zea mays L, (Muhadjir, 1988).

  1. Organisme Pengganggu Tanaman Penting pada Jagung
  1. Bulai

Gejala. Gejala penyakit ini terjadi pada permukaan daun jagung berwarna putih sampai kekuningan diikuti dengan garis-garis klorotik dan ciri lainnya adalah pada pagi hari di sisi bawah daun jagung terdapat lapisan beledu putih yang terdiri dari konidiofor dan konidium jamur. Penyakit bulai pada tanaman jagung menyebabkan gejala sistemik yang meluas keseluruh bagian tanaman dan menimbulkan gejala lokal (setempat). Gejala sistemik terjadi bila infeksi cendawan mencapai titik tumbuh sehingga semua daun yang dibentuk terinfeksi. Tanaman yang terinfeksi penyakit bulai pada umur masih muda biasanya tidak membentuk buah, tetapi bila infeksinya pada tanaman yang lebih tua masih terbentuk buah dan umumnya pertumbuhannya kerdil.

Penyebab. Penyakit bulai di Indonesia disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora maydis dan Peronosclerospora philippinensis yang luas sebarannya, sedangkan Peronosclerospora sorghii hanya ditemukan di dataran tinggi Berastagi Sumatera Utara dan Batu Malang Jawa Timur.

Cara pengendalian. Menanam varietas tahan: Sukmaraga, Lagaligo, Srikandi, Lamuru dan Gumarang. Melakukan periode waktu bebas tanaman jagung minimal dua minggu sampai satu bulan. Melakukan penanaman jagung secara serempak. Melakukan eradikasi tanaman yang terinfeksi bulai. Serta Penggunaan fungisida metalaksil pada benih jagung (perlakuan benih) dengan dosis 0,7 g bahan aktif per kg benih.

  1. Hawar daun

Gejala. Pada awal infeksi gejala berupa bercak kecil, berbentuk oval kemudian bercak semakin memanjang berbentuk ellips dan berkembang menjadi nekrotik dan disebut hawar, warnanya hijau keabu-abuan atau coklat. Panjang hawar 2,5_15 Cm, bercak muncul awal pada daun yang terbawah kemudian berkembang menuju daun atas. Infeksi berat dapat mengakibatkan tanaman cepat mati atau mengering dan cendawan ini tidak menginfeksi tongkol atau klobot. Cendawan ini dapat bertahan hidup dalam bentuk miselium dorman pada daun atau pada sisa sisa tanaman di lapang. Penyebab penyakit hawar daun adalah : Helminthosporium turcicum

Cara pengendalian. Menanam varietas tahan Bisma, Pioner2, pioner 14, Semar 2 dan 5. Eradikasi tanaman yang terinfeksi bercak daun. Penggunaan fungisida dengan bahan aktif mankozeb dan dithiocarbamate.

3. Karat

Gejala. Bercak-bercak kecil (uredinia) berbentuk bulat sampai oval terdapat pada permukaan daun jagung di bagian atas dan bawah, uredinia menghasilkan uredospora yang berbentuk bulat atau oval dan berperan penting sebagai sumber inokulum dalam menginfeksi tanaman jagung yang lain dan sebarannya melalui angin. Penyakit karat dapat terjadi di dataran rendah sampai tinggi dan infeksinya berkembang baik pada musim penghujan atau musim kemarau. Penyebab penyakit karat adalah Puccinia polysora

Cara pengendalian. Menanam varietas tahan Lamuru, Sukmaraga, Palakka, Bima 1 dan Semar 10. Eradikasi tanaman yang terinfeksi karat daun dan gulma. Penggunaan fungisida dengan bahan aktif benomil.

4) Ostrinia furnacalis

Penggerek batang, Ostrinia furnacalis Guenee, merupakan salah satu hama utama pada tanaman jagung sehingga keberadaannya perlu diwaspadai. Kehilangan hasil akibat hama tersebut mencapai 20−80%. Besarnya kehilangan hasil dipengaruhi oleh padat populasi larva O. furnacalis serta umur tanaman saat terserang. Telur O. Furnacalis diletakkan secara berkelompok pada bagian bawah daun, bentuknya menyerupai sisik ikan dengan ukuran yang berbeda-beda. Periode telur berlangsung 3−4 hari. Larva terdiri atas lima instar, setiap instar lamanya 3−7 hari. Stadium pupa berlangsung 7−9 hari. Lama hidup ngengat adalah 2−7 hari sehingga siklus hidup dari telur hingga ngengat adalah 27−46 hari dengan rata-rata 37,50 hari.

Musuh alami O. furnacalis yang ditemukan di Sulawesi Selatan, seperti di Maros, Barru, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, dan Sinjai adalah parasitoid telur Trichogramma evanescens dan parasitoid larva dari ordo/famili Hymenoptera/Ichneumonidae (1 spesies), Hymenoptera/Braconidae (1 spesies), dan Diptera/Tachinidae (1 spesies). Persentase telur O. furnacalis yang terparasit dalam satu kelompok berkisar antara 71,56−89,80%. Larva O. furnacalis yang terparasit Ichneumonidae, Braconidae, dan Tachinidae berkisar antara 1−6%. Parasitoid telur lebih efektif menekan populasi O. Furnacalis dibanding parasitoid larva. Jenis-jenis predator telur dan larva O. furnacalis adalah Cocopet (Proreus sp., Euborellia sp.) dan laba-laba (Lycosa sp., Chrysopa sp., dan Orius tristicolor), sedangkan patogen yang efektif menekan populasi O. furnacalis adalah Metarhizium anisopliae dan Beauveria bassiana. Keefektifan kedua jenis cendawan tersebut bergantung pada konsentrasi konidia dan stadium perkembangan larva O. furnacalis; makin muda stadium larva makin tinggi tingkat mortalitasnya (Wakman 2005)

