ENVIRONMENTAL FRIENDLY TECHNOLOGY INNOVATION TO REACH SOYBEAN SELF-SUFFICIENCY YEAR 2014

* The attached file at the bottom of this page


ENVIRONMENTAL FRIENDLY TECHNOLOGY INNOVATION TO REACH SOYBEAN SELF-SUFFICIENCY
YEAR 2014


Lutfi Afifah
Department of Plant Protection, Faculty of Agriculture, Bogor Agricultural University
Jl. Kamper, Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680


SUMMARY

Soybean is one of vegetable protein source major, although Indonesia still has to import most of the needs of soybeans. This problem caused by soybean needs in Indonesia  is quite high. Soybean production in the year of 2010 was decelined 6,81% from the year 2009. Whereas the needs of soybean in Indonesia reached 2.1 million tons. In an effort to self-sufficiency in soybean is still a lot of the problems faced by farmers. Decrease in productivity of soybean in Indonesia, one of which is caused by problem with pests and plant diseases. The use of synthetic pesticides became the primary option for farmers to overcome this problem. Unfortunately, synthetic pesticides have a negative impact both on the general environment, agriculture and human. Therefore, it is necessary to make environmental friendly technology innovation in order to attain self-sufficiency target by 2014. Innovative control technology using IPM be an environmentally friendly alternative to control pests and plant diseases.

The purpose of this scientific work is to inform various environmental control technology innovation in integrated pest control in crops, particularly soybeans in Indonesia as an alternative control that are effective, efficient, and safe. Method of this writing paper consists of determining the framework of thought, ideas, data collection, processing and data analysis, formulation of solutions, and making conclusions and recommendations. Components of integrated pest control technology including: The use of resistant varieties, synthesis insecticides and phytopesticides, effective entomopathogenic fungus, Spodoptera litura Nuclear polyhedrosis virus (SlNPV), entomopathogenic nematodes effective, effective trap crops, crop rotation, timing of planting in unison, and sanitation plants pods. In addition, the use of natural enemies like Verticillium lacanii and T. bactrae-bactrae is one of  important component in the control of plant pest. So, we need good mass propagation methods of natural enemies.


DOWNLOAD FILE SOYBEAN SELF-SUFFICIENCY.PPT

ANALISIS KELOMPOK AMATAN INTRAKURIKULER DAN EKSTRAKURIKULER DI IPB

 

KOMUNIKASI KELOMPOK (KPM 212)

ANALISIS KELOMPOK AMATAN INTRAKURIKULER

DAN EKSTRAKURIKULER DI IPB


Lutfi Afifah                A34070039

Yolanda                     D24080040

Liza Nur Aziza          D24080089

Siska Maryana D.     G54070006

Indira Indraswari      G84070029

Risqiana Dewi           G84070048

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah berjudul Analisis Kelompok Amatan Intrakurikuler (Unit Konservasi Fauna) dan Ekstrakurikuler (Onigiri) di IPB . Shalawat serta salam penulis haturkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia ke era penuh dengan kemajuan dan ilmu pengetahuan. Ucapan terima kasih penulis haturkan kepada para dosen mata kuliah Komunikasi Kelompok, asisten praktikum mata kuliah Komunikasi Kelompok ( Auliyaul Hafizhoh), rekan-rekan dari Unit Konservasi Fauna dan Onigiri, serta temen-teman yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.

Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Komunikasi Kelompok, Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, sehingga penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk makalah ini. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih.

Bogor, 16 Maret 2011

Penulis

PENDAHULUAN

Proses Terbentuknya Kelompok:

  • Adanya kesadaran individu akan keterbatasan kemampuan diri untuk memenuhi segala kebutuhan keinginannya untuk mencapai segala yang diinginkannya.
  • Adanya kesadaran individu tentang adanya kesamaan antara kebutuhan dan keinginannya dengan kebutuhan dan keinginan individu lain.
  • Adanya pengertian individu bahwa kemampuan individu-individu bila digabungkan akan lebih besar dibandingkan kemampuan individu secara sendiri.
  • Adanya kebutuhan individu untuk berbagi rasa, pengetahuan, dan pengalaman dengan individu lain.
  • Adanya dorongan individu untuk bersama dengan individu lain, karena mereka adalah makhluk sosial.

Klasifikasi kelompok:

a. Kelompok Formal-Informal

  • Kelompok formal dalam struktur keanggotaannya serba formal dan tidak fleksibel.
  • Kelompok informal dalam strukturnya sangat fleksibel, sehingga mudah untuk keluar masuk menjadi anggotanya.

b. Kelompok Primer-Sekunder (Charles Horton Cooley pada tahun 1990 dalam Jalaludin Rakhmat, 1995)

  • Kelompok primer adalah suatu kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan akrab, personal, dan menyentuh hati dalam asosiasi dan kerjasama.
  • Kelompok sekunder adalah kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan tidak akrab, tidak personal, dan tidak menyentuh hati kita.

Perbedaan antara keduanya:

Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas. Dalam artinya menembus kepribadian kita yang paling tersembunyi., menyingkap unsure- unsur backstage (pelaku yang kita tampakkan dalam suasuana privat saja). Meluas, artinya sedikit sekali kendala yang menentukan rentangan dan cara berkomunikasi. Pada kelompok sekunder komunikasi bersifat dangkal dan terbatas.

  • Komunikasi pada keompok primer bersifat personal, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal.
  • Komunikasi kelompok primer lebih menekankan aspek hubungan daripada aspek isi, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal.
  • Komunikasi kelompok primer lebih menekankan aspek hubungan daripada aspek isi, sedangkan kelompok primer adalah sebaliknya.
  • Komunikasi kelompok primer cenderung ekspresif, sedangkan kelompok sekunder instrumental.
  • Komunikasi kelompok primer cenderung informal, sedangkan kelompok sekunder formal.
  • c. Kelompok Ingroup-Outgroup

Ingroup adalah kelompok kita dan outgroup adalah kelompok mereka. Ingroup dapat berupa kelompok primer dan sekunder. Secara lebih jelas In-group adalah komunikasi antar individu di dalam kelompok, baik secara vertikal maupun horizontal, baik secara informal, non formal dan formal. Out-group adalah komunikasi individu atau kelompok dengan luar kelompok, baik dengan individu,  kelompok dan massa.

Keluarga adalah ingroup-kelompok primer, jurusan adalah ingroup yang kelopok sekuder. Perasaan ingroup diungkapkan dengan kesetiaan, solidaritas, kesenangan, dan kerjasama. Untuk membedakan ingroup dan outgroup, kita membuat batas (siapa yang mamsuk orang dalam dan luar), bias berupa: geografis, suu bangsa, bahasa, status sosisal. Dengan semangat ke”kita”an, ingroup akan merasa terikat. Semangat ini lazim disebut kohesi kelompok.

d. Kelompok Keanggotaan-Rujukan

Theodore Newcomb (1930) melahirkan istilah kelompok keanggotaan (membership group) dan kelompok rujukan (reference group).

