PROSPEK BUAH PINANG (Areca catechu L.) SEBAGAI NEMATISIDA BOTANI PADA TANAMAN KEDELAI (Glycine max (L) Merril)

*Download file di bawah!

PROSPEK BUAH PINANG (Areca catechu L.) SEBAGAI NEMATISIDA BOTANI PADA TANAMAN KEDELAI

(Glycine max (L) Merril)

ABSTRAK

Salah satu OPT yang penting pada pertanaman kedelai adalah nematoda puru akar (NPA; Meloidogyne spp.)  yang menyebabkan ujung akar mati dan pertumbuhan terhenti, secara tidak langsung akan menurunkan produktivitas tanaman. Salah satunya yang berasal dari tumbuhan adalah pinang (A.catechu). Pinang memiliki kandungan senyawa yang dapat mematikan dan mengganggu aktivitas nematoda. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kemampuan buah pinang (A. catechu) sebagai nematisida botani dalam mengendalikan NPA pada tanaman kedelai serta mendapatkan pengetahuan tentang bagian buah pinang yang paling efektif dimanfaatkan sebagai nematisida botani. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji orientasi, uji in vitro pada botol film, uji In vivo di laboratorium, dan uji In vivo di rumah kaca. Dalam uji orientasi didapatkan hasil bahwa filtrat pinang tidak bersifat fitotoksik terhadap benih kedelai. Dalam uji in vitro LC90 yang paling efektif dalam pengujian adalah filtrat biji karena konsentrasi untuk mematikan 90% nematoda paling rendah. Uji in vivo di laboratorium menunjukkan bahwa intensitas serangan yang ditunjukkan pada data jumlah puru/tanaman yang paling rendah terjadi pada perlakuan  buah 1,5x.. Pengamatan uji in vivo dilakukan dua kali yaitu 7 dan 11 MST. Pada 7 MST hasil yang efektif diperoleh dari perlakuan buah 1,5x yang ditunjukkan dengan jumlah puru/tanaman yang lebih rendah dari perlakuan lain. Pada pengamatan 11 MST data yang diperoleh sangat beragam sehingga menyebabkan perbedaan yang tidak signifikan. Hal tersebut disebabkan oleh keragaman yang tinggi dan rendahny data yang dapat dijelaskan oleh model  sedangkan sebagian besar data dijelaskan faktor lain sehingga  hasil penelitian hanya dapat disimpulkan dari pengamatan 7 MST.

Kata kunci: Kedelai, Nematoda puru akar Meloidogyne spp., Pinang (Areca catechu L.).

LAPORAN AKHIR PKM NEMATISIDA BOTANI!!

MODEL PERTANIAN VERTIKULTUR Sansevieria Sp.

*Download file ada di bawah halaman!!


PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

PENGEMBANGAN MODEL PERTANIAN VERTIKULTUR

Sansevieria Sp.   UNTUK MENGATASI POLUSI  DAERAH PEMUKIMAN PADAT  PENDUDUK DI KAWASAN JALUR KERETA API KEMAYORAN JAKARTA PUSAT

PKM PENGABDIAN MASYARAKAT


Diusulkan oleh:

Lutfi Afifah A34070039   (2007)

Triayastuti P. Ningrum A34070015   (2007)

Mey Fitriani A34070055   (2007)

Adnan Najira                    A34080100 (2008)

Arawinda S.                     A44080034   (2008)

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2010


1 Judul Kegiatan : Pengembangan Model Pertanian Vertikultur Sansevieria sp. untuk Mengatasi Polusi  Daerah Pemukiman Padat  Penduduk di Kawasan Jalur Kereta Api Kemayoran Jakarta Pusat.

2 Bidang Kegiatan : PKM-M

3 Bidang Ilmu        : Pertanian

4. Ketua Pelaksana Kegiatan

a. Nama Lengkap                           : Lutfi Afifah

b. NIM                                           : A34070039

c. Jurusan                                       : Proteksi Tanaman

d. Institut                                       : Institut Pertanian Bogor

e. Alamat Rumah dan HP              : Jl. Trunojoyo 173A Ponorogo, Jatim

f. Alamat email                              : lutfiafifah@ymail.com

5. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis : 4 orang

6. Dosen Pendamping

a. Nama Lengkap dan Gelar          : Dr. Ir. A. Muin Adnan, MS

b. NIP                                            : 1952 1111 198003 1 006

c. Alamat Rumah dan No Tel./HP : Jl. Jure 6, Bantarjati, Bogor/ 08128035221

6. Biaya Kegiatan Total

a. Dikti                                                    : Rp 9.834.000,00

b. Sumber lain                                        : Rp –

7. Jangka Waktu Pelaksanaan                :  5 bulan

Bogor, 19 Oktober 2010

Menyetujui

Sekretaris Departemen                                          Ketua Pelaksana Kegiatan

(Dr. Ir. Abdjad Asih Nawangsih, M.Si)              (Lutfi Afifah)

NIP. 19650621198910 2 001                              NIM .  A34070039

Wakil Rektor Bidang                                   Dosen Pendamping

Akademik dan Kemahasiswaan

(Prof. Dr. Ir. Yonny Koesmaryono, MS)            (Dr. Ir.A. Muin Adnan, MS)

NIP. 19581228198503 1 003                            NIP. 19521111 198003 1 006

A. JUDUL PROGRAM

Pengembangan Model Pertanian Vertikultur Sansevieria sp.  untuk Mengatasi Polusi  Daerah Pemukiman Padat  Penduduk di Kawasan Kemayoran Jakarta Pusat.

B. LATAR BELAKANG MASALAH

Perkembangan penduduk perkotaan di Indonesia baik sebagai akibat pertumbuhan penduduk maupun akibat urbanisasi telah memberikan indikasi adanya masalah perkotaan yang serius. Diantaranya, timbulnya permukiman padat penduduk. Seiring dengan pertumbuhan penduduk di daerah perkotaan, kebutuhan akan perumahan, penyediaan prasarana dan sarana permukiman akan meningkat pula, baik melalui peningkatan bangunan maupun pembangunan baru.

Kekurang siapan kota dengan sistem perencanaan dan pengelolaan kota yang tepat, dalam mengantisipasi pertambahan penduduk dengan berbagai motif dan keragaman nampaknya menjadi penyebab utama yang memicu timbulnya permasalahan permukiman. Pemenuhan akan kebutuhan prasarana dan sarana permukiman baik dari segi perumahan maupun lingkungan permukiman yang terjangkau dan layak huni belum sepenuhnya dapat disediakan oleh masyarakat sendiri maupun pemerintah. Sehingga, daya dukung prasarana dan sarana lingkungan permukiman yang ada mulai menurun dan pada akhirnya akan memberikan kontribusi terjadinya permukiman padat penduduk dan tidak jarang akan berubah menjadi pemukiman kumuh.

Kondisi pembangunan perumahan di perkotaan yang sangat pesat cenderung untuk tidak mempertimbangkan faktor konservasi lingkungan dengan meminimalkan ruang terbuka hijau. Kondisi demikian menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem perkotaan dengan meningkatnya suhu udara di perkotaan, serta pencemaran udara. Sumber pencemaran udara di kota besar Indonesia terutama disebabkan kegiatan transportasi, permukiman, persampahan dan industri.

Karbon dioksida (CO2) merupakan gas utama penyebab pemanasan global, yang akan berakibat pada perubahan iklim yang menyebabkan banjir dan kekeringan, perubahan ekosistem hutan dan daratan, dan kemudian berpengaruh pada kesehatan manusia. Untuk mengatasi masalah ini, upaya yang dilakukan diantaranya adalah mengusahakan pembangunan ruang terbuka hijau, pembangunan  permukiman yang berkelanjutan, dan sistem transportasi umum yang ramah lingkungan. Dalam menanggulangi polusi tanaman, yang berpotensi sebagai penyerap polutan yang baik adalah tanaman Sansevieria sp.. Tanaman ini mempunyai potensi dan fungsi ekologis menurunkan kadar CO2. Pada saat melakukan aktivitas fotosintesis CO2 dan air diubah menjadi karbohidrat dan oksigen.

Kawasan padat penduduk di wilayah Kemayoran menjadi salah satu contoh pemukiman penduduk yang menjadi sorotan publik. Kawasan ini umumnya dihuni oleh masyarakat kalangan menengah-kebawah khususnya kawasan sepanjang rel kereta api. Dalam kawasan ini polusi udara merupakan salah satu masalah yang sangat mengganggu. Untuk itu dibuat langkah-langkah strategis untuk menata ulang jalur sepanjang kawasan perlintasan KA Jabodetabek dengan lebih meninjau kondisi ekologis lingkungan. Selain itu juga memikirkan langkah-langkah untuk memperbaiki kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut agar menjadi lebih baik. Oleh karena itu diupayakan suatu solusi untuk menanggulangi dampak polusi udara tersebut.

Diharapkan dengan adanya program pengabdian masyarakat yang akan kami lakukan pada akhirnya akan tercipta suatu kesadaran masyarakat terutama di kawasan Kemayoran akan bahaya polusi udara terhadap lingkungan dan juga kesehatan masyarakat. Selain itu tercipta suatu solusi untuk mengurangi dampak polusi dengan adanya pengembangan model pertanian Vertikultur Sansevieria sp. untuk mengatasi polusi daerah pemukiman padat penduduk di kawasan jalur Kemayoran Jakarta Pusat. Selain itu dapat membantu sektor perekonomian terutama masyarakat penduduk di kawasan jalur kereta api Kemayoran.

C. PERUMUSAN MASALAH

  1. Apa yang dapat dilakukan masyarakat daerah pemukiman padat  penduduk di kawasan jalur kereta api Kemayoran Jakarta Pusat untuk menanggulangi polusi?
  2. Bagaimana model pertanian Vertikultur dapat membantu para masyarakat daerah pemukiman padat  penduduk di kawasan jalur kereta api Kemayoran Jakarta Pusat dalam mengaktualisasikan kepedulian mereka terhadap polusi?
  3. Bagaimana tanaman Sansevieria sp.  dapat membantu mengurangi  polusi dan meningkatkan pendapatan masyarakat daerah pemukiman padat  penduduk di kawasan jalur kereta api Kemayoran Jakarta Pusat melalui sistem budidaya Vertikultur ?

D. TUJUAN

Kegiatan ini bertujuan untuk:

1.         Meningkatkan kesadaran masyarakat daerah pemukiman padat  penduduk di kawasan jalur kereta api Kemayoran Jakarta Pusat tentang bahaya polusi dan pencemaran udara.

2.         Mengenalkan kepada masyarakat daerah pemukiman padat  penduduk di kawasan jalur kereta api Kemayoran Jakarta Pusat  tentang tanaman penyerap polusi.

3.         Mengurangi tingkat polusi dan pencemaran udara yang ada di daerah pemukiman padat  penduduk di kawasan jalur kereta api Kemayoran Jakarta Pusat .

4.         Pengenalan model pertanian Vertikultur  sebagai salah satu alternatif pemanfaatan lahan terbatas kepada masyarakat kawasan padat penduduk.

5.         Menambah pengetahuan masyarakat mengenai cara budidaya    Sansevieria sp.  melalui model pertanian Vertikultur .

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN

Dengan adanya PKM-M ini diharapkan:

1.         Membina masyarakat untuk menghijaukan kawasan padat penduduk.

2.         Menambah pengetahuan masyarakat tentang sistem budidaya dan manfaat tanaman Sansevieria sp.  sebagai upaya menguragi polusi dan pencemaran udara.

3.         Berkurangnya tingkat polusi dan pencemaran udara daerah pemukiman padat  penduduk di kawasan jalur kereta api Kemayoran Jakarta Pusat.

4.         Membantu perekonomian masyarakat kawasan rel kereta api Kemayoran misalnya dengan usaha Vertikultur  tanaman hias.

F. KEGUNAAN

1. Manfaat bagi mahasiswa

a.    Menumbuhkan dan meningkatkan jiwa sosial serta kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan sekitar.

b.    Media pengembangan serta penerapan ilmu dan teknologi dari disiplin ilmu yang telah diperoleh selama perkuliahan.

c.    Merangsang mahasiswa untuk berpikir kreatif, inovatif, dan dinamis.

d.   Meningkatkan kerjasama tim dalam pengelolaan suatu komunitas peduli masyarakat di kawasan jalur kereta api Kemayoran Jakarta Pusat.

2. Manfaat bagi perguruan tinggi

a.    Meningkatkan citra positif perguruan tinggi sebagai salah satu pencetak generasi yang peduli terhadap keadaan masyarakat dan permasalahan-permasalahan yang muncul.

3. Manfaat bagi masyarakat

a.    Terciptanya kenyamanan dan keindahan di kawasan jalur kereta api Kemayoran Jakarta Pusat.

b.  Mengurangi dampak polusi udara.

c.   Meningkatkan skill pertanian serta menumbuhkan kepekaan masyarakat terhadap lingkungan sekitar.

d.   Membuka lapangan pekerjaan baru.

e.    Meningkatkan taraf hidup masyarakat.

G. GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SASARAN

Kota adalah sebuah permukiman permanen dengan masyarakatnya yang bercorak heterogen. Form kota secara ideal merupakan ekspresi yang direncanakan dan diprogramkan secara harmoni dengan memperhatikan faktor waktu, alam, dan ruang. Pesatnya perkembangan permukiman di perkotaan akibat pertumbuhan penduduk kota itu sendiri maupun urbanisasi dapat menimbulkan permukiman padat penduduk dimana jika tidak ada kepedulian dari masyarakat maka akan menjadi pemukiman kumuh. Salah satu kawasan permukiman padat penduduk yang menjadi sorotan pemerintah DKI Jakarta adalah Kawasan Kemayoran. Dalam survey terlihat bahwa semakin sempitnya luas RTH (ruang terbuka hijau) di Jakarta terutama kawasan pemukiman padat penduduk di sekitar jalur kereta api Kemayoran yang menjadi objek utama dalam proposal yang kami ajukan ini. Upaya ini dilakukan untuk membantu pemerintah dalam mewujudkan target pemenuhan luas 30 persen dari luas wilayah DKI, sebagaimana tertuang dalam draft Perda RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) DKI 2010-2030. Hal tersebut juga diatur dalam UU Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

Gambar 1.  Kondisi kawasan jalur kereta api Kemayoran Jakarta Pusat

Masyarakat yang tinggal di kawasan Jalur kereta api Kemayoran sebagian besar masyarakatnya adalah kalangan menengah kebawah. Masih banyak dari mereka adalah tunawisma. Hal ini diperparah minimnya pengetahuan mereka mengenai lingkungan sehat dan bahaya polusi udara yang notabene kawasan perlintasan kereta api merupakan kawasan yang “gersang” dan kurang tertata secara baik. Sehingga polusi udara semakin memperparah kondisi lingkungan terutama di kawasan Kemayoran. Minimnya pepohonan maupun tanaman hias sebagai penyerap polutan udara diharapkan kedepannya menjadi suatu alternativ yang dapat mengurangi dampak polusi udara.

Oleh karena itu, diupayakan suatu solusi elegan yang penuh makna untuk dapat menanggulagi permasalahan polusi udara. Upaya tersebut adalah adanya Pengembangan Model Pertanian Vertikultur Sansevieria sp. . Vertikultur sendiri merupakan suatu sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat. Kelebihan sistem pertanian vertikultur: (1) Efisiensi dalam penggunaan lahan. (2) Penghematan pemakaian pupuk dan pestisida. (3) Dapat dipindahkan dengan mudah karena tanaman diletakkan dalam wadah tertentu. (4) Mudah dalam hal monitoring/pemeliharaan tanaman.

Model pertanian Vertikultur nantinya akan diusahakan di garis sempadan as rel kereta api di Kawasan Jalur Kereta Api Kemayoran (ganbar 1). Dalam pelaksanaan Pengembangan Model Pertanian Vertikultur Sansevieria sp.  kami akan menggunakan kawasan di Jalan Benda Timur RW 02 Kefu Barat Kel. Kemayoran, Kec. Kemayoran, Jakarta Pusat.

H. METODE PELAKSANAAN

Program pelatihan Pengembangan Model Pertanian Vertikultur ini ditargetkan kepada para masyarakat RT 12, 13, dan 14 di kawasan Jalur Kereta Api Kemayoran Jakarta Pusat. Tepatnya di di Jalan Benda Timur RW 02 Kefu Barat Kel. Kemayoran, Kec. Kemayoran, Jakarta Pusat.

Pada langkah awal dilakukan survey daerah kawasan Kemayoran dan dilakukan brainstorming pada masyarakat di kawasan tersebut kemudian dilakukan pendataan bagi masyarakat yang memenuhi kriteria untuk mengikuti pelaksanaan pelatihan ini, antara lain masyarakat baik pria maupun wanita produktif yang tinggal di kawasan Kemayoran dan sekitarnya. Kemudian dibuat kelompok-kelompok berdasarkan RT (Rukun Tetangga) dan tempat tinggal. Setelah itu dilakukan Penyuluhan berkala mengenai bahaya polusi udara dan solusi-solusi untuk menanggulangi polusi tersebut. Kemudian dilakukan penyuluhan tentang Pengembangan Model Pertanian Vertikultur dan Praktek pembuatan Vertikultur . Pada pelatihan intensif Vertikultur  ini pelatihnya dari anggota tim dan juga tiga orang ahli Vertikultur .

Setelah pelatihan dan penyuluhan-penyuluhan kemudian dilakukan pembagian kelompok anggota masyarakat untuk dapat membuat Vertikultur yang nantinya Vertikultur tersebut diletakkan di halaman-halaman rumah penduduk dan juga di sepanjang pinggir jalan yang berbatasan dengan rel kereta api Kemayoran (pada garis sempadan as rel kereta api). Vertikultur tersebut akan ditanam di sisi jalan yang berbatasan dengan tembok pembatas jalur kereta dengan pemukiman yang merupakan sisi kosong jalan yang kurang terawat. Karena letak Vertikultur yang memanfaatkan lahan kosong di tepi jalan maka Vertikultur ini tidak akan mengganggu pengguna jalan yang melintas, tetapi akan menambah fungsi dari tanaman Sansevieria sp. sebagai penambah estetika dengan ciri morfologinya. Penerapan vertikultur oleh masyarakat tersebut nantinya akan dipantau secara berkala demi untuk menerapkan Pengembangan Model Pertanian Vertikultur secara terpadu yang nantinya juga akan mengurangi dampak polusi udara.

Pada akhir program akan diadakan “Vertikultur expo 2011”. Pada expo tersebut diharapkan akan lebih menumbuhkan minat masyarakat akan kepeduliannya tentang lingkungan terutama polusi udara dan untuk menjaga sistem keberlanjutan Pengembangan Model Pertanian Vertikultur. Selain itu, kami juga akan mengusahakan untuk mencari kerjasama dengan program-program CSR (Corporate Social Responsibility) perusahaan-perusahaan. Sehingga, nantinya program tersebut akan terus lestari dan dapat menghijaukan kembali kawasan Kemayoran khususnya di kawasan Pemukiman Padat Penduduk Kawasan Jalur Kereta Api Kemayoran Jakarta Pusat.

I. JADWAL KEGIATAN

a. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Kegiatan pelatihan dan penyuluhan ini akan dilaksanakan di sebuah bangunan sewaan di sekitar Jalan Benda Timur RW 02 Kefu Barat Kel. Kemayoran, Kec. Kemayoran, Jakarta Pusat.

Program ini akan dilaksanakan dengan jumlah total 6 kali penyuluhan dan 10 pertemuan pelatihan Pengembangan Model Pertanian Vertikultur . Penyuluhan dilaksanakan pada hari sabtu dan minggu selama 3 minggu berturut-turut, sehingga terdapat total 6 kali penyuluhan. Pelatihan dan Monitoring Pengembangan Model Pertanian Vertikultur dilakukan 1 kali dalam seminggu yaitu pada hari minggu selama kurang lebih 10 minggu.

Pada bulan keempat dipersiapkan untuk lomba Vertikultur dan persiapan “Vertikultur expo 2011” dimana acara expo ini dilakukan pada akhir kegiatan program. Selanjutnya, controlling pada usaha mandiri yang dijalankan setelah mendapatkan skill pelatihan.

Kegiatan Bln ke-1 Bln ke-2 Bln ke-3 Bln ke-4 Bln ke-5
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Survey awal dan brainstorming dengan masyarakat pemukiman padat penduduk Kemayoran
Pendataan Masyarakat pemukiman padat penduduk Kemayoran
Pemilihan Lokasi Penyuluhan dan Pelatihan
Pembenahan Lokasi dan perekrutan tenaga ahli
Penyuluhan dan Sosialisasi program
Pelatihan dan monitoring Pengembangan Model Pertanian Vertikultur
Perlombaan Vertikultur
“Vertikultur expo 2011”
Controlling

b. Tahapan Pelaksanaan/ Jadwal Faktual

c. Instrumen Pelaksanaan

Alat – alat yang digunakan dalam penyuluhan ini antara lain adalah alat tulis seperti white board, spidol, poster-poster tentang Pemberdayaan Vertikultur dan tentang lingkungan yang sehat dan indah, dll. Sedangkan untuk Pelatihan dan Pengembangan Model Pertanian Vertikultur yang diperlukan antara lain adalah alat-alat tradisional seperti: gergaji/parang, palu, paku, gunting, cangkul, sekop, gembor, kayu, dll. Dalam pelatihan yang sekaligus akan menjadi usaha mandiri bagi masyarakat kawasan pemukiman padat penduduk, agar dapat dibentuk usaha mandiri profesional.

J. RANCANGAN BIAYA

No. Uraian Kuantitas Biaya Jumlah
1 Survey dan Persiapan alat dan bahan 2x Rp 200.000 Rp 400.000
Transportasi 16x (5 mhs) Rp 12.000/mhs Rp 960.000
Total Rp 1.360.000
2 Sarana dan Prasarana
a. Gedung Pelatihan 1 Gedung/3bln Rp 2.500.000 Rp 2.500.000
b. Ahli Pengajar 3 orang/ 3 bln Rp 825.000 Rp 2.475.000
c. White Board 200x100cm 1 buah Rp 52.500 Rp 52.500
d. Spidol Boardmarker 3 buah Rp 8.000 Rp 24.000
e. Refill Tinta 4 buah Rp 11.000 Rp 44.000
f. Penghapus White board 2 buah Rp 8.000 Rp 16.000
g. Seng 6 buah Rp 50.000 Rp 300.000
h. Bambu/kayu 67 batang Rp 7.000 Rp 469.000
i. Kawat 2 kg Rp 20.000 Rp 40.000
j. Paku 1,5 kg Rp 20.000 Rp 30.000
k. Kompos 3 karung Rp 30.000 Rp 90.000
l. Sekam 3 karung Rp 20.000 Rp 60.000
m. Tanah 4 karung Rp 60.000 Rp 240.000
n. Pupuk kandang 4 karung Rp 20.000 Rp 80.000
o. Pupuk NPK 1 karung Rp 120.000 Rp 120.000
p. Bibit Sansevieria sp. 700 buah Rp 1.000 Rp 700.000
q. Kaleng cat bekas 200 buah Rp 1.000 Rp 200.000
r. Cat 3 kaleng Rp 25.000 Rp 75.000
s. Kuas 3 buah Rp 4.000 Rp 12.000
t. Thinner 2 kaleng Rp 12.000 Rp 24.000
u. Plang 1 buah Rp 116.000 Rp 116.000
v. Gergaji 1 buah Rp 20.000 Rp 20.000
w. Palu 1 buah Rp 14.500 Rp 14.500
x. Gembor 2 buah Rp 25.000 Rp 50.000
y. Sekop 4 buah Rp 4.000 Rp.16.000
z. Gunting 2 buah Rp 3.000 Rp 6.000
Total Rp 7.774.000
3 Administrasi
a. Laporan Rp 300.000
b. Poster 1 buah Rp 100.000 Rp 100.000
b. Dokumentasi Rp 300.000
Total Rp 700.000
Jumlah Total Rp 9.834.000

K. LAMPIRAN

Lampiran 1. Daftar Riwayat Hidup Ketua dan Anggota Kelompok

Ketua Pelaksana Kegiatan

a.    Nama lengkap 

b.    NIM

c.    Fakultas/Departemen

d.   Tempat tanggal lahir

e.    Perguruan tinggi

f.     Waktu untuk kegiatan PKM

g.    Alamat

h.    No. telepon/HP

i.      Riwayat pendidikan

–       TK Muslimat

–       SD Negeri  Mangkujayan II Ponorogo

–       SMP Negeri II Ponorogo

–       SMA Negeri II Ponorogo

–       Institut Pertanian Bogor

j.       Pengalaman organisasi

– Osis SMP Negeri II Ponorogo

– Osis SMA Kadiv Ketrampilan dan Kewirausahaan

– Anggota Himasita

– Staf Departemen PSDM BEM Faperta IPB

– Anggota Entomology Club

k.  Pengalaman kerja

 

:
:
:
:
:
:
 


:

:

:

:

:

Lutfi Afifah 

A34070039

Fakultas Pertanian / Proteksi Tanaman

Ponorogo, 6 Agustus 1989

Institut Pertanian Bogor

8 jam / minggu

Jl. Trunojoyo 173A Pinggirsari, Ponorogo, Jawa Timur

085235770050

1994-1995

1995-2001

2001-2004

2004-2007

2007-sekarang

2002-2003

2004-2006

2008-sekarang

2008-2009

2008-sekarang

– Magang di Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (BALITKABI), Malang, Jawa Timur (2009).

– Magang di Laboratorium Nematologi Departemen Proteksi Tanaman IPB (2010)

– Asisten Dosen mata kuliah Dasar-dasar Komunikasi, Departemen Sains dan Komunikasi Pengembangan Masyarakat, IPB

-Asisten praktikum mk. Entomologi Umum Dept. Proteksi Tanaman IPB (2010)

-Asisten Praktikum mk. Ilmu hama tumbuhan dasar Dept. Proteksi Tanaman IPB (2009)

Yang bersangkutan,

Lutfi Afifah

A34070039

Anggota Pelaksana Kegiatan (Triyastuti Prasetyoningrum)

a.    Nama lengkap 

b.    NIM

c.    Fakultas/Departemen

d.   Tempat tanggal lahir

e.    Perguruan tinggi

f.     Waktu untuk kegiatan PKM

g.    Alamat

h.    No. telepon/HP

i.      Riwayat pendidikan

– TK

– SD Negeri Tulung Rejo I

– SMP Negeri 1 Batu

– SMA Negeri 1 Batu

– Institut Pertanian Bogor

j.  Pengalaman organisasi

– Anggota OSIS SMP Negeri 1   Batu

– Anggota OSIS SMA Negeri 1 Batu

– Anggota Himasita

k.        Pengalaman kerja

 

:
:
:
:
:
:
 


:

:
:

:

:

Triyastuti Prasetyoningrum 

A34070015

Fakultas Pertanian / Proteksi Tanaman

Malang, 7 Januari 1990

Institut Pertanian Bogor

8 jam / minggu

Jl.Gajah mada no. 27 Batu, Malang, Jawa Timur

085736027032

1993-1995

1995-2001

2001-2004

2004-2007

2007-sekarang

2002-2003

2004-2006

2007-sekarang

–       Magang di Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (BALITKABI), Malang, Jawa Timur (2009).

–      Magang di Laboratorium Nematologi Departemen Proteksi Tanaman IPB (2010)

–      Asisten Praktikum mata kulian hama dan penyakit tahunan (2010)

Yang bersangkutan,

Triyastuti P. Ningrum

A34070015

Anggota Pelaksana Kegiatan (Mey Fitriani )

a. Nama lengkap 

b. NIM

c. Fakultas/Departemen

d. Tempat tanggal lahir

e. Perguruan tinggi

f. Waktu untuk kegiatan PKM

g. Alamat

h. No. telepon/HP

i. Riwayat pendidikan

–       TK

–       SD Pekuncen 01

–       SMP Negeri 1 Wiradesa

–       SMA Negeri 3 Pekalongan

–       Institut Pertanian Bogor

j. Pengalaman organisasi

–       Ketua OSIS SMP Negeri 1 Wiradesa

–       Bendahara OMDA Pekalongan

–       Divisi Konsumsi MPD Proteksi Tanaman IPB

k. Pengalaman kerja

:
:
:
:
:
:
:
:
:
 


:

:

Mey Fitriani 

A34070055

Fakultas Pertanian / Proteksi Tanaman

Pekalongan, 7 Mei 1989

Institut Pertanian Bogor

8 jam / minggu

Pekuncen no. 541 Wiradesa, Pekolangon.

085736027032

1993-1994

1995-2001

2001-2004

2004-2007

2007-sekarang

2002-2003

2004-2006

2007-sekarang

– Magang di Laboratorium Nematologi Departemen Proteksi Tanaman IPB (2010)

– Asisten Praktikum mata kuliah Ilmu Penyakit Tumbuhan Dasar (2010)

Yang bersangkutan,

Mey Fitriani

A34070055

 

Anggota Pelaksana Kegiatan (Adnan Najira)

a.Nama lengkap                     : 

b.NIM                                    :

c.Fakultas/Departemen          :

d.Tempat, tanggal lahir          :

e.Perguruan tinggi                  :

f.Waktu untuk kegiatan PKM:

g. Alamat                               :

h.No. telepon/HP                   :

i.Riwayat pendidikan             :

– SD Inpres 2 Obi   1995-2001

– SMP Negeri 3 Obi                                                                                     2001-2004

– SMA Negeri 1 Bacan   2004-2007

– Institut Pertanian Bogor

j.Pengalaman organisasi         :

– OSIS SMP Negeri 3 Obi

– OSIS SMA Negeri 1 Bacan

– Forum Rohani Islam  (Forhis) kabupaten  Halmahera Selatan

k.Pengalaman kerja                :

 

Adnan Najira 

A34080100

Fakultas Pertanian / Proteksi Tanaman

Madapolo, 16 Desember 1989

Institut Pertanian Bogor

8 jam / minggu

Madapolo kecamatan Obi, Maluku Utara

081380043148

1995-2001

2001-2004

2004-2007

2007-sekarang

2001-2004

2004-2007

2006

– Magang di Laboratorium Nematologi Departemen Proteksi Tanaman IPB (2010)

– Magang di perkebunan melon Dinas Pertanian kota Cilegon Banten (2010)

Yang bersangkutan,

Adnan Najira

A34080100

 

Anggota Pelaksana Kegiatan (Arawinda Sahawidhiwidana)

a. Nama lengkap 

b. NIM

c. Fakultas/Departemen                             

d.   Tempat tanggal lahir

e. Perguruan tinggi

f.Waktu untuk kegiatan PKM

g.Alamat

h.No. telepon/HP

i.Riwayat pendidikan

–       TK pertiwi

–       SD Negeri 1 Pacitan

–       SMP Negeri 1 Pacitan

–       SMA Negeri 1 Pacitan

–       Institut Pertanian Bogor

j. Pengalaman organisasi

– Osis SMP Negeri 1 Pacitan

– Pramuka SMP Negeri 1 Pacitan

– Pengurus Rohis SMA Negeri 1 Pacitan

:
:
:
:
:
 

:

:

:

:

:

Arawinda Sahawidhiwidana 

A44080034

Pertanian/Arsitektur Lanskap

Pacitan, 20 Juni 1989

Institut Pertanian Bogor

8 jam / minggu

Jalan Batu Permata no. 18 Pacitan

081803390908

1994-1996

1996-2002

2002-2005

2005-2008

2008-sekarang

2001-2004

2001-2002

Yang bersangkutan,

Arawinda Sahawidhiwidana

A44080034

 

Lampiran 2. Curriculum Vitae Dosen Pembimbing

IDENTITAS DIRI

Nama                                          :  Dr Ir Abdul Muin Adnan, MS

Nomor Peserta                           : 091105111530220

NIP/NIK                                    : 130871922

Tempat dan Tanggal Lahir         :  Malang 11 November 1952

Jenis Kelamin                             : Laki-laki

Status Perkawinan                     : Kawin

Agama                                        : Islam

Golongan / Pangkat                   : III/d            /Penata Tk. I

Jabatan Fungsional Akademik   : Lektor

Perguruan Tinggi                       : Institut Pertanian Bogor

Alamat                                       : Kampus IPB Darmaga Bogor

Telp./Faks.              : 02518629364/0251629362

Alamat Rumah                           : Jalan Jure No 6 Bantarjati Bogor

Telp./Faks.              : 02518316675

Alamat e-mail                             :  a_muin_adnan@yahoo.com

KEGIATAN PROFESIONAL/PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

Tahun Kegiatan
1995 Istructor in the Training Course on Biological Control of Plant Pathogens. Bogor Agricultural University in Coorporation with Clamson Univ. and Usaid
1999 Memberikan Pelatihan Tenaga Pendamping Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Kelompok Tani
1999 Memberikan Pelatihan Pertanian Intensif  Kerjasama PT Akas Hadi Cipta dan PKPHT Jurusan HPT Faperta IPB Bogor
1998-199 Konsultan Managemen pada Program Pemberdayaan Daerah dalam Mengatasi Dampak Krisis Ekonomi di Kabupaten Serang
1994-2009 Pengujian Kefektifan Berbagai Jenis Fungisida pada berbagai Jenis Tanaman Pertanian
2003-2009 Pengujian Non-antagonistik berbagai formulasi Fungisida Berbahan Aktif Majemuk
1999-2001 Kegiatan pelayanan  konsultasi melalui Klinik Tanaman
1999 Mengelola Hama Tanaman Hortikultura Budidaya Cabai Hibrida (sebagai Pengajar)
1999 Pelatihan Tenaga Pendamping Koperasi, Usaha kecil Menengah dan Kelompok Tani (sebagai Instruktor)
2000 Training on Basict Leadership and Business Management (pembawa makalah)
2003 Pelatihan Identifikasi dan Pengelolaan Nematoda Parasit Utama Tumbuhan (pengajar)
2006 Pelatihan pengujian pestisida berbahan aktif majemuk (instruktor)
2006 Pengembangan Teknologi Maju Hemat Air (pembicara)
2006 Sosialisasi Pengamatan dan pengelolaan OPT Hortikultura (Nara sumber)
2007 dan 2008 Magang Agens Hayati dalam Rangka Pemasyarakatan PHT (instruktur)
2009 Evaluasi Kesehatan Kebun Kopi PT Indoarabica di Bengkulu
2009 Konsultan Pengelolaan Nematoda pada Perkebunan Kopi PT Indoarabica,  Bewngkulu- Sumatera

Saya menyatakan bahwa semua keterangan dalam Curriculum Vitae ini adalah benar dan apabila terdapat kesalahan, saya bersedia mempertanggungjawab-kannya.

Bogor, 19 Oktober 2010

Dosen Ybs.

Dr Ir Abdul Muin Adnan, MS

NIP:  19521111 198003 1 006

Lampiran 3.  Gambaran pengembangan model pertanian vertikultur dan gambaran lokasi tempat vertikultur

Gambar 2  Model Vertikultur

Gambar 3  Tanaman Sansivieria sp.

Gambar 4  Gambaran lokasi kawasan rel kereta Kemayoran Jakarta Pusat

Lampiran 4.  Gambaran desain Vertikultur

lutfiafifah.files.wordpress.com/2010/10/scan_1.jpg


SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama                 : Entus Gunawan

TTL                    : Jakarta, 28-08-1965

Jabatan               : Ketua, RT:014/02

menyatakan bersedia bekerjasama dengan tim pelaksana PKM Pengabdian Masyarakat, ‘Pengembangan Model Pertanian Vertikultur Sansevieria sp. untuk Mengatasi Polusi  Daerah Pemukiman Padat  Penduduk di Kawasan Jalur Kereta Api Kemayoran Jakarta Pusat dalam pelaksanaan kegiatannya.

Demikian surat ini dibuat untuk dipergunakan sebaik – baiknya.

Bogor, 17 Oktober 2010

Menyetujui,

Entus Gunawan

————————-

SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama                 : Inggrid B.

TTL                    : Jakarta, 27-10-1958

Jabatan               : Ketua, RT:013/02

menyatakan bersedia bekerjasama dengan tim pelaksana PKM Pengabdian Masyarakat, ‘Pengembangan Model Pertanian Vertikultur Sansevieria sp. untuk Mengatasi Polusi  Daerah Pemukiman Padat  Penduduk di Kawasan Jalur Kereta Api Kemayoran Jakarta Pusat dalam pelaksanaan kegiatannya.

Demikian surat ini dibuat untuk dipergunakan sebaik – baiknya.

Bogor, 17 Oktober 2010

Menyetujui,

Inggrid B.

————————-

SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama                 : Ratmawati

TTL                    : Jakarta, 22-04-1962

Jabatan               : Ketua, RT:12/02

menyatakan bersedia bekerjasama dengan tim pelaksana PKM Pengabdian Masyarakat, ‘Pengembangan Model Pertanian Vertikultur Sansevieria sp. untuk Mengatasi Polusi  Daerah Pemukiman Padat  Penduduk di Kawasan Jalur Kereta Api Kemayoran Jakarta Pusat dalam pelaksanaan kegiatannya.

Demikian surat ini dibuat untuk dipergunakan sebaik – baiknya.

Bogor, 17 Oktober 2010

Menyetujui,

Ratmawati

 

DOWNLOAD MODEL PERTANIAN VERTIKULTUR SANSEVIERIA!!

* I would be pleasure if you leave your comment!

PENGENDALIAN HAMA PENGOROK DAUN Liriomyza huidobrensis (Diptera: Agromyzidae) PADA TANAMAN SAYUR-SAYURAN

TUGAS KLINIK TANAMAN

PENGENDALIAN HAMA PENGOROK DAUN Liriomyza huidobrensis

(Diptera: Agromyzidae) PADA TANAMAN SAYUR-SAYURAN

oleh:

Lutfi Afifah A34070039

Zhenita Vinda Tri Handini A34070030

Heny Emalia A34070075


PENDAHULUAN

Lalat pengorok daun kentang, Liriomyza huidobrensis (Blanchard) (Diptera: Agromyzidae), merupakan hama eksotik yang diperkirakan tiba di Indonesia pada awal tahun 1990-an (Rauf 1995), dan sekarang sudah ditemukan hampir di semua dataran tinggi di Indonesia. Lalat pengorok daun merupakan hama yang sangat polifag yang ditunjukan dengan banyaknya tanaman yang dapat diserang. Menurut Rauf dan Shepard (1999) hama ini ditemukan pada 45 spesies tanaman dari Famili Cruciferae, Liliaceae, Cucurbitaceae, Umbelliferae, Compositae, Amaranthaceae, Chenopodiaceae, Solanaceae, Euphorbiaceae, Convolvulaceae, Basellaceae dan Labitaceae.

Serangan hama Liriomyza huidobrensis dapat menimbulkan kerusakan pada tanaman karena tusukan ovipositor imago dan korokan larva pada jaringan daun sehingga menurunkan kemampuan fotosintesis tanaman. Serangan berat mengakibatkan daun mengering dan gugur sebelum waktunya, sehingga kuantitas dan kualitas umbi kentang menurun. Serangan hama ini dapat menurunkan hasil antara 30% sampai 70% (Rauf & Shepard 1999).

PEMBAHASAN

Pengendalian yang akan diuraikan dalam tugas ini adalah pengendalian secara kultur teknis, mekanis, biologis, kimiawi, dan pengendalian melalui karantina. Penjelasan dari masing-masing pengendalian adalah sebagai berikut:

  1. 1. Kultur teknis
    Cara ini dilakukan dengan menerapkan budidaya tanaman sehat yang meliputi :
    – Penggunaan varietas yang tahan
    – Sanitasi yaitu dengan membersihkan gulma
    – Pemupukan berimbang
    – Menimbun bagian-bagian tanaman yang terserang
  1. 2. Mekanis
    – Pemangkasan daun-daun yang terserang dan daun bagian bawah yang telah tua.
    – Larva dikumpulkan dari sekitar tanaman yang rusak kemudian dimusnahkan.
    – Pemasangan yellow sticky trap dengan membentangkan kain kuning (lebar 0,9 m x panjang sesuai kebutuhan atau 7 m, untuk setiap lima bedengan memanjang) berperekat di atas tajuk tanaman kentang (Baso et al. 2000). Goyangkan pada tanaman membuat lalat dewasa beterbangan dan terperangkap pada kain kuning.
    – Pengendalian hayati dengan parasitoid hanya mungkin berhasil bila disertai upaya pengurangan penggunaan insektisida.

Hemiptarsenus varicornis (Girault) merupakan ektoparasitoid idiobion larva yang ditemukan hampir di setiap daerah serangan L. huidobrensis dan L. sativae di Indonesia. Tingkat fekunditas betina dari parasitoid ini di Laboratorium cukup tinggi yaitu rata-rata 51,7 butir dengan lama hidup imago betina sekitar 10 sampai 35 hari. Hasil survei di beberapa lokasi di Indonesia menunjukan tingkat parasitisasinya di lapangan cukup tinggi. Tingkat parasitisasi tersebut dipengaruhi oleh tanaman inang dari Liriomyza spp. dan teknologi budidaya yang dilakukan. Upaya pemanfaatan parasitoid ini sebagai pengendali hayati hama pengorok daun dari genus Liriomyza dapat dilakukan dengan upaya konservasi melalui pengaturan pola tanam dan teknologi pertanian ramah lingkungan.

Dengan memperhatikan data tersebut di atas, maka dapat dilakukan upaya konservasi H. varicornis di lapangan untuk mengendalikan pengorok daun Liriomyza spp. melalui manipulasi lingkungan (tritropic levels) dengan memadukan antara pengaturan pola tanam dan penerapan teknologi pertanian ramah lingkungan, yaitu:

1. Pengaturan pola tanam, dengan pilihan sebagai berikut:

– Menanam tanaman kacang merah (red bean) atau buncis (snap bean) sebagai tanaman perangkap Liromyza sekaligus tempat berkembang biaknya parasitoid H. varicornis pada pematang atau pinggiran kebun, yang sebaiknya ditanam lebih awal sebelum tanaman pokoknya.

– Menanam tanaman pada awal musim tanaman yang jika terserang Liriomyza spp. tidak mengakibatkan kerugian secara ekonomis, karena menyerang daun yang sudah tua seperti brokoli atau kubis, kemudian pada musim tanam kedua menanam kentang atau bawang daun yang ditumpangsarikan dengan kacang merah atau buncis.

– Melakukan sistem pola tanam tumpang sari antara kacang merah dengan kentang, buncis dengan bawang daun, buncis dengan kubis, dan lain-lain.

2. Menerapkan teknologi pertanian ramah lingkungan (organik) sehingga populasi parasitoid di lapangan tidak terganggu. Adapun teknologi pertanian ramah lingkungan yang dapat dilakukan dalam budidaya tanaman sayuran dan tanaman hias antara lain: penggunaan pupuk organik baik yang sudah menjadi kompos ataupun dalam bentuk pupuk kandang, penggunaan pestisida botani dengan memanfaatkan ekstrak bagian dari tumbuhan untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman.

H. varicornis merupakan parasitoid yang memiliki potensi besar sebagai pengendali hayati untuk mengendalikan hama pengorok daun Liriomyza di Indonesia, karena disamping pertimbangan faktor fekunditas dan lama hidup imago betinanya, juga merupakan parasitoid lokal yang sudah beradaptasi di wilayah Indonesia. Pemanfaatan parasitoid ini dilakukan dengan cara konservasi melalui pengaturan pola tanam dan aplikasi teknologi pertanian ramah lingkungan.

3. Biologis

Dengan memanfaatkan musuh alami. Musuh alami yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama penggorok daun pada kentanng antara lain:

a) Hemiptarsenus varicorni

H. varicornis (Hymenoptera : Eulophidae) merupakan parasitoid penting pada hama Liriomyza huidobrensis. Parasitoid tersebut dapat di temukan di seluruh areal pertanaman kentang yang terserang L. huidobrensis. Tingkat parasitasi H. varicornis terhadap L. huidobrensis pada tanaman kentang, kacang-kacangan, seledri, tomat dan caisin rata-rata adalah 37,33%; 40,63%; 35,71%; 24,69% dan 31,68%. Nisbah kelamin antara jantan dan betina adalah 1,5 : 1 (Setiawati dan Suprihatno, 2000). Siklus hidup H. varicornis berkisar antara 12-16 hari. Masa telur, larva dan pupa masing-masing 1-2 hari, 5-6 hari, dan 6-8 hari. Masa hidup betina berkisar antara 88-22 hari. Satu ekor betina mampu menghasilkan telur sebanyak 24-42 butir (Hindrayani dan Rauf, 2002. dalam A.S.

Duriat et al. 2006).

b) Opius sp.

Opius sp. merupakan parasitoid penting hama L. huidobrensis. Telur berbentuk lonjong, dengan salah satu bagian ujungnya sedikit lebih membengkak dibandingkan dengan ujung yang lain. Siklus hidupnya berkisar antara 13-59 hari. Masa telur, larva dan pupa masing-masing 2, 6, dan 6 hari. Satu ekor betina mampu menghasilkan telur sebanyak 49-187 butir. Instar yang paling cocok untuk perkembangan parasitoid Opius sp., adalah instar ke-3. Pada instar tersebut masa perkembangan parasitoid lebih singkat dan keturunan yang dihasilkan lebih banyak dengan proposi betina yang lebih tinggi. Nisbah kelamin jantan dan betina adalah 1:1 (Rustam et a.l, 2002. dalam A.S. Duriat et al., 2006).

c) Penggunaan ekstrak biji mimba (Azadirachta indica)

4. Kimia

Sebelum aplikasi insektisida dilakukan pemantauan OPT dan aplikasinya apabila diperlukan. Pestisida yang telah terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian untuk OPT gerbera belum ada, namun demikian untuk sementara dapat menggunakan insektisida seperti insektisida Neem azal T/S Azadirachtin 1 % (Baso et al., 2000 dalam A.S Duriat et al., 2006) atau Trigad 75 WP, Agrimec 18 EC (Novartis, 1998 dalam A.S. Duriat et al., 2006).

Insektisida untuk mengendalikan hama ini, dengan Frekuensi aplikasi dua kali per minggu. Insektisida yang paling banyak digunakan adalah dari golongan piretroid dan organofosfat.

5. Karantina

Tidak membawa bibit dari daerah endemik ke daerah lainnya. Liriomyza huidobrensis merupakan hama baru pada tanaman kentang. Hama ini pertama kali dilaporkan menyerang tanaman kentang di Puncak, Jawa Barat pada tahun 1994 dan diduga telah resisten terhadap berbagai jenis insektisida dari golongan organofosfat, karbamat, dan piretroid sintetik. Upaya pengendalian hama tersebut diarahkan pada program pengendalian hama terpadu (PHT). Dalam program tersebut penggunaan insektisida hanya dilakukan apabila populasi hama sudah mencapai ambang pengendalian dan jenis insektisida yang digunakan harus selektif.

Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No.: 698/kpts/tp.120/8/1998 Tentang Izin Pemasukan Beberapa Jenis Parasitoid Dari Hawaii Ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia. Memberikan izin kepada Pusat Kajian Pengendalian Hama Terpadu, Institut Pertanian Bogor untuk memasukkan 5 (lima) jenis parasitoid dari Hawaii untuk mengendalikan hama Liriomyza – huidobrensis melalui Bandar Udara Soekarno – Hatta, Jakarta.

Jenis-jenis parasitoid dimaksud adalah sebagai berikut :

1. Diglyphus-begini, ektoparasitoid larva;

2. Diglyphus-intermedius, ektoparasitoid larva;

3. Chrysocaris-oscinidus, endoparasitoid larva-pupa;

4. Ganaspidium-utilis, endoparasitoid larva-pupa;dan

5. Halticoptera-circulus, endoparasitoid larva-pupa.

DAFTAR PUSTAKA

Rauf A. 1995. Liriomyza: hama pendatang baru di Indonesia. Bull HPT 8 (1):

46-48.

Rauf A, Shepard M. 1999. Leafminers in vegetables in Indonesia: surveys of

host crops. Species composition, parasitoids and control practices.

Keputusan menteri pertanian no.: 698/kpts/tp.120/8/1998 tentang izin pemasukan beberapa jenis parasitoid dari hawaii ke dalam wilayah negara republik indonesia

METODE PEMBIAKAN MASSAL Riptortus linearis F.

METODE PEMBIAKAN MASSAL Riptortus linearis F.


Stadia serangga yang dpat diperoleh dari lahan kedelai adalah stadia imago dan nimfa. Stadia nimfa dan telur tidak dapat dibedakan jenis kelamin dan spesiesnya. Stadia imago mudah dibedakan antara imago jantan dan betina (Gambar…).

Ciri khas serangga ini terdapat pada stadia imago, yaitu adanya garis putih kekuningan pada sepanjang sisi badannya. Imago jantan tubuhnya lebih langsing sedangkan imago betina abdomennya menggelembung/membesar.

1. Cara Mendapatkan Serangga Biakan

Untuk mendapatkan imago maupun nimfa, perlu dicari pada tanaman kacang-kacangan yang telah membentuk polong, terutama tanaman kedelai dan kacang hijau. Imago dapat ditangkap dengan menggunakan tangan, terutama pada pagi hari dan sore hari. Cara ini kurang efektif. Cara koleksi imago R. linearis yang paling efektif adalah dengan menggunakan jarring serangga buatan Tadatora Okada (Peneliti Entomologi asal Jepang), karena jarring ini dilengkapi dengan kantong khusus pada bagian dasar jarring sehingga imago yang terjaring langsung masuk ke dalam kantong tersebut.

Waku itu juga harus membawa sangkar yang terbuat dari kain trikot dengan rangka terbuat dari kawat (Ø .. cm). Ukuran kurungan /sangkar adalah tinggi 50 cm dan garis tengah 15 cm (Gambar…….). Serangga yang terjaring langsung dimasukkan ke dalam sangkar. Di dalam sangkar telah pula dilengkapi dengan pakan yaitu kacang panjang yang telah berisi penuh supaya serangga yang terjaring tidak mati kelaparan dan kehausan.

Setelah sampai di laboratorium, serangga dipindahkan ke sangkar yang lain. Tiap stadia dari masing-masing spesies ditempatkan pada sangkar yang berbeda.

2. Cara Mendapatkan dan Menyiapkan Pakan untuk Nimfa Instar 3-5 dan Imago.

Pakan berupa kacang panjang yang telah berisi penuh yang didapatkan dari penjual sayur di pasar pada sore hari. Di laboratorium, kacang panjang dicuci dengan air kran dalam ember besar sebanyak 3-4 kali. Air pada kacang panjang dikeringanginkan di atas kain lap. Selanjutnya kacang panjang tersebut diikat pakai karet gelang sebanyak 3 buah kacang panjang yang panjangnya 75-80 cm ditambah 1 buah yang lebih pendek (5-7,5 cm). Ikatan-ikatan kacang panjang tersebut siap dipakai untuk pakan nimfa dan imago R. linearis. Kalau pakan tidak segera dipakai, dapat disimpan dalam lemari es. Caranya kacang panjang yang telah diikat dan telah keringangin tersebut dibungkus dengan kain lap atau kantung terigu kemudian bungkusan tersebut dimasukkan ke dalam  kantung keresek yang besar dan segera dimasukkan ke lemari es.

3. Pemeliharaan Imago R. linearis

Imago R. linearis hasil penjaringan seranggan di lahan kedelai atau lahan kacang hijau dimasukkan ke dalam sangkar kain trikot yang telah disediakan pakan (kacang panjang) dengan cara mencantolkan potongan kacang panjang yang lebih pendek ke rangka sangkar (kawat) pada bagian atas sangkar. Tiap sangkar disediakan 15-20 ikat kacang panjang. Banyaknya imago per sangkar berkisar antara 100 ekor jantan dan 100 ekor betina. Pakan diganti setiap dua hari sekali.

Untuk  tempat imago meletakkan telurnya, di antara ikatan pakan diletakkan ikatan benang siet berwarna putih. Telur dikoleksi setiap hari atau setiap dua hari tergantung pada keperluan. Benang yang mengandung telur tersebut diberi tanggal peneluran.

Untuki menghindari serangan semut terhadap R. linearis, maka sangkar pemeliharaan perlu diletakkan di atas ember yang pantatnya terendam dalam larutan detergen.

4. Pemeliharaan Telur R. linearis

Telur yang diletakkan imago pada benang siet diambil satu persatu dengan menggunakan tangan secara hati-hati supaya telur tidak pecah. Telur dari setiap tanggal peneluran dipelihara dalam cawan Petri. Pada lima hari setelah telur diletakkan, ke dalam cawan Petri dimasukkan sepotong kacang panjang segar untuk menciptakan kelembaban tinggi dan pakan nimfa setelah menetas pada hari ketujuh setelah telur diletakkan.

5. Pemeliharaan Nimfa R. linearis

Untuk pemeliharaan nimfa instar 1-2 dipersiapkan sangkar plastik mika yang bagian atasnya ditutup dengan kain nylon dan pada bagian dasarnya dipasang mangkuk plastic. Pada bagian dasar mangkuk diberi alas kertas berbentuk bulat. Ke dalam sangkar diberi 1-2 ikat kacang panjang. Selanjutnya nimfa instar 1 tersebut dipindahkan dari cawan Petri ke dalam sangkar plastic yang telah disediakan pakan. Sangkar tersebut diletakkan di baki plastic dengan … pada bagian bawah. Setelah nimfa mencapai instar-2 yang mendekati ganti kulit untuk masuk ke instar-3.

6. Pemeliharaan Nimfa R. linearis Instar-3, 4, dan -5

Sebelum nimfa instar-2 berganti kulit, nimfa dari sangkar plastik mika dipindahkan ke dalam sangkar kain trikot dengan rangka kawat yang di dalamnya sudah disediakan pakan kacang panjang. Pakan nimfa diganti tiap 2-3 hari. Setelah menjadi imago disediakan pakan dan media peneluran (benang siet).

METODE PEMBIAKAN MASSAL KUMBANG DAUN KEDELAI, Phaedonia inclusa Stal

METODE PEMBIAKAN MASSAL KUMBANG DAUN KEDELAI, Phaedonia inclusa Stal


1. Cara Memperoleh Serangga Biakan

Phaedonia inclusa Stal hanya ada di Indonesia dengan daerah penyebaran yang sangat terbatas. P. inclusa hanya dijumpai di Jawa tengah dan Jawa Timur (Khalsoven, 1981) dan terakhir ditemukan di daerah transmigrasi Bolaang Mongondow di Sulawesi Utara (Doda, 1980). Jawa Timur dapat dijumpai di Jenggawah dan Tanggul (Jember), Pasuruan, Probolinggo, dan Ngawi.

Serangga dapat diperoleh hanya pada pertanaman kedelai pada berbagai tahap pertumbuhan tanaman. Serangan pada fase vegetatif akan tampak tanaman kedelai terkulai layu dan akhirnya kering seperti terserang M. dolichostigma. Pada tanaman teserang tesebut dapat dijumpai imago, telur pada permukaan daun bagian bawah, dan larva pada batang pucuk atau daun.

Waktu mengumpulkan P. inclusa, imago dan larva dapat ditempatkan pada satu kotak pemeliharaan, tetapi imago dan telur harus dipelihara pada kotak yang terpisah karena imago bersifat kanibal terhadap telur. Setelah sampai laboratorium masing-masing stadia dipelihara pada kotak yang terpisah.

2. Penanaman Kedelai untuk Pakan Dalam Pembiakan P. inclusa

Sebelum melaksanakan pengumpulan P. inclusa dari lahan kedelai petani harus melakukan penanaman kedelai untuk pakan larva dan imago serta untuk media peneluran imago. Penanaman dilakukan secara bertahap dan jarak antara waktu tanam tergantungpada luas areal tanam. Sebagai contoh, tiap kali tanam dilakukan sebanyak 250 rumpun dengan interval penanaman satu minggu. Setelah berumur 28 HST sudah dapat digunakan untuk pakan P. inclusa. Cara pengambilan tanaman kedelai untuk pakan tersebut dengan cara memotong batang di atas daun tanggal supaya supaya dapat membentuk cabang atau tunas baru.

Setelah tunas/cabang memiliki empat daun trifoliate sudah dapat dipanen lagi untuk pakan. Batang kedelai/tunggul kedelai dibersihkan, dicabut, dan lahan tersebut dapat dipakai untuk menanam kedelai pakan berikutnya. P. inclusa hanya dapat diberi pakan tanaman pucuk kedelai. Oleh karena itu selama pembiakan atau selama penelitian tanaman kedelai umur 14-35 HST harus tersedia. Tanaman inang lain P. inclusa hanya Desmodium sp. Belum diketahui pengaruh pakan ini terhadap perkembangan dan pertumbuhan populasi P. inclusa.

3. Cara Pemeliharaan Imago P. inclusa

Imago yang berhasil dikumpulkan dari lahan pertanaman kedelai petani dipelihara dalam kotak plastic tertutup. Bagian dasar kotak diberi alas kertas supaya air tidak mengalir pada dasar kotak yang berasal dari tanaman kedelai pakan.

Cara menyediakan pakan untuk imago P. inclusa adalah sebagai berikut. Tanaman kedelai umur 28-35 HST dipotong batangnya di atas daun tunggal dan ditempatkan pada kantong plastik besar atau kantong kresek, atau kotak plastik bertutup dengan maksud supaya daun kedelai untuk pakan tersebut tidak layu dan tetap segar.

Tanaman kedelai untuk pakan tersebut perlu dicuci terlebih dahulu dalam ember besar 3-4 kali. Selanjutnya tanaman dikeringanginkan dengan cara menempatkan tanaman tersebut di gelas piala yang berisi air sehingga pangkal batang terendam di air dan air pada daunnya menetes dan akhirnya kering angin.

Setelah air pada daun kedelai pakan sudah kering, tanaman pakan pada pangkal batangnya dibungkus dan diikat dengan kapas basah, kemudian pangkal batang dan kapas dibungkus lagi dengan parafilm atau kantong plastik. Tiap ikat tanaman kedelai pakan tersebut ditempatkan pada kotak tertutup supaya tidak layu. Yang penting bahwa tanaman kedelai untuk pakan imago tersebut harus tetap segar, tidak layu  apalagi kering. Selain itu daun kedelai pakan harus ada yang muda dan batang pucuk karena kandungan lecitin tinggi diperlukan untuk peneluran. Selain untuk pakan imago, diperlukan juga daun tua (yang sudah berkembang penuh) untuk tempat meletakkan telurnya.

Pakan dan media peneluran diganti setiap hari, demikian pula telur yang diletakkan imago dikumpulkan stiap hari dan diberi tanggal peneluran. Jumlah imago per kotak peneluran jangan terlalu sedikit dan jangan sampai terjadi semua imago adalah jantan atau betina saja. Imago jantan berukuran lebih kecil dari pada imago betina. Kalau ingin memastikan berapa jantan dan berapa betina, tunggu sampai semua imago kopulasi, langsung dihitung dan dipindah ke kotak peneluran yang lain.

4. Pemeliharaan Telur P. inclusa

Untuk tempat pemeliharaan telur digunakan kotak plastik atau cawan Petri. Pada dasar kotak diberi alas kertas. Di atas kertas tersebut diletakkan daun-daun kedelai yang mengandung telur. Telur harus berada pada bagian atas supaya mudah diamati apakah telur tersebut sudah menetas atau belum. Telur yang akan menetas akan berubah warna dari kuning menjadi agak hitam.

Di alam, telur umumnya diletakkan pada permukaan daun kedelai bagian bawah. Di laboratorium letak telur tergantung pada posisi daun dalam kotak pemeliharaan imago. Daun yang mengandung telur P. inclusa, dipetik kemudian daun diletakkan pada dasar kotak pemeliharaan telur dengan posisi telur berada di atas supaya mudah diamati perkembangan telur tersebut. Daun-daun yang mengandung telur tersebut diletakkan berjejer sehingga semua telur tampak jelas dari atas. Dalam kotak pemeliharaan telur tidak boleh ada imago yang terikut sebab akan membahayakan telur. Telur-telur tersebut dapat dimakan imago sebelum menetas. Apabila telur-telur telah berubah warna dari warna kuning menjadi agak hitam, hal ini berarti telur akan menetas hari berikutnya.

5. Pemeliharaan Larva P. inclusa

Larva yang baru keluar dari telur berwarna hitam dan akan makan daun di sekitar tempat telur diletakkan. Karena daun tempat telur agak tua maka setelah larva keluar dari telur, daun tempat larva tersebut ditempelkan pada daun-daun pucuk kedelai supaya larva dapat pindah sendiri ke daun yang baru dan masih segar. Cara menyediakan pakan larva mirip dengan cara menyediakan pakan dan media peneluran imago. Pada saat larva masih kecil, pakan dapat diganti setiap dua hari. Kalau jumlah larva banyak per kotak pemeliharaan dan daun-daun tersisa tinggal sedikit maka pakan larva diganti setiap hari. Pemindahan larva dilakukan dengan menggunakan kuas halus.

Setelah larva berubah warna menjadi agak terang, segera dipersiapkan tanah lembab dalam kotak pemeliharaan pupa.

6. Pemeliharaan Pupa P. inclusa

Kotak pemeliharaan pupa mula-mula diberi alas kertas, kemudian dimasukkan tanah lembab sebanyak 2/3 bagian kotak. Di atas tanah diberi kertas yang telah dilipat dua diletakkan di tengah-tengah permukaan tanah. Selanjutnya ditaruh daun kedelai segar dan di atasnya diinfestasikan larva instar terakhir dari P. inclusa.

Kalau larva sudah siap masuk ke prepupa, larva akan masuk ke dalam tanah untuk membuat kokon dari tanah. Setelah semua larva masuk ke dalam tanah sisa-sisa daun kedelai di atas kertas dibersihkan.

Sebelum imago keluar dari dalam tanah, di atas permukaan tanah telah disediakan pakan yang baru untuk imago generasi berikutnya.

7. Pemeliharaan Imago P. inclusa

A. Imago yang diperoleh dari lapangan (lahan petani)

– Kotak plastik diberi alas kertas supaya kotak plastik tidak kebanjiran air.

– Pucuk kedelai umur 21 HST dipotong dari pohonnya, ditempatkan dalam kantong plastik supaya tidak layu, dicuci dengan air kran kemudian daunnya dikeringanginkan dengan cara batang bekas potongan direndam dalam air dalam gelas piala sehingga air dari daun menetes, tetapi tidak layu karena pucuk tanaman dapat air melalui batang pucuk.

– Setelah daun kedelai kering angina, 1-3 pucuk ujung/pangkal batangnya dibungkus dengan kapas basah kemudian kapas dan batang dibungkus lagi dengan parafilm. Kalau tidak ada parafilm bias dipakai kantong plastik kecil dan selanjutnya pangkal batang yang terbungkus plastik tersebut diikat dengan karet gelang. Selanjutnya pakan (pucuk kedelai) siap digunakan untuk pakan dan tempat bertelur imago atau pakan larva. (W. Tengkano)


PEMBIAKAN ULAT BUAH (Helicoverpa armigera)

PEMBIAKAN ULAT BUAH (Helicoverpa armigera)


  1. Tanam kedelai tiap lima minggu, setiap waktu tanam ditanam 50 rumpun kedelai.
  2. Persiapkan kotak plastik kecil untuk menempatkan  larva ulat buah+ pakan.
  3. Mengumpulkan ulat dari agen penjual jagung di pasar.
  4. Untuk pakan dapat dipakai:

–       Daun + polong kedelai

–       Jagung muda (tongkol)

–       Polong kacang gude

  1. Kalau ada ulat sakit segera disingkirkan/dikubur.
  2. Setelah jadi pupa, pupa yang umurnya seragam dikumpulkan, dipelihara pada tempat yang lembab (RH 100%).
  3. Setelah keluar dari pupa dimasukkan dalam kotak/ember plastik yang mulutnya ditutup dengan kain trikot berwarna hitam.
  4. Di dalam kotak/ember disediakan kapas basah dengan larutan gula yang diekspose di cawan Petri. Selain itu dipersiapkan 10% larutan madu/gula yang ditempatkan dalam hand sprayer. Larutan  tersebut juga disemprotkan dua kali sehari pada bagian luar tutup (kain trikot hitam) kotak/ember. Larutan setelah selesai digunakan disimpan di lemari es
  5. (bukan di bagian freezer).
  6. Telur yang diletakkan dikoleksi setiap hari dan diberi tanggal.
  7. Persiapkan pucuk kedelai umur 21 HST (dicuci, dikering anginkan, diikat dengan kapas basah pada ujung batang, dibungkus dengan parafilm/kantong plastik. Ikatan pakan ditebar di dasar kotak/ember, kemudian kain trikot yang berisi larva yang baru menetas ditutupkan di atas daun kedelai (pakan) tersebut.
  1. Atau langsung satu tangkai daun trifoliate dan satu larva dalam satu kotak.
  2. Pakan diganti setiap hari sampai larva memasuki stadia pupa

(Wedanimbi Tengkano)


PEMBIAKAN ULAT JENGKAL ( Chrysodeixis chalcites dan Trichoplusia orichalces)

PEMBIAKAN ULAT JENGKAL ( Chrysodeixis chalcites dan Trichoplusia orichalces)


  1. Tanam kedelai pada lahan seluas 1000 m2. Tanam tiga tahap dan pada setiap tahap ditanam pada lahan seluas 250 m2 dengan selang antara waktu tanam adalah satu minggu.
  2. Kumpulkan ulat jengkal dari pertanaman milik petani dan dari kebun serangga, utamakan larva yang masih kecil agar tidak terparasit oleh parasitoid.
  3. Tanam kedelai pada lahan seluas 600 m2 secara bertahap dan pada setiap tahap ditanam pada lahan seluas 150 m2/minggu sebagai sumber pakan pembiakan/pemeliharaan larva di laboratorium.
  4. Pakan diperbarui setiap hari
  5. Setelah menjadi pupa, pupa dikelompokkan antara pupa yang berwarna hijau (C. chacites) dan pupa berwarna coklat (T. orichalcea).
  6. Imago yang baru lahir segera diberi pakan berupa 10% larutan madu/gula pasir.
  7. Imago dipindahkan ke dalam ember plastik yang mulutnya ditutup dengan kain trikot berwarna hitam, untuk tempat imago meletakkan telur.
  8. Pada bagian dasar ember diberi kapas yang telah dicelupkan pada 10% larutan madu/gula pasir yang diekspose dalam cawan Petri tanpa tutup.
  9. Pakan imago juga diberikan dengan cara menyemprotkan 10% larutan madu/gula pasir pada kain trikot tutup ember dan pada bagian dalam ember  pada p[agi dan sore hari.
  10. telur dikumpulkan setiap pagi (pukul 08.00 WIB) dengan cara mengambil kain trikot penutup mulut ember dan menggantinya dengan kain yang baru. Pengumpulan telur dilakukan setiap hari sampai tidak ditemukan telur baru atau imago betina telah mati semua.
  11. Telur (kain trikot yang ada telur) diberi tanggal peneluran dan nama spesiesnya, ditempatkan dalam kotak plastik. Untuk mendapatkan kelembaban udara 90-100% ke dalam kotak telur disediakan daun-daun kedelai. Pada telur yang mulai berwarna agak hitam disediakan pucuk-pucuk tanaman kedelai yang pangkal batangnya dibungkus atau diikat dengan kapas basah supaya daunnya tetap segar.
  12. Larva yang baru menetas (keluar dari telur, diinfestasikan pada daun-daun kedelai yang muda (pucuk) dengan menggunakan kuas halus.
  13. Pakan larva diganti setiap hari dengan pucuk kedelai yang baru diambil dari lahan. Larva instar terakhir akan membentuk pupa di daun dengan cara merekatkan pinggir daun kiri dan kanan sehingga pupa tersebut terbungkus dengan helai daun.
  14. Daun yang berisi pupa tersebut ditempatkan dalam kotak plastik bertutup. Untuk mempertahankan kelembaban dalam kotak diberi daun-daun kedelai segar dan kalau layu diganti dengan daun yang baru. Hal ini dimaksudkan supaya pupa berkembang dengan normal dan imagonya dapat lahir secara normal pula.
  15. Imago, telur, dan larva dipelihara seperti imago, telur, dan larva sebelumnya.

Catatan:

Ember/kotak plastik tempat pemeliharaan imago, telur, larva, dan pupa ditempatkan pada tempat yang aman dari jangkauan semut dengan cara menempatkan ember/kotak plastic di atas ember yang ditempatkan dalam cairan larutan detergen (rinso).

(Wedanimbi Tengkano)