ANALISIS KELOMPOK AMATAN INTRAKURIKULER DAN EKSTRAKURIKULER DI IPB

 

KOMUNIKASI KELOMPOK (KPM 212)

ANALISIS KELOMPOK AMATAN INTRAKURIKULER

DAN EKSTRAKURIKULER DI IPB


Lutfi Afifah                A34070039

Yolanda                     D24080040

Liza Nur Aziza          D24080089

Siska Maryana D.     G54070006

Indira Indraswari      G84070029

Risqiana Dewi           G84070048

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah berjudul Analisis Kelompok Amatan Intrakurikuler (Unit Konservasi Fauna) dan Ekstrakurikuler (Onigiri) di IPB . Shalawat serta salam penulis haturkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia ke era penuh dengan kemajuan dan ilmu pengetahuan. Ucapan terima kasih penulis haturkan kepada para dosen mata kuliah Komunikasi Kelompok, asisten praktikum mata kuliah Komunikasi Kelompok ( Auliyaul Hafizhoh), rekan-rekan dari Unit Konservasi Fauna dan Onigiri, serta temen-teman yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.

Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Komunikasi Kelompok, Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, sehingga penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk makalah ini. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih.

Bogor, 16 Maret 2011

Penulis

PENDAHULUAN

Proses Terbentuknya Kelompok:

  • Adanya kesadaran individu akan keterbatasan kemampuan diri untuk memenuhi segala kebutuhan keinginannya untuk mencapai segala yang diinginkannya.
  • Adanya kesadaran individu tentang adanya kesamaan antara kebutuhan dan keinginannya dengan kebutuhan dan keinginan individu lain.
  • Adanya pengertian individu bahwa kemampuan individu-individu bila digabungkan akan lebih besar dibandingkan kemampuan individu secara sendiri.
  • Adanya kebutuhan individu untuk berbagi rasa, pengetahuan, dan pengalaman dengan individu lain.
  • Adanya dorongan individu untuk bersama dengan individu lain, karena mereka adalah makhluk sosial.

Klasifikasi kelompok:

a. Kelompok Formal-Informal

  • Kelompok formal dalam struktur keanggotaannya serba formal dan tidak fleksibel.
  • Kelompok informal dalam strukturnya sangat fleksibel, sehingga mudah untuk keluar masuk menjadi anggotanya.

b. Kelompok Primer-Sekunder (Charles Horton Cooley pada tahun 1990 dalam Jalaludin Rakhmat, 1995)

  • Kelompok primer adalah suatu kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan akrab, personal, dan menyentuh hati dalam asosiasi dan kerjasama.
  • Kelompok sekunder adalah kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan tidak akrab, tidak personal, dan tidak menyentuh hati kita.

Perbedaan antara keduanya:

Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas. Dalam artinya menembus kepribadian kita yang paling tersembunyi., menyingkap unsure- unsur backstage (pelaku yang kita tampakkan dalam suasuana privat saja). Meluas, artinya sedikit sekali kendala yang menentukan rentangan dan cara berkomunikasi. Pada kelompok sekunder komunikasi bersifat dangkal dan terbatas.

  • Komunikasi pada keompok primer bersifat personal, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal.
  • Komunikasi kelompok primer lebih menekankan aspek hubungan daripada aspek isi, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal.
  • Komunikasi kelompok primer lebih menekankan aspek hubungan daripada aspek isi, sedangkan kelompok primer adalah sebaliknya.
  • Komunikasi kelompok primer cenderung ekspresif, sedangkan kelompok sekunder instrumental.
  • Komunikasi kelompok primer cenderung informal, sedangkan kelompok sekunder formal.
  • c. Kelompok Ingroup-Outgroup

Ingroup adalah kelompok kita dan outgroup adalah kelompok mereka. Ingroup dapat berupa kelompok primer dan sekunder. Secara lebih jelas In-group adalah komunikasi antar individu di dalam kelompok, baik secara vertikal maupun horizontal, baik secara informal, non formal dan formal. Out-group adalah komunikasi individu atau kelompok dengan luar kelompok, baik dengan individu,  kelompok dan massa.