5) Rhopalisiphum maidis

Tanaman yang menjadi inang utama bagi kutu daun ini sebenarnya adalah jagung. Akan tetapi kutu ini memiliki inang alternative mulai dari tanaman padi sampai pada tanaman hutan seperti Acacia sp. Kutu ini menginfeksi semua bagian tanaman, akan tetapi infeksi terbanyak terjadi pada daun. Kutu ini selain merusak daun tanaman inangnya juga membawa sebagai vector dari berbagai macam virus penyakit (Mau dan Kessing, 1992). Populasi kutu ini dapat mengalami perkembangan yang pesat. Hal ini disebabkan oleh sifat perkembangbiakkannya yang parthenogenesis. Perkembangbiakan secara parthenogenesis memungkinkan suatu spesies untuk melestarikan jenisnya tanpa harus melakukan perkawinan (Kalshoven, 1981). Daur hidup kutu ini dimulai dari telur, kemudian nympha, dan kutu dewasa. Pada fase nympha, kutu ini mengalami 4 tahapan. Tahapan pertama nympha akan tampak berwarna hijau cerah dan sudah terdapat antena. Tahap nympha kedua tampak berwarna hijau pale dan sudah tampak kepala, abdomen, mata berwarna merah, dan antenna yang terlihat lebih gelap dari pada warna tubuh. Pada tahap ketiga, antena akan terbagi menjadi 2 segmen, warna tubuh masih hijau pale dengan sedikit lebih gelap pada sisi lateral tubuhnya, kaki tampak lebih gelap daripada warna tubuh (Kalshoven, 1981). Kutu dewasa ada beberapa yang memiliki sayap (alate) dan yang tidak memiliki saya (apterous). Sayap pada kutu ini memiliki panjang antara 0,04 to 0,088 inchi. Tubuh kutu dewasa berwarna kuning kehijauan sampai berwarna hijau gelap (Kalshoven, 1981).

Populasi kutu ini dapat dikontrol dengan kehadiran Aphelinus maidis. A. maidis akan memparasit kutu ini pada fase nympha. Selain itu, terdapat juga organisme predator seperti Allograpta sp. dan beberapa jenis kumbang (Kalshoven, 1981).

6) Cnaphalocrosis medinalis

Hama putih palsu jarang menjadi hama utama padi. Serangannya menjadi berarti bila kerusakan pada daun pada fase anakan maksimum dan fase pematangan mencapai > 50%. Tanda-tanda Serangan berupa kerusakan akibat serangan larva hama putih palsu terlihat dengan adanya warna putih pada daun di pertanaman. Larva makan jaringan hijau daun dari dalam lipatan daun meninggalkan permukaan bawah daun yang berwarna putih. Siklus hidup hama ini berkisar 30-60 hari. Tanda pertama adanya infestasi hama putih palsu adalah kehadiran ngengat berwarna kuning coklat yang memiliki tiga buah pita hitam dengan garis lengkap atau terputus pada bagian sayap depan. Pada saat beristirahat, ngengat berbentuk segi tiga. Untuk mengendalikan hama putih palsu perlu dilakukan upayakan pemeliharaan tanaman sebaik mungkin agar pertanaman tumbuh secara baik, sehat, dan seragam. Penggunakan insektisida (bila diperlukan) berbahan aktiffipronil atau karbofuran.

C) Musuh Alami

  1. 1. Famili Coccinellidae

Musuh alami merupakan salah satu komponen dalam pengendalian hama terpadu (PHT), sehingga penelitian pemanfaatan musuh alami (predator, parasitoid dan patogen) sangat penting untuk mendukung keberhasilan pengendalian hama tanaman yangn berwawasan lingkungan. Menurut Kalshoven (1981) musuh alami ini termasuk kumbang buas dari famili Coccinellidae dan ordo Coleoptera, imago berwarna merah dengan becak hitam melintang pada bagian elitra. Predator tersebut panjangnya 5-6 mm, tersebar luas di daerah tropik. Larva mencapai panjang 8 mm, berwarna hitam kecoklatan dengan garis kuning melintang di bagian abdomen dan terdapat empat baris setae. Imago tertarik cahaya matahari dan sering mengunjungi bunga yang sedang mekar. Perkembangan dari telur sampai dewasa mencapai 18-24 hari. Di Jawa predator tersebut ditemukan pada tanaman pertanian yang banyak aphisnya, sangat rakus terhadap mangsanya dan bila tidak menemukan mangsa mereka kadang-kadang mengkonsumsi polen.

Predasi, dalam arti luas merupakan cara hidup binatang dan dalam arti khusus merupakan pola hidup serangga pemangsa termasuk Menochilus sexmaculatus. Beberapa keberhasilan pengendalian hayati hama tanaman pertanian adalah melalui pemanfaatan predator. Menurut Holling (1961), terdapat lima komponen hubungan antara predator dan mangsa yaitu :

1. Kepadatan mangsa
2. Kepadatan predator
3. Keadaan lingkungan, seperti adanya makanan alternatif
4. Sifat mangsa, misalnya mekanisme mepertahankan diri dari serangan pemangsa
5. Sifat predator, misalnya cara menyerang mangsa.