  • Kelompok keanggotaan adalah kelompok yang anggota-anggotanya secara administrative dan fisik menjadi anggota kelompok itu.
  • Kelompok rujukan adalah kelompok yang digunakan sebagai alat ukur untuk menilai diri sendiri atau untuk membentuk sikap. Kelompok rujukan mempunyai tiga fungsi: fungsi komparatif, fungsi normative, dan fugsi perspektif.

e. Kelompok Tugas-Sosial

Kelompok tugas bertujuan memecahkan masalah selain itu ada tugas tertentu yang harus dikerjakan bersama. Sedangkan kelompok social tugasnya adalah untuk kesenangan kelompok.

f. Kelompok Deskriptif-Prespektif

  • Kelompok deskriptif menunjukkan klasifikasi kelompok dengan melihat proses pembentukannya secara alamiah. Berdasarkan tujuan, ukuran, dan pola komunikasi, kelompok deskriptif dibedakan menjadi tiga: a. kelompok tugas; b. kelompok pertemuan; dan c. kelompok penyadar.
  • Kelompok prespektif mengacu pada langkah-langkah yang harus ditempuh anggota kelompok dalam mencapai tujuan kelompok. Terdapat enam format kelompok prespektif, yaitu: diskusi meja bundar, symposium, diskusi panel, forum, kolukium dan parlementer.

g. Kelompok Interacting-Coating-Counteracting

  • Interacting group: setiap anggota harus bekerjasama dengan anggota lainya agar dapat mencapai tujuan-tujuan kelompok.
  • Co-acting group: masing-masing anggotanya dapat bertindak sendiri, tapi semua mengarah pada tercapainya tujuan kelompok (bersama)
  • Counter-Acting group: kelompok terbelah karena masing-masing mempunyai tuuan berbeda/ berlawanan/ bersaing. Dalam hal ini tiap kelompok bersaing untuk mendapatkan yang terbaik.

Tahap-tahap Pembentukan Kelompok:

Model pembentukan suatu kelompok pertama kali diajukan oleh Bruce Tackman (1965). Teori ini dikenal sebagai salah satu teori pembentukan kelompok yang terbaik dan menghasilkan banyak ide-ide lain setelah kosep ini dicetuskan.

1. Tahap 1 – Forming (Perencanaan/Persiapan)

Pada tahap ini kelompok baru saja dibentuk dan diberikan tugas. Anggota kelompok cenderung untuk bekerja sendiri dan walaupun memiliki itikad baik namun mereka belum saling mengenal dan belum saling percaya. Tahap ini merupakan tahap awal pembentukan kelompok dimana para anggota baru setuju dengan kode etik dan sasaran tim.

2. Tahap 2 – Storming (Membentuk Kekuatan)

Kelompok mulai mengembangkan ide-ide berhubungan dengan tugas-tugas yang mereka hadapi. Mereka membahas isu-isu semacam masalah yang harus mereka selesaikan. Anggota kelompok saling terbuka dan mengkonfrontasi ide-ide dan perspektif mereka masing-masing. Pada beberapa kasus, tahap storming cepat selesai. Namun ada pula yang terhambat pada tahap ini. Tahap ini merupakan tahap tergoyah dalam pembentukan kelompok. Kelompok mengalami konflik dan menemukan cara-cara untuk tetap fokus

3. Tahap 3 – Norming (Penetapan Aturan dan Nilai-nilai)

Terdapat kesepakatan dan konsensus antara anggota kelompok. Peranan dan tanggung jawab telah jelas. Anggota kelompok mulai dapat mempercayai satu sama lain seiring dengan mereka melihat kontribusi masing-masing anggota untuk kelompok. Pada tahap ini kelompok membuat visi jangka-panjang tentang bagaimana akan berfungsi. Persetujuan ini disebut sebagai nilai-nilai bersama. Norma-norma kelompok adalah aturan tak tertulis tentang perilaku dan tata-krama yang benar

4. Tahap 4 – Performing (Penyempurnaan/Penunjukan Kinerja)

Kelompok dalam tahap ini dapat menyelesaikan pekerjaan dengan lancar dan efektif tanpa ada konflik yang tidak perlu dan supervisi eksternal. Anggota kelompok saling bergantung satu sama lainnya dan mereka saling respect dalam berkomunikasi. Tahap ini ditandai dengan saling ketergantungan dalam hub personal  dan pemecahan masalah dalam bidang fungsi tugas. Fungsi-fungsi tugas  menjadi sejati dalam pemecahan masalah, memimpin dengan solusi yang optimal & pembentukan kelompok yang optimum. Hal ini merupakan dukungan untuk mencoba pemecahan masalah & memperhatikan suatu kemajuan.

5. Tahap 5 – Adjourning (Pembubaran)

Tahap dimana proyek berakhir dan kelompok membubarkan diri. Kelompok bisa saja kembali pada tahap mana pun ketika mereka mengalami perubahan.

KELOMPOK AMATAN

a) Kelompok Amatan Intrakurikuler IPB “Uni Konservasi Fauna (UKF)”

Sejarah dan Latar belakang

Uni Konservasi Fauna (UKF) merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa di Institut Pertanian Bogor yang merupakan wadah bagi Mahasiswa IPB yang memiliki minat pada dunia konservasi fauna. Uni Konservasi Fauna adalah organisasi semi otonom di bawah MPM KM IPB. UKF bersifat kemahasiswaan yang terbuka bagi seluruh elemen mahasiswa IPB maupun masyarakat IPB. Uni Konservasi Fauna yang disingkat UKF, didirikan pada tanggal 10 November 2003 di Kampus IPB Darmaga, Bogor oleh gabungan dua elemen, yaitu mahasiswa dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan (KSHE) dan mahasiswa Biologi. UKF merupakan suatu kolaborasi yang akan meningkatkan pemahaman mengenai pengetahuan konservasi fauna itu sendiri dari berbagai dasar ilmu.

UKF ini didirikan berdasarkan spesies hewan yang melimpah dan menempati berbagai tipe habitat baik di darat maupun di laut yang menunjukkan keragaman fauna Indonesia.  Penelitian yang sudah ada belum mampu menggali semua potensi yang ada, sehingga diperlukan studi lebih lanjut mengenai potensi fauna di Indonesia untuk dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia. Selain itu, UKF memiliki motto yang menjadi landasan nilai moral, intelektual, kekeluargaan, gotong royong, dan toleransi dalam kemajuannya yakni, “Selamatkan Fauna Indonesia…..!!!!” .

Sebelum menjadi organisasi resmi di bawah kelembagaan IPB, organisasi ini merupakan sebuah kelompok kerja dengan prioritas dapat terlibat dalam proses-proses konservasi sumber daya alam hayati, khususnya fauna. Beberapa kegiatan sebelum UKF terbentuk antara lain pendidikan konservasi untuk sekolah dasar di Bogor, pengamatan mamalia di TN Ujung Kulon, dan magang di beberapa taman nasional seperti, TN Ujung Kulon, TN Alas Purwo, TN Meru Betiri, TN Gunung Gede Pangrango, TN Gunung Salak Halimun, TN Kerinci Seblat, dan Way Kambas. Melalui kegiatan tersebut tercipta landasan pemikiran untuk mendirikan organisasi konservasi dengan cakupan bidang kerja konservasi fauna.

Tujuan didirikannya UKM UKF IPB

  1. Menumbuhkan kesadaran dan kepedulian mahasiswa dan masyarakat terhadap kelestarian fauna.
  2. Sarana untuk menyalurkan hobi dan minat mahasiswa terhadap fauna.
  3. Berperan serta dalam usaha-usaha pelestarian fauna.

Menjadikan UKM UKF IPB sebagai kekuatan moral dalam masyarakat konservasi.

Visi dan Misi Uni Konservasi Fauna

Visi dari UKM UKF IPB adalah menjadi organisasi mahasiswa yang mampu berperan aktif dalam usaha-usaha penyelamatan fauna indonesia. Unutk mewujudkan visi tersebut, UKM UKF IPB mengemban empat misi penting yaitu :

  1. meningkatkan dan memperdalam pengetahuan anggota mengenai konservasi fauna.
  2. menghimpun kekuatan moral dan intelektual dalam usaha-usaha penyelamatan fauna.
  3. memasyarakatkan pentingnya keberadaaan fauna dalam kehidupan umat manusia.
  4. membantu pemerintah, lembaga swadaya masyarakat dan pihak-pihak yang terkait dalam usaha pelestarian fauna.

Landasan dan Asas Uni Konservasi Fauna

Dalam pergerakannya Uni Konservasi Fauna berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta berasaskan :

* Strategi konservasi dunia yaitu :

1.  perlindungan proses-proses ekologis dan sistem penyangga kehidupan

2.  pengawetan keanakaragaman jenis fauna dan ekosistemnya

3.  pemanfaatan jenis fauna dan ekosistemnya secara lestari

* Tri Dharma Perguruan Tinggi

Keanggotaan

Sesuai dengan misi UKF salah satunya meningkatkan dan memperdalam pengetahuan anggota mengenai konservasi sumberdaya alam. Setiap mahasiswa yang menjadi anggota tetap UKF akan mendapatkan pengetahuan konservasi secara berkesinambungan.  Walaupun berwawasan konservasi, UKF membuka peluang kepada seluruh mahasiswa IPB untuk menjadi anggota walaupun sama sekali tidak mengetahui dunia konservasi ataupun dunia fauna.  Sehingga komponen UKF beragam dan diharapkan mampu terlihat aktif dalam usaha-usaha pelestarian fauna.

Keanggotaan dalam UKF terdiri dari :

  1. Anggota Tetap Adalah anggota yang lulus Metamorfosa (DikLatSar) dan aktif mengikuti kegiatan UKF
  2. Anggota partisipatif Adalah Volunteer yang terlibat dalam kegiatan UKF.
  3. Anggota Kekeluargaan Adalah anggota tetap UKF yang telah lulus dari IPB.

Divisi Uni Konservasi Fauna

Dengan luasnya cakupan bidang kerja yang ada maka cakupan bidang kerja UKF diklasifikasikan ke dalam divisi-divisi. Divisi-divisi tersebut yaitu :

  1. Divisi Konservasi Karnivora
  2. Divisi Konservasi Herbivora
  3. Divisi Konservasi Burung
  4. Divisi Konservasi Primata
  5. Divisi Konservasi Reptil
  6. Divisi Konservasi Ex-situ
  7. Divisi Konservasi Fauna Perairan
  8. Divisi Konservasi Insekta

Dengan melibatkan berbagai elemen mahasiswa dalam konservasi fauna, secara tidak langsung UKF telah mengajak generasi penerus bangsa untuk lebih memperdalam konservasi. Dan memungkinkan akan mencetak konservastionis dari berbagai pendidikan dan keahlian.

Pendanaan

Sumber dana UKF dalam melaksanakan Program Kerja yang telah disusun berasal dari :

  1. Iuran wajib bulanan anggota.
  2. Kegiatan Usaha.
  3. Dana Operasional dari IPB.
  4. Sponsor.

Analisis Kelompok Amatan Intrakurikuler Uni Konservasi Fauna:

  • Kelompok informal, karena keanggotaan di UKF bersifat flexible dan siapa pun boleh menjadi anggota UKF tetapi, setiap anggota bertanggung jawab dan melaksanakan tugas yang telah diberikan oleh UKF.
  • Kelompok primer, karena hubungan antara sesama anggota UKF sangat akrab baik antaranggota divisinya ataupun antardivisi dan se-UKF.
  • Kelompok Ingroup, karena uni konservasi fauna merupakan suatu kelompok yang memiliki rasa solidaritas yang tinggi terhadap kecintaanya dengan konservasi baik dalam bidang karnivora, herbivora, burung, primata, reptil, Ex-situ, fauna perairan dan insekta.
  • Kelompok keanggotaan, karena anggota UKF berasal dari berbagai kalangan baik mahasiswa maupun non-mahasiswa yang memiliki suatu kepengurusan dan mempunyai visi dan misi yang sama untuk menyelamatkan fauna di Indonesia.
  • Kelompok sosial, karena dalam UKF tugas yang diberikan setiap divisi kepada anggotanya bersifat untuk kesenangan walaupun ada pertanggungjawabannya, tetapi tugas atau pekerjaan tidak memberikan beban kepada anggotanya.
  • Kelompok Deskriptif, karena UKF merupakan suatu keanggotaan yang sengaja dibentuk untuk dapat menumbuhkan kecintaan terhadap fauna, mengembangkan hobi dan bakat serta pelestarian fauna di Indonesia.
  • Interacting Group, keanggotaan di UKF dikelompokkan menjadi beberapa divisi, terdapat 8 divisi yang mempunyai tugas dan tujuan masing-masing, akan tetapi masing-masing divisi tersebut harus tetap bekerja sama untuk dapat mencapai satu visi dan misi UKF.

Analisis Tahap-Tahap Pembentukan Kelompok:

  • Tahap Forming (perencanaan/ persiapan)

Uni konservasi fauna (UKF) tidak mengalami tahap perencanaan/ persiapan, kelompok ini dibentuk karena adanya kecintaan terhadap fauna yang awalnya merupakan sebuah kelompok kerja dengan prioritas agar bisa terlibat dalam proses-proses konservasi sumber daya alam hayati, khususnya fauna. Kelompok ini merupakan gabungan antara mahasiswa konservasi sumberdaya hutan dan biologi yang mengembangkan hobi dan kecintaan mereka kepada fauna yang ada di Indonesia.

  • Tahap Storming (membentuk kekuatan)

Uni konservasi fauna (UKF) setelah menjadi UKM resmi dibawah IPB mulai memperluas keanggotaanya untuk dapat memperkuat dan memperkokoh keanggotaan dalam UKF sendiri. Walaupun anggotanya berwawasan konservasi, UKF membuka peluang kepada seluruh mahasiswa IPB untuk menjadi anggota walaupun sama sekali tidak mengetahui dunia konservasi ataupun dunia fauna. Komponen UKF yang beragam diharapkan aktif dalam usaha-usaha pelestarian fauna. UKF membentuk berbagai divisi untuk dapat menjangkau semua fauna yang ada di Indonesia dan menjaring minat dan hobi dari masing-masing anggota di setiap divisi tersebut. Melalui divisi-divisi ini pula UKF dapat menyelenggarakan berbagai macam program dan kegiatan untuk dapat melestarikan fauna contohnya, kegiatan UKF untuk pelestarian fauna, Monitoring Macan tutul (Panther pardus) di Bodogol pada Tahun 2009, Menggali Potensi Laut Kepulauan Seribu pada Tahun 2009, dan masih banyak lagi kegiatan UKF yang lainnya.

  • Tahap Norming (penetapan aturan dan nilai-nilai)

Uni konservasi fauna mengalami tahapan norming di dalam pembentukkannya, mereka memiliki kode etik dan berbagai macam aturan yang wajib dipatuhi oleh setiap anggotanya, diantaranya:

1.  Iman dan Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

2.  Menjunjung tinggi nilai-nilai (fitrah) manusia.

3.  Menumbuhkan jiwa militansi dalam merealisasikan visi dan misi organisasi

4.  Memposisikan Sumber Daya Alam hayati (fauna) sebagai titipan Tuhan YME yang harus dilestarikan dan diwariskan.

  • Tahap Performing (Peyempurnaan/ penunjukkan kinerja)

Uni konservasi fauna di dalam menyempurnakan kelompoknya,masing-masing divisi setiap tahunya mengajukan sebuah rancangan kerja yang akan mereka lakukan setahun ke depan, contohnya, Divisi Burung, dalam rencana kerjanya selama 2009/ 2010 memiliki program kerja sebagai berikut:

  1. Monitoring Burung Kampus IPB Darmaga
  2. Sharing Bird of the world (tidak masuk RKAT)
  3. Monitoring SM Muara Angke (Kegiatan Additional)
  4. Bird banding di Kampus IPB Darmaga
  5. Birdwatching at several habitat part II (birding with voice)
  6. 6. Intoduction Bird in Campus

  • Tahap Adjourning (pembubaran)

Pada tahap ini Uni Konservasi Fauna melakukan evaluasi kinerja selama satu tahun kepengurusan dan bersiap untuk laporan pertanggung jawaban atas kinerja yang telah di lakukan selama satu tahun kepengurusan. pada saat sidang laporan petanggung jawaban sekaligus dilakukan pembubaran kepenggurusan tahun tersebut dan bersiap untuk merekrut anggota baru kembali yang ingin bergabung dengan UKF.

b) Kelompok Amatan Ekstrakurikuler IPB “Onigiri”

Profil Onigiri

Onigiri Japan Club, didirikan pada tanggal 8 Oktober 2004 oleh sang pencetus pada saat itu yang bernama Haryo “Wolf” Tedjo (Bio ’41). Pada awal terbentuk Onigiri bernama “Fourth Avenue Cafe” yang terinspirasi dari salah satu lagu dari band terkenal asal Jepang, yaitu L’Arc~en~Ciel (Laruku). Dahulu pada saat pertama membuka stand dipakailah nama “Himaruku” karena stand lainnya memakai nama himpunan profesi masing-masing departemen yang ada di IPB dengan kepanjangan “Himpunan Mahasiswa Pecinta Laruku”. Setahun kemudian “Fourth Avenue Cafe” diganti menjadi nama “Onigiri Japan Club” karena dinilai untuk nama onigiri lebih simple.

Onigiri dibentuk sebagai wadah untuk mereka yang menyukai berbagai budaya maupun sub-budaya, baik berupa tarian Bon Odori, Taiko, Cosplay, J-Pop, J-Rock, Boyband, Dorama, Anime, Manga, Origami, Ichinogami (Paper Craft) dan bidang kesenian lainnya yang berasal dari negeri sakura tersebut. Tidak perlu syarat khusus untuk bergabung di komunitas ini, mereka hanya cukup datang di waktu kumpul yang disepakati dimana sekarang ini hari kumpul rutin adalah hari Rabu jam 7 malam.

Onigiri Japan Club merupakan perkumpulan informal yang ada di IPB. Pada awal terbentuk, ada tawaran untuk menjadi bagian dari UKM MAX, namun para senpai (senior) pada saat itu menolaknya dengan alasan supaya perkumpulan ini memiliki kegiatan yang santai, tidak ingin seperti himpunan formal lainnya yang harus mempunyai acara rutin, laporan pertanggungjawaban, AD/ART dan lain sebagainya. Walaupun Onigiri bukan himpunan yang formal di IPB namun Onigiri mempunyai struktur organisasi dan acara rutin. Ada empat divisi yang terdapat di Onigiri, yaitu divisi minat bakat, divisi humus (hubungan masyarakat dan danus), divisi dota (download dan data), dan divisi hura-hura. Selain ke-empat divisi tersebut ada sub-komunitas dibawah Onigiri yaitu komunitas Igo (catur jepang) dan Rinen Comic Club.

Acara rutin yang diadakan Onigiri antara lain Chibi Matsuri (Mini-Festival), PaperOni (Paper Model Onigiri), Pameran Komik, Cosplay (Costume Play) Street, Bento (Buletin Temporer Onigiri). Acara Jepang yang cukup besar pernah diadakan oleh Onigiri pada tahun 2006 yang menjadi cikal bakal lahirnya Bonenkai, yaitu Japan Music Corner, dan kemudian acara seminar beasiswa Jepang pada tahun 2008 yaitu “One Day Nihon Talk”. Kegiatan rutin internal yang dilakukan selain kumpul adalah Makrab yang diadakan satu tahun sekali, dan kemudian Sikrab, tentunya dengan tujuan mengakrabkan anggota baru, dan memperkenalkannya dengan para senpai.

Ada yang khas di komunitas Jepang ini, yaitu tidak ada senioritas, walaupun berbedea angkatan, angkatan muda dipersilahkan untuk memanggil angkatan atas hanya dengan nama saja, meskipun bedanya sampai 4 angkatan bahkan lebih. Untuk lebih cepat mengakrabkan, mereka yang anggota baru diharapkan untuk “Sok Kenal Sok Dekat” dengan anggota lama atau senpai. Ciri khas lainnya di Onigiri saat kumpul adalah selain sharing hal-hal terkait Jepang, pada saat kumpul, berbincang-bincang sesuatu hal yang ujung-ujungnya adalah OOT (Out Of Topic).

Kelompok Amatan Ekstrakurikuler IPB “Onigiri”:

  • Kelompok Informal. Karena kelompok ini fleksibel, mudah masuk dan keluar. Memiliki kegiatan yang santai, tidak ingin seperti himpunan formal lainnya yang harus mempunyai acara rutin, laporan pertanggungjawaban, AD/ART dan lain sebagainya.
  • Kelompok social. Kelompok ini untuk kesenangan para anggotanya yang memiliki hobi yang sama.
  • Kelompok Primer. Merupakan suatu kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan akrab, personal, dan menyentuh hati dalam asosiasi dan kerjasama. Dan menekankan pada aspek hubungan.
  • Kelompok in-group. Kelompok onigiri merupakan suatu kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan akrab, personal, dan menyentuh hati dalam asosiasi dan kerjasama.
  • Kelompok Rujukan. Onigiri sebagai alat ukur untuk menilai diri sendiri atau untuk membentuk sikap.
  • Kelompok Deskriptif. Onigiri terbentuk secara alamiah, dibentuk sebagai wadah untuk mereka yang menyukai berbagai budaya maupun sub-budaya yang berasal dari Jepang.
  • Interacting Group. Anggota dalam kelompok onigiri bekerjasama dengan anggota lainya agar dapat mencapai tujuan-tujuan kelompok.

Analisis Tahap Pembentukan “Onigiri”:

Tahap 1 – Forming (Perencanaan/Persiapan)

Ongiri adalah kelompok informal yang ada di IPB, mulai dibentuk pada tanggal 8 Oktober 2004 oleh sang pencetus pada saat itu yang bernama Haryo “Wolf” Tedjo (Bio ’41). Pada tahap  Forming atau persiapan ini Onigiri pertama kali terbentuk “bernama Fourth Avenue Cafe” . Namun setahun kemudian berganti nama menjadi “Onigiri Japan Club”. Tugas awal mereka hanya berkumpul rutin setiap hari Rabu jam 7 malam sebagai komunitas Onigiri.