Keluarga adalah ingroup-kelompok primer, jurusan adalah ingroup yang kelopok sekuder. Perasaan ingroup diungkapkan dengan kesetiaan, solidaritas, kesenangan, dan kerjasama. Untuk membedakan ingroup dan outgroup, kita membuat batas (siapa yang mamsuk orang dalam dan luar), bias berupa: geografis, suu bangsa, bahasa, status sosisal. Dengan semangat ke”kita”an, ingroup akan merasa terikat. Semangat ini lazim disebut kohesi kelompok.

d. Kelompok Keanggotaan-Rujukan

Theodore Newcomb (1930) melahirkan istilah kelompok keanggotaan (membership group) dan kelompok rujukan (reference group).

  • Kelompok keanggotaan adalah kelompok yang anggota-anggotanya secara administrative dan fisik menjadi anggota kelompok itu.
  • Kelompok rujukan adalah kelompok yang digunakan sebagai alat ukur untuk menilai diri sendiri atau untuk membentuk sikap. Kelompok rujukan mempunyai tiga fungsi: fungsi komparatif, fungsi normative, dan fugsi perspektif.

e. Kelompok Tugas-Sosial

Kelompok tugas bertujuan memecahkan masalah selain itu ada tugas tertentu yang harus dikerjakan bersama. Sedangkan kelompok social tugasnya adalah untuk kesenangan kelompok.

f. Kelompok Deskriptif-Prespektif

  • Kelompok deskriptif menunjukkan klasifikasi kelompok dengan melihat proses pembentukannya secara alamiah. Berdasarkan tujuan, ukuran, dan pola komunikasi, kelompok deskriptif dibedakan menjadi tiga: a. kelompok tugas; b. kelompok pertemuan; dan c. kelompok penyadar.
  • Kelompok prespektif mengacu pada langkah-langkah yang harus ditempuh anggota kelompok dalam mencapai tujuan kelompok. Terdapat enam format kelompok prespektif, yaitu: diskusi meja bundar, symposium, diskusi panel, forum, kolukium dan parlementer.

g. Kelompok Interacting-Coating-Counteracting

  • Interacting group: setiap anggota harus bekerjasama dengan anggota lainya agar dapat mencapai tujuan-tujuan kelompok.
  • Co-acting group: masing-masing anggotanya dapat bertindak sendiri, tapi semua mengarah pada tercapainya tujuan kelompok (bersama)
  • Counter-Acting group: kelompok terbelah karena masing-masing mempunyai tuuan berbeda/ berlawanan/ bersaing. Dalam hal ini tiap kelompok bersaing untuk mendapatkan yang terbaik.

Tahap-tahap Pembentukan Kelompok:

Model pembentukan suatu kelompok pertama kali diajukan oleh Bruce Tackman (1965). Teori ini dikenal sebagai salah satu teori pembentukan kelompok yang terbaik dan menghasilkan banyak ide-ide lain setelah kosep ini dicetuskan.

1. Tahap 1 – Forming (Perencanaan/Persiapan)

Pada tahap ini kelompok baru saja dibentuk dan diberikan tugas. Anggota kelompok cenderung untuk bekerja sendiri dan walaupun memiliki itikad baik namun mereka belum saling mengenal dan belum saling percaya. Tahap ini merupakan tahap awal pembentukan kelompok dimana para anggota baru setuju dengan kode etik dan sasaran tim.