Penggunaan predator sebagai agen hayati pengendalian hama tanaman memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan cara pengendalian lainnya karena aman, permanen dan ekonomis. Keamanan dari pemanfaatan predator merupakan faktor penting, sebab banyak musuh alami bersifat spesifik (khusus) terhadap mangsa tertentu. Musuh alami yang efisien memberikan pengaruh pada fuktuasi populasi mangsa tanpa adanya campur tangan manusia. Sekali predator mapan di suatu tempat maka untuk jangka lama mereka secara alami mengendalikan populasi mangsanya.

Kelemahan kecil pemanfaatan predator adalah perlunya waktu cukup lama untuk mendapatkan predator yang efektif sebagai agen hayati pengendalian hama tanaman. Pengendalian hayati menggunakan predator membutuhkan penelitian yang kompleks dan melibatkan kaitan antara pemangsa, mangsa (hama) dan tanaman inang dari mangsa.

  1. 2. Famili Syrphidae

Umum disebut Hover fly karena kemampuannya melakukan hovering. Syrphidae termasuk famili yang besar. Tercatat terdapat 870 spesies di Amerika Utara, 250 spesies di Eropa kepulauan Inggris, 300 spesies di Eropa daratan dan mungkin lebih banyak lagi di Asia termasuk Indonesia. Anggota Syrphidae hidup pada berbagai habitat dengan beragam peran sebagai saprofag, mikofag, herbivore, dan predator. Subfamili yang anggotanya sebagian besar menjadi predator terutama kutu daun adalah Subfamili Syrphinae. Beberapa contoh spesies yang telah dikenal sebagai predator di agroekosistem adalah: Episyrphus balteatus, Syrphus corrolae, dan Ischidion scutellaris.

BAHAN DAN METODE

Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan adalah pertanaman Jagung milik salah satu petani di kelurahan Situ Gede, Bogor Barat. Selain itu alat-alat yang digunakan antara lain: lubang perangkap (pitfall traps), jaring serangga, kertas label, kantong plastik, alat tulis berupa buku catatan dan pensil.

Metode

  1. 1. Penarikan Contoh

Pada setiap komoditas jagung yang diamati diambil 40 tanaman contoh. Letak tanaman contoh di dalam petak pertanaman ditentukan secara acak sistematik. Tanaman contoh yang diambil merupakan perwakilan dari setiap guludan (gambar 1). Setiap perwakilan guludan yang diambil adalah tanaman tengah. Unit contoh dan jumlah contoh yang diamati disesuaikan dengan ketersediaan waktu pengamatan. Penentuan unit contoh berdasarkan bagian tanaman yang diserang hama dan penyakit yang diamati.

  1. 2. Pemetaan Wilayah Pengamatan
O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O
O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O
O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O

Gambar 1.  Denah tanaman contoh (luas lahan 2500 m2)

Keterangan:

: guludan contoh (masing-masing guludan yang diamati diambil tanaman tengah dari masing-masing guludan tersebut)

: guludan yang tidak di amati

Pola pengambilan sampel dengan menggunakan metode acak sistematis. Tanaman diambil dari guludan yang telah ditentukan dan di dalam guludan tersebut satu sampel diambil secara acak. Pengambilan sampel seperti ini diharapkan setiap sampel tanaman dapat mewakili guludan yang diamati.

  1. 3. Cara Pengamatan
  1. Pengamatan langsung pada tajuk tanaman

Setiap kelompok mengamati 40 rumpun tanaman yang ditentukan secara acak sistematis. Kemudian dihitung kerapatan populasi hama (masing-masing jenis hama), atau intensitas kerusakan hama, kejadian dan keparahan penyakit, dan kerapatan populasi musuh alami (masing-masing jenis musuh alami).

  1. Pengamatan menggunakan jaring serangga

Dilakukan penjaringan sebanyak 5 kali ayunan tunggal kemudian artropoda (serangga dan laba-laba) yang tertangkap dimasukkan ke dalam kantong plastik. Penjaringan diulang sampai 5 kali pada petak yang berbeda (secara diagonal). Artropoda yang tertangkap diidentifikasi dan dihitung jumlahnya setiap jenis.

  1. Pengamatan dengan lubang perangkap (pitfall traps)

Lubang perangkap terbuat dari botol bekas air mineral 240 ml. Kemudian  dimasukkan formalin 2% sekitar 60 ml ke dalam gelas. Kemudian gelas dipasang pada guludan dengan cara membuat lubang terlebh dahulu menggunakan sekop. Selanjutnya gelas dimasukkan dan permukaan atas gelas dibuat rata dengan permukaan tanah (gambar 2). Gelas diberi atap agar terhindar dari hujan. Setelah itu, dipasang selama 24 jam. Kemudian setelah 24 jam diangkat, diberi label, dan diamati di laboratorium dengan mikroskop. Serta dicatat jenis dan jumlah artropoda yang tertangkap.

