ANALISIS KELOMPOK BINAAN DEPARTEMEN PERTANIAN

*Download file terlampir di bawah psting ini!!

Mata kuliah: Komunikasi Kelompok           Hari/ Tanggal: Jumat/ 4 Maret 2011

KPM (212)                                         Praktikum ke-: 2

Kelompok 3:

Lutfi Afifah (A34070039)

Yolanda (D24080040)

Liza Nur Aziza (D24080089)

Siska Maryana Dewi (G54070006)

Indira Indraswari (G84070029)

Risqiana Dewi (G84070048)

“ANALISIS KELOMPOK BINAAN DEPARTEMEN PERTANIAN”

Pengertian Komunikasi Kelompok:

  1. Komunikasi yang berlangsung antara bebera orang dalam suatu kelompok “kecil” dalam suatu rapat, pertemuan, konferensi, dan sebagainya (Arifin 1994)
  2. Interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih dengan tujuan yang telah diketahui seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah  yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota yang lain secara tepat.

Kedua difinisi komunikasi kelompok diatas mempunyai kesamaan yakni adanya komunikasi tatap muka dan memiliki susunan rencana kerja tertentu untuk mencapai tujuan kelompok. Michael Burgoon (Wiryanto 2005)

Berikut ini terdapat 7 klasifikasi kelompok:

a. Kelompok Formal-Informal

  • Kelompok formal dalam struktur keanggotaannya serba formal dan tidak fleksibel.
  • Kelompok informal dalam strukturnya sangat fleksibel, sehingga mudah untuk keluar masuk menjadi anggotanya.

b. Kelompok Primer-Sekunder (Charles Horton Cooley pada tahun 1990 dalam Jalaludin Rakhmat, 1995)

  • Kelompok primer adalah suatu kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan akrab, personal, dan menyentuh hati dalam asosiasi dan kerjasama.
  • Kelompok sekunder adalah kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan tidak akrab, tidak personal, dan tidak menyentuh hati kita.  Perbedaan antara keduanya:

Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas. Dalam artinya menembus kepribadian kita yang paling tersembunyi., menyingkap unsure- unsur backstage (pelaku yang kita tampakkan dalam suasuana privat saja). Meluas, artinya sedikit sekali kendala yang menentukan rentangan dan cara berkomunikasi. Pada kelompok sekunder komunikasi bersifat dangkal dan terbatas.

  • Komuikasi pada keompok primer bersifat personal, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal.
  • Komunikasi kelompok primer lebih menekankan aspek hubungan daripada aspek isi, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal.
  • Komunikasi kelompok primer lebih menekaknkan aspek hubungan daripada aspek isi, sedangkan kelompok primer adalah sebaliknya.
  • Komunikasi kelompok primer cenderung ekspresif, sedangkan kelompok sekunder instrumental.
  • Komunikasi kelompok primer cenderung informal, sedangkan kelompok sekunder formal.
  • c. Kelompok Ingroup-Outgroup

Ingroup adalah kelompok kita dan outgroup adalah kelompok mereka. Ingroup dapat berupa kelompok primer dan sekunder. Secara lebih jelas In-group adalah komunikasi antar individu di dalam kelompok, baik secara vertikal maupun horizontal, baik secara informal, non formal dan formal. Out-group adalah komunikasi individu atau kelompok dengan luar kelompok, baik dengan individu,  kelompok dan massa.

Keluarga adalah ingroup-kelompok primer, jurusan adalah ingroup yang kelopok sekuder. Perasaan ingroup diungkapkan dengan kesetiaan, solidaritas, kesenangan, dan kerjasama. Untuk membedakan ingroup dan outgroup, kita membuat batas (siapa yang mamsuk orang dalam dan luar), bias berupa: geografis, suu bangsa, bahasa, status sosisal. Dengan semangat ke”kita”an, ingroup akan merasa terikat. Semangat ini lazim disebut kohesi kelompok.

d. Kelompok Keanggotaan-Rujukan

Theodore Newcomb (1930) melahirkan istilah kelompok keanggotaan (membership group) dan kelompok rujukan (reference group).