2. Tahap 2 – Storming (Membentuk Kekuatan)

Kelompok mulai mengembangkan ide-ide berhubungan dengan tugas-tugas yang mereka hadapi. Mereka membahas isu-isu semacam masalah yang harus mereka selesaikan. Anggota kelompok saling terbuka dan mengkonfrontasi ide-ide dan perspektif mereka masing-masing. Pada beberapa kasus, tahap storming cepat selesai. Namun ada pula yang terhambat pada tahap ini. Tahap ini merupakan tahap tergoyah dalam pembentukan kelompok. Kelompok mengalami konflik dan menemukan cara-cara untuk tetap fokus

3. Tahap 3 – Norming (Penetapan Aturan dan Nilai-nilai)

Terdapat kesepakatan dan konsensus antara anggota kelompok. Peranan dan tanggung jawab telah jelas. Anggota kelompok mulai dapat mempercayai satu sama lain seiring dengan mereka melihat kontribusi masing-masing anggota untuk kelompok. Pada tahap ini kelompok membuat visi jangka-panjang tentang bagaimana akan berfungsi. Persetujuan ini disebut sebagai nilai-nilai bersama. Norma-norma kelompok adalah aturan tak tertulis tentang perilaku dan tata-krama yang benar

4. Tahap 4 – Performing (Penyempurnaan/Penunjukan Kinerja)

Kelompok dalam tahap ini dapat menyelesaikan pekerjaan dengan lancar dan efektif tanpa ada konflik yang tidak perlu dan supervisi eksternal. Anggota kelompok saling bergantung satu sama lainnya dan mereka saling respect dalam berkomunikasi. Tahap ini ditandai dengan saling ketergantungan dalam hub personal  dan pemecahan masalah dalam bidang fungsi tugas. Fungsi-fungsi tugas  menjadi sejati dalam pemecahan masalah, memimpin dengan solusi yang optimal & pembentukan kelompok yang optimum. Hal ini merupakan dukungan untuk mencoba pemecahan masalah & memperhatikan suatu kemajuan.

5. Tahap 5 – Adjourning (Pembubaran)

Tahap dimana proyek berakhir dan kelompok membubarkan diri. Kelompok bisa saja kembali pada tahap mana pun ketika mereka mengalami perubahan.

KELOMPOK AMATAN

a) Kelompok Amatan Intrakurikuler IPB “Uni Konservasi Fauna (UKF)”

Sejarah dan Latar belakang

Uni Konservasi Fauna (UKF) merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa di Institut Pertanian Bogor yang merupakan wadah bagi Mahasiswa IPB yang memiliki minat pada dunia konservasi fauna. Uni Konservasi Fauna adalah organisasi semi otonom di bawah MPM KM IPB. UKF bersifat kemahasiswaan yang terbuka bagi seluruh elemen mahasiswa IPB maupun masyarakat IPB. Uni Konservasi Fauna yang disingkat UKF, didirikan pada tanggal 10 November 2003 di Kampus IPB Darmaga, Bogor oleh gabungan dua elemen, yaitu mahasiswa dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan (KSHE) dan mahasiswa Biologi. UKF merupakan suatu kolaborasi yang akan meningkatkan pemahaman mengenai pengetahuan konservasi fauna itu sendiri dari berbagai dasar ilmu.

UKF ini didirikan berdasarkan spesies hewan yang melimpah dan menempati berbagai tipe habitat baik di darat maupun di laut yang menunjukkan keragaman fauna Indonesia.  Penelitian yang sudah ada belum mampu menggali semua potensi yang ada, sehingga diperlukan studi lebih lanjut mengenai potensi fauna di Indonesia untuk dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia. Selain itu, UKF memiliki motto yang menjadi landasan nilai moral, intelektual, kekeluargaan, gotong royong, dan toleransi dalam kemajuannya yakni, “Selamatkan Fauna Indonesia…..!!!!” .

Sebelum menjadi organisasi resmi di bawah kelembagaan IPB, organisasi ini merupakan sebuah kelompok kerja dengan prioritas dapat terlibat dalam proses-proses konservasi sumber daya alam hayati, khususnya fauna. Beberapa kegiatan sebelum UKF terbentuk antara lain pendidikan konservasi untuk sekolah dasar di Bogor, pengamatan mamalia di TN Ujung Kulon, dan magang di beberapa taman nasional seperti, TN Ujung Kulon, TN Alas Purwo, TN Meru Betiri, TN Gunung Gede Pangrango, TN Gunung Salak Halimun, TN Kerinci Seblat, dan Way Kambas. Melalui kegiatan tersebut tercipta landasan pemikiran untuk mendirikan organisasi konservasi dengan cakupan bidang kerja konservasi fauna.