Tahap 2 – Storming (Membentuk Kekuatan)

Pada tahap storming Onigiri Japan Club memiliki struktur yang jelas, ada empat divisi yang terdapat di Onigiri, yaitu divisi minat bakat, divisi humus (hubungan masyarakat dan danus), divisi dota (download dan data), dan divisi hura-hura. Selain ke-empat divisi tersebut ada sub-komunitas dibawah Onigiri yaitu komunitas Igo (catur jepang) dan Rinen Comic Club. Maka dengan adanya struktur yang jelas mereka dapat mengembangkan ide-ide berhubungan dengan tugas-tugas yang mereka hadapi, untuk acara rutin yang Onigiri adakan diantara lain Chibi Matsuri (Mini-Festival), PaperOni (Paper Model Onigiri), Pameran Komik, Cosplay (Costume Play) Street, Bento (Buletin Temporer Onigiri). Kegiatan rutin internal yang dilakukan selain kumpul adalah Makrab yang diadakan satu tahun sekali, dan kemudian Sikrab, tentunya dengan tujuan mengakrabkan anggota baru, dan memperkenalkannya dengan para senpai atau senior.

Tahap 3 – Norming (Penetapan Aturan dan Nilai-nilai)

Norming atau penetapan aturan dan nilai-nilai, Onigiri merupakan himpunan informal yang ada di IPB, mereka tidak mempunyai aturan yang ketat dan tidak perlu syarat khusus untuk bergabung di komunitas ini, mereka hanya cukup datang di waktu kumpul yang disepakati dimana sekarang ini hari kumpul rutin adalah hari Rabu jam 7 malam, kemudian anggota Onigiri mempunyai peranan dan tanggung jawab yang jelas untuk mengadakan acara rutin yang telah ditetapkan untuk diadakan tiap tahunnya, sehingga mereka melihat kontribusi masing-masing anggota untuk kelompok.

Tahap 4 – Performing (Penyempurnaan/Penunjukan Kinerja)

Perfoming atau penunjukan kinerja, pada tahap ini mereka menunjukkan kinerja mereka dengan diadakannya acara rutin seperti apa yang telah disebutkan pada tahap storming diantaranya Chibi Matsuri (Mini-Festival), PaperOni (Paper Model Onigiri), Pameran Komik, Cosplay (Costume Play) Street, Bento (Buletin Temporer Onigiri). Kemudian acara jepang yang cukup besar pada tahun 2006 cikal bakal lahirnya Bonenkai, yaitu Japan Music Corner, dan  acara seminar beasiswa Jepang pada tahun 2008 yaitu “One Day Nihon Talk. Dari situlah mereka saling respect dalam berkomunikasi dan saling bergantung dalam hubungan pesonal dan pemecahan masalah dalam bidang fungsi tugas yang mereka adakan.

Tahap 5 – Adjourning (Pembubaran)

Pada tahap ini kelompok Onigiri kembali pada tahap sebelumnya yaitu melakukan kegiatan kumpul rutin kemudian mereka sharing hal-hal terkait dengan Jepang dan bersiap untuk merekrut kembali anggota baru yang ingin bergabung dengan “Onigiri”.

KESIMPULAN

Suatu wadah kelompok dapat terbentuk dari kesadaran bersama dan adanya interaksi. Faktor utama yang membentuk kelompok yaitu rasa kesamaan dan kedekatan. Kesamaan yang dimaksud adalah kesamaan minat, kepercayaan, nilai, usia, tingkat intelejensi, atau karakter personal lain. Sudah menjadi kebiasaan seseorang akan lebih suka berhubungan dengan orang yang memiliki kesamaan dengan dirinya. Kemudian kedekatan yang dimaksud adalah tingkat kedekatan fisik yang meningkatkan peluang interaksi dan bentuk kegiatan bersama yang memungkinkan terbentuknya kelompok sosial. Jadi, kedekatan menumbuhkan interaksi yang memainkan peranan penting terhadap terbentuknya kelompok.

DAFTAR PUSTAKA

Jalaludin Rakhmat. 1994. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nurdiana. 2010. Tahapan Pembentukan Kelompok. http://www.itpipopular.org/index.php?option=com_content&view=article&id=11:mengelola-dinamika-kelompok&catid=12:dapur-pengorganisasian&Itemid=16

Tuckman BW and MAC Jensen.  1977. Stages of small group development revisited. Group and Organization Studies 2(4): 419-427.

LAMPIRAN

a) Foto-foto Kegiatan Kelompok Onigiri

b) Dokumentasi dari kegiatan “Bird Banding” Uni Konservasi Fauna di Cikabayan, kampus IPB darmaga:

I’m at February 16, 2011

February 16, 2011 [00.40 WIB]

“I know that live isn’t easy. I know that God has a beautiful plan for us. I know that succesfull isn’t comes suddenly but it comes by its process. I know that everything isn’t comes as well as we want. Yeah, thats live. Full of challenge and full of unpredictable things.“

 

Plant protectionist
Practical class

Dear,

Yesterday, one of my friend told me. “Hi Lutfi, are u still being an assistant in your last semester”? Yes, of course. What happen guys? “Great!” What subject Lutfi? This last semester I am being assistant in study of Daskom and Hama dan Penyakit Tanaman Tahunan. “Oh, you have a high watch fly.” watch fly = jam terbang Hahaa…  ehm.. But, this semester I feel so disappointed because yo know lah yaa.. I want to be assistant in study of Dasar-dasar Proteksi Tanaman not HPT.Tahunan. hiks..hiksss. But, it is okay.. may that’s the best for me. Its mean that three period semester I have to meet the student of HPT 45 in different subject. The subjects are Biopat, IHTD, and HPT. Tahunan. Hmhmm..  yowis lah.. ikhlas

Once more. I hope that in the end of semester I have finished my research and complete my bachelor. So that I could continue my live to master studies. Aminn…  I thing enough. Today I am not mood to write more story. Hehe :p in Germany say “Ich bin mude. Ich habe keine geld” wkwkkkk… Bye guys! Thanks for reading

Yours sincerely,

Lutfi Afifah

ANALISIS KELOMPOK BINAAN DEPARTEMEN PERTANIAN

*Download file terlampir di bawah psting ini!!

Mata kuliah: Komunikasi Kelompok           Hari/ Tanggal: Jumat/ 4 Maret 2011

KPM (212)                                         Praktikum ke-: 2

Kelompok 3:

Lutfi Afifah (A34070039)

Yolanda (D24080040)

Liza Nur Aziza (D24080089)

Siska Maryana Dewi (G54070006)

Indira Indraswari (G84070029)

Risqiana Dewi (G84070048)

“ANALISIS KELOMPOK BINAAN DEPARTEMEN PERTANIAN”

Pengertian Komunikasi Kelompok:

  1. Komunikasi yang berlangsung antara bebera orang dalam suatu kelompok “kecil” dalam suatu rapat, pertemuan, konferensi, dan sebagainya (Arifin 1994)
  2. Interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih dengan tujuan yang telah diketahui seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah  yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota yang lain secara tepat.

Kedua difinisi komunikasi kelompok diatas mempunyai kesamaan yakni adanya komunikasi tatap muka dan memiliki susunan rencana kerja tertentu untuk mencapai tujuan kelompok. Michael Burgoon (Wiryanto 2005)

Berikut ini terdapat 7 klasifikasi kelompok:

a. Kelompok Formal-Informal

  • Kelompok formal dalam struktur keanggotaannya serba formal dan tidak fleksibel.
  • Kelompok informal dalam strukturnya sangat fleksibel, sehingga mudah untuk keluar masuk menjadi anggotanya.

b. Kelompok Primer-Sekunder (Charles Horton Cooley pada tahun 1990 dalam Jalaludin Rakhmat, 1995)

  • Kelompok primer adalah suatu kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan akrab, personal, dan menyentuh hati dalam asosiasi dan kerjasama.
  • Kelompok sekunder adalah kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan tidak akrab, tidak personal, dan tidak menyentuh hati kita.  Perbedaan antara keduanya:

Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas. Dalam artinya menembus kepribadian kita yang paling tersembunyi., menyingkap unsure- unsur backstage (pelaku yang kita tampakkan dalam suasuana privat saja). Meluas, artinya sedikit sekali kendala yang menentukan rentangan dan cara berkomunikasi. Pada kelompok sekunder komunikasi bersifat dangkal dan terbatas.

  • Komuikasi pada keompok primer bersifat personal, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal.
  • Komunikasi kelompok primer lebih menekankan aspek hubungan daripada aspek isi, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal.
  • Komunikasi kelompok primer lebih menekaknkan aspek hubungan daripada aspek isi, sedangkan kelompok primer adalah sebaliknya.
  • Komunikasi kelompok primer cenderung ekspresif, sedangkan kelompok sekunder instrumental.
  • Komunikasi kelompok primer cenderung informal, sedangkan kelompok sekunder formal.
  • c. Kelompok Ingroup-Outgroup

Ingroup adalah kelompok kita dan outgroup adalah kelompok mereka. Ingroup dapat berupa kelompok primer dan sekunder. Secara lebih jelas In-group adalah komunikasi antar individu di dalam kelompok, baik secara vertikal maupun horizontal, baik secara informal, non formal dan formal. Out-group adalah komunikasi individu atau kelompok dengan luar kelompok, baik dengan individu,  kelompok dan massa.

Keluarga adalah ingroup-kelompok primer, jurusan adalah ingroup yang kelopok sekuder. Perasaan ingroup diungkapkan dengan kesetiaan, solidaritas, kesenangan, dan kerjasama. Untuk membedakan ingroup dan outgroup, kita membuat batas (siapa yang mamsuk orang dalam dan luar), bias berupa: geografis, suu bangsa, bahasa, status sosisal. Dengan semangat ke”kita”an, ingroup akan merasa terikat. Semangat ini lazim disebut kohesi kelompok.

d. Kelompok Keanggotaan-Rujukan

Theodore Newcomb (1930) melahirkan istilah kelompok keanggotaan (membership group) dan kelompok rujukan (reference group).

  • Kelompok keanggotaan adalah kelompok yang anggota-anggotanya secara administrative dan fisik menjadi anggota kelompok itu.
  • Kelompok rujukan adalah kelompok yang digunakan sebagai alat ukur untuk menilai diri sendiri atau untuk membentuk sikap. Kelompok rujukan mempunyai tiga fungsi: fungsi komparatif, fungsi normative, dan fugsi perspektif.
  • e. Kelompok Tugas-Sosial

Kelompok tugas bertujuan memecahkan masalah selain itu ada tugas tertentu yang harus dikerjakan bersama. Sedangkan kelompok social tugasnya adalah untuk kesenangan kelompok.

f. Kelompok Deskriptif-Prespektif

  • Kelompok deskriptif menunjukkan klasifikasi kelompok dengan melihat proses pembentukannya secara alamiah. Berdasarkan tujuan, ukuran, dan pola komunikasi, kelompok deskriptif dibedakan menjadi tiga: a. kelompok tugas; b. kelompok pertemuan; dan c. kelompok penyadar.
  • Kelompok prespektif mengacu pada langkah-langkah yang harus ditempuh anggota kelompok dalam mencapai tujuan kelompok. Terdapat enam format kelompok prespektif, yaitu: diskusi meja bundar, symposium, diskusi panel, forum, kolukium dan parlementer.

g. Kelompok Interacting-Coating-Counteracting

  • Interacting group: setiap anggota harus bekerjasama dengan anggota lainya agar dapat mencapai tujuan-tujuan kelompok.
  • Co-acting group: masing-masing anggotanya dapat bertindak sendiri, tapi semua mengarah pada tercapainya tujuan kelompok (bersama)
  • Counter-Acting group: kelompok terbelah karena masing-masing mempunyai tuuan berbeda/ berlawanan/ bersaing. Dalam hal ini tiap kelompok bersaing untuk mendapatkan yang terbaik.

Hasil Analisis Kelompok Binaan Departemen Pertanian

Artikel 1

Kelompok Penangkar Binaan Industri Benih Jagung Berbasis Komunal

  • Kelompok formal. Dalam struktur keanggotaannya serba formal. Hal ini dapat dilihat dari kelompok penangkar binaan tersebut yang sudah mempunyai struktur yang sangat jelas dan mempunyai pembagian tugas yang sudah terspesialisasi secara baik. Seperti contoh nya sudah ada bagian-bagian atau divisi-divisi dari pratanam sampai pascapanen. Selain itu pertemuan-pertemuan yang dilakukan lebih bersifat formal. Dalam keanggotaan kelompok ini  tidak fleksibel.
  • Kelompok Sekunder.  Dalam kelompok penangkar binaan ini hubungan antar anggotanya cenderung tidak akrab. Hal ini dikarenakan oleh terforsirnya anggota-anggota kelompok binaan tersebut untuk melakukan tugas sesuai target yang telah dibuat diawal kontrak kerja. Hubungan antar anggotanya tidak akrab, tidak personal, dan tidak menyentuh hati antar anggota-anggota dalam kelompok tersebut.
  • Out-group. Dalam kelompok penangkar binaan ini terdapat hubungan di luar kelompok tersebut. Kelompok ini berhubungan dengan banyak pihak dari luar untuk sehingga kelompok binaan penangkar tersebut dapat berhasil dengan baik.
  • Kelompok rujukan.  Dalam kelompok ini digunakan sebagai alat ukur untuk menilai diri sendiri atau untuk membentuk sikap antar anggota-anggota kelompok binaan.
  • Kelompok Tugas. Dalam kelompok ini ada tugas tertentu yang harus dikerjakan bersama untuk mendapatkan hasil terbaik.
  • Kelompok Prespektif. Dalam kelompok ini sering diadakan seperti diskusi panel antar anggota kelompok penangkar binaan. Diskusi panel tersebut membahas segala sesuatu yang berhubungan dengan inovasi baru yang akan dijalankan oleh kelompok tersebut. Dalam hal ini, kelompok tersebut mengacu pada langkah-langkah yang harus ditempuh anggota kelompok dalam mencapai tujuan kelompok.
  • Interacting group.  Setiap anggota dalam kelompok binaan ini bekerja sama dengan anggota lainya agar dapat mencapai tujuan kelompok binaan tersebut. Sehingga semua tujuan dapat terlaksan sesuai target yang telah direncanakan.

Artikel 2

Kelompok Binaan TP PKK Kelurahan Gedongkiwo Kecamatan Mantrijeron

  • Kelompok informal karena struktur kepengurusan dalam kelompok ini dan keangotaannya pun flexible sehingga untuk mudah keluar masuk anggotanya. Pertemuan yang dilakukan pun lebih bersifat secara informal antara ibu-ibu pengurus PKK dan para pekerja nya.
  • Kelompok primer karena dalam TP PKK Kelurahan Gedongkiwo hubungan yang terjalin sangat erat. Hal ini ditunjukkan dengan kreatifitas ibu-ibu PKK yang mengolah limbah padat tahu menjadi nugget dan kue kering dan limbah cair tahu diolah menjadi nata de soya yang data menjadi mata pencaharian masyarakat sekitar dan mendapat bimbngan langsung di bawah departemen pertamian (Badan Pengembangan Teknologi Pertanian).
  • Kelompok in-group, karena kelompok TP PKK Kelurahan Gedongkiwo merupakan kelompok yang keanggotaannya terkait dengan adanya rasa solidaritas yang tinggi antar sesame dan kerjasama untuk dapat mempertahankan kreatifitas mereka.
  • Kelompok keanggotaan, karena anggotanya adalah ibu-ibu seluruh warga desa yang bergabung dalam suatu kepengurusan dan mengembangkan ide untuk pengolahan limbah tahu agar bernilai jual.
  • Kelompok social, karena didalam kelompok TP PKK ini tugas yang diberikan kepada anggotanya bersifat untuk kesenangan walaupun ada pertanggung jawabannya tetapi tugas atau pekerjaan tidak memberikan beban kepada anggotanya.
  • Kelompok Prespektif, karena  Kelompok TP PKK kelurahan Gedongkiwo membagi tugasnya berdasarkan ke kreatifitasan yang dimiliki atau berdasarkan keahlian yang dimiliki untuk dapat mencapai kekreativitasan yang dapat bernilai jual.
  • Kelompok Co-Acting, karena  setiap anggtanya memiliki tugas masing-masing dan pekerja pada bidangnya masing-masing tetapi semuanya mengarah kepada tujuan dari dibentuknya TP PKK  kelurahan gedongkiwo.

Artikel 3

Kawasan Hortikultura Tumohon

  • Kelompok formal . Dalam struktur keanggotaanya formal, karena  kelompok petani  tersebut memiliki ketua dan memilki struktur yang jelas untuk mengembangkan pengembangan agribisnis hortikultura. Seperti contohnya Kelompok ini kelompok tani Gema Agape diketuai oleh Alfred, yang mengebangkan sayuran organik secara terpadu mencakup pengembagan sayuran, ternak kelinci dan produksi pupuk organik cair maupun padat
  • Kelompok Primer karena kelompok ini dalam menguasai dan mengembangkan pasar disarankan agar petani menerapkan perinsip Supply Chain Management, serta berhimpun dalam asosiasi kemudian melakukan kerjasama pemasaran dengan supermarket/hypermarket atau pemasok ke daerah lainnya.
  • Kelompok outgroup, karena kelompok ini berhubungan dengan pihak luar untuk bekerjasama dalam memasarkan produknya ke pemasok-pemasok atau ke supermarket.
  • Kelompok rujukan karena kelompok ini membentuk anggota-anggota binaan yang memilki fungsi perspektif seperti adanya pengaturan pola tanam produksi antar sntra untuk menghindari terjadinya fluktuasi harga.
  • Kelompok Tugas. Kelompok ini mempunyai tugas untuk dikerjakan bersama-sama, contohnya tumohon yang merupakan sebagai kota yang terkenal sebagai kota bunga dan andalan sayuran maka kelompok petani tersebut bekerjasama untuk mengembangkan potensi yang adadi kota tumohon dengan pengembangan dibidang agribisnis.
  • Kelompok Perspektif. Kelompok ini memiliki langkah-langkah yang harus ditempuh dalam mencapai tujuan kelompok yaitu dikembangkannya adalah inventarisasi sertifikasi pupuk organik di daerah sebagai sasaran pemasaran, pengaturan pola tanam produksi antar sentra sehingga menghindari terjadinya fluktuasi harga, promosi intensif produk sayuran organik dari Rurukan sehingga dapat menjadi trade mark tersendiri.
  • Kelompok interacting group, karena setiap anggota harus bekerjasama dengan anggota lainnya untuk mencapai tujuan-tujuan dari kelompok tersebut. Seperti contohnya berhimpun dalam asosiasi untuk memasarkan produk.

Artikel 4

Manfaat Dan Dampak Pelaksanaan Alternative Development Di Bumi Serambi Mekah

  • Kelompok formal. Telah terdapat struktur keanggotaan dalam kelompok binaan tersebut. Kelompok tersebut juga dibina secara aktif oleh bebepa pihak yaitu tim dari Ditjen Hortikultura, pejabat BNN, Pemda Provinsi Aceh, dan Yayasan Sambino.
  • Kelompok sekunder. Dalam kelompok tersebut hubungan antar anggotanya tidak akrab dan tidak personal. Adanya target-target tertentu yang harus dicapai masing-masing petani. Taerget tersebut dilakukan masing-masing petani, dan tidak bergantung pada anggota lainnya.
  • Kelompok out-group. Adanya hubungan dengan berbagai pihak luar. Perasaan kelompok ini tidak diungkapkan dengan kesetiaan, solidaritas, kesenangan, dan kerjasama
  • Kelompok Rujukan. digunakan sebagai alat ukur untuk menilali diri sndriri atau untuk membentuk sikap.
  • Kelompok Prespektif. Adanya langkah-langkah yang dilakukan berbagai pihak agar tercapainya tujuan kelompok binaan tersebut. Terdapat penyuluhan, diskusi dan rapat-rapat yang dilakukan oleh para anggota kelompok binaan dengan pihak-pihak pembina.
  • Kelompok Tugas. Adanya tugas kepada para anggota kelompok untuk meningkatkan hasil pertanian mereka dan tidak menanam ganja lagi.
  • Kelompok Co-acting group. masing-masing anggotanya dapat bertindak sendiri, tapi semua mengarah pada tercapainya tujuan kelompok (bersama). Meningkatkan pendapatan dari hasil pertanian dengan cara yang legal dan tidak berlawanan dengan hukum seperti bertanam tanaman ganja. Sebagai sumber dan alternatif pendapatan yang legal dan sebagai alternatif tanaman pengganti ganja.

Artikel 5

Hidup Sehat dengan Beras Sehat

  • Kelompok formal. Struktur keanggotaannya formal karena pembagian tugas yang jelas. Pertemuan yang dilakukan pun bersifat formal.
  • Kelompok primer. Hubungan antaranggota sangat akrab karena kelompok ini berasal dari satu desa yang berdasarkan hubungan kekeluargaan.
  • Outgroup. Adanya kerjasama dengan pihak luar khususnya, USAID sehingga beras yang dihasilkan berkualitas baik dan sehat.
  • Kelompok rujukan. Tujuan yang diwujudkan secara bersama yakni, mencapai lingkungan yang bersih dari pestisida dan memperoleh beras organik membuat tolak ukur dari anggota tersebut.
  • Kelompok tugas. Adanya pembagian tugas secara merata terhadap masing-masing anggota merupakan hal yang diperlukan untuk mencapai kemandirian kelompok tani tersebut.
  • Kelompok perspektif. Kelompok tani ini memulai tugasnya dengan pembagian tugas secara bersamaan dan pertanggungjawaban yang diberikan merupakan hak setiap anggota.
  • Interaction group. Kelompok binaan ini merupakan interaksi antaranggota yang dimulai dari masyarakat petani. Hal ini menyebabkan keinginan yang kuat untuk memperoleh beras yang sehat.

Daftar Pustaka

Arifin Anwar. 1984. Strategi Komunikasi: Suatu Pengantar Ringkas Bandung: Armico.

Balai Penelitian Sereal. 2004. Industri Benih Jagung Berbasis Komunal http://balitsereal.litbang.deptan.go.id/eng//index.php?option=com_content&task=view&id=49&Itemid=137. NTB

Balai Penelitian Hortikultura. 2011. Kawasan Hortikultura Tumohon. http://www.hortikultura.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=261&Itemid=1. Tomohon

Balai Penelitian Hortikultura. 2010. Manfaat Dan Dampak Pelaksanaan Alternative Development Di Bumi Serambi Mekah. Aceh. http://www.hortikultura.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=245&Itemid=1

Badan Informasi Daerah Jogjakarta. 2007. http://mediainfokota.jogjakota.go.id/detail.php?berita_id=23. Jogjakarta

Jalaludin Rakhmat. 1994. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Wiryanto. 2005. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia

Lampiran

Artikel 1

Kelompok Penangkar Binaan Industri Benih Jagung Berbasis Komunal

Dalam kaitannya dengan penyebarluasan teknologi hasil penelitian utamanya varietas, dan agar teknologi tersebut dapat diterapkan di lahan petani maka ketersediaan benih di tingkat petani mutlak diperlukan. Ketersediaan benih di tingkat petani ini penting agar petani dapat mengakses benih berkualitas setiap saat dengan harga terjangkau. Menyadari hal tersebut, Balitsereal telah melakukan pembinaan penangkar benih di tingkat petani sejak 2004 di Nusa Tenggara Barat. Pembinaan penangkar ini dilakukan setelah diketahui melalui temu lapang sebelumnya bahwa petani berminat untuk mengembangkan varietas Lamuru. Untuk memfasilitasi ketersediaan benih, dilaksanakan kegiatan penang-karan benih berbasis komunal atas kesepakatan kelompok tani dengan para peneliti dan penyuluh serta tokoh masyarakat untuk mempercepat pengembangan varietas Lamuru. Penangkaran benih dilaksanakan di Desa Sambelia, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur. Dalam kegiatan ini Balitsereal juga bekerjasama dengan BPTP NTB, Dinas Pertanian, BBI/BBU, dan BPSB.

Artikel 2

Kelompok Binaan TP PKK Kelurahan Gedongkiwo Kecamatan Mantrijeron

Kreatifitas ibu-ibu PKK Kelurahan Gedongkiwo patut diacungi jempol. Betapa tidak, ditengah himpitan harga bahan pangan semakin merangkak naik, mereka dapat berperan serta dalam mencegah dan menanggulangi masalah pangan. Banyaknya limbah tahu disekitar mereka yang sebelumnya hanya diberikan pada ternak bahkan hanya terbuang sia-sia, kini dimanfaatkan untuk meningkatkan kemandirian rumah tangga dalam mewujudkan ketahanan pangan. Limbah tahu ditangan ibu-ibu PKK ini ternyata bisa disulap menjadi berbagai bahan pangan bernilai ekonomis. Limbah padat tahu diolah menjadi nugget dan kue kering, sedang limbah cair tahu diolah menjadi nata de soya. Di Kelurahan Gedongkiwo ada sekitar 30 orang pengrajin tahu, tempe dan susu kedelai, yang menyerap 100 orang tenaga kerja. Mereka terdapat di sepanjang sungai Winongo yaitu di RW 12, 14 dan 15. Sedangkan sentra industri rumah tangga limbah tahu terdapat di RW 17.  Kelompok pengrajin dan industri rumah tangga ini telah  mendapatkan bimbingan dari BPPT ( Badan Pengembangan Teknologi Pertanian ) Departemen Pertanian. Khusus pengolahan limbah tahu dan tanaman hias telah menjadi program percontohan Prima Tani (Program Rintisan Akselerasi Teknologi Pertanian) dari BPPT. Menurut Ketua TP PKK Kelurahan Gedongkiwo Dra Riyanti Sujoko, Selain produk unggulan tahu dan limbah tahu, Kelompok binaannya mempunyai produk unggulan lain yang dihasilkan yaitu tanaman hias/toga, pembibitan lobster, kripik bonggol pisang, kripik daun singkong dan pupuk dari limbah sampah. Saat ini TP PKK Gedongkiwo kerjasama dengan BPTP juga sedang mengembangkan pembuatan kembang tahu.

Artikel 3

Tumohon Kawasan Hortikultura

Selama ini Kota Tomohon dikenal sebagai kota Bunga, ini didukung penuh oleh Pemda dan masyarakatpun antusias melakoninya, bahkan untuk menyemarakkan hal tersebut telah ditetapkan pelaksanaan Tomohon Flower Festival yang merupakan agenda secara berkala setiap tahun, pada tahun ini akan dilaksanakan di akhir Juli 2010.  Dalam pembangunan pertanian, Pemda Tomohon sebenarnya telah mengaisikasikan daerahnya berdasarkan potensi pengembangan komoditas dan agrekosistem, yaitu Tomohon Utara sebagai sentra bunga, Tomohon Timur sebagai sentra sayuran yang bersambungan dengan daerah Minahasa, sementara bagian barat dan selatan merupakan daerah kehutanan dan tanaman pangan.
Selain terkenal dengan bunganya dan sebagaimana telah ditetapkan melalui Perda No 7/2008 sebagai Kota Bunga. Namun disamping itu secara turun temurun sebenarnya Tomohon juga sebagai sentra sayuran andalan di Sulawesi Utara, khususnya sayuran daun dan sayuran dataran tinggi.  Karenanya tidak salah Kunker Spesifik DPR RI datang kesini untuk mendapatkan gambaran kawasan hortikultura secara komprehensif.

Artikel 4

Manfaat Dan Dampak Pelaksanaan Alternative Development Di Bumi Serambi Mekah

Program Alternative Development dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai institusi dan elemen masyarakat dalam rangka memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kegiatan ekonominya sebagai alternatif solusi pengganti ketergantungan pada tanaman ganja. Desa Mahaeng (kabupaten Aceh Besar) sebagai desa binaan yang di kembangkan sebagai agrowisata untuk pemberdayaan masyarakat eks petani penanam ganja dengan pengembangan peternakan (domba), sayuran, tanaman pangan dan perikanan. Di kecamatan Lamteba, program Alternative Development telah dilaksanakan oleh dua kelompok tani (mencakup 52 orang petani). Kegiatan yang dibiayai melalui pendanan dari Ditjen Hortikultura hanya seluas 40 Ha pada dua kelompok tani, namun dewasa ini areal tersebut telah membesar, menjadi 100 Ha sebagai aktivitas masyarakat secara swadaya.

Artikel 5

Beras Sehat dengan Hidup Sehat

Untuk menghasilkan produk beras sehat, yang bebas dari residu pestisida kimia sintetis, dibutuhkan kualitas lingkungan yang baik dan cara berbudidaya yang ramah lingkungan. Proses untuk mewujudkan prasyarat tersebut membutuhkan waktu dan keseriusan dalam menjalankannya. Lembaga Pertanian Sehat (LPS) sejak tahun 1999 telah melakukan beberapa upaya untuk ikut serta mewujudkan pertanian sehat ramah lingkungan tersebut.

Dedikasi LPS untuk menghasilkan pertanian yang ramah lingkungan direalisasikan dalam dua bentuk program: Pertama, Program Pengembangan Pertanian Sehat yang menghasilkan teknologi budidaya pertanian sehat dan sarana produksi pertanian ramah lingkungan. Kedua, Program Pemberdayaan Petani Sehat yang menghasilkan puluhan Kelompok Tani, pejuang pertanian ramah lingkungan.

DOWNLOAD ANALISIS KELOMPOK BINAAN DEPARTEMEN PERTANIAN!!!