  • Kelompok keanggotaan adalah kelompok yang anggota-anggotanya secara administrative dan fisik menjadi anggota kelompok itu.
  • Kelompok rujukan adalah kelompok yang digunakan sebagai alat ukur untuk menilai diri sendiri atau untuk membentuk sikap. Kelompok rujukan mempunyai tiga fungsi: fungsi komparatif, fungsi normative, dan fugsi perspektif.
  • e. Kelompok Tugas-Sosial

Kelompok tugas bertujuan memecahkan masalah selain itu ada tugas tertentu yang harus dikerjakan bersama. Sedangkan kelompok social tugasnya adalah untuk kesenangan kelompok.

f. Kelompok Deskriptif-Prespektif

  • Kelompok deskriptif menunjukkan klasifikasi kelompok dengan melihat proses pembentukannya secara alamiah. Berdasarkan tujuan, ukuran, dan pola komunikasi, kelompok deskriptif dibedakan menjadi tiga: a. kelompok tugas; b. kelompok pertemuan; dan c. kelompok penyadar.
  • Kelompok prespektif mengacu pada langkah-langkah yang harus ditempuh anggota kelompok dalam mencapai tujuan kelompok. Terdapat enam format kelompok prespektif, yaitu: diskusi meja bundar, symposium, diskusi panel, forum, kolukium dan parlementer.

g. Kelompok Interacting-Coating-Counteracting

  • Interacting group: setiap anggota harus bekerjasama dengan anggota lainya agar dapat mencapai tujuan-tujuan kelompok.
  • Co-acting group: masing-masing anggotanya dapat bertindak sendiri, tapi semua mengarah pada tercapainya tujuan kelompok (bersama)
  • Counter-Acting group: kelompok terbelah karena masing-masing mempunyai tuuan berbeda/ berlawanan/ bersaing. Dalam hal ini tiap kelompok bersaing untuk mendapatkan yang terbaik.

Hasil Analisis Kelompok Binaan Departemen Pertanian

Artikel 1

Kelompok Penangkar Binaan Industri Benih Jagung Berbasis Komunal

  • Kelompok formal. Dalam struktur keanggotaannya serba formal. Hal ini dapat dilihat dari kelompok penangkar binaan tersebut yang sudah mempunyai struktur yang sangat jelas dan mempunyai pembagian tugas yang sudah terspesialisasi secara baik. Seperti contoh nya sudah ada bagian-bagian atau divisi-divisi dari pratanam sampai pascapanen. Selain itu pertemuan-pertemuan yang dilakukan lebih bersifat formal. Dalam keanggotaan kelompok ini  tidak fleksibel.
  • Kelompok Sekunder.  Dalam kelompok penangkar binaan ini hubungan antar anggotanya cenderung tidak akrab. Hal ini dikarenakan oleh terforsirnya anggota-anggota kelompok binaan tersebut untuk melakukan tugas sesuai target yang telah dibuat diawal kontrak kerja. Hubungan antar anggotanya tidak akrab, tidak personal, dan tidak menyentuh hati antar anggota-anggota dalam kelompok tersebut.
  • Out-group. Dalam kelompok penangkar binaan ini terdapat hubungan di luar kelompok tersebut. Kelompok ini berhubungan dengan banyak pihak dari luar untuk sehingga kelompok binaan penangkar tersebut dapat berhasil dengan baik.
  • Kelompok rujukan.  Dalam kelompok ini digunakan sebagai alat ukur untuk menilai diri sendiri atau untuk membentuk sikap antar anggota-anggota kelompok binaan.
  • Kelompok Tugas. Dalam kelompok ini ada tugas tertentu yang harus dikerjakan bersama untuk mendapatkan hasil terbaik.
  • Kelompok Prespektif. Dalam kelompok ini sering diadakan seperti diskusi panel antar anggota kelompok penangkar binaan. Diskusi panel tersebut membahas segala sesuatu yang berhubungan dengan inovasi baru yang akan dijalankan oleh kelompok tersebut. Dalam hal ini, kelompok tersebut mengacu pada langkah-langkah yang harus ditempuh anggota kelompok dalam mencapai tujuan kelompok.
  • Interacting group.  Setiap anggota dalam kelompok binaan ini bekerja sama dengan anggota lainya agar dapat mencapai tujuan kelompok binaan tersebut. Sehingga semua tujuan dapat terlaksan sesuai target yang telah direncanakan.

Artikel 2

Kelompok Binaan TP PKK Kelurahan Gedongkiwo Kecamatan Mantrijeron

  • Kelompok informal karena struktur kepengurusan dalam kelompok ini dan keangotaannya pun flexible sehingga untuk mudah keluar masuk anggotanya. Pertemuan yang dilakukan pun lebih bersifat secara informal antara ibu-ibu pengurus PKK dan para pekerja nya.
  • Kelompok primer karena dalam TP PKK Kelurahan Gedongkiwo hubungan yang terjalin sangat erat. Hal ini ditunjukkan dengan kreatifitas ibu-ibu PKK yang mengolah limbah padat tahu menjadi nugget dan kue kering dan limbah cair tahu diolah menjadi nata de soya yang data menjadi mata pencaharian masyarakat sekitar dan mendapat bimbngan langsung di bawah departemen pertamian (Badan Pengembangan Teknologi Pertanian).
  • Kelompok in-group, karena kelompok TP PKK Kelurahan Gedongkiwo merupakan kelompok yang keanggotaannya terkait dengan adanya rasa solidaritas yang tinggi antar sesame dan kerjasama untuk dapat mempertahankan kreatifitas mereka.
  • Kelompok keanggotaan, karena anggotanya adalah ibu-ibu seluruh warga desa yang bergabung dalam suatu kepengurusan dan mengembangkan ide untuk pengolahan limbah tahu agar bernilai jual.
  • Kelompok social, karena didalam kelompok TP PKK ini tugas yang diberikan kepada anggotanya bersifat untuk kesenangan walaupun ada pertanggung jawabannya tetapi tugas atau pekerjaan tidak memberikan beban kepada anggotanya.
  • Kelompok Prespektif, karena  Kelompok TP PKK kelurahan Gedongkiwo membagi tugasnya berdasarkan ke kreatifitasan yang dimiliki atau berdasarkan keahlian yang dimiliki untuk dapat mencapai kekreativitasan yang dapat bernilai jual.
  • Kelompok Co-Acting, karena  setiap anggtanya memiliki tugas masing-masing dan pekerja pada bidangnya masing-masing tetapi semuanya mengarah kepada tujuan dari dibentuknya TP PKK  kelurahan gedongkiwo.

Artikel 3

Kawasan Hortikultura Tumohon

  • Kelompok formal . Dalam struktur keanggotaanya formal, karena  kelompok petani  tersebut memiliki ketua dan memilki struktur yang jelas untuk mengembangkan pengembangan agribisnis hortikultura. Seperti contohnya Kelompok ini kelompok tani Gema Agape diketuai oleh Alfred, yang mengebangkan sayuran organik secara terpadu mencakup pengembagan sayuran, ternak kelinci dan produksi pupuk organik cair maupun padat
  • Kelompok Primer karena kelompok ini dalam menguasai dan mengembangkan pasar disarankan agar petani menerapkan perinsip Supply Chain Management, serta berhimpun dalam asosiasi kemudian melakukan kerjasama pemasaran dengan supermarket/hypermarket atau pemasok ke daerah lainnya.
  • Kelompok outgroup, karena kelompok ini berhubungan dengan pihak luar untuk bekerjasama dalam memasarkan produknya ke pemasok-pemasok atau ke supermarket.
  • Kelompok rujukan karena kelompok ini membentuk anggota-anggota binaan yang memilki fungsi perspektif seperti adanya pengaturan pola tanam produksi antar sntra untuk menghindari terjadinya fluktuasi harga.
  • Kelompok Tugas. Kelompok ini mempunyai tugas untuk dikerjakan bersama-sama, contohnya tumohon yang merupakan sebagai kota yang terkenal sebagai kota bunga dan andalan sayuran maka kelompok petani tersebut bekerjasama untuk mengembangkan potensi yang adadi kota tumohon dengan pengembangan dibidang agribisnis.
  • Kelompok Perspektif. Kelompok ini memiliki langkah-langkah yang harus ditempuh dalam mencapai tujuan kelompok yaitu dikembangkannya adalah inventarisasi sertifikasi pupuk organik di daerah sebagai sasaran pemasaran, pengaturan pola tanam produksi antar sentra sehingga menghindari terjadinya fluktuasi harga, promosi intensif produk sayuran organik dari Rurukan sehingga dapat menjadi trade mark tersendiri.
  • Kelompok interacting group, karena setiap anggota harus bekerjasama dengan anggota lainnya untuk mencapai tujuan-tujuan dari kelompok tersebut. Seperti contohnya berhimpun dalam asosiasi untuk memasarkan produk.

Artikel 4

Manfaat Dan Dampak Pelaksanaan Alternative Development Di Bumi Serambi Mekah

  • Kelompok formal. Telah terdapat struktur keanggotaan dalam kelompok binaan tersebut. Kelompok tersebut juga dibina secara aktif oleh bebepa pihak yaitu tim dari Ditjen Hortikultura, pejabat BNN, Pemda Provinsi Aceh, dan Yayasan Sambino.
  • Kelompok sekunder. Dalam kelompok tersebut hubungan antar anggotanya tidak akrab dan tidak personal. Adanya target-target tertentu yang harus dicapai masing-masing petani. Taerget tersebut dilakukan masing-masing petani, dan tidak bergantung pada anggota lainnya.
  • Kelompok out-group. Adanya hubungan dengan berbagai pihak luar. Perasaan kelompok ini tidak diungkapkan dengan kesetiaan, solidaritas, kesenangan, dan kerjasama
  • Kelompok Rujukan. digunakan sebagai alat ukur untuk menilali diri sndriri atau untuk membentuk sikap.
  • Kelompok Prespektif. Adanya langkah-langkah yang dilakukan berbagai pihak agar tercapainya tujuan kelompok binaan tersebut. Terdapat penyuluhan, diskusi dan rapat-rapat yang dilakukan oleh para anggota kelompok binaan dengan pihak-pihak pembina.
  • Kelompok Tugas. Adanya tugas kepada para anggota kelompok untuk meningkatkan hasil pertanian mereka dan tidak menanam ganja lagi.
  • Kelompok Co-acting group. masing-masing anggotanya dapat bertindak sendiri, tapi semua mengarah pada tercapainya tujuan kelompok (bersama). Meningkatkan pendapatan dari hasil pertanian dengan cara yang legal dan tidak berlawanan dengan hukum seperti bertanam tanaman ganja. Sebagai sumber dan alternatif pendapatan yang legal dan sebagai alternatif tanaman pengganti ganja.

Artikel 5

Hidup Sehat dengan Beras Sehat

  • Kelompok formal. Struktur keanggotaannya formal karena pembagian tugas yang jelas. Pertemuan yang dilakukan pun bersifat formal.
  • Kelompok primer. Hubungan antaranggota sangat akrab karena kelompok ini berasal dari satu desa yang berdasarkan hubungan kekeluargaan.
  • Outgroup. Adanya kerjasama dengan pihak luar khususnya, USAID sehingga beras yang dihasilkan berkualitas baik dan sehat.
  • Kelompok rujukan. Tujuan yang diwujudkan secara bersama yakni, mencapai lingkungan yang bersih dari pestisida dan memperoleh beras organik membuat tolak ukur dari anggota tersebut.
  • Kelompok tugas. Adanya pembagian tugas secara merata terhadap masing-masing anggota merupakan hal yang diperlukan untuk mencapai kemandirian kelompok tani tersebut.
  • Kelompok perspektif. Kelompok tani ini memulai tugasnya dengan pembagian tugas secara bersamaan dan pertanggungjawaban yang diberikan merupakan hak setiap anggota.
  • Interaction group. Kelompok binaan ini merupakan interaksi antaranggota yang dimulai dari masyarakat petani. Hal ini menyebabkan keinginan yang kuat untuk memperoleh beras yang sehat.

Daftar Pustaka

Arifin Anwar. 1984. Strategi Komunikasi: Suatu Pengantar Ringkas Bandung: Armico.

Balai Penelitian Sereal. 2004. Industri Benih Jagung Berbasis Komunal http://balitsereal.litbang.deptan.go.id/eng//index.php?option=com_content&task=view&id=49&Itemid=137. NTB

Balai Penelitian Hortikultura. 2011. Kawasan Hortikultura Tumohon. http://www.hortikultura.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=261&Itemid=1. Tomohon

Balai Penelitian Hortikultura. 2010. Manfaat Dan Dampak Pelaksanaan Alternative Development Di Bumi Serambi Mekah. Aceh. http://www.hortikultura.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=245&Itemid=1

Badan Informasi Daerah Jogjakarta. 2007. http://mediainfokota.jogjakota.go.id/detail.php?berita_id=23. Jogjakarta

Jalaludin Rakhmat. 1994. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Wiryanto. 2005. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia

Lampiran

Artikel 1

Kelompok Penangkar Binaan Industri Benih Jagung Berbasis Komunal

Dalam kaitannya dengan penyebarluasan teknologi hasil penelitian utamanya varietas, dan agar teknologi tersebut dapat diterapkan di lahan petani maka ketersediaan benih di tingkat petani mutlak diperlukan. Ketersediaan benih di tingkat petani ini penting agar petani dapat mengakses benih berkualitas setiap saat dengan harga terjangkau. Menyadari hal tersebut, Balitsereal telah melakukan pembinaan penangkar benih di tingkat petani sejak 2004 di Nusa Tenggara Barat. Pembinaan penangkar ini dilakukan setelah diketahui melalui temu lapang sebelumnya bahwa petani berminat untuk mengembangkan varietas Lamuru. Untuk memfasilitasi ketersediaan benih, dilaksanakan kegiatan penang-karan benih berbasis komunal atas kesepakatan kelompok tani dengan para peneliti dan penyuluh serta tokoh masyarakat untuk mempercepat pengembangan varietas Lamuru. Penangkaran benih dilaksanakan di Desa Sambelia, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur. Dalam kegiatan ini Balitsereal juga bekerjasama dengan BPTP NTB, Dinas Pertanian, BBI/BBU, dan BPSB.

Artikel 2

Kelompok Binaan TP PKK Kelurahan Gedongkiwo Kecamatan Mantrijeron

Kreatifitas ibu-ibu PKK Kelurahan Gedongkiwo patut diacungi jempol. Betapa tidak, ditengah himpitan harga bahan pangan semakin merangkak naik, mereka dapat berperan serta dalam mencegah dan menanggulangi masalah pangan. Banyaknya limbah tahu disekitar mereka yang sebelumnya hanya diberikan pada ternak bahkan hanya terbuang sia-sia, kini dimanfaatkan untuk meningkatkan kemandirian rumah tangga dalam mewujudkan ketahanan pangan. Limbah tahu ditangan ibu-ibu PKK ini ternyata bisa disulap menjadi berbagai bahan pangan bernilai ekonomis. Limbah padat tahu diolah menjadi nugget dan kue kering, sedang limbah cair tahu diolah menjadi nata de soya. Di Kelurahan Gedongkiwo ada sekitar 30 orang pengrajin tahu, tempe dan susu kedelai, yang menyerap 100 orang tenaga kerja. Mereka terdapat di sepanjang sungai Winongo yaitu di RW 12, 14 dan 15. Sedangkan sentra industri rumah tangga limbah tahu terdapat di RW 17.  Kelompok pengrajin dan industri rumah tangga ini telah  mendapatkan bimbingan dari BPPT ( Badan Pengembangan Teknologi Pertanian ) Departemen Pertanian. Khusus pengolahan limbah tahu dan tanaman hias telah menjadi program percontohan Prima Tani (Program Rintisan Akselerasi Teknologi Pertanian) dari BPPT. Menurut Ketua TP PKK Kelurahan Gedongkiwo Dra Riyanti Sujoko, Selain produk unggulan tahu dan limbah tahu, Kelompok binaannya mempunyai produk unggulan lain yang dihasilkan yaitu tanaman hias/toga, pembibitan lobster, kripik bonggol pisang, kripik daun singkong dan pupuk dari limbah sampah. Saat ini TP PKK Gedongkiwo kerjasama dengan BPTP juga sedang mengembangkan pembuatan kembang tahu.

Artikel 3

Tumohon Kawasan Hortikultura

Selama ini Kota Tomohon dikenal sebagai kota Bunga, ini didukung penuh oleh Pemda dan masyarakatpun antusias melakoninya, bahkan untuk menyemarakkan hal tersebut telah ditetapkan pelaksanaan Tomohon Flower Festival yang merupakan agenda secara berkala setiap tahun, pada tahun ini akan dilaksanakan di akhir Juli 2010.  Dalam pembangunan pertanian, Pemda Tomohon sebenarnya telah mengaisikasikan daerahnya berdasarkan potensi pengembangan komoditas dan agrekosistem, yaitu Tomohon Utara sebagai sentra bunga, Tomohon Timur sebagai sentra sayuran yang bersambungan dengan daerah Minahasa, sementara bagian barat dan selatan merupakan daerah kehutanan dan tanaman pangan.
Selain terkenal dengan bunganya dan sebagaimana telah ditetapkan melalui Perda No 7/2008 sebagai Kota Bunga. Namun disamping itu secara turun temurun sebenarnya Tomohon juga sebagai sentra sayuran andalan di Sulawesi Utara, khususnya sayuran daun dan sayuran dataran tinggi.  Karenanya tidak salah Kunker Spesifik DPR RI datang kesini untuk mendapatkan gambaran kawasan hortikultura secara komprehensif.

Artikel 4

Manfaat Dan Dampak Pelaksanaan Alternative Development Di Bumi Serambi Mekah

Program Alternative Development dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai institusi dan elemen masyarakat dalam rangka memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kegiatan ekonominya sebagai alternatif solusi pengganti ketergantungan pada tanaman ganja. Desa Mahaeng (kabupaten Aceh Besar) sebagai desa binaan yang di kembangkan sebagai agrowisata untuk pemberdayaan masyarakat eks petani penanam ganja dengan pengembangan peternakan (domba), sayuran, tanaman pangan dan perikanan. Di kecamatan Lamteba, program Alternative Development telah dilaksanakan oleh dua kelompok tani (mencakup 52 orang petani). Kegiatan yang dibiayai melalui pendanan dari Ditjen Hortikultura hanya seluas 40 Ha pada dua kelompok tani, namun dewasa ini areal tersebut telah membesar, menjadi 100 Ha sebagai aktivitas masyarakat secara swadaya.

Artikel 5

Beras Sehat dengan Hidup Sehat

Untuk menghasilkan produk beras sehat, yang bebas dari residu pestisida kimia sintetis, dibutuhkan kualitas lingkungan yang baik dan cara berbudidaya yang ramah lingkungan. Proses untuk mewujudkan prasyarat tersebut membutuhkan waktu dan keseriusan dalam menjalankannya. Lembaga Pertanian Sehat (LPS) sejak tahun 1999 telah melakukan beberapa upaya untuk ikut serta mewujudkan pertanian sehat ramah lingkungan tersebut.

Dedikasi LPS untuk menghasilkan pertanian yang ramah lingkungan direalisasikan dalam dua bentuk program: Pertama, Program Pengembangan Pertanian Sehat yang menghasilkan teknologi budidaya pertanian sehat dan sarana produksi pertanian ramah lingkungan. Kedua, Program Pemberdayaan Petani Sehat yang menghasilkan puluhan Kelompok Tani, pejuang pertanian ramah lingkungan.

DOWNLOAD ANALISIS KELOMPOK BINAAN DEPARTEMEN PERTANIAN!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s