O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O
O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O
O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O

Gambar 2.  Denah peletakan pitfall pada pertanaman jagung

Keterangan :

:           : Tempat peletakan pitfall pada pertanaman Jagung

: Tanpa pemasangan pitfall

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan

Tabel 1.  Kelimpahan Artropoda permukaan tanah hasil tangkapan Pitfall
Jenis artropoda Jumlah yang tertangkap pada pengamatan ke-
I II III IV V
Carabidae 0 0 2 0 1
Formicidae 33 38 46 14 21
Arachnidae 6 4 4 3 6
Dermaptera 2 1 3 1 0
Collembola 11 15 61 30 37
Aphididae 0 0 2 0 2
Gryllidae 0 0 1 2 1
Myrmeleontidae 1 0 0 0 1
Wereng 0 0 0 0 1

Tabel 2.  Kelimpahan Artropoda hasil tangkapan Sweep net
Jenis artropoda Jumlah yang tertangkap pada pengamatan ke-
I II III IV V
Hama
Aphididae 10 7 4 2 1
Acrididae 0 2 1 1 0
Kumbang daun 1 0 0 2 1
Musuh Alami
Aphidae 2 0 2 1 0
Coccinelidae 4 1 3 1 1
Chalcididae 2 0 1 0 1
Sarchopagidae 0 1 0 0 1
Syrphidae 2 0 0 1 1

Tabel 3.  Perkembangan Populasi Hama pada Tanaman Jagung
Jenis hama Kerapatan Populasi / intensitas Serangan pada umur tanaman (hari)
40 47 54 61 70
Hama putih palsu (Cnaphalocrosis medinalis) 7 16 18 8 Sudah dipanen
Penggerek Batang (Ostrinia furnacalis) 0 27 38 38
Kutu daun (Rhopalosiphum maidis) ±1500 ±2000 >3500 <3500
Thrips 0 0 > 2300 <2300
Belalang (Acrididae) 8 3 6 0
Kumbang (Coleoptera) ± 450 ± 550 ± 600 ±200

Tabel 4.  Perkembangan Populasi Musuh Alami pada Tanaman Jagung
Jenis Musuh alami Kerapatan Populasi musuh alami pada umur tanaman (hari)
40 47 54 61 70
Coccinelidae (larva) 46 150 ±  300 ± 90 Sudah dipanen
Coccinelidae (imago) 4 6 30 10
Larva Syrphidae 0 50 75 25
Formicidae ± 200 ± 350 ± 450 ± 200

Tabel 5.  Tingkat Kejadian Penyakit
Insidensi atau tingkat kejadian penyakit = n/N X 100%
Tanggal Nama Penyakit
Bulai Karat Hawar
30-Sep-10 9/40 x 100% = 22,5% 0/40 x 100% = 0% 3/40 x 100% = 7,5%
7-Oct-10 12/40 x 100% = 30% 8/40 x 100% = 20% 17/40 x 100% = 42,5%
14-Oct-10 10/40x 100%=  25% 12/40 x 100% = 30% 15/40 x 100% = 37,5%
21-Oct-10 8/40 x 100% = 20% 20/40 x 100% = 50% 21/40 x 100% = 52,5%
31-Oct-10 Telah dipanen

Tabel 6.  Tingkat Keparahan Penyakit
Intensitas penyakit (%) = ( S(ni x vi)/ N x V)) x 100%
Tanggal Nama Penyakit
Bulai Karat Hawar
30-Sep-10 4.5% 0% 1.5%
7-Oct-10 10.50% 6% 11%
14-Oct-10 17% 10% 13,5%
21-Oct-10 8% 17,5% 16,5%
31-Oct-10 Telah dipanen

Pembahasan

Pengamatan PHT yang dilakukan di lahan Bapak Basri, Kelurahan Situ Gede, Bogor Barat. Luas areal yang diamati adalah sekitar 2500 m2. Komoditas yang diamati adalah tanaman jagung yang ditanam secara tumpang sari dengan tanaman singkong. Tanaman yang ditanam ataupun tumbuh disekitar lahan yang diamati adalah jagung, kacang panjang, Oxalis sp., Panicum sp., Digitaria sp., dan beberapa gulma yang lain. Lahan ini sebelumnya ditanam  singkong dan jagung. Hama dan penyakit yang ditemukan dilahan pada waktu pengamatan antara lain hamanya adalah kutu daun, penggerek batang, hama putih palsu, thrips, belalang, dan kumbang. Sedangkan penyakitnya adalah Bulai, Karat, dan Hawar daun. Pengamatan awal yang dilakukan pada pertanaman jagung dilakukan pada saat jagung berumur sekitar 40 hari setelah tanam (HST).

Kutu daun (Rhopalosiphum maidis) menyerang pertanaman jagung terutama pada bagian pucuk daun yang masih muda. Hama ini menyerang mulai dari awal pertanaman. Hama ini ditemukan sangat banyak di pertanaman. Gejela kerusakan yang disebabkan oleh hama ini adalah nekrotik, daun mengkriting dan warna daun berubah. Musuh alami yang ditemukan menyerang kutu daun tersebut antara lain larva Syrphidae dan Coccinellidae predator. Namun dari pengamatan yang dilakukan jumlah hama ini masih belum bisa ditekan populasinya oleh musuh alami. Hal ini dipengaruhi oleh perlakuan pestisida yang juga mematikan musuh alami sehingga jumlah populasinya sedikit.

Penggerek batang (Ostrinia furnacalis) menyerang bagian batang, daun, dan tongkol. Larva penggerek batang dapat merusak daun, batang, serta bunga jantan dan betina atau tongkol muda. Larva instar I-III merusak daun dan bunga jantan, sedangkan larva instar IV-V merusak batang dan tongkol (Nafus dan Schreiner, 1987). Namun dalam pengamatan di lapang hama ini hanya menyerang pangkal batang saja. Gejala yang ditunjukkan berupa gerekan di bagian dalam batang. Hama ini menyerang tanaman pada kisaran 6 MST. Kehilangan hasil jagung, selain dipengaruhi oleh padat populasi larva O. Furnacalis, juga ditentukan oleh umur tanaman saat terserang (Nonci dan Baco, 1987).

Musuh alami hama penggerek batang adalah laba-laba, semut, cocopet, Syirphidae, Coccinellidae. Tetapi yang banyak ditemukan di lapang adalah Syirphidae dan Coccinellidae.

Hama putih palsu (Cnaphalocrosis medinalis) merupakan salah satu hama pertanaman jagung yang menyerang daun. Fase hama yang merusak adalah pada fase larva. Kerusakan yang diakibatkan oleh larva hama putih palsu adalah adanya warna putih pada daun. Larva memakan jaringan hijau daun dari dalam lipatan daun sehingga meninggalkan warna putih pada permukaan bawah daun. Musuh alami untuk hama ini adalah Coccinellidae.

Penyakit bulai merupakan penyakit yang disebabkan oleh patogen terbawa benih. Gejala yang ditimbulkan akibat penyakit ini adalah pada bagian daun tanaman jagung terjadi klorosis yang memanjang sepanjang tulang daun. Dan pada daun yang belum terserang berwarna hijau normal. Tanaman menjadi terhambat pertumbuhannya dan pembentukan tongkol terganggu sampai tidak bertongkol sama sekali. Tanaman yang terinfeksi sistemik sejak muda di bawah umur 1 bulan biasanya mati. Gejala lainnya adalah terbentuk anakan yang berlebihan dan daun-daun menggulung dan terpuntir, bunga jantan berubah menjadi massa daun yang berlebihan dan daun sobek-sobek.

Penyakit karat disebabkan oleh Puccinia sp. dengan gejala serangan pada permukaan atas dan bawah daun jagung terlihat bercak karat berwarna oranye kecoklatan. Dari 40 sampel tanaman yang diambil setengahnya terserang oleh karat. Karat mulai terlihat saat tanaman berumur sekitar 6 MST dan serangannya terus meningkat dipengamatan selanjutnya. Pada saat tanaman berumur sekitar 8 MST serangan karat mencapai 50% dari sampel tanaman yang diamati.

Penyakit bercak daun yang disebabkan oleh Helminthosporium turcicum merupakan salah satu penyakit utama pada jagung setelah bulai. Gejala visual yang menunjukkan ciri khas serangan H. turcicum adalah bercak agak memanjang, bagian tengah agak melebar, makin ke pinggir makin kecil, berwarna cokelat keabuan, dikelilingi oleh warna kekuningan sejajar tulang daun. Patogen ini menular melalui udara sehingga mudah menyebar. Kehilangan hasil akibat bercak daun mencapai 59%, terutama bila penyakit menginfeksi tanaman sebelum bunga betina keluar (Poy 1970). Cendawan ini dapat bertahan hidup pada tanaman jagung yang masih hidup, beberapa jenis rumput-rumputan termasuk sorgum, pada sisa-sisa tanaman jagung sakit, dan pada biji jagung. Konidium jamur ini disebarkan melalui angin. Di udara, konidium yang terbanyak terdapat menjelang tengah hari. Konidium berkecambah dan pembuluh kecambah mengadakan infeksi melalui mulut kulit atau dengan mengadakan penetrasi secara langsung, yang didahului dengan pembentukan apresorium (Semangun,1991). Tanaman jagung yang terinfeksi penyakit hawar daun pada fase vegetatif menyebabkan tingkat penularan yang lebih berat dibanding bila penularan terjadi pada tanaman yang lebih tua dan ini akan berpengaruh terhadap kehilangan hasil (Sumartini dan Sri Hardaningsih 1995).

Kelimpahan hama yang didapatkan dengan menggunakan metode Pitfall didapatkan jenis hama yang banyak ditemui adalah Collembola dan Formicidae (Tabel 1). Jumlah mengalami peningkatan paling tinggi pada pengamatan ke III. Ketidakstabilan jumlah hama yang didapatkan bisa terjadi akibat adanya kesalahan pada waktu peletakkan pitfall di lahan. Dan juga adanya pengaruh dari intensitas curah hujan yang tinggi menyebabkan menggenangnya lahan.

Kelimpahan hama dengan metode Sweep net jenis hama yang banyak terjaring adalah dari kelompok Aphididae (Tabel 2). Jumlah yang tertangkap mengalami penurunan mulai minggu ke III sampai ke V. Jumlah kelimpahan hama yang mengalami penurunan dapat disebabkan susahnya proses penjaringan akibat semakin bertambahnya tinggi tanaman sehingga lebih menyulitkan.

Gambar 3.  Grafik Perkembangan Populasi Hama pada Tanaman Jagung

Nb. Populasi kutu daun dan Kumbang dikalikan seratus untuk mempermudah

penampilan di grafik

Pada grafik populasi hama di tanaman sampel menunjukan hama kutu daun menunjukan peningkatan jumlah populasi yang sangat tinggi.  Namun pada pengamatan keempat tidak terjadi peningkatan hal ini dimungkinkan karena populasi kutu sudah mencapai maksimum. Selain itu dikarenakan juga semakin meningkanya jumlah predator seperti Coccinellidae dan juga Syrphidae yang terdapat pada lahan.  Hal ini juga terjadi pada hama penggerek batang dan Thrips dimana pada pengamatan keempat tidak terjadi peningkatan popuasi dari pengamatan ke tiga. Hama putih palsu populasi meningkat tetapi pada pengamatan keempat terjadi penurunan, hal ini bisa dipengaruhi oleh musuh alami atapun perlakuan pestisida yng dilakukan oleh petani. Belalang pada pengamatan kedua langsung terlihat penurunan populasi dan terjadi peningkatan lagi pada pengamatan ketiga namun pada pengamatan keempat terjadi penurunan lagi. Hal ini bisa dipengaruhi oleh sifat belalang yang terus bergerak sehingga pada saat pengamatan jumlah belalang yang dihitung tidak sesuai dengan jumlah yang ada dilapang. Kumbang jumlahnya sangat sedikit dan terlihat mulai meningkat pada pengamatan ke tiga namun populasinya kembali menurun pada pengamatan keempat. Secara garis besar, dalam pertanaman jagung ini yang menjadi hama  adalah Kutu daun dan Penggerek batang.

Gambar 4.  Grafik perkembangan populasi musuh alami pada tanaman jagung

Musuh alami yang banyak ditemukan adalah predator. Sedangkan parasitoid sangat jarang ditemukan. Populasi Coccinellidae larva dan imago banyak ditemukan pada pertanaman jagung. Populasi Coccinellidae mulai meningkat pada umur  47 HST seiring dengan mulai berkembangnya mangsanya yang berupa kutu daun, penggerek batang, dll. Populasi Coccinellidae paling tinggi pada saat saat 54 HST. Hal ini dapat dilihat juga dari populasi kutu daun dan penggerek batang yang tinggi juga pada waktu 54 HST. Dimana Coccinellidae merupakan musuh alami dari hama-hama tersebut. Predator Syrphidae dan Formicidae juga terdapat pada pertanaman jagung walaupun fluktuasi musuh alami ini tidak terlalu tinggi. Namun musuh alami yang ditemukan  tersebut cukup membantu dalam menekan populasi hama pertanaman jagung.

Gambar 5.  Tingkat kejadian penyakit pada pertanaman Jagung

Pada tingkat kejadian penyakit pada bulai grafik menunjukkan kenaikan pada minggu ke-2 sebesar  30% dan terus mengalami penurunan padaminggu ke-3 dan ke-4 sebesar 25% dan 20%, meningkatnya bulai pada minggu ke-2 disebabkan karena bulai terbawa benih sehingga meningkatnya tingkat kejadian penyakit pada minggu ke-2. Menurunnya tingkat kejadian penyakit pada minggu ke-3 dan ke-4 karena pengendalian yang sudah dilakukan oleh petani dengan cara dicabut sehingga presentasi tanaman yang terserang menurun. Tingkat kejadian penyakit pada karat terus meningkat dari minggu ke-1 hingga minggu ke-4. Peningkatan ini terjadi karena bertambahnya umur tanaman. Hawar daun mengalami paningkatan pada minggu pertama dan ke-2 sebesar 7,5% dan 42,5%, lalu mengalami penurunan pada minggu ke-3 sebasar 37,5%, dan mengalami peningkatan kembali pada minggu ke-4 sebesar 52,5%. Fluktuatifnya grafik kejadian penyakit pada hawar disebabkan karena kesalahan pada pengamatan, karena skoring yang dilakukan oleh berbeda-beda pengamat sehingga kesalahan terjadi.

Gambar 6.  Grafik tingkat keparahan penyakit pada pertanaman Jagung

Tingkat keparahan pada penyakit bulai pada pengamatan minggu pertama hanya 4,5% tetapi terus meningkat hingga minggu ke-3 mencapai 17% dan menurun pada pengamatan minggu ke-4 sebesar 8%, hal ini disebabkan bulai menyerang tanaman karena terbawa benih, sehingga menyerang tanaman jagung yang masih muda, menurunya serangan bulai pada minggu ke-4 karena sudah dilakukan pengendalian oleh petani dengan cara dicabut dari pertanaman. Karat diawal tanam tidak ditemukan adanya serangan, tetapi semakin meningkat seiring dengan bertambahnya umur tanaman terlihatpada tabel keparahan penyakit, penyakit karat meningkat pada minggu ke-4 sebesar 17,5%. Hawar daun diawal pengamatan hanya sebesar 1,5% dan terus meningkat pada pengamatan minggu ke-4 sebesar 16,5%. Persentasi dari ketiga penyakit yang dapat di lihat di tabel masih terlalu kecil, sehingga tidak mempengaruhi hasil ekonomis bagi petani dan tidak diperlukan pengendalian.

Wawancara kepada empat petani jagung di daerah sekitar Situ Gede dilakukan secara acak. Dari hasil wawancara didapatkan informasi bahwa mereka tidak memiliki lahan yang mereka garap, atau kurang lebih bekerja pada hanya sebagai petani penggarap. Asal benih yang digunakan untuk ditanam menggunakan benih musim tanam sebelumnya. Proses pengolahan tanah dilakukan menggunakan cangkul pada saat sebelum proses tanam. Penggunaan pupuk rata-rata menggunakan pupuk kandang dan menggunakan Urea, ZA , dan KCL dengan frekuensi pemberian pupuk sebanyak  2x selama musim tanam. Proses penyiangan dilakukan oleh para petani selama proses tanam. Untuk proses pengairan hanya menggunakan air hujan yang turun. Proses pemanenan dilakukan pada saat umur tanaman kurang lebih 75 hari dengan cara ditebas langsung. Pengolahan lanjutan dengan menjual hasil panmen kepada tengkulak dan ada pula yang menjual langsung ke pasar tradisional.

Pengendalian yang sudah pernah dilakukan adalah dengan penggunaan pestisida. Pestisida sintetik menggunakan Matador 25 EC (bahan aktif lamda sihalotrin 25 g/l) dan Decis 25 EC (bahan aktif deltametrin 25%) dengan cara aplikasi disemprot. Pestisida sintetik tersebut digunakan petani untuk membasmi hama yang terdapat di lahan. Ada pula petani yang menggunakan pestisida nabati dengan menggunakan akar tuba yang disemprot dan jengkol yang dibakar kemudian ditaburkan abunya pada pertanaman. Waktu aplikasi pemberian pestisida dilakukan pada pagi hari dengan frekuensi pemberiannya minimal sebanyak 2x selama musim tanam. Dasar pengendalian petani adalah penyemprotan dilakukan sebelum muncul hama agar mencegah hama merusak dan berkembang biak pada pertanaman. Petani tidak menerapkan salah satu prinsip PHT yaitu penggunaan musuh alami dalam pengendalian hama dan penyakit. Dalam pengaplikasian pestisida, petani melakukan secara efikasi dimana dengan cara tersebut bisa meningkatkan resistensi hama. Proses monitoring sebaiknya dilakukan terlebih dahulu sebelum pengaplikasian pestisida karena selain dapat menghemat biaya juga dapat menghambat proses resistensi hama tersebut.

KESIMPULAN

Tingkat pemahaman dan aplikasi PHT bagi petani di Situ Gede sangatlah kurang. Pengendalian hama dan penyakit pada pertanaman jagung dilahan petani sebagian besar masih menggunakan pestisida sintetik dengan cara penyemprotan tanpa melihat adanya musuh alami. Presentase penyakit yang ditemukan dilapang (Bulai, Karat, dan Hawar) sangat kecil, sehingga kurang mempengaruhi hasil panen bagi petani. Populasi hama kutu daun dilapang paling tinggi diantara populasi hama yang lain, hal yang dilakukan petani untuk pengendalian untuk menurunkan populasinya dengan menggunakan pestisida sintetik Matador 25 EC (bahan aktif lamda sihalotrin 25 g/l) dan Decis 25 EC (bahan aktif deltametrin 25%) dengan cara aplikasi disemprot.  Jenis musuh alami yang melimpah dilahan adalah larva Coccinelidae dan Formicidae, tetapi kurang efektif dalam mengendalikan hama yang terdapat di lahan, hal ini juga dipengaruhi oleh penggunaan pestisida sintetik, sehingga juga mematikan musuh alami yang terdapat dilahan.

DAFTAR PUSTAKA

[Anonim]. 2009. Komoditas Jagung di  Indonesia. http://id.wikipedia.org/wiki/Jagung [15 November 2010]

Holling, C. S., 1961. Principles of Insect Predation. Ann. Rev. Entomol. 6 : 163-182.

Kalshoven LGE. 1981. The pest of crop in Indonesia. Revised and translated by Van der Lann PA. Jakarta: PT Ichtiar Baru-Van Hoeve.731p.

Muhadjir, F. 1998. Karakteristik Tanaman Jagung dalam Subandi, M. Syam, A. Wijiono. Jagung. Hal : 33-38. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor.

Wakman, Burhanudin. 2005. Pengelolaan Hama dan Penyakit Jagung. [jurnal on-line]. http://www.pustaka-deptan.go.id/publikasi/p3231042.pdf [15 November 2010]

Willson, H.R. 1990. Soybean Pest Management. The OHIO  STATE University Extension. 5 p. http://ohioline.osu.edu/icm-fact/fc-21.html [15 November 2010]


LAMPIRAN

1) Kuesioner

  1. A. Karakteristik Petani
    1. Nama        :
    2. Umur        :
    3. Alamat        :
    4. Pendidikan Terakhir :
    5. SD
  2. SMP
  3. SMA
  4. Lainnya ……………………………………
    1. Pekerjaan   :
    2. Apakah Lahan milik sendiri
  5. Ya
  6. Tidak
    1. Luas lahan            :
    2. Jenis komoditas    :
    3. Berapa lama menjadi petani atau bertani
    4. < 5 tahun
  7. 5-10 tahun
  8. 10 tahun
  1. B. Praktek Budidaya
    1. Asal benih yang ditanam
  2. Benih musim tanam sebelumnya
  3. Membeli
    1. Varietas benih yang ditanam                   :
    2. Jarak tanam yang digunakan                    :
    3. Jenis pupuk yang digunakan
  4. Urea
  5. SP-18
  6. KCL
  7. Pupuk kandang
    1. Semuanya, Lainnya……………………………
  1. Dosis penggunaan pupuk :
  1. Frekuensi pemberian pupuk
  2. 1 minggu sekali
  3. 2 minggu sekali
  4. Sebulan sekali
  5. Lainnya …………………………
    1. Bagaimana cara pengolahan tanah :

…………………………………………………………………………………..

  1. Cara  pengolahan tanah yang dipakai
  2. Sebelum proses tanam
  3. Selama proses tanam
  4. Lainnya …………………………
    1. Waktu pemupukkan
  5. Sebelum proses tanam
  6. Setelah proses tanam
  7. Selama masa tanam
  8. Lainnya …………………………
    1. Cara penyiangan gulma
  9. Dicabut
  10. Menggunakan alat
  11. Lainnya ……………………
    1. Panen jagung pada saat umur
      1. Panen kuning
      2. Panen Jagung muda
  1. Bagaimana cara panen :
  2. Pengolahan hasil panen lanjutan
  3. Konsumsi pribadi
  4. Menjual ke pasar tradisional
  5. Mendistribusikan ke perusahaan produksi
  6. Lainnya………………………………….
  1. C. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
    1. Jenis hama yang biasa menyerang tanaman jagung ?
    2. Penggerek batang (Ostrinia furnacalis)
    3. Kutu daun (Rhopalosiphum maidis)
    4. Penggerek tongkol

(Helicoverpa armigera)

  1. Hama putih palsu

(Cnaphalocrocis medinalis)

  1. Semuanya,  Lainnya…………………………
  1. Jenis penyakit yang biasa menyerang tanaman jagung ?
  2. Bulai
  3. Karat
    1. Hawar daun (Helminthosporium turcicum)
    2. Semuanya, Lainnya……………………………..
    3. Musuh alami yang banyak terdapat di lahan?
  1. Jenis pestisida yang digunakan ?
  1. Gejala serangan hama dan penyakit
  2. Gerigitan pada bagian daun
  3. Batang berlubang
  4. Bercak pada daun
  5. Bulai
  6. Tanaman kerdil
    1. Semuanya, Lainnya……………………………
    2. Pengendalian hama dan penyakit yang sudah pernah dilakukan ?
  1. Apakah menggunakan pestisida
  2. Ya,

Alasan………………………………

………………………………………

  1. Tidak, Alasan……………………………..…………………………………………
  2. Kapan waktu aplikasi pestisida
  3. Pagi hari
  4. Sore hari
  5. Malam hari
  1. Bagaimana cara aplikasi pestisida?
  1. Frekuensi pemberian pestisida ?
  1. Apa yang menjadi dasar pengendalian hama dan penyakit ?

2) Gambar

Gambar 7.  Pitfall trap di lahan                       Gambar 8.  Sweep net serangga

Gambar 9.  Gejala serangan hama putih palsu      Gambar 10.  Serangan kutu daun

Gambar 11.  Coccinelidae                                           Gambar 12.  Larva Syrphidae

Gambar 13.  Gejala Karat                                           Gambar 14.  Gejala gerekan

Gambar 15.  Serangan Bulai                                       Gambar 16.  Serangan Hawar

Gambar 17.  Wawancara dengan empat petani Jagung di Kelurahan Situ Gede

PROSPEK BUAH PINANG (Areca catechu L.) SEBAGAI NEMATISIDA BOTANI PADA TANAMAN KEDELAI (Glycine max (L) Merril)

*Download file di bawah!

PROSPEK BUAH PINANG (Areca catechu L.) SEBAGAI NEMATISIDA BOTANI PADA TANAMAN KEDELAI

(Glycine max (L) Merril)

ABSTRAK

Salah satu OPT yang penting pada pertanaman kedelai adalah nematoda puru akar (NPA; Meloidogyne spp.)  yang menyebabkan ujung akar mati dan pertumbuhan terhenti, secara tidak langsung akan menurunkan produktivitas tanaman. Salah satunya yang berasal dari tumbuhan adalah pinang (A.catechu). Pinang memiliki kandungan senyawa yang dapat mematikan dan mengganggu aktivitas nematoda. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kemampuan buah pinang (A. catechu) sebagai nematisida botani dalam mengendalikan NPA pada tanaman kedelai serta mendapatkan pengetahuan tentang bagian buah pinang yang paling efektif dimanfaatkan sebagai nematisida botani. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji orientasi, uji in vitro pada botol film, uji In vivo di laboratorium, dan uji In vivo di rumah kaca. Dalam uji orientasi didapatkan hasil bahwa filtrat pinang tidak bersifat fitotoksik terhadap benih kedelai. Dalam uji in vitro LC90 yang paling efektif dalam pengujian adalah filtrat biji karena konsentrasi untuk mematikan 90% nematoda paling rendah. Uji in vivo di laboratorium menunjukkan bahwa intensitas serangan yang ditunjukkan pada data jumlah puru/tanaman yang paling rendah terjadi pada perlakuan  buah 1,5x.. Pengamatan uji in vivo dilakukan dua kali yaitu 7 dan 11 MST. Pada 7 MST hasil yang efektif diperoleh dari perlakuan buah 1,5x yang ditunjukkan dengan jumlah puru/tanaman yang lebih rendah dari perlakuan lain. Pada pengamatan 11 MST data yang diperoleh sangat beragam sehingga menyebabkan perbedaan yang tidak signifikan. Hal tersebut disebabkan oleh keragaman yang tinggi dan rendahny data yang dapat dijelaskan oleh model  sedangkan sebagian besar data dijelaskan faktor lain sehingga  hasil penelitian hanya dapat disimpulkan dari pengamatan 7 MST.

Kata kunci: Kedelai, Nematoda puru akar Meloidogyne spp., Pinang (Areca catechu L.).

LAPORAN AKHIR PKM NEMATISIDA BOTANI!!