Tujuan didirikannya UKM UKF IPB

  1. Menumbuhkan kesadaran dan kepedulian mahasiswa dan masyarakat terhadap kelestarian fauna.
  2. Sarana untuk menyalurkan hobi dan minat mahasiswa terhadap fauna.
  3. Berperan serta dalam usaha-usaha pelestarian fauna.

Menjadikan UKM UKF IPB sebagai kekuatan moral dalam masyarakat konservasi.

Visi dan Misi Uni Konservasi Fauna

Visi dari UKM UKF IPB adalah menjadi organisasi mahasiswa yang mampu berperan aktif dalam usaha-usaha penyelamatan fauna indonesia. Unutk mewujudkan visi tersebut, UKM UKF IPB mengemban empat misi penting yaitu :

  1. meningkatkan dan memperdalam pengetahuan anggota mengenai konservasi fauna.
  2. menghimpun kekuatan moral dan intelektual dalam usaha-usaha penyelamatan fauna.
  3. memasyarakatkan pentingnya keberadaaan fauna dalam kehidupan umat manusia.
  4. membantu pemerintah, lembaga swadaya masyarakat dan pihak-pihak yang terkait dalam usaha pelestarian fauna.

Landasan dan Asas Uni Konservasi Fauna

Dalam pergerakannya Uni Konservasi Fauna berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta berasaskan :

* Strategi konservasi dunia yaitu :

1.  perlindungan proses-proses ekologis dan sistem penyangga kehidupan

2.  pengawetan keanakaragaman jenis fauna dan ekosistemnya

3.  pemanfaatan jenis fauna dan ekosistemnya secara lestari

* Tri Dharma Perguruan Tinggi

Keanggotaan

Sesuai dengan misi UKF salah satunya meningkatkan dan memperdalam pengetahuan anggota mengenai konservasi sumberdaya alam. Setiap mahasiswa yang menjadi anggota tetap UKF akan mendapatkan pengetahuan konservasi secara berkesinambungan.  Walaupun berwawasan konservasi, UKF membuka peluang kepada seluruh mahasiswa IPB untuk menjadi anggota walaupun sama sekali tidak mengetahui dunia konservasi ataupun dunia fauna.  Sehingga komponen UKF beragam dan diharapkan mampu terlihat aktif dalam usaha-usaha pelestarian fauna.

Keanggotaan dalam UKF terdiri dari :

  1. Anggota Tetap Adalah anggota yang lulus Metamorfosa (DikLatSar) dan aktif mengikuti kegiatan UKF
  2. Anggota partisipatif Adalah Volunteer yang terlibat dalam kegiatan UKF.
  3. Anggota Kekeluargaan Adalah anggota tetap UKF yang telah lulus dari IPB.

Divisi Uni Konservasi Fauna

Dengan luasnya cakupan bidang kerja yang ada maka cakupan bidang kerja UKF diklasifikasikan ke dalam divisi-divisi. Divisi-divisi tersebut yaitu :

  1. Divisi Konservasi Karnivora
  2. Divisi Konservasi Herbivora
  3. Divisi Konservasi Burung
  4. Divisi Konservasi Primata
  5. Divisi Konservasi Reptil
  6. Divisi Konservasi Ex-situ
  7. Divisi Konservasi Fauna Perairan
  8. Divisi Konservasi Insekta

Dengan melibatkan berbagai elemen mahasiswa dalam konservasi fauna, secara tidak langsung UKF telah mengajak generasi penerus bangsa untuk lebih memperdalam konservasi. Dan memungkinkan akan mencetak konservastionis dari berbagai pendidikan dan keahlian.

Pendanaan

Sumber dana UKF dalam melaksanakan Program Kerja yang telah disusun berasal dari :

  1. Iuran wajib bulanan anggota.
  2. Kegiatan Usaha.
  3. Dana Operasional dari IPB.
  4. Sponsor.

Analisis Kelompok Amatan Intrakurikuler Uni Konservasi Fauna:

  • Kelompok informal, karena keanggotaan di UKF bersifat flexible dan siapa pun boleh menjadi anggota UKF tetapi, setiap anggota bertanggung jawab dan melaksanakan tugas yang telah diberikan oleh UKF.
  • Kelompok primer, karena hubungan antara sesama anggota UKF sangat akrab baik antaranggota divisinya ataupun antardivisi dan se-UKF.
  • Kelompok Ingroup, karena uni konservasi fauna merupakan suatu kelompok yang memiliki rasa solidaritas yang tinggi terhadap kecintaanya dengan konservasi baik dalam bidang karnivora, herbivora, burung, primata, reptil, Ex-situ, fauna perairan dan insekta.
  • Kelompok keanggotaan, karena anggota UKF berasal dari berbagai kalangan baik mahasiswa maupun non-mahasiswa yang memiliki suatu kepengurusan dan mempunyai visi dan misi yang sama untuk menyelamatkan fauna di Indonesia.
  • Kelompok sosial, karena dalam UKF tugas yang diberikan setiap divisi kepada anggotanya bersifat untuk kesenangan walaupun ada pertanggungjawabannya, tetapi tugas atau pekerjaan tidak memberikan beban kepada anggotanya.
  • Kelompok Deskriptif, karena UKF merupakan suatu keanggotaan yang sengaja dibentuk untuk dapat menumbuhkan kecintaan terhadap fauna, mengembangkan hobi dan bakat serta pelestarian fauna di Indonesia.
  • Interacting Group, keanggotaan di UKF dikelompokkan menjadi beberapa divisi, terdapat 8 divisi yang mempunyai tugas dan tujuan masing-masing, akan tetapi masing-masing divisi tersebut harus tetap bekerja sama untuk dapat mencapai satu visi dan misi UKF.

Analisis Tahap-Tahap Pembentukan Kelompok:

  • Tahap Forming (perencanaan/ persiapan)

Uni konservasi fauna (UKF) tidak mengalami tahap perencanaan/ persiapan, kelompok ini dibentuk karena adanya kecintaan terhadap fauna yang awalnya merupakan sebuah kelompok kerja dengan prioritas agar bisa terlibat dalam proses-proses konservasi sumber daya alam hayati, khususnya fauna. Kelompok ini merupakan gabungan antara mahasiswa konservasi sumberdaya hutan dan biologi yang mengembangkan hobi dan kecintaan mereka kepada fauna yang ada di Indonesia.

  • Tahap Storming (membentuk kekuatan)

Uni konservasi fauna (UKF) setelah menjadi UKM resmi dibawah IPB mulai memperluas keanggotaanya untuk dapat memperkuat dan memperkokoh keanggotaan dalam UKF sendiri. Walaupun anggotanya berwawasan konservasi, UKF membuka peluang kepada seluruh mahasiswa IPB untuk menjadi anggota walaupun sama sekali tidak mengetahui dunia konservasi ataupun dunia fauna. Komponen UKF yang beragam diharapkan aktif dalam usaha-usaha pelestarian fauna. UKF membentuk berbagai divisi untuk dapat menjangkau semua fauna yang ada di Indonesia dan menjaring minat dan hobi dari masing-masing anggota di setiap divisi tersebut. Melalui divisi-divisi ini pula UKF dapat menyelenggarakan berbagai macam program dan kegiatan untuk dapat melestarikan fauna contohnya, kegiatan UKF untuk pelestarian fauna, Monitoring Macan tutul (Panther pardus) di Bodogol pada Tahun 2009, Menggali Potensi Laut Kepulauan Seribu pada Tahun 2009, dan masih banyak lagi kegiatan UKF yang lainnya.

  • Tahap Norming (penetapan aturan dan nilai-nilai)

Uni konservasi fauna mengalami tahapan norming di dalam pembentukkannya, mereka memiliki kode etik dan berbagai macam aturan yang wajib dipatuhi oleh setiap anggotanya, diantaranya:

1.  Iman dan Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

2.  Menjunjung tinggi nilai-nilai (fitrah) manusia.

3.  Menumbuhkan jiwa militansi dalam merealisasikan visi dan misi organisasi

4.  Memposisikan Sumber Daya Alam hayati (fauna) sebagai titipan Tuhan YME yang harus dilestarikan dan diwariskan.

  • Tahap Performing (Peyempurnaan/ penunjukkan kinerja)

Uni konservasi fauna di dalam menyempurnakan kelompoknya,masing-masing divisi setiap tahunya mengajukan sebuah rancangan kerja yang akan mereka lakukan setahun ke depan, contohnya, Divisi Burung, dalam rencana kerjanya selama 2009/ 2010 memiliki program kerja sebagai berikut:

  1. Monitoring Burung Kampus IPB Darmaga
  2. Sharing Bird of the world (tidak masuk RKAT)
  3. Monitoring SM Muara Angke (Kegiatan Additional)
  4. Bird banding di Kampus IPB Darmaga
  5. Birdwatching at several habitat part II (birding with voice)
  6. 6. Intoduction Bird in Campus

  • Tahap Adjourning (pembubaran)

Pada tahap ini Uni Konservasi Fauna melakukan evaluasi kinerja selama satu tahun kepengurusan dan bersiap untuk laporan pertanggung jawaban atas kinerja yang telah di lakukan selama satu tahun kepengurusan. pada saat sidang laporan petanggung jawaban sekaligus dilakukan pembubaran kepenggurusan tahun tersebut dan bersiap untuk merekrut anggota baru kembali yang ingin bergabung dengan UKF.

b) Kelompok Amatan Ekstrakurikuler IPB “Onigiri”

Profil Onigiri

Onigiri Japan Club, didirikan pada tanggal 8 Oktober 2004 oleh sang pencetus pada saat itu yang bernama Haryo “Wolf” Tedjo (Bio ’41). Pada awal terbentuk Onigiri bernama “Fourth Avenue Cafe” yang terinspirasi dari salah satu lagu dari band terkenal asal Jepang, yaitu L’Arc~en~Ciel (Laruku). Dahulu pada saat pertama membuka stand dipakailah nama “Himaruku” karena stand lainnya memakai nama himpunan profesi masing-masing departemen yang ada di IPB dengan kepanjangan “Himpunan Mahasiswa Pecinta Laruku”. Setahun kemudian “Fourth Avenue Cafe” diganti menjadi nama “Onigiri Japan Club” karena dinilai untuk nama onigiri lebih simple.

Onigiri dibentuk sebagai wadah untuk mereka yang menyukai berbagai budaya maupun sub-budaya, baik berupa tarian Bon Odori, Taiko, Cosplay, J-Pop, J-Rock, Boyband, Dorama, Anime, Manga, Origami, Ichinogami (Paper Craft) dan bidang kesenian lainnya yang berasal dari negeri sakura tersebut. Tidak perlu syarat khusus untuk bergabung di komunitas ini, mereka hanya cukup datang di waktu kumpul yang disepakati dimana sekarang ini hari kumpul rutin adalah hari Rabu jam 7 malam.

Onigiri Japan Club merupakan perkumpulan informal yang ada di IPB. Pada awal terbentuk, ada tawaran untuk menjadi bagian dari UKM MAX, namun para senpai (senior) pada saat itu menolaknya dengan alasan supaya perkumpulan ini memiliki kegiatan yang santai, tidak ingin seperti himpunan formal lainnya yang harus mempunyai acara rutin, laporan pertanggungjawaban, AD/ART dan lain sebagainya. Walaupun Onigiri bukan himpunan yang formal di IPB namun Onigiri mempunyai struktur organisasi dan acara rutin. Ada empat divisi yang terdapat di Onigiri, yaitu divisi minat bakat, divisi humus (hubungan masyarakat dan danus), divisi dota (download dan data), dan divisi hura-hura. Selain ke-empat divisi tersebut ada sub-komunitas dibawah Onigiri yaitu komunitas Igo (catur jepang) dan Rinen Comic Club.

Acara rutin yang diadakan Onigiri antara lain Chibi Matsuri (Mini-Festival), PaperOni (Paper Model Onigiri), Pameran Komik, Cosplay (Costume Play) Street, Bento (Buletin Temporer Onigiri). Acara Jepang yang cukup besar pernah diadakan oleh Onigiri pada tahun 2006 yang menjadi cikal bakal lahirnya Bonenkai, yaitu Japan Music Corner, dan kemudian acara seminar beasiswa Jepang pada tahun 2008 yaitu “One Day Nihon Talk”. Kegiatan rutin internal yang dilakukan selain kumpul adalah Makrab yang diadakan satu tahun sekali, dan kemudian Sikrab, tentunya dengan tujuan mengakrabkan anggota baru, dan memperkenalkannya dengan para senpai.

Ada yang khas di komunitas Jepang ini, yaitu tidak ada senioritas, walaupun berbedea angkatan, angkatan muda dipersilahkan untuk memanggil angkatan atas hanya dengan nama saja, meskipun bedanya sampai 4 angkatan bahkan lebih. Untuk lebih cepat mengakrabkan, mereka yang anggota baru diharapkan untuk “Sok Kenal Sok Dekat” dengan anggota lama atau senpai. Ciri khas lainnya di Onigiri saat kumpul adalah selain sharing hal-hal terkait Jepang, pada saat kumpul, berbincang-bincang sesuatu hal yang ujung-ujungnya adalah OOT (Out Of Topic).

Kelompok Amatan Ekstrakurikuler IPB “Onigiri”:

  • Kelompok Informal. Karena kelompok ini fleksibel, mudah masuk dan keluar. Memiliki kegiatan yang santai, tidak ingin seperti himpunan formal lainnya yang harus mempunyai acara rutin, laporan pertanggungjawaban, AD/ART dan lain sebagainya.
  • Kelompok social. Kelompok ini untuk kesenangan para anggotanya yang memiliki hobi yang sama.
  • Kelompok Primer. Merupakan suatu kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan akrab, personal, dan menyentuh hati dalam asosiasi dan kerjasama. Dan menekankan pada aspek hubungan.
  • Kelompok in-group. Kelompok onigiri merupakan suatu kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan akrab, personal, dan menyentuh hati dalam asosiasi dan kerjasama.
  • Kelompok Rujukan. Onigiri sebagai alat ukur untuk menilai diri sendiri atau untuk membentuk sikap.
  • Kelompok Deskriptif. Onigiri terbentuk secara alamiah, dibentuk sebagai wadah untuk mereka yang menyukai berbagai budaya maupun sub-budaya yang berasal dari Jepang.
  • Interacting Group. Anggota dalam kelompok onigiri bekerjasama dengan anggota lainya agar dapat mencapai tujuan-tujuan kelompok.

Analisis Tahap Pembentukan “Onigiri”:

Tahap 1 – Forming (Perencanaan/Persiapan)

Ongiri adalah kelompok informal yang ada di IPB, mulai dibentuk pada tanggal 8 Oktober 2004 oleh sang pencetus pada saat itu yang bernama Haryo “Wolf” Tedjo (Bio ’41). Pada tahap  Forming atau persiapan ini Onigiri pertama kali terbentuk “bernama Fourth Avenue Cafe” . Namun setahun kemudian berganti nama menjadi “Onigiri Japan Club”. Tugas awal mereka hanya berkumpul rutin setiap hari Rabu jam 7 malam sebagai komunitas Onigiri.

Tahap 2 – Storming (Membentuk Kekuatan)

Pada tahap storming Onigiri Japan Club memiliki struktur yang jelas, ada empat divisi yang terdapat di Onigiri, yaitu divisi minat bakat, divisi humus (hubungan masyarakat dan danus), divisi dota (download dan data), dan divisi hura-hura. Selain ke-empat divisi tersebut ada sub-komunitas dibawah Onigiri yaitu komunitas Igo (catur jepang) dan Rinen Comic Club. Maka dengan adanya struktur yang jelas mereka dapat mengembangkan ide-ide berhubungan dengan tugas-tugas yang mereka hadapi, untuk acara rutin yang Onigiri adakan diantara lain Chibi Matsuri (Mini-Festival), PaperOni (Paper Model Onigiri), Pameran Komik, Cosplay (Costume Play) Street, Bento (Buletin Temporer Onigiri). Kegiatan rutin internal yang dilakukan selain kumpul adalah Makrab yang diadakan satu tahun sekali, dan kemudian Sikrab, tentunya dengan tujuan mengakrabkan anggota baru, dan memperkenalkannya dengan para senpai atau senior.

Tahap 3 – Norming (Penetapan Aturan dan Nilai-nilai)

Norming atau penetapan aturan dan nilai-nilai, Onigiri merupakan himpunan informal yang ada di IPB, mereka tidak mempunyai aturan yang ketat dan tidak perlu syarat khusus untuk bergabung di komunitas ini, mereka hanya cukup datang di waktu kumpul yang disepakati dimana sekarang ini hari kumpul rutin adalah hari Rabu jam 7 malam, kemudian anggota Onigiri mempunyai peranan dan tanggung jawab yang jelas untuk mengadakan acara rutin yang telah ditetapkan untuk diadakan tiap tahunnya, sehingga mereka melihat kontribusi masing-masing anggota untuk kelompok.

Tahap 4 – Performing (Penyempurnaan/Penunjukan Kinerja)

Perfoming atau penunjukan kinerja, pada tahap ini mereka menunjukkan kinerja mereka dengan diadakannya acara rutin seperti apa yang telah disebutkan pada tahap storming diantaranya Chibi Matsuri (Mini-Festival), PaperOni (Paper Model Onigiri), Pameran Komik, Cosplay (Costume Play) Street, Bento (Buletin Temporer Onigiri). Kemudian acara jepang yang cukup besar pada tahun 2006 cikal bakal lahirnya Bonenkai, yaitu Japan Music Corner, dan  acara seminar beasiswa Jepang pada tahun 2008 yaitu “One Day Nihon Talk. Dari situlah mereka saling respect dalam berkomunikasi dan saling bergantung dalam hubungan pesonal dan pemecahan masalah dalam bidang fungsi tugas yang mereka adakan.

Tahap 5 – Adjourning (Pembubaran)

Pada tahap ini kelompok Onigiri kembali pada tahap sebelumnya yaitu melakukan kegiatan kumpul rutin kemudian mereka sharing hal-hal terkait dengan Jepang dan bersiap untuk merekrut kembali anggota baru yang ingin bergabung dengan “Onigiri”.

KESIMPULAN

Suatu wadah kelompok dapat terbentuk dari kesadaran bersama dan adanya interaksi. Faktor utama yang membentuk kelompok yaitu rasa kesamaan dan kedekatan. Kesamaan yang dimaksud adalah kesamaan minat, kepercayaan, nilai, usia, tingkat intelejensi, atau karakter personal lain. Sudah menjadi kebiasaan seseorang akan lebih suka berhubungan dengan orang yang memiliki kesamaan dengan dirinya. Kemudian kedekatan yang dimaksud adalah tingkat kedekatan fisik yang meningkatkan peluang interaksi dan bentuk kegiatan bersama yang memungkinkan terbentuknya kelompok sosial. Jadi, kedekatan menumbuhkan interaksi yang memainkan peranan penting terhadap terbentuknya kelompok.

DAFTAR PUSTAKA

Jalaludin Rakhmat. 1994. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nurdiana. 2010. Tahapan Pembentukan Kelompok. http://www.itpipopular.org/index.php?option=com_content&view=article&id=11:mengelola-dinamika-kelompok&catid=12:dapur-pengorganisasian&Itemid=16

Tuckman BW and MAC Jensen.  1977. Stages of small group development revisited. Group and Organization Studies 2(4): 419-427.

LAMPIRAN

a) Foto-foto Kegiatan Kelompok Onigiri

b) Dokumentasi dari kegiatan “Bird Banding” Uni Konservasi Fauna di Cikabayan, kampus IPB darmaga